Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Almaira Putri Atmaja (and)


__ADS_3

"Loh itu Raka?" Belum habis terkejut karena teriakan di dalam ruang bersalin, kini Anita terkejut melihat putranya yang berlari tidak jauh darinya. "Lalu siapa yang ada di dalam?"


Tanpa berbasa-basi dengan orang tuanya, Raka langsung masuk ke dalam ruang bersalin.


Tadi sesudah ia melakukan operasi, salah satu perawat memberitahunya jika istrinya datang beberapa saat yang lalu untuk melahirkan.


Di dalam ruang bersalin, Raka sempat tertegun melihat istrinya sedang menggigit tangan sahabatnya. Namun ia kemudian tidak memperdulikan itu. "Minggir!" ia mendorong Ariel agar menyingkir.


Tapi karena Ariel yang tidak siap membuatnya tersungkur. "Astaga! laki sama bini pada nggak ada terima kasihnya!" umpatnya. Ia lalu beranjak dan keluar dari ruang bersalin.


"Astaga!" Anita lagi-lagi terkejut karena melihat Ariel keluar dari ruang bersalin. "Di dalam ada ****** beliung?" Melihat tampilan Ariel yang berantakan. "Tunggu, tunggu, kapan kamu nikahnya? Kok sekarang istri kamu sudah lahiran?"


Ariel berdecak, kenapa semua orang hari ini begitu menyebalkan.


*


*


"Kak, sakit!" Meili yang rasanya tidak mampu menahan rasa sakitnya. Wajahnya memucat, tenaganya rasanya sudah terkuras habis. Tapi malaikat kecil mereka rasanya masih tidak mau keluar.


"Kamu pasti bisa sayang!" Raka menggenggam tangan Meili, dalam hatinya tak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan keduanya. Andai saja ia bisa menggantikan, pasti akan ia lakukan. Rasanya tidak tega melihat orang yang di cintainya kesakitan seperti ini.


Sang Dokter yang melihat keadaan Meili akhirnya mengambil gunting bedah, ia akan melakukan perobekan pada jalan lahir agar mempermudah bayinya untuk keluar. "Baik Bu, kita akan lakukan sekali lagi ya!"


"Rasanya saya nggak kuat Dokter!" kata Meili sembari menangis.


"Sayang, kamu nggak boleh ngomong gitu." Raka mengingatkannya.


"Ibu harus kuat, kasihan si kecil kalau Ibu menyerah." Dokter yang juga menyemangati. "Kita mulai ya, tarik nafas yang dalam... mengejan Bu."


"Eungh... !" Meili mengumpulkan semua susah tenaganya. Menggenggam kuat tangan Raka sebagai penopangnya.


Krek.


Di detik berikutnya terdengar suara tangisan bayi menggema di ruangan itu.


Semuanya bersyukur atas kelahiran bayi tersebut.


"Kak!" Tangis Meili semakin pecah ketika mendengar suara tangis bayinya, ia berhasil membawa malaikat kecil mereka hadir di dunia ini.


Tidak jauh berbeda dengan Meili, Raka juga menangis terguguh. Ia memeluk Meili dengan eratnya, istrinya berhasil bertarung nyawa untuk melahirkan anaknya. "Terima kasih sayang."


"Selamat, Dok, Ibu. Anaknya cantik seperti Ibunya," Dokter memperlihatkan bayi yang masih merah itu kepada Raka dan Meili.


Keduanya tak mampu berkata apapun selain bersyukur.


*

__ADS_1


*


Di salah satu ruang rawat inap tampak begitu riuh, tentu saja semua keluarga bersukacita menyambut kedatangan anggota baru keluarga mereka yang sekarang masih di ruang bayi.


Sedangkan Meili, Ibu baru itu tampak tertidur pulas. Ia bahkan sama sekali tidak terganggu oleh kebisingan orang-orang.


Perjuangan yang begitu melelahkan nampaknya jelas ia rasakan.


Tidak lama, para tetua akhirnya memutuskan untuk pulang di gantikan oleh para anak muda yang datang. Tentu saja Nathan, Jessy, Reza juga Ariel yang datang kembali.


Beberapa saat kemudian Meili mengerjapkan mata , Samar-samar ia mendengarkan tawa dari seseorang.


Yah, semuanya tengah tertawa karena Ariel menceritakan bagaimana proses istri sahabatnya itu datang ke rumah sakit. Hingga proses penyiksaan yang di lakukan oleh Meili terhadapnya.


"Kamu sudah bangun?" Raka menyadari gerak gerik istrinya.


"Hm...," sahut Meili dengan mata yang masih setengah terpejam.


Suasana yang tadinya ramai kini tiba-tiba hening, pandangan mereka semua tertuju pada Meili.


"Mau sesuatu?" Raka menawari.


"Aku ingin minum." Meili merasakan tenggorokannya begitu kering.


"Ish...!" Meili mendesis ketika mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri di bagian intinya ia rasakan.


"Masih berada di ruang bayi, nanti katanya akan di bawa ke sini." Raka menumpuk beberapa bantal untuk menjadi penyanggah punggung Meili, kemudian memberinya segelas air.


"Aku sudah tidak sabar untuk menggendongnya," Meili mengembalikan gelas yang sudah kosong.


"Bersabarlah."


Di ruangan itu kemudian terdengar begitu riuh, di saat Meili mengingat ucapan Ariel tentang suaminya. Hingga terjadi perdebatan sengit antara Meili dan Ariel.


*


*


Beberapa minggu berlalu.


Setelah acara aqiqah selesai, Meili dan Raka berpamitan kepada Anita juga Raja. Serta menitipkan putri mereka untuk di tinggal sebentar.


"Ma, Pa pergi dulu ya." pamit Meili. Tidak lupa ia juga berpamitan pada putri kecilnya.


"Iya pergilah, jangan terburu-buru. Mama pastikan cucu Mama tidak akan rewel kalian tinggal." Anita meyakinkan.


Setelah itu, Meili dan Raka beranjak dari sana. Jalanan siang itu tidak begitu macet, karena memang di hari libur.

__ADS_1


Meili mengamati jalan yang biasanya ia lewati jika ia berkunjung, suasana sejuk begitu mendominasi ketika mobil mereka melewati jalanan yang di tumbuh pepohonan rindang di bahu jalan.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka berhenti ketika sudah sampai tujuan.


Meili turun dengan buket bunga lili di tangannya, beberapa batu nisan segera terlihat saat ia memasuki area pemakaman.


Iya, hari ini Meili berkunjung ke makam Irfan. Sudah beberapa bulan ia tidak berkunjung karena kehamilannya yang membesar.


Meili berjalan terlebih dahulu, dan Raka di belakangnya.


"Assalamu'alaikum Pa!" Meili meletakkan buket bunga di atas makam Irfan. Hal sama juga di lakukan oleh Raka, selalu mengucapkan salam.


"Maaf Pa baru sempat kamari," kata pertama yang di ucapkan Meili. Ia hanya bisa berdiri di samping makam, karena paska melahirkan.


Matanya tak pernah lepas dari batu nisan yang bertuliskan nama Papanya. Raka mendekap bahu Meili, ia tahu istrinya itu tidak akan pernah bisa membendung air matanya ketika berkunjung.


"Meili kesini membawa kabar gembira untuk Papa," bibir Meili tersenyum ketika mengatakan itu. Tapi tidak dengan matanya yang mulai memerah.


"Cucu papa sudah lahir, dan dia sangat cantik seperti Meili." Meili terkekeh dengan perkataannya sendiri dan di barengi dengan air matanya yang mulai mengalir.


"Doakan agar kelak cucu Papa menjadi gadis yang baik dan penurut ya Pa, dan tidak lupa menjadi gadis yang pintar. Agar tidak seperti Meili yang bodoh."


Meskipun ia sekarang menjadi pemilik dan pemimpin perusahaan, tapi ia ingat ketika sekolah dulu ia begitu bodoh.


"Hei!" Raka menginterupsi. "Sayang, jangan bicara seperti itu."


Namun Meili hanya tersenyum.


"Sekali lagi doakan yang terbaik ya Pa untuk cucu Papa, oh... ya aku belum beritahu nama cucu Papa." Meili menyadari. "Namanya Almaira putri atmaja."


......TAMAT......


...----------------...


**Akhirnya kelar juga gengs, maaf ya harus menunggu lama untuk episode terakhirnya. Karena moodnya naik turun, dan setelah ini aku bakan lanjutin kisahnya Airin.


Tapi sebelumnya aku mau tau keinginan dari kalian karena aku mau buat novel baru.



Cerita anaknya Alex dan Tiara


Ceritanya Ariel


Tulis di komentar ya, sampai jumpa di cerita selanjutnya 🥰**


__ADS_1


__ADS_2