Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kehidupan Baru


__ADS_3

Hari hari Meili terlewati begitu saja, kepergian Papa nya untuk selamanya dan kepergian suaminya untuk menempuh pendidikan.


Di awal memang begitu berat ia rasakan, hingga lambat laut ia akhirnya berhasil.


Dan di dalam kehidupannya kini ada yang berbeda, jika ia dulu berkeinginan ingin memiliki restoran yang ia kelola sendiri. Kini ia harus merelakannya, karena ia harus meneruskan perusahaan yang di bangun oleh Papanya.


*


*


Beberapa tahun berlalu.


Meili sudah menjadi pengusaha muda yang sukses, sedangkan Raka juga menjadi Dokter muda yang bisa di perhitungkan dalam dunia Kedokteran.


Namun ada yang kurang dalam kehidupan mereka, yaitu hadirnya seorang malaikat kecil di antara mereka.


Hingga kini Meili masih belum ada tanda-tanda kehamilan, dan untung nya dari pihak Raka juga keluarga tidak ada yang mempermasalahkan.


"Kakak besok jadi pergi?" Seperti biasa rutinitas mereka, sebelum tidur akan mengawalinya dengan percakapan ringan.


"Iya," sahut Raka.


Ia sering mendapatkan undangan seminar di berbagai kota.


Meili menghembuskan nafasnya pelan.


"Ada apa?" Raka melihat perubahan ekspresi pada istrinya.


"Aku ingin ikut, tapi besok di perusahaan ada meeting yang tidak bisa aku wakilkan." Meili rasanya ingin sekali ikut suaminya pergi, tapi disisi lain ia juga harus bertanggung jawab pada pekerjaannya. "Mama sama Papa juga belum pulang."


Kedua mertuanya itu sudah beberapa bulan kembali ke Singapura, mereka kembali bertujuan untuk mendesak Dika agar cepat-cepat menikah.


"Lain kali kalau ada undangan lagi dan kamu nggak lagi sibuk, kita bisa pergi berdua. Itung itung buat liburan."


Meili menoleh ke arah suaminya yang hampir memejamkan mata.


"Baiklah," Meili menyetujui. "Uhm... apa Kakak sudah mengantuk?"


"Hmm... " Raka tanpa membuka matanya.


"Ya sudah kalau begitu," Meili juga kemudian mengambil posisi bersiap tidur. "Aku pikir Kakak mau melakukan sesuatu terlebih dahulu." Katanya, dan ia juga memejamkan mata.

__ADS_1


Raka yang mendengar itu segera membuka matanya dan merangsek ke arah istrinya. "Maksudnya?" Ia memastikan apa yang ada dalam pikirannya, dan sekarang membuat hatinya berdebar.


"Tidur Kak, tadi katanya mengantuk!" Kini giliran Meili yang sudah mulai memejamkan mata.


"Tidak, aku tidak jadi mengantuk." Raka bergerak naik ke atas tubuh istrinya.


Mata Meili membulat melihat kelakuan suaminya, dan lihatlah kini suaminya itu tersenyum penuh arti terhadapnya. "Kakak harus tidur agar besok--"


Raka tidak membiarkan istrinya itu berceloteh lebih lama, hingga ia segera memulai kegiatan panas yang selalu di sukai nya. Kegiatan yang tidak pernah membosankan meskipun berulangkali ia melakukan nya, apalagi ketika sang istri selalu memanggil namanya ketika kegiatan itu mulai terasa panas.


*


*


"Rani, apa jadwal ku hari ini padat?" tanya Meili yang baru saja tiba di kantor.


"Hari ini ada meeting dengan beberapa perusahaan, setelah itu akan di lanjutkan dengan peninjauan proyek--"


"Stop!" Meili memotong. "Untuk peninjauan biar di wakili saja oleh Faris." titahnya. Ia kemudian melenggang masuk ke dalam ruangannya.


Rani melihat itu hanya mengerutkan keningnya, tidak biasanya Meili menyerahkan pekerjaannya kepada asistennya.


Di dalam ruangan kerja Meili, ia duduk di kursi kebesarannya. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, kemudian memejamkan matanya. "Aku ingin ikut Kakak," gumamnya setengah merengek.


Tok.


Tok.


Tok.


"Bu, meeting lima belas menit lagi akan di mulai." Rani masuk ke ruangan Meili untuk mengingatkannya.


Tapi ternyata bos nya itu tidak bereaksi.


Meili tiba-tiba saja membuka mata, membuat Rani yang berada di hadapannya sedikit terkejut. "Makan bakso aci kelihatannya enak," tiba-tiba ia menginginkannya.


"Biar OB yang mem--"


"Yang ada di Bandung," imbuh Meili.


Membuat Rani tercengang, padahal ia baru saja akan menyuruh OB untuk membelikannya.

__ADS_1


Meili mengambil ponselnya dan mengotak atiknya, sepertinya ia masih belum menyadari keberadaan Rani. "Di tambah jeruk nipis sama sambel pasti lebih enak." Ia merasakan air liurnya akan menetes membayangkan itu.


Matanya berbinar ketika melihat story WhatsApp salah satu sahabat suaminya, yang sepertinya berada di kota Bandung.


Tanpa menunggu lama ia segera melakukan panggilan telepon. Hingga beberapa saat kemudian panggilan itu tersambung.


"Kak Airel!" Sapa Meili begitu tersambung.


"Ada apa?"


"Kak Ariel sedang ada di Bandung?"


"Iya, kenapa?"


"Bawakan aku bakso aci dan es oyen ya?"


Terlihat Ariel berdecak di seberang sana.


"Di Jakarta banyak pedagang yang jual."


"Tapi aku maunya asli dari Bandung!"


"Aku ti--"


"Terima kasih Kak Ariel," Meili seketika mematikan sambungan telepon dengan tersenyum ceria.


Rani tercengang melihat kelakuan Meili.


"Astaga!" Meili terkejut melihat keberadaan Rani. "Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Sejak Ibu ingin bakso aci," jawab Rani.


"Oh.. " Meili hanya tertawa. "Apa meeting nya akan segera di mulai?"


"Iy Bu."


"Ok, kalau begitu bilang pada Faris untuk bersiap." Perintah Meili. Namun sebelum berangkat ia seperti melupakan sesuatu. Ia kembali mengotak atik ponselnya. "Sudah," katanya sembari tersenyum.


📨 Kak Ariel, nggak pakai lama. Ok.


...----------------...

__ADS_1


...Aya aya wae kelakuan si Meili 🤦‍♀️...


__ADS_2