
Meili yang berada di dalam mobil merasa legah dengan keadaan yang sempat membuat dirinya takut, kini ia ada di perjalanan pulang di antar oleh Raka.
Ternyata Tuhan begitu baik, hampir saja akan ada kabar buruk. Tapi kini Tuhan menggantikan dengan kabar baik, bahkan dua sekaligus.
Nenek yang berhasil di selamatkan, dan ternyata sahabatnya yang sedang mengandung.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Raka sudah sampai di perkarangan rumah Mariam.
Ya, Meili masih memutuskan untuk tinggal di rumah itu. Ia rasanya masih belum siap jika harus kembali ke rumahnya.
Ketika ia turun dari mobil terlihat Oma yang sepertinya sudah menunggunya, terlihat Oma yang berdiri di teras.
"Oma!" Meili begitu saja memeluk Oma.
Oma juga tidak kalah baiknya dengan Mariam, sungguh beruntung memang ia di pertemukan dengan orang baik seperti mereka.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Oma setelah pelukan mereka berakhir.
"Sudah baikan Oma," jawab Meili sembari tersenyum.
Raka yang melihat interaksi itu, tanpa di sadari ia juga ikut merasa bahagia.
"Ya sudah, ayo masuk dulu. Kita makan bersama," ajak Oma. Tadi ia sengaja sudah memasak beberapa menu hidangan untuk Meili.
Setelah mendengar gadis itu sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, Oma seketika meluncur ke rumah Mariam dan mengajak salah satu pelayan di rumahnya untuk membantunya memasak.
*
*
Setelah acara makan bersama itu selesai, Raka memutuskan untuk pulang. Ia juga harus membutuhkan istirahat.
"Terima kasih Kak," Meili mengantarkan kepergian Raka hingga ke teras rumah.
"Hm," sahut Raka. "Jaga kesehatan, jangan sampai sakit lagi." Rasanya sudah cukup melihat Meili sakit untuk yang ke dua kalinya, ia tidak mau melihat gadis itu sakit lagi.
"Iya," Mendengar ucapan Raka, seketika membuat pipi Meili bersemu.
Sejenak suasana menjadi hening ketika mereka tidak mendapatkan bahan obrolan.
__ADS_1
"Ehm, gue pulang dulu!" Raka memutuskan untuk cepat pulang saja.
"Iya, Hati-hati. Dan sekali lagi Terima kasih."
*
*
Beberapa hari berlalu.
Suasana di rumah Mariam kini begitu ramai, itu semua karena Jessy yang sudah pulang setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit karena keadaannya yang tidak cukup baik. Tentu itu semua karena beberapa hari ia bermalam di rumah sakit untuk menjaga Mariam.
Dan Mariam sendiri baru di perbolehkan pulang besok.
Di sela-sela aktifitas makan mereka, Diam-diam Meili memperhatikan Jessy.
"Ada apa?" Jessy yang mengetahui itu.
"Jessy, kamu nggak kepingin apa gitu? Biasanya ibu hamil sukanya aneh-aneh?" tanya Meili penasaran.
Oma yang mendengarnya seketika tertawa.
Jessy mencebikkan bibirnya mendengar itu. "Nggak."
"Nggak."
"Nggak kepingin ngidam gitu?"
"Nggak Meili," jawab Jessy dengan gemas.
"Tidak semua orang hamil itu kepingin yang aneh-aneh." Oma menengahi. "Tapi terkadang, tiba-tiba saja ada yang di inginkan."
"Bisa seperti itu Oma?" Meili yang terlihat lebih antusias.
"Iya," jawab Oma.
"Meili, gue yang hamil. Tapi lo yang semangat," ujar Jessy tidak habis pikir.
Meili hanya tertawa mendengar perkataan sahabatnya. "Buat persiapan."
__ADS_1
Oma dan Jessy seketika saling pandang, kemudian menggelengkan kepalanya.
Gadis itu memang ada-ada saja yang ada di pikirannya, menikah saja belum tapi sudah mencari tahu tentang kehamilan.
*
*
Esok harinya, semua menyambut kepulangan Mariam dengan suka cita. Wanita tua itu berhasil sehat kembali meskipun harus di bantu dengan kursi roda.
Meili yang berada di tengah-tengah keluarga Jessy dan Nathan hanya bisa mengucakan rasa syukur. Karena dengan adanya mereka ia bisa merasakan kehangatan keluarga.
Malam harinya, Meili tidak bisa tidur. Ia memikirkan ucapan sahabatnya beberapa saat lalu, di mana Jessy menginginkan pindah dan rencananya akan menempati rumah omah yang berada di bogor. Itu artinya ia akan kehilangan sahabat juga Nenek, karena Mariam juga Oma memutuskan untuk ikut tinggal bersama.
Ketika selesai sarapan pagi, Jessy dan Nenek sudah bersiap dengan kepindahannya.
Pagi ini semuanya berkumpul di rumah Mariam, tentu saja untuk membantu membereskan apa saja yang akan mereka bawa.
Di sisi lain, Meili sedari tadi terus saja menempel pada Jessy. Gadis itu seolah tidak rela akan di tinggal sahabatnya.
"Meili jangan seperti ini," Sedari tadi Jessy tidak bisa bergerak leluasa karena Meili terus saja merangkul tangannya.
"Nanti kalau aku kesepian bagaimana?" Meili tetap saja dalam mode merajuk.
"Kita bisa VC."
"Tapi rasanya berbeda."
"Tidak ada rasanya Meili." Jessy memutar bola matanya malas.
"Nanti kalau keponakanku kangen dengan aunty nya gimana?"
"Dia belum mengerti begituan."
"Tapi bisa saja dia ingin bertemu aunty nya yang cantik ini."
"Astaga," Jessy sudah tidak tau lagi harus menghadapi sahabatnya itu bagaimana.
...----------------...
__ADS_1
...Yah, baru aja seneng. Meili udah di tinggal. ...
...Tenang Meili, ada banyak lelaki tampan di sekitarmu ðŸ¤...