Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Mulai Berjalan


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, keadaan Meili menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Ia bahkan sudah mengikuti ujian susulan meskipun harus menggunakan kursi roda, dan semuanya juga berjalan lancar.


Sebenarnya ia sudah mulai terapi untuk berjalan, hanya saja ia masih belum bisa untuk berdiri terlalu lama.


Seperti siang ini, terlihat Meili dan Raka yang berada di rumah sakit.


Meili akan kembali untuk melakukan terapi. Raka dengan setia selalu mendampingi, ia tak pernah sekali pun merasa lelah untuk menemani.


"Bagus, Nona. Ayo lebih semangat lagi!" Seseorang yang bertugas untuk terapi Meili memberikan semangat.


Tangan Meili berpegangan erat pada besi yang berada di sisi kanan dan kirinya saat ia mulai berdiri dan dengan perlahan mulai melangkah.


Bibirnya tak berhenti untuk tersenyum, ia merasakan sungguh bahagia dengan perkembangannya. Tapi dari semua itu ia juga tidak bisa menyembunyikan, jika masih ada rasa sakit ketika ia terlalu lama berdiri.


Raka melihat semua itu ikut merasakan bahagia juga kasihan terhadap istrinya. Mengingat dulu istrinya begitu lincah dan ceria, kini Meili harus berlatih kembali berjalan.


"Untuk hari ini, hasilnya cukup baik." Sang pendamping mengakhiri terapi hari itu setelah beberapa saat. "Di rumah Nona juga bisa mencoba berlatih, tapi tentu saja harus ada yang mengawasi." Ia melihat ke arah Meili dan Raka bergantian. "Tapi dengan catatan tidak boleh memaksakan diri."


Setelah itu mereka meninggalkan rumah sakit.


"Apa tidak mau jalan-jalan?" Raka menawari, mengingat Meili biasanya hanya menghabiskan waktunya di rumah.


Meili yang semula memandang arah jalanan yang mereka lewati kini menatap ke arah suaminya yang sedang mengemudi. "Tidak usah, nanti kakak akan repot."


Meili menyadari keadaanya sekarang jadi ia tidak mau merepotkan suaminya.


Raka kemudian menggenggam tangan Meili. "Aku tidak pernah merasa di repotkan, semuanya aku lakukan ikhlas untuk kamu."


Meili yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum.


"Uhm... bagaimana kalau ke rumah Jessy saja?" Meili berucap. "Aku kangen dengan Al," imbuhnya dengan mata berbinar. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu bayi gembul itu dan hanya melihatnya dari video call saja.


Raut wajah Raka sedikit berubah, entah kenapa ia sedikit kesal mendengar istrinya kangen dengan laki-laki lain. Meskipun Al masih bayi.


"Kak!" Meili menyadarkan Raka dari lamunannya. "Gimana?"


"Baiklah."


Hingga beberapa saat kemudian mereka tiba di kediaman Nathan.


Meili yang baru turun dari mobil di bantu Raka, langsung di sambut Jessy dengan Al yang berada di gendongannya.


"Sayang... !" Meili merentangkan tangannya kepada Jessy karena ingin menggendong Al. "Uh... tambah gemes deh," ia tak bisa berhenti untuk tidak mencium bayi tampan itu saat Al sudah berpisah dalam gendongannya.


Di balik bahagianya Meili, berbanding terbalik dengan keadaan Raka. Ia menatap sinis pada bayi tampan itu.


Lihatlah, ia mendapat begitu banyak ciuman dari istrinya.


"Biasa aja lihatnya!" Nathan yang baru bergabung di sana, dan ia melihat sahabatnya itu tidak suka melihat ke arah putranya yang sedang di gendong Meili.


Ia paham apa yang di rasakan oleh Raka, karena dirinya pun terkadang juga merasakannya. Di saat istrinya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Al dari pada dengannya.


Raka menatap malas pada Nathan, tapi sahabatnya itu malah tersenyum miring. Seolah sedang mengejeknya.


*


*


Malam harinya terlihat Raka yang serius dengan laptop nya, seperti biasa ia mengerjakan pekerjaannya.


Meili yang berada di ranjang terus menatap ke arah suaminya, pikirannya menerawang jauh. Apalagi ucapan sahabatnya terus berputar di pikirannya.


Lo udah pernah ngapain aja?

__ADS_1


Minimal lo harus tau rasanya ci pokan!


Kalau itu aja lo belum pernah ngerasain, berarti itu perlu di tanyakan!


Raka normal kan?


Sebenarnya itu adalah pertanyakan konyol Jessy, bahkan siang tadi pun Meili tidak menggubris nya. Tapi sekarang ia justru kepikiran tentang hal itu.


Normal?


Meili mengingat ketika di rumah sakit, mereka hampir saja melakukan apa yang di katakan oleh Jessy. Meskipun bibir mereka hanya saling menempel.


"Astaga!" Meili mengusap wajahnya kasar.


Kelakuan Meili seketika mencuri perhatian Raka. "Ada apa?" Ia kemudian menghampiri Meili dan meninggalkan pekerjaannya.


Bukannya menjawab pertanyaan Raka, Meili justru terus memandang wajah tampan suaminya yang sekarang berdiri di hadapannya.


Meili, kalau lo ragu! Berarti lo harus pancing duluan. Misalnya, lo harus sosor duluan tuh laki lo.


Lagi-lagi ucapan Jessy mendominasi pikiran Meili.


"Ya!" Meili mengedipkan matanya beberapakali. "Tidak apa-apa," secepat kilat menggelengkan kepala. Mana mungkin ia menceritakan tentang apa yang ia pikirkan, tapi ia sendiri juga penasaran.


"Benarkah?" Raka tidak mempercayainya begitu saja, ia bahkan duduk di hadapan Meili.


"Hm... !" Meili meyakinkan.


Tatapan Meili sama sekali tidak teralihkan dari wajah suaminya. "Masak iya aku harus coba apa yang di katakan oleh Jessy?" batinnya.


"Apa kamu mau sesuatu?" Raka menawari.


"Tidak Kak, Kakak lanjut kerja aja."


*


*


Sudah di pastikan jika suaminya itu sedang olahraga raga pagi seperti biasanya.


Saat Meili sudah menyingkirkan selimut dari tubuhnya, pandangannya tertuju pada kakinya. Mungkin mulai sekarang ia akan belajar lebih giat untuk bisa berjalan kembali.


Perlahan Meili bangun, dan satu persatu ia menurunkan kakinya.


"Pasti bisa!" Ia menyemangati dirinya sendiri.


Ia mencoba untuk bangun dari duduknya, meskipun itu adalah hal mudah bagi orang lain tapi tidak dengan dirinya.


Senyum Meili mengembang ketika dia berhasil berdiri dengan sempurna. "Aku bisa," katanya.


Ia mencoba ke tahap berikutnya, memulai untuk melangkah. Dan ia mencoba mendekat ke arah jendela yang masih tertutup, ia akan menjadikan jendela sebagai tumpuan.


Perlahan tapi pasti ia berhasil melangkah, meskipun ia sedikit merasakan nyeri pada kakinya.


Lama hanya duduk di kursi roda membuat tubuhnya juga terasa kaku.


"Berhasil," ujar Meili girang di saat ia berhasil mendekat ke arah jendela, dan tangannya berhasil bersandar di sana.


"Apa yang kamu lakukan!" Raka yang baru masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat istrinya sudah berdiri.


Meili yang awalnya senang seketika terkejut karena kehadiran suaminya yang tiba-tiba, membuat tubuhnya tidak seimbang.


"Kak!" pekik Meili saat merasa dirinya akan terjatuh.

__ADS_1


Mata Raka membulat di buatnya, hingga secepat mungkin ia berlari ke arah istrinya yang mungkin saja akan jatuh ke lantai jika ia tak terlambat menolongnya.


Bruk.


Mereka berdua terjatuh di lantai.


Raka mendekap tubuh Meili dengan erat, saat ia berhasil menangkap tubuh istrinya sebelum terjatuh. Hingga ia yang terjatuh terlebih dahulu dan Meili berada di atasnya.


"Kenapa tidak hati-hati!" Rasa khawatir terlihat jelas di mata Raka.


Meili segera mengangkat wajahnya dari dada Raka, dan ia bisa melihat wajah tampan suaminya yang kini juga sedang menatapnya.


"Bagaimana jika tadi aku tidak berada di sini?" Raka masih membayangkan jika hal buruk terjadi dan ia tidak ada.


Namun Meili matanya sama sekali tidak berkedip, entah kenapa saat melihat wajah suaminya ia rasanya lagi-lagi merasakan jatuh cinta. Dan itu selalu terus berulang.


Ucapan Raka bahkan rasanya tidak terdengar olehnya, matanya terus menyusuri wajah tampan yang berada di bawahnya. Mulai kedua mata indah, hidung yang mancung dan berhenti pada bibir yang sekarang masih berceloteh.


Kenapa aku rasanya tergoda?


Apa benar aku harus ngelakuin apa yang di ucapkan Jessy?


Tapi aku kan perempuan! Malu sekali rasanya.


Tapi kan dia suamiku, seharusnya tidak apa-apa kan?


"Sayang!" Raka melihat istrinya yang diam saja.


Dan di detik berikutnya Meili mulai mendekatkan wajahnya, yang perlahan mengikis jarak di antara mereka.


Hingga sesaat sebelum hilang jarak di antara meraka, Meili memejamkan matanya.


Cup.


Dan ia merasakan jika bibirnya menyentuh bibir suaminya.


Di saat bibir mereka saling bertemu, Meili baru merasakan jika ia sangat malu karena ia yang memulainya lebih dulu.


Ia kemudian langsung memberi jarak, dan sekilas melihat wajah suaminya yang hanya terdiam sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Maaf," kata Meili tanpa melihat ke arah Raka. "Aku, mau ke kamar mandi saja." Ia berusaha untuk bangkit dari atas tubuh suaminya.


Namun tangan Raka masih mendekap erat tubuh Meili, ia sekarang bisa melihat pipi istrinya yang merona. Sepertinya dia di landa oleh rasa malu, tapi kenapa justru terlihat semakin menggemaskan.


"Kak!" Meili memekik, terkejut karena tiba-tiba Raka membalik posisinya hingga sekarang ia yang ada di bawah.


"Apa yang kakak la--" Suara Meili tenggelam bersama Raka yang tiba-tiba menciumnya. Ia bahkan melihat suaminya yang mulai memejamkan mata, menikmati apa yang sedang di lakukan nya.


Tidak seperti dirinya, Meili merasakan bibir suaminya mulai bergerak. Tindakan suaminya membuat ia juga ikut memejamkan mata.


Raka mulai menyesap bibir yang tadi sudah berani memulainya lebih dulu, merasakannya secara bergantian.


Rasa yang baru mereka rasakan untuk pertama kalinya, membuat mereka tak berniat untuk mengakhirinya dengan cepat.


Raka mulai bermain lebih dalam, ketika Meili tanpa sadar memberinya celah dengan sedikit membuka mulutnya.


Lidah mereka saling bertaut, seakan itulah rasa paling nikmat yang tidak akan pernah lepaskan.


"Saya--" Seseorang yang tiba-taba berada di sana.


...----------------...


...Nah lo, mereka tau aja kalau cuaca lagi dingin πŸ₯ΆπŸ˜‚...

__ADS_1


...Maaf gengs ya dah libur satu minggu, soalnya lagi banyak banget kerjaan di dunia nyata sama anak masuk sekolah TK. Tau sendiri, emaknya juga ikutan sekolah 🀭...


__ADS_2