
Setelah kepergian mobil Raka, ternyata ada sebuah mobil yang masuk. Yang Meili kenali sebagai mobil dari keluarga Nathan.
"Sayang!" Meili segera menghampiri begitu melihat sahabatnya itu turun dari mobil dengan menggendong baby Al.
Meili mengambil alih bayi tampan itu dalam gendongannya. "Mau masuk, atau duduk di teras saja?"
"Di sini aja, di sini juga adem." sahut Jessy.
Meili kemudian meminta tolong pada bibi agar mengambil karpet, untuk ia gelar di bawah pohon yang cukup besar.
Hingga kemudian di sana sudah tersaji minuman dingin juga beberapa cemilan.
"Mamanya Raka nggak ada di rumah?" Jessy sedari tadi tidak melihat ibu mertua sahabatnya.
"Mama ikut ke kantor Papa, lagian kasian juga sudah lama nggak bisa keluar bebas sejak aku sakit." Meili mengingat ibu mertuanya yang selalu ada untuknya jika di rumah.
Dan hari ini untuk pertama kalinya Anita pergi meninggalkan Meili, meskipun awalnya berat namun Meili meyakinkan jika ia akan baik-baik saja di rumah. Apalagi ada Jessy yang datang berkunjung.
"Lo beruntung punya keluarga baru seperti keluarga Raka." kata Jessy.
"Iya dan kamu juga beruntung mempunyai keluarga seperti keluarga Nathan." Meili membalas ucapan Jessy.
Dan mereka berdua tersenyum mengingat itu. Kehidupan pahit yang mereka jalani memang tak selamanya pahit, akan ada masanya semuanya itu akan berubah menjadi manis seperti mereka saat ini.
*
*
Hingga pukul sebelas siang, keduanya masih betah mengobrol. Padahal sebenarnya yang mereka obrolan juga tidak berfaedah, apalagi kalau bukan Jessy yang mengompori Meili untuk urusan ranjang.
__ADS_1
Jessy mengedarkan pandangannya, dan di sana hanya ada mereka bertiga. Tentunya bersama baby Al yang sudah terlelap.
"lo udah sampai mana sama Raka?" tanya Jessy dengan suara pelan.
"Apanya?" Meili pura-pura tidak mengerti, tapi lihatlah pipinya sudah mulai merona. Ia sebenarnya hanya ingin menghindar, karena akan sangat malu jika membahas itu.
"Udah deh jangan pura-pura nggak ngerti," Jessy mencibir.
Meili tersenyum kaku menanggapi itu.
"Gimana? Udah sampai mana?" Jessy kembali bertanya.
"Jessy ... jangan bahasa itu, aku malu." Meili manakup kedua pipinya yang kian merona.
Jessy memutar bola matanya malas. "Sekarang aja bilang malu, lo nggak inget dulu waktu SMA ngejar-ngejar Raka gimana. Dulu aja lo nggak punya malu," Jessy mengingatkan tingkah Meili ketika waktu SMA.
Dimana ia memang selalu menempel pada Raka agar mendapatkan perhatian dari suaminya itu.
"Baru sekarang ada orang sadar punya malu pas udah tua," cibir Jessy.
"Aku nggak tua Jessy," Meili mendelik. "Kita seumuran."
"Tapi gue udah punya bayi tampan," Jessy melirik ke arah Al yang sama sekali tidak terganggu dan tetap tertidur pulas.
"Itu kamu aja yang doyan sama Kak Nathan."
Kini giliran mata Jessy yang membulat. "Sialan lo," umpatnya. "Tapi gimana dong, habis rasanya enak." Ia kembali tertawa.
Meili mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Tidak lama terlihat sebuah taksi berhenti di depan gerbang.
"Meili, kelihatanya ada tamu deh." Jessy bisa melihat dari tempatnya sekarang.
"Tapi tadi Mama, Papa atau Kak Raka nggak bilang kalau akan ada tamu yang datang." sahut Meili.
Mereka terus memperhatikan siapa orang yang turun dari taksi, hingga kemudian terlihat seorang pemuda tampan turun.
"Meili, ternyata cowok ganteng." ujar Jessy.
"Jessy, inget udah ada kak Nathan."
"Gue udah tau kalau itu."
"Nah itu tau."
"Lagi pula, orang akan terlihat sempurna pada orang yang tepat."
"Tumben bijak," Meili menatap Jessy.
"Biasa aja ngeliatnya," Jessy mengusap wajah Meili dengan tangannya.
"Jessy!!" sungut Meili.
"Tapi kira-kira siapa dia?" Jessy masih penasaran.
Meili kemudian juga memperhatikannya, dan menatap lekat. Hingga kemudian menyadari siapa laki-laki itu. "Astaga!!"
...----------------...
__ADS_1
...Seperti biasa jangan lupa jempolnya ðŸ¤...