Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Sedikit Kemajuan


__ADS_3

Ternyata setelah kejadian di vila, hubungan Meili dan Raka tidak sekaku dulu.


Meskipun belum ada kemajuan yang berarti, setidaknya jarak yang membentang jauh kini sedikit demi sedikit mulai terkikis.


Sesekali Meili bertukar pesan dengan Raka, hanya untuk sekedar menanyakan kabar.


"Mang, turun di sini saja." Meili meminta turun beberapa meter dari sekolahnya.


"Nggak di depan sekolahan aja Non?"


Meili menggelengkan kepalanya. "Nggak Mang, lagi kepingin jalan kaki aja." jawab Meili sekenanya.


Akhirnya Mang Didin menghentikan mobilnya di tempat yang Meili mau.


"Nanti jemput nya nunggu aku telepon dulu ya, takutnya ada jam tambahan." Beritahu Meili sebelum turun.


"Siap Non."


Ketika Meili berjalan menuju sekolahnya, dari jauh ia melihat pemandangan yang lagi-lagi sering ia lihat. Di mana Tasya, yang sering memperhatikan mobil Nathan ketika mengantar Jessy.


Meili menghembuskan nafasnya kasar. "Cinta memang rumit," gumamnya.


Terlihat di wajah sahabatnya itu yang masih menyimpan harapan untuk laki-laki yang sudah menjadi suami kakaknya. Meskipun ia hanya tau jika Jessy dan Nathan hanya bertunangan, setidaknya itu sudah membuktikan jika lelaki yang di cintainya sudah di miliki kakaknya.


Mencintai seseorang memang tidak salah, namun setidaknya kita harus tau menempatkannya pada orang yang tepat.


Di dalam kelas, Meili melihat Jessy wajahnya yang bermuram durja. Sahabatnya yang satu itu juga terlihat aneh beberapa hari ini.


Sering marah-marah tanpa alasan, dan sangat suka makan.


*


*


Beberapa hari berlalu.


Senyum Meili sedari tadi terus saja berkembang, bahkan cuaca mendung yang menghiasi langit seolah bertolak belakang dengan suasana hati Meili yang cerah.


Matanya sedari tadi tidak lepas dari ponsel pintar yang berada di tangannya. Berkirim pesan dengan Raka menghilangkan beban di hati Meili yang beberapa hari ini tertekan karena menghadapi ujian.


Hingga beberapa saat kemudian, Meili mengakhiri kegiatannya. Karena Raka di seberang sana menyuruhnya untuk belajar.


Ting.


Sebuah pesan masuk kembali di ponselnya. "Katanya tadi suruh belajar!" Heran Meili sebelum membuka pesan itu. Ia mengira itu adalah Raka.


Ternyata pesan yang baru saja masuk dari Rian, lelaki yang sudah di anggap nya kakak. Beberapa hari ini, Rian juga semakin sering menghubunginya.


Belum sempat ia membalas pesan dari Rian, lelaki itu sudah menelpon nya.


"Sibuk?" tanya Rian begitu panggilan tersambung.


"Mau belajar Kakak, besok ujian terakhir."jawab Meili sembari mengambil buku yang akan ia gunakan untuk belajar.


"Astaga, gue lupa kalau lo lagi ujian." Rian di seberang sana terkekeh.

__ADS_1


Meili memutar bola matanya malas. "Kakak memang sudah tua, makannya pelupa." cibir Meili.


"Enak saja! Kita hanya berbeda beberapa tahun." Rian tidak Terima.


"Tetap saja Kakak, aku yang lebih mudah dan Kakak yang lebih tua." Meili tertawa puas setelah mengatakan itu.


Terdengar Rian berdecak kesal. "Ya sudah lah kalau gitu."


"Idih, ngambek."


"Pria sejati nggak ada namanya ngambek."


"Pret." Meili tak mempercayai itu.


Hingga beberapa saat kemudian panggilan itu pun berakhir.


*


*


"Akhirnya!" Meili merasa lega ketika hari ini adalah hari ia menjalani ujian terakhir sekolah. Meskipun ia tidak yakin jika akan mendapatkan nilai bagus, tapi baginya asalkan bisa lulus ia sudah bersyukur. Ia menoleh pada sahabatnya yang sedari tadi tidak berhenti mengunyah makanan.


Mereka sekarang berada di kantin, sejak berbunyi bel tanda berakhir ujian ia langsung mengajak Meili pergi ke kantin. Mulai tadi menikmati semangkok soto daging terus berputar di pikirannya.


"Jessy, tumben makan banyak?" heran Meili karena setelah menikmati semangkok soto Jessy beralih memakan bakso.


"Itu namanya sedang lapar Meili." Jessy sendiri menyadari akhir-akhir ini nafsu makannya sedang meningkat.


Meili terus saja menatap ke arah sahabatnya, sepertinya ia merasa ada yang aneh.


"Sayang," Nathan datang untuk menjemput istrinya. Ia kemudian duduk di samping istrinya. "Belum selesai?" yang hanya mendapat gelengan kepala dari Jessy.


"Sebentar," sahut Jessy. Hingga kemudian ia memasukkan satu bakso terakhir ke dalam mulutnya. "Ayo," katanya menoleh ke arah suaminya.


Nathan dengan gemasnya mengacak puncak kepala Jessy. Wajah cantik itu semakin lucu dengan pipi yang mengembangkan karena bakso. "Pengen gigit kamu kalau lihat kayak gini."


Meili memutar bola matanya malas melihat pasutri yang selalu saja tebar kebucinan di depannya. "Nggak usah mulai deh!" sungutnya. Sesuatu yang tadi sempat ia tanyakan sekarang sudah lupa di ingatannya.


*


*


Tak terasa lusa adalah hari wisuda, dan tentu saja itu adalah hari yang mendebarkan untuk Meili.


Di sinilah ia sekarang, di butik langganannya. Membeli gaun untuk ia kenakan di hari istimewanya.


Sendiri?


Tentu saja, memang harus dengan siapa. Irfan? Papanya itu sedang berada di luar kota, dan kemungkinan di hari wisudanya baru pulang.


Mengajak Raka? Tentu Meili tidak punya nyali jika melakukan itu.


Di depan cermin, Meili memutar tubuhnya. Ia melihat apakah gaun yang melekat di tubuhnya itu cocok dengan dirinya. Gaun yang berbahan brokat, berkerah sedikit lebar hingga memperlihatkan tulang selangka nya. Apalagi gaun itu bewarna soft pink membuatnya semakin manis.


"Nona, anda terlihat begitu cantik." Puji perempuan sang pegawai butik yang sedari tadi melayani Meili.

__ADS_1


"Benarkah?" Meili tersipu mendengar itu. Pipinya jelas terlihat merona.


"Tentu Nona, apa Nona ingin mengambil foto?" tawarnya.


Meili berpikir sejenak. "Boleh," ia mengambil ponselnya dan menyerahkan kepada perempuan itu. "Terima kasih sebelumnya."


"Tentu Nona, tidak masalah."


Beberapa foto sudah tersimpan di galeri ponselnya, Meili melihat hasilnya cukup memuaskan. "Kalau begitu, saya ambil yang ini."


Meili kemudian mengganti dengan bajunya semula. Sembari menunggu gaunnya di kemas, Meili kembali melihat fotonya tadi. Ia lalu mengunggah salah satunya di akun sosial medianya.


Tidak membutuhkan waktu lama, ternyata beberapa pesan sudah masuk di ponselnya.


Ternyata itu dari Raka dan Rian, namun dengan isi pesan yang berbeda.


Jika Rian, lelaki itu memberikan pujian untuknya. Mengatakan jika ia terlihat cantik.


Sedangkan Raka, ia memberikan sebuah doa agar acaranya berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang terbaik. Raka tau jika Meili sudah bekerja keras untuk menyelesaikan ujiannya.


"Amin." Tentu saja Meili mengamininya.


Ketika Meili sudah menyelesaikan pembayaran, ia berniat untuk langsung pulang.


Namun di saat ia hampir mencapai pintu keluar, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


Bruk.


Untung saja ia tidak sampai terjatuh, hanya paper bag nya saja yang terjatuh. "Ma--"


"Hei, kalau jalan lihat-lihat." Salah satu dari mereka tidak terima.


Meili yang tadinya akan meminta maaf seketika ia urungkan, ia melihat dua perempuan yang tadi tidak sengaja bertabrakan dengannya. Meili kemudian mengambil paper bag nya.


"Ni anak, malah diem aja." Perempuan itu terus mengoceh, ia terlihat tidak menyukai Meili.


"Sudahlah, toh tadi tidak sengaja. Gue juga nggak lihat jalan," kata perempuan yang bertabrakan dengan Meili.


"Lo selalu aja gitu Rosi." Temannya yang sedari tadi mengoceh, kesal melihat sikap Rosi yang biasa saja.


Dua perempuan itu adalah Rosi dan temannya.


"Ehm," Meili melihat ke arah Rosi. "Maaf Kak, tadi tidak sengaja." Meili lebih memilih untuk meminta maaf agar semuanya cepat selesai.


"Nggak apa-apa," sahut Rosi dengan tersenyum.


Meili kemudian menoleh ke arah teman Rosi. "Maaf Tante," kemudian ia segera pergi dari sana.


Teman Rosi tentu saja kesal dengan Meili yang memanggilnya dengan sebutan Tante sedangkan Rosi di panggil Kakak. Padahal mereka seumuran.


Itu semua karena dandanannya yang terlihat menor.


Rosi hanya tertawa melihat itu.


...----------------...

__ADS_1


...Waduh udah ketemu nih Rosi sama Meili 🤭, Hati-hati perang Dunia ya 😂. ...


__ADS_2