Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Rencana Liburan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama di mana Raka menjalani sebagai mahasiswa baru. Ia dan sahabatnya ternyata berada di satu kampus yang sama, namun dengan jurusan yang berbeda.


Dan Raka sendiri ia mengambil jurusan kedokteran, ternyata ia lebih memilih untuk menjadi Dokter seperti pamannya dari pada pengusaha seperti Raja.


Ia telah mempertimbangkan keputusannya dengan matang, meskipun sebelumnya papa nya kurang setuju. Karena Raja berharap Raka bisa membantu kakaknya kelak mengurus perusahaan.


Tapi ia akhirnya harus mengalah dengan keinginan putranya.


Di kampus pagi itu, terlihat sudah ramai dengan mahasiswa baru seperti Raka. Semuanya di bagi beberapa kelompok sesuai dengan jurusan masing-masing.


Pandangan Raka seketika memicing ketika mengetahui salah satu seniornya adalah seseorang yang tidak begitu di sukainya. Padahal mereka tidak pernah bertegur sapa, namun Raka tetap saja memiliki rasa tidak suka terhadapnya.


"Selamat pagi semuanya!" sapa senior di kelompok Raka, yang ternyata itu adalah Rian.


Ternyata dunia memang sempit, hingga di tempatnya yang baru harus bertemu dengan seseorang yang tidak di sukainya.


"Pagi," terdengar suara mahasiswi yang paling bersemangat. Mereka tidak menyangka jika seniornya akan begitu tampan.


"Perkenalkan saya Rian, saya adalah salah satu panitia." Rian memperkenalkan dirinya dan juga memperkenalkan temannya yang lain yang juga menjadi panitia seperti dirinya. Dia kemudian menjelaskan tentang apa saja yang akan di lakukan selama masa orientasi. Dan menjelaskan bagaimana cara belajar di kampus yang sedikit berbeda dengan sekolah SMA.


Di sela-sela Rian sedang menyampaikan apa yang akan mereka lakukan nanti, ternyata beberapa senior mahasiswi tak sedikit yang mencuri pandang ke arah Raka.


Mahasiswa baru yang mencolok di jurusan kedokteran. Meskipun aura Raka terlihat begitu dingin, tapi tidak menyurutkan para gadis untuk tidak meliriknya. Mungkin itu adalah salah satu daya tarinya sendiri yang tidak di sadari oleh Raka.


*


*


Beberapa bulan telah berlalu.


"Kenapa sih lo?" Jessy heran melihat wajah sahabatnya semakin hari semakin muram. Tapi ketika di tanya selalu saja jawabannya sama.


"Nggak apa-apa," jawab Meili lesu.


Keadaan di kantin yang begitu ramai tidak berpengaruh apapun pada Meili.


Jessy memutar bola matanya malas. "Lagi mikirin Raka ya?" tebak Jessy yang sepertinya tepat sasaran.

__ADS_1


"Sapa bilang!" sangkal Meili.


Tapi ia tidak berani menatap mata Jessy yang sekarang sedang mencari kejujuran dari ucapannya.


Awalnya ia selalu meyakinkan dirinya jika ia bisa melupakan Raka, apalagi karena mereka sudah tidak satu sekolah.


Tapi keadaan ini semakin menyiksa dirinya, tidak bertemu dengan Raka justru semakin membuatnya gelisah.


"Sedang apa dia di sana?"


"Apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan?"


"Apa di kampus dia sudah menemukan gadis lain yang bisa mengisi hatinya?"


"Dan apa dia... ?"


Selalu itu yang berputar di pikiran Meili.


"Udah, lo nggak usah bohong." cibir Jessy. "Nanti lo nggak bisa tinggi."


Meili berdecak mendengar itu, kenapa mulut sahabatnya itu mengalahkan pedasnya cabai sekilo.


Di jalan menuju pulang, terlihat lalu lintas yang mulai padat. Apalagi besok adalah hari libur.


Setelah sampai di rumah, Meili memutuskan untuk mandi. Mungkin itu akan sedikit membuatnya sedikit lebih tenang.


*


*


Malam harinya, ketika selesai menikmati makan malamnya. Ponselnya berdering nyaring, Meili menautkan kedua alisnya ketika melihat nama Jessy yang tertera di layar ponselnya.


"Halo!" ketika sudah tersambung. Meili berjalan ke arah kamarnya.


"Besok lo ikut ya?"


Meili sedikit heran, perasaan ia tidak mempunyai rencana apapun. "Kemana?"

__ADS_1


"Vila Papi."


"Aku besok cuma ingin tidur di rumah." tolak Meili.


"Pokoknya harus ikut, besok juga bisa tidur di vila."


Meili menghembuskan nafasnya kasar, sebenarnya Jessy itu berniat mengajaknya atau memaksanya. "Tapi --"


"Nggak ada tapi-tapian." potong Jessy. "Besok pagi gue jemput."


Setelah mengatakan itu, Jessy langsung saja mematikan sambungan.


Meili masih saja bingung, kenapa Jessy tiba-tiba ingin liburan di vila. Padahal tadi di sekolah temannya itu sama sekali tidak membahas tentang liburan.


Mau tidak mau akhirnya, Meili juga menyiapkan beberapa baju yang akan ia bawa besok pagi.


Di lain tempat terlihat Raka, juga menyiapkan beberapa keperluannya yang akan ia bawa. Ia kembali tinggal di apartemen, dan hanya sesekali ia akan menginap di rumahnya.


Raka masih tidak mengetahui jika besok Meili juga akan ikut dalam liburan mereka. Entah kenapa Nathan tidak memberitahunya.


Setelah selesai mengemasi keperluannya, sekelebat bayangan tentang liburannya terakhir di vila nya melintas di ingatannya.


Ia ingat waktu itu istri temannya dan Meili hampir saja di goda oleh pemuda. Dan waktu itu ia dan Meili masih belum merasakan hal yang berbeda.


Tanpa sadar sudut bibir Raka tertarik ke atas membentuk senyuman. Mengingat tingkah Meili ketika itu terlihat menggemaskan.


Hah!


Menggemaskan?


Raka kemudian menggelengkan kepalanya, semenjak ia tidak melihat Meili. Bayangan gadis itu justru semakin sering bersarang di pikirannya.


Ting.


Sebuah pesan masuk di ponselnya. Dan ternyata itu dari Nathan.


Raka tidak mengerti tentang isi pesan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


...----------------...


...Seperti biasanya gengs, like, komen tidak lupa bagi vote nya juga 🤭...


__ADS_2