Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Ponsel Baru


__ADS_3

Mama Anita dengan telaten membantu Meili untuk membersihkan diri. Ia memang benar-benar menganggap Meili sebagai putrinya sendiri.


Bahkan di dalam kamar Raka ada beberapa barang Meili yang masih terlihat baru, sepertinya Anita memang menyiapkan semua keperluan menantunya.


"Nah, sekarang putri Mama sudah cantik." Anita yang sudah selesai menyisir rambut Meili.


"Terima kasih Ma," sungguh rasanya tidak sebanding jika hanya ucapan terima kasih yang Meili berikan.


"Tugas Mama memang merawat putrinya, apalagi jika putrinya sedang sakit." Kalimat yang selalu di ucapkan Anita. "Ya sudah sekarang kita sarapan."


Di meja makan pagi itu terlihat berbeda dari biasanya.


Suasananya semakin ramai oleh hadirnya Meili di sana, dan begitu terlihat Anita yang memang bahagia mendapatkan seorang putri. Setelah beberapa tahun dirinya hanya di kelilingi oleh pria-pria tampan.


Raja sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya, begitupun Raka.


"Mau berangkat sekarang?" Anita baru saja kembali dari teras setelah mengantar suaminya berangkat bekerja, dan ia melihat anak juga menantunya akan menuju teras.


"Iya, Ma." sahut Raka sembari menggapai tangan mamanya untuk ia cium. "Titip istri Raka Ma."


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut!" pesan Anita yang di sanggupi oleh putranya.


Setelah sampai di teras, Raka berhenti mendorong kursi roda Meili. Ia kemudian mensejajarkan tingginya. "Aku berangkat dulu, nanti setelah selesai langsung pulang."


Meili mendengar itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Yang semangat ya ngerjain ujiannya." Ia menyemangati.


"Tentu," sahut Raka. Ia kemudian berdiri, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya Raka menyempatkan untuk mencium kening Meili. "Bye...!" Ia beranjak dari sana untuk menuju mobilnya.


Sedangkan Meili matanya sama sekali tak terlepas dari suaminya, bahkan mobil Raka sudah mulai meninggalkan pelataran rumah.


Ia masih tidak menyangka melihat perubahan suaminya yang sekarang begitu perhatian terhadapnya, padahal jika mengingat dulu ia rasanya tidak yakin akan bisa mendapatkan perlakuan seperti ini dari lelaki yang terkenal dingin.


Tapi nyatanya kini semuanya memang benar-benar berubah, semuanya memang membutuhkan proses.


*


*


Ketika Raka sudah menyelesaikan ujian, ia bergegas pulang karena sekarang sudah ada istri yang menunggunya di rumah.


"Kemana woi!!" Reza yang kebetulan berada di parkiran, ia melihat sahabatnya yang buru-buru memasuki mobil.


Raka yang sudah di dalam mobil kemudian menurunkan kaca pada pintu mobilnya. "Gue mau pulang, udah janji sama istri."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, mobil Raka perlahan meninggalkan parkiran kampus.


Sedangkan Reza menatap kesal pada mobil Raka yang sudah menjauh. "Iya, gue tau lo udah nikah." sungutnya. "Mentang-mentang udah punya bini sekarang di pamerin." ia yang terus menggerutu.


Padahal Raka hanya menjawab pertanyaan yang di tanyakan olehnya, tapi itu membuatnya kesal sendiri.


Disaat di perjalanan, Raka tidak sengaja melihat salah satu usaha temannya sedang ramai di datangi pengunjung dan seketika ia ingat dengan istrinya.


Ia memutuskan untuk berhenti di depan toko yang menjual berbagai macam merk ponsel beserta aksesoris nya.


Raka baru ingat jika dirinya belum sempat membelikan ponsel untuk istrinya.


"Selamat datang!" sapa salah satu pegawai Nathan. Sepertinya ia adalah pegawai baru hingga tidak mengenali Raka sebagai sahabat bosnya. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya nya ramah.


"Saya cari ponsel 🍎," kata Raka.


"Tunggu sebentar," gadis itu kemudian mengambil brosur dengan merk yang di inginkan Raka. Ia kemudian menjelaskan dengan detail spek apa saja di setiap tipe ponsel tersebut.


"Yang ini saja," Raka memilih salah satu di antara tipe yang di rasa cocok untuk Meili.


Gadis itu kemudian pergi untuk mengambil ponsel yang di inginkan Raka, setelah itu ia kemudian mulai membuka segel pada kemasan hape di depan Raka seperti pada prosedur umumnya. Dan memperlihatkan jika ponsel yang di belinya memang benar ori dan kelengkapan aksesorinya lengkap, juga dengan garansinya yang berlaku hingga tanggal tertentu.


"Loh Bang Raka!" Seorang pegawai laki-laki yang mengenali Raka. "Bos lagi ada di atas, baru juga sampai sama Bu bos." beritahunya. "Mau saya panggilkan?"


Gadis itu sedikit terkejut, karena jika mendengar dari percakapan mereka lelaki yang sedang ia layani adalah teman bos nya.


Namun belum selesai ponselnya di kemas, Raka melihat Nathan dan Jessy menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


Tentu saja Raka segera menghampiri nya. "Nathan!" panggilnya, membuat sahabatnya itu berhenti. "Ada apa?"


Sedangkan Jessy yang mengetahui keberadaan Raka di sana, langsung merapikan rambutnya yang berantakan. Tidak lupa bajunya terlihat begitu kusut.


"Ehm," Nathan melengahkan tenggorokannya. "Gue harus buru-buru pulang, Mami telepon bilang kalau El nangis."


"El nggak kalian bawah?" Melihat hanya ada Nathan juga Jessy.


"Tentu saja tidak," sahut Jessy. "Kami kan--"


"Gue harus cepat pulang, gue pergi dulu." Nathan memotong ucapan istrinya, bisa saja istrinya itu lepas kendali dalam berbicara dan akan mengatakan apa yang baru saja mereka lakukan. Hingga ia cepat mengajak Jessy pergi dari sana.


"Aneh," Raka melihat pasangan suami istri itu pergi.


*

__ADS_1


*


Setibanya di rumah, Raka mendengar tawa istri dan mamanya begitu menggema. Ia mencoba mengikuti sumber suara, yang akhirnya tertuju pada ruang keluarga.


Di sana ia melihat, mama dan istrinya sedang menyaksikan acara televisi yang menayangkan stand-up komedi.


"Kamu sudah pulang!" Anita menyadari kehadiran putranya. "Sini duduk dulu, biar Mama buatkan minum." Sebelum pergi ia menoleh kepada menantunya. "Kamu mau Mama buatkan minum juga sayang?"


"Jus melon, boleh?"


"Boleh dong, apa sih yang nggak buat putri Mama." Anita lalu berjalan ke arah dapur.


Sepeninggal Anita, Raka kemudian menghampiri Meili dan duduk di sebelahnya. "Bagaimana hari ini, apa ada yang sakit?" tanya nya sembari mengusap rambut Meili.


"Tidak terasa sakit, kan aku cuma duduk di kursi roda tidak melakukan apa-apa." jawab Meili kemudian tersenyum.


Hati Raka sedikit tercubit mendengar jawaban istrinya, mengingat dulu Meili begitu aktif dan sekarang hanya bisa terdiam di rumah.


"Sebentar lagi pasti sembuh," Raka menyemangati. Ia menautkan tangan mereka. "Lusa kontrol pertama kan?"


"Hm..."


"Oh ya, aku punya sesuatu." Raka mengambil paperbag kecil dari dalam tas nya. "Ini."


"Apa ini?"


"Buka saja."


Meili terlihat begitu antusias dengan hadiah yang di berikan oleh suaminya. Matanya berbinar mengetahui jika itu adalah ponsel baru untuknya. "Kak, ini pasti mahal? Sayang uangnya."


"Tidak apa-apa, buat istri." kata Raka.


Meili merasa pipinya memanas mendengar itu.


"Untuk nomer nya masih belum aku urus, jadi sementara pakai nomer baru ya." Raka berucap.


"Iya tidak apa-apa, lagi pula semua kontak aku simpan di email." jelas Meili.


...----------------...


...Untuk yang bertanya ( Kak konfliknya kok ringan banget sih? ) ...


...Iya kakak, soalnya aku nggak bisa buat konflik yang berat. Jadi ceritanya memang di buat cinta manis seperti mereka 🤭...

__ADS_1


__ADS_2