
"Maaf Jessy!" kata Meili dengan sedikit menyesal.
Suhu tubuhnya masih belum juga turun, padahal ia sudah meminum obat dari Dokter.
Sekarang sudah sore hari dan dapat di pastikan Meili memang tidak bisa ikut nanti malam.
"Mau gimana lagi, lo sendiri emang lebih baik istirahat di rumah aja dari pada nanti kenapa napa." Jessy juga tidak mau ambil resiko.
"Nanti kamu berangkat sama Kak Nathan aja, sayang juga gaunnya kalau nggak jadi di pakai." Meili memberi saran.
Jessy sejenak terdiam, namun yang di ucapkan Meili ada benarnya juga.
*
*
Hingga malam tiba, Akhirnya Jessy memutuskan untuk berangkat ke acara prom night dengan suaminya.
Tidak berselang lama kepergian sahabatnya, Meili yang sedang beristirahat di kamar samar-samar seperti mendengar keributan dari arah luar, perlahan ia berjalan ke arah sumber suara dengan menahan rasa pusing di kepalanya.
Ketika sampai di ambang pintu, ia terkejut ternyata Tasya yang berada di luar.
"Apa Nenek tau jika Kak Jessy kemungkinan sedang hamil?" kata Tasya yang seketika membuat Mariam membeku. "Kak Nathan itu orang yang baik Nek, seharusnya tidak mendapatkan seseorang seperti Kak Jessy." Ia yang masih dalam pemikirannya sendiri.
"Tasya!" sentak Meili. Ia lagi-lagi di buat terkejut melihat sifat sahabatnya yang ternyata bisa sekasar itu dalam berbicara.
Tasya menoleh ke arah Meili yang ternyata juga berada di rumah Mariam, ia tersenyum sinis. "Kamu juga tahu kan kalau Kak Jessy sedang hamil?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau Jessy sedang hamil, itu bukan urusan kamu!" Meili merasakan kepalanya semakin pusing mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Tapi Kak Nathan masih berhak mendapatkan yang lebih baik!"
"Lebih baik seperti apa? Seperti kamu? Saudara yang tega merebut suami kakaknya!" Kepalang tanggung, Meili lebih baik membongkar semuanya.
"Suami?" Kata itu rasanya membuat tenggorokan Tasya tercekat.
"Iya, Kak Nathan dan Jessy sudah menikah sejak lama. Dan tidak ada larangan jika Jessy hamil, karena dia sudah mempunyai suami." terang Meili.
"Sudah, sudah ayo di bicarakan saja di dalam." Mariam merasakan suasana yang semakin memanas.
Tangis Tasya semakin tak terbendung, hanya isakan yang terdengar.
"Kamu pasti bohong kan?" Tasya yang tidak percaya begitu saja.
"Apa ini benar Nek?"
Namun Mariam hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Tasya kembali menoleh ke arah Meili. "Kenapa kamu tidak memberitahuku," ia menggoncang tubuh Meili.
"Karena aku tau, kamu akan sulit menerima ini." sahut Meili.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Sejak kehadiran Kak Jessy, kamu juga selalu saja berada di sampingnya. Bahkan mengetahui semua ini," teriak Tasya yang merasa hancur dengan kenyataan. Tanpa sadar ia begitu saja mendorong Meili meluapkan rasa kecewanya.
Karena tubuh Meili yang tidak seimbang, dia begitu saja terjatuh. Namun karena kepalanya yang sejak awal memang sudah merasakan pusing itu membuatnya pingsan.
__ADS_1
"Nak!" Mariam yang panik melihat Meili tidak sadarkan diri.
Tasya melihat Meili yang pingsan sama sekali tidak membuat hatinya tersentuh, ia seolah tidak mempunyai rasa iba. "Nek, aku menginginkan Kak Nathan!"
Mariam mendengar itu tiba-tiba membuat dadanya seperti terhantam batu besar, hingga membuatnya semakin lama semakin susah untuk bernafas.
*
*
Meili perlahan mengerjapkan matanya, pandangannya yang masih belum jelas membuatnya sulit untuk melihat keadaan sekitar.
Hingga beberapa saat kemudian, ia tersentak kaget dengan keadaannya.
Dirinya yang sudah menggunakan pakaian rumah sakit, dan dengan jarum infus yang tertancap di tangannya.
Tapi ia tidak memperdulikan itu, karena yang ia khawatirkan sekarang adalah keadaan Mariam. Mengingat terakhir kalinya ia melihat Tasya yang begitu emosi.
"Nek!" panggil Meili. Siapa tahu Nenek sahabatnya itu sedang berada di luar. Namun beberapa kali, ia memanggil tidak ada satu pun yang masuk.
Ia berusaha menggapai botol infusnya, berniat turun dari ranjangnya.
Klek.
"Mau apa?"
...----------------...
__ADS_1
...Selingan Mommy Jessy dan Papi dikit ya ðŸ¤...