
"Apa dia keluar?"
Reza dan Ariel yang berada di depan unit apartemen Raka. Sedari tadi Reza sudah menekan bel apartemen, namun tidak ada tanda-tanda penghuninya untuk membuka pintu.
Mereka memutuskan untuk bermain ke apartemen Raka, mumpung kuliah mereka masih libur semester.
Di dalam apartemen Raka baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan segar. Tadi ia mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Semalam di rumah sakit ia tidak bisa memejamkan matanya.
Ia memutuskan berganti pakaian lebih dahulu, sebelum membuka pintu apartemen yang sedari tadi ada yang membunyikan bel.
Klek.
"Lama amat! Lagi ngapain sih?"
Begitu pintu terbuka Ariel dan Reza langsung masuk begitu saja, tanpa menunggu persetujuan Raka.
Raka hanya diam saja tidak berniat menjawab ocehan sahabatnya itu. Baru saja ia akan menutup pintu, ternyata makanan yang tadi ia pesan datang. "Terima kasih."
"Mau kemana?" Reza baru menyadari penampilan Raka cukup Rapi. Ia memperhatikan Raka yang menyiapkan makanan.
"Pergi." jawab Raka.
Reza memutar bola matanya malas, sahabatnya itu malai ia kenal awal masuk SMA hingga sekarang masih saja kaku dan datar. "Iya, maksudnya pergi kemana?"
"Rumah sakit." Raka memulai sarapannya yang kesiangan.
"Siapa yang sakit?" Kini giliran Ariel yang bertanya, setelah tadi hanya menyimak.
"Meili."
Ariel dan Raka seketika saling pandang, hingga di detik berikutnya mereka menahan senyum.
__ADS_1
"Kalian beneran lagi dekat?" Ariel memulai interogasinya.
Raka seketika menjeda sarapan ya, dan melihat kedua sahabatnya sedang menatapnya lekat.
Dekat? Benarkah? Batin Raka.
Raka kemudian melanjutkan sarapannya, dan tidak menjawab pertanyaan Ariel.
Ariel dan Reza kemudian tertawa, mereka bisa menyimpulkan kalau sahabat mereka menyukai Meili. Gadis yang dulu selalu menempel padanya.
"Dulu di kejar, nggak mau." Reza yang menyindir nya.
Ariel menganggukkan kepalanya, setuju dengan Reza. "Eh... sekarang malah ada sesuatu."
Raka masih saja tidak menghiraukan celotehan temannya. Selesai dengan sarapannya ia kemudian bersiap untuk pergi. "Kalian pergilah, gue udah mau berangkat."
"Kalau begitu, kami juga ikut saja jenguk dedek gemes."
Keluar dari lift yang berada di parkiran, mereka tidak sengaja bertemu dengan Rosi yang kebetulan akan naik ke unit nya. "Hai!" sapa nya ramah seperti biasa.
Reza dan Ariel tentu saja mengenali Rosi sebagai senior di kampus mereka. Dan langsung saja mereka juga membalas sapaan Rosi dengan senyum tampannya, tidak lupa dengan tebar pesona khas mereka dalam menggait lawan jenis.
"Kalian mau pergi?" tanya Rosi.
"Iya," jawab Ariel.
"Kemana?" Rosi bertanya lagi.
"Kami mau--"
"Kami harus pergi sekarang," sela Raka.
"Ehm... boleh ikut?" Rosi yang sebenarnya juga jenuh di apartemen. Kebanyakan temannya liburan dengan keluarga.
__ADS_1
"Bo--"
"Maaf, kami tidak biasa pergi dengan seorang gadis." Sela Raka kembali. Ia lalu pergi dari sana.
Reza dan Ariel hanya ter bengong melihat kelakuan Raka, sungguh sahabatnya itu semakin lama semakin mengkhawatirkan. Mereka akhirnya tersenyum kaku kepada Rosi, sebelum akhirnya juga pergi dari sana.
"Za, gimana kalau tuh cewek mikir kita sukanya terong makan terong?" gerutunya di dalam mobil. Mereka mulai melaju mengikuti mobil Raka.
"Iya, emang dasar kamprett tuh Raka." sungut Reza yang sependapat.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Meili di rawat.
Tapi ketika di depan pintu, Raka hanya terdiam. Pandangannya tertuju pada gadis yang berada di dalam sedang tertawa dangan seorang pria, yang ia kenali sebagai seniornya. Rian.
Rahangnya begitu saja mengeras, ia merasa tidak suka dengan interaksi Meili dan Rian.
"Kenapa?" Ariel melihat Raka yang hanya diam di depan pintu. Ia dan Reza kemudian mengintip dari balik punggung Raka. Terlihat Meili sedang bercanda dengan Rian.
"Waduh cuaca bentar lagi panas nih!" cetus Ariel.
"Iya, ada yang sakit tidak berdarah." Reza menimpali.
Mereka terkikik melihat raut wajah Raka memerah.
"Diamlah." Bentak Raka.
"Makannya, kalau cinta cepetan tembak. Sebelum di tikung orang." kata Ariel. "Awas," ia menggeser tubuh Raka yang menghalangi jalan.
Meili yang tadinya tertawa, seketika terdiam melihat kedatangan tiga lelaki itu. Apalagi melihat pandangan Raka padanya yang begitu tajam.
...----------------...
...Untuk sementara up nya dikit-dikit dulu ya gengs, pekerjaan di dunia nyata lagi menumpuk. 🙏😊...
__ADS_1