Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Pejuang Cinta


__ADS_3

JESSY!" suara cempreng Meili menggelegar di ruang kelasnya.


Jessy hanya memutar bola matanya malas.


Gadis bertubuh mungil itu segera berlari menghampiri Jessy, tidak lupa dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya. "Jessy," ucapnya manja. "Aku tadi sudah memberikan roti isi kepada Kak Raka. Rasanya aku masih deg degkan"


Jessy menghembuskan nafasnya kasar mendengar itu. "Meili tiap hari lo juga bawain Raka makanan, jadi kenapa masih saja deg degkan?" ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu, setiap hari mengejar cowok yang jelas-jelas tidak meresponnya. Padahal masih banyak siswa lain di sekolah ini kenapa tidak cari saja yang lain! Pikirnya.


Meili mengerucutkan bibirnya. "Aku itu pejuang cinta, jadi harus pantang menyerah," ucapnya dengan yakin.


"Kamu dulu juga gitu sama suami kamu, tiap hari senyum-senyum sendiri gak jelas. Kayak orang 100 kurang satu?"


"Apanya?" Jessy tidak mengerti.


"Waras nya," setelah mengatakan itu Meili segera duduk di bangkunya.


Mata Jessy mendelik mendengar itu. "Gue nggak gitu ya!"


Meili menoleh ke arah Jessy yang terlihat sedikit kesal. "Prett." cibirnya.


*


*


Di jam istirahat, Tasya hanya bisa memandang wajah tampan Nathan dari jauh. Ia sendiri juga sudah lama tidak bersama Meili dan Jessy jika ke kantin. Sejak kejadian tragedi makan malam itu, hubungan saudara dan persahabatannya semakin menjauh.


Ya, seseorang yang membuatnya menolak Raka dulu adalah Nathan. Tapi rasanya ia akan sulit untuk mendapatkan hati seseorang yang ia cintai.


Tasya hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat ketika melihat pemandangan yang sedikit mengusik hatinya. Dimana Nathan bisa begitu santai berinteraksi dengan kakak kandungnya. Awalnya Tasya memang tidak memperdulikan itu, karena ia tahu jika sang kakak sudah memiliki tunangan. Tapi kenapa semakin hari ia melihat mereka berdua semakin dekat.


Di saat pandangan Tasya yang masih terfokus pada Nathan, tidak sengaja ia juga melihat tatapan Raka ke arahnya. Hingga akhirnya Tasya membuang pandangannya.


"Kak Raka kenapa tidak di makan makanannya?" Meili yang duduk di sebelahnya melihat bakso milik Raka yang masih utuh.


Raka hanya melirik sekilas ke arah gadis di sebelahnya yang selalu menempel padanya seperti anak ayam, kemudian ia berniat untuk memulai memakannya.


"Apa mau aku suapi?" tawar Meili, bahkan dengan mata yang berkedip cepat beberapa kali.


Hal itu langsung membuat Raka tersedak dengan bakso yang baru masuk ke dalam mulutnya.


"Ya ampun, Hati-hati kalau makan." Meili menyodorkan minuman Raka dan sesekali menepuk punggungnya.

__ADS_1


"Apa kalian memang sengaja?" Ariel merasa kesal melihat dua sahabatnya yang sudah memiliki pasangan. Meskipun ia tahu Raka tidak menanggapi Meili, tapi ia merasa Raka lebih beruntung di bandingkan dirinya.


"Kenapa kalian tidak mencari tempat sepi saja sekalian?" Reza menimpali. Ia juga merasakan apa yang di rasakan Ariel.


Setelah menghabiskan minumannya, Raka kemudian beranjak dari sana. Ia rasanya sudah tidak berselera untuk meneruskan memakan baksonya.


"Kak Raka mau kemana?" Meili yang sudah berdiri ingin mengejar Raka, namun tangannya di cekal oleh Jessy.


"Mau kemana?" Jessy menatap Meili tajam. "Duduk di sini saja!" tegasnya. Ia tahu jika Raka sedang kesal, oleh karena itu Jessy melarang Meili untuk mengejarnya. Ia tidak mau jika nanti sahabatnya itu yang akan menjadi pelampiasannya.


"Jessy!" Meili mulai dengan mode merajuk nya, tapi tak urung ia kembali duduk dengan bibir yang mengerucut.


*


*


Lusa adalah hari di mana anak kelas tiga mengadakan ujian, dan itu otomatis membuat Meili sedikit sedih. Karena ia tidak akan melihat wajah Raka.


Setiba di parkiran sekolah, Meili seperti sebelumnya. Ia sudah bersiap dengan kotak bekalnya yang akan ia berikan pada Raka.


Namun ketika ia akan keluar dari mobil, tidak sengaja pandangannya melihat Tasya dan Nathan yang sedang berbicara.


Meili akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Raka, ia sedikit menurunkan kaca mobilnya agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Ia masih tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya. "Ternyata selama ini memang benar! Tasya menyukai Kak Nathan."


"Bagaimana jika Jessy mengetahui ini?" Meili tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati sahabatnya jika mengetahui kenyataan ini. Karena ia tahu bagaimana kehidupan sahabatnya selama ini, tidak jauh berbeda dengannya. "Untung saja, Kak Nathan suami setia."


Meili dapat melihat raut wajah kecewa Tasya begitu cintanya di tolak oleh Nathan.


*


*


Jam istirahat sudah tiba, semua murid langsung keluar kelas untuk menuju kantin. Hingga hanya beberapa murid saja yang masih tinggal di kelas.


Tasya dengan ragu berjalan ke arah bangku Jessy. "Kak," panggil nya lirih.


Jessy yang baru saja membereskan bukunya menoleh ke arah Tasya.


"Ada yang ingin aku --"

__ADS_1


"Jessy ayo ke kantin, aku sudah lapar!" Rengek Meili menghampiri.


"Sebentar," Jessy menoleh ke arah Tasya. "Ada apa?"


"Ayo cepatlah, nanti saja di sambung lagi." Meili yang tidak sabaran menarik tangan Jessy untuk pergi ke kantin meninggalkan Tasya begitu saja.


Tapi baru setengah perjalanan Meili melupakan sesuatu. "Ya ampun Jessy ponselku ketinggalan di kelas, kamu duluan aja ke kantin sekalian pesan makanan juga untukku ya!" ucapnya dengan cengiran. Tanpa menunggu jawaban dari Jessy, Meili lalu kembali ke kelasnya.


"Dasar," tetapi Jessy juga menuruti keinginan Meili untuk pergi ke kantin terlebih dahulu.


Saat di depan kelas, Meili melihat Tasya yang masih berdiri di tempatnya tadi. Sebenarnya hanya alasan Meili saja jika ponselnya tertinggal, karena alasan yang sebenarnya ia ingin berbicara dengan Tasya.


"Tasya," Meili berdiri di samping Tasya.


Tasya kemudian menoleh ke arah Meili.


Kelas mereka kini sudah kosong dan hanya ada kedua gadis itu yang saling berhadapan.


Tasya sendiri bisa melihat Maili menatapnya sudah tidak seperti dulu.


"Jika kamu tidak bisa memiliki apa yang kamu inginkan, jangan libatkan orang lain untuk menjadi alasannya." Meili mengucapkannya tanpa ragu. Ia tadi sengaja mengajak Jessy untuk pergi, karena tidak mau mendengar apa yang akan di ucapkan Tasya. Ia tidak mau melihat sahabatnya terluka setelah baru saja merasakan kebahagiaan.


Setelah mengucapkan itu, Meili pergi dari sana. Ia yakin jika Nathan akan setia dengan sahabatnya, tetapi ia tidak yakin jika Tasya akan menerima keputusan Nathan begitu saja.


Tasya lagi-lagi hanya bisa menangis mendengar itu, ia tahu ucapan Meili ia tujukan padanya karena ke jadian tadi pagi.


Meili sendiri sebenarnya tidak tega melakukan ini, tapi ia harus melakukannya demi kebaikan Tasya juga agar tidak menyalahkan orang lain.


Wajah Meili yang tadi sempat gusar, kini kembali ceria setelah melihat pangeran pujaannya. "Tumben sendirian!"


"Kak Raka!" panggil Meili, namun sayangnya Raka tidak mendengarnya dan terus berjalan. Niat tadi yang ingin menghampiri Jessy ke kantin musnah begitu saja, ia merubah haluan mengikuti Raka. "Ini kan?"


Meili sedikit heran, setelah mengetahui langkah Raka yang menuju ke kelasnya. Sedetik kemudian ia tersenyum saat pikirannya yang melambung tinggi. "Mungkin Kak Raka mau ketemu sama aku," ia terkikik geli.


Tiba saatnya di depan kelasnya, Meili langsung masuk begitu saja untuk menemui pangerannya.


"Kak --" Meili terdiam dengan apa yang di lihatnya, hingga beberapa saat kemudian kesadarannya kembali. "Ups, sorry!" Ia lalu pergi dari sana.


...----------------...


...Tuh kan, cinta memang tak semulus jalan tol 🤭. Aku nggak tau ini cepet atau nggak review nya, soalnya bab yang sebelumnya masih review dari semalam. ...

__ADS_1


...Senin, 10.00...


__ADS_2