
Meili menatap dirinya di cermin, kaos Raka yang menempel pada dirinya terlihat begitu kedodoran. Tubuhnya yang memang tidak terlalu tinggi itu membuat kaos Raka menutupinya hingga di atas lutut.
Meili kemudian keluar dari kamar, ia melihat Raka yang ternyata sudah rapi duduk di kursi. "Ayo!" Ia yang sudah berdiri di hadapan Raka.
Raka tidak langsung menjawabnya, ia tertegun melihat penampilan Meili. Terakhir ia melihat gadisnya waktu memakai pakaiannya terlihat menggemaskan, dan sekarang pun masih tetap sama. Menggemaskan di matanya.
"Kak!" Meili membuyarkan lamunan Raka. "Katanya mau pergi?"
"Oh, iya. Ayo kita berangkat." Yang kemudian mereka keluar dari apartemen.
Sebelum keluar dari apartemen, entah kenapa Meili berpikir jika Rosi pasti ada di depan. "Apa Kakak itu tidak punya kerjaan" batinnya.
*
*
"Raka!" sapa Rosi. Ia ternyata bersama sahabatnya. "Mau pergi!" Melihat Raka sudah berpenampilan rapi.
Wajah Rosi berbinar melihat adanya Raka, setelah semalam ia gagal untuk mengajaknya sekedar mengobrol.
Raka yang melihat keberadaan Rosi hanya bersikap seperti biasanya. "Hm," sahutnya.
"Kema--"
Belum sempat Rosi bertanya kembali, ia di buat terkejut melihat keberadaan Meili yang juga keluar dari unit Raka. Dan yang tak ia percayai adalah, melihat penampilan Meili. Ia yakin jika gadis itu mengenakan kaos milik Raka, dan itu artinya semalam ia?
"Tuh kan bener," batin Meili. Ia lalu hanya memberikan senyum tipisnya.
Tidak suka terhadap orang lain bukan berarti kita harus bersikap buruk kan!
"Gue pergi dulu." Raka lalu menggandeng tangan Meili untuk mengajaknya pergi dari sana.
Mila sahabat Rosi yang melihatnya dari tadi juga tidak percaya, seseorang seperti Raka ternyata bisa membawa gadis menginap di unitnya. "Ros, saingan lo emang benar-benar berat." katanya.
Rasi tadi yang tercengang kini berubah sendu. "Jadi gue harus gimana?" Rasa putus asa mulai ia rasakan.
Mila tersenyum miring, ia lalu merangkul pundak sahabatnya. "Tenang saja, masih ada seribu satu cara untuk mendapatkannya." hiburnya. "Orang yang sudah menikah saja bisa cerai, apalagi yang baru pacaran."
Rosi terdiam mencerna kata-kata Mila.
Mila kemudian membisikkan sesuatu pada Rosi, suatu ide yang siapa tau sahabatnya itu akan berhasil mendapatkan lelaki pujaannya.
Mata Rosi melotot. "Tapi itu kelihatannya jahat baget!" ia kurang setuju.
__ADS_1
Mila berdecak kesal. "Jaman sekarang yang baik sama yang jahat itu cuma beda setipis kertas. Kalau lo nggak mau terlihat jahat, lo tinggal pura-pura baik aja. Udah, masalah kelar."
*
*
Mobil yang di kendarai oleh Raka mulai memasuki halaman rumah yang begitu luas. Rumah itu terlihat berdiri dengan kokoh dan megah.
Satpam yang berjaga segera membukakan gerbang begitu mengetahui majikannya pulang.
"Ini rumah siapa?" Meili mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar.
"Rumah orang tua." jawab Raka sembari keluar dari mobil.
Deg.
Mata Meili seketika melebar.
Apa?
Orang tua?
Ia lalu melihat tampilannya yang sepertinya tidak pantas jika untuk menemui orang tua Raka. Bahkan ia tidak membawa buah tangan.
"Ayo!" Raka yang sudah membuka pintu mobil di mana Meili masih terdiam.
"Kenapa, kamu nggak mau?"
Meili menggeleng cepat. "Bukannya gitu, tapi lihat penampilan aku sekarang! Nanti gimana tanggapan orang tua kakak." katanya frustasi. "Terus aku nggak bawa apa-apa juga untuk mereka."
Raka tersenyum melihat kepanikan Meili. "Nanti saja bawa oleh-olehnya kalau mereka sudah pulang."
"Ha?"
"Iya nanti saja kalau mereka sudah pulang, mereka tidak ada di sini." jelas Raka. "Jadi ayo kita masuk!" ia lalu menggandeng Meili untuk masuk ke dalam rumahnya.
Mendengar penjelasan dari Raka, Meili sedikit senang. Tapi ia juga masih gugup, siapa tau nanti para pekerja rumah mengadu tentangnya ke orang tua Raka.
Memasuki rumah, ia di sambut dengan baik oleh beberapa pekerja rumah.
"Bi, buatkan minum juga bawakan beberapa cemilan." Ujar Raka pada Bibi. Yang tentu saja langsung di kerjakan oleh Bibi.
"Mau lihat-lihat sekitar rumah?" Entah kenapa Raka membawa Meili ke rumahnya, tapi di dalam hatinya ada keyakinan tersendiri jika kelak mereka yang akan menempati rumah ini.
__ADS_1
"Boleh?" Meili justru balik bertanya.
"Tentu," sahut Raka.
Di ruang tengah Meili melihat beberapa bingkai foto terpajang. Mulai foto keluarga, dan beberapa foto anak-anak.
"Ini orang tua Kak Raka?" Meili melihat bingkai foto yang berukuran cukup besar, di sana ada sepasang suami istri dan dua anak laki-laki.
"Iya," Raka juga ikut melihatnya. Foto itu di ambil ketika ia sekolah TK.
"Lalu ini?" Meili menunjuk pada foto anak laki-laki yang tubuhnya lebih besar dari pada Raka.
"Itu Abang, dia ikut Mama sama Papa keluar negri. Sekalian kuliah di sana." Raka menjawab. Sudah lama ia tak bertemu dengan sang kakak.
Meili mengangguk anggukkan kepalanya. Pandangannya lalu beralih pada foto lainnya, mulai dari foto bayi, balita hingga Raka dan sang kakak remaja.
"Pasti yang itu Kak Raka!" tebak Meili pada foto anak balita dengan pipi tembem dan rambut lurus. Karena rambut Raka sekarang lurus, sedangkan Kakaknya di foto terlihat mempunyai rambut sedikit ikal. "Kakak menggemaskan," ia melihat Raka dan foto itu bergantian.
Raka terus saja memperhatikan kekasihnya yang tertawa. "Kalau sekarang bagaimana?" tanya nya dengan menatap Meili.
Jelas saja tawa Meili seketika lenyap.
"Kenapa harus tanya, tentu saja sangat tampan." jawab Meili. Tapi itu semua hanya bisa ia ucapkan dalam hati. Mana berani ia langsung memujinya. Namun rona merah yang ada di pipinya tentu tidak dapat ia sembunyikan.
"Kenapa!" Raka rasanya ingin sekali menggoda Meili. Melihatnya seperti itu membuatnya gemas sendiri.
"Tidak kenapa-kenapa!" Meili memalingkan wajahnya.
"Benarkah!" Raka terus mendekat untuk melihat wajah Meili. "Lalu kenapa seperti itu?"
"Kak Raka apaan sih!" Meili berusaha menghindari Raka, tapi kekasih nya itu tidak menghiraukan nya.
Tanpa sadar Raka sekarang justru memeluk Meili dari belakang. Tawa keduanya terdengar memenuhi ruang tengah.
Dari kejauhan rupanya para Bibi mengintip dari balik tembok dua sejoli yang sedang bersenda gurau.
"Udah lama den Raka tidak tertawa lepas seperti itu," kata salah satu Bibi.
"Iya, den Raka pintar cari pacar." imbuh yang lainnya. Dan mereka juga ikut tertawa.
Bahkan salah satu dari mereka sembari melakukan video call dan mengarahkan kamera nya pada Meili dan Raka.
...----------------...
__ADS_1
...Ternyata, Bang Raka malam mingguan di rumah gengs ðŸ¤...
...Monggo yang mau ngasih like sama komennya, kalau ada yang ngasih vote sama hadiah juga di persilahkan 🥰...