
"Lo nggak mau makan juga?" tanya Rian sembari memakan makanannya.
Meili menggelengkan kepalanya. "Nanti aja!" Sungguh ia sebenarnya sekuat hati menahan debaran jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Bahkan ia sekuat tenaga menjaga pandangannya agar tidak menoleh pada seseorang yang duduk di seberang sana.
Beberapa hari tidak bertemu, tentu saja membuat suasana aneh di antara mereka, apalagi mengingat kejadian terakhir di antara mereka.
"Kapan masuk sekolah?" tanya Rian.
"Lusa," jawab Meili.
Tanpa sadar ia seketika mengingat kembali kenangan-kenangan di mana ia mencari perhatian Raka, dan sebentar lagi itu takkan pernah terjadi lagi. Apalagi cowok itu yang sebentar lagi lulus sekolah, tentu ia akan bertemu orang-orang baru yang semakin akan membuat mudah melupakannya.
"Hei!" Rian melambaikan tangannya di depan wajah Meili karena gadis itu melamun saja. "Dari tadi di ajak ngomong malah ngelamun!"
Meili hanya tersenyum kaku, ia sendiri tidak menyadarinya. "Masak sih!"
"Jangan suka ngelamun, nanti ketempelan!" kata Rian. Ia menyingkirkan piringnya yang telah bersih. Semua makanannya sudah pindah kedalam perutnya.
Meili mencebikkan bibirnya. "Udah nggak ada yang begituan!" sahutnya ketus.
Rian lalu mengacak rambut Meili dengan gemas. "Gitu aja ngambek!"
"Kakak ih ...!" semburnya sembari merapikan kembali rambutnya.
Tapi Rian justru tertawa melihat itu.
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, seseorang di seberang sana tatapannya tidak pernah lepas dari mereka.
Raka sendiri tidak tau apa yang sebenarnya ia rasakan, ia hanya merasa tidak suka dengan keadaan ini. Tanpa menghabiskan makanannya ia beranjak dari duduknya dan menuju Nenek Mariam untuk membayar makanannya.
"Kamu kenal dia?" Ternyata Rian menyadari sedari tadi Raka terus melihat ke arahnya.
"Dia kakak kelas di sekolah!" ujar Meili, namun ia masih tidak mau menoleh ke arah Raka.
"Lo naksir ya?" tebak Rian karena melihat gelagat aneh Meili.
Meili hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan Rian.
Naksir.
Mungkin dulu memang iya, tapi itu harus layu sebelum mekar. Dan sekarang ia mencoba untuk melupakannya.
"Kak Rian udah selesaikan makannya!" Meili membereskan piring bekas makan Rian. Ia akan membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Pasti ada sesuatu!" gumam Rian. Tapi Meili sudah berlalu dari hadapannya.
Di saat Meili berpapasan dengan Raka yang baru saja selesai membayar, tidak ada dari mereka yang berniat untuk bertegur sapa. Seolah lidah keduanya keluh.
*
*
Hari berlalu begitu saja, besok tiba waktunya untuk pengambilan raport.
Dan itu hari yang paling tidak di sukai oleh Meili, begitupun Jessy. Mereka mempunyai kesamaan.
Jika Jessy, ia tidak menyukai hari itu karena akan teringat bahwa orang tuanya selama ini tidak pernah hadir untuk mengambilnya ke sekolah dan selalu di wakilkan oleh bibi di rumah.
Sedangkan Meili, ia tidak menyukainya karena di saat seperti inilah papanya akan selalu membandingkan nilainya dengan nilai murid yang lainnya.
"Hhaa!" Jessy dan Meili sama-sama menghembuskan nafasnya kasar setelah melihat surat pemberitahuan dari sekolah.
Keduanya lalu sama-sama menoleh hingga di detik berikutnya mereka saling tertawa.
"Ke kantin aja yuk?" ajak Meili. Karena hari ini sebenarnya hari bebas bagi semua murid.
"Ok," sahut Jessy. Dari pada di kelas, pikirannya menjadi semakin suntuk.
"Penuh Meili." Jessy mengedarkan pandangannya, siapa tau masih ada tempat yang kosong. Ternyata ia melihat ada suaminya yang juga berada di kantin, tentunya bersama teman-temannya. "Di sana aja," tunjuk nya ke arah Nathan.
Meili menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya kasar, Lagi-lagi ia harus bertemu Raka.
Nathan yang melihat kedatangan istrinya langsung menyuruh Ariel menggeser duduknya.
"Mentang-mentang bininya dateng, langsung aja!" gerutu Ariel sembari berpindah tempat duduk.
Nathan sama sekali tidak memperdulikan gerutuan Ariel. "Sini sayang," sembari menepuk tempat sebelahnya.
Ariel dan Reza, sama-sama memperagakan seseorang yang ingin muntah mendengar itu, selama ini mereka belum pernah melihat Nathan bertingkah seperti itu.
Sedangkan Meili terpaksa harus duduk di sebelah Jessy, yang sebelah nya lagi adalah Raka.
"Besok pembagian raport?" tanya Nathan. Karena tadi ia sempat mendengar dari beberapa murid yang membicarakan acara besok.
Jessy menganggukkan kepalanya. "Mungkin untuk tahun ini nenek yang akan datang," ia hanya tersenyum kecut. Memiliki orang tua dan tidak, nyatanya baginya sama saja.
Nathan mengusap puncak kepala Jessy. "Mau aku yang ambilkan?" tawarnya. Yang langsung membuat mata Jessy melotot.
"Nggak usah, nanti yang ada banyak pertanyaan dari fans kamu!" sindir Jessy, mengingat suaminya itu memang banyak yang mengagumi di sekolah mereka.
__ADS_1
Nathan hanya tertawa melihat raut wajah istrinya yang sedikit kesal.
"Idih, seneng banget mukanya!" Jessy semakin cemberut melihat itu.
Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat drama pasutri itu.
Jessy kemudian menoleh pada Meili yang sedari tadi hanya diam saja. "Besok kamu gimana?" ia tahu kalau papa Meili besok pasti akan duduk bersama para guru, mengingat papa Meili adalah pemilik yayasan. Dan di pastikan Meili tidak ada yang mendampingi.
Meili mengangkat kedua bahunya. "Belum tau." tapi matanya menatap pada layar ponsel yang berada di tangannya, ia sedari tadi sedang berbalas pesan dengan Rian.
Semenjak mengenal Rian, Meili seperti mempunyai seorang kakak laki-laki yang memperhatikannya.
Jawaban Meili menyita perhatian Raka. Ia menoleh pada gadis yang semakin lama tidak mau lagi menatapnya.
"Uhm, gimana kalau aku minta tolong pada Kak Rian ya?" ucap Meili tiba-tiba. Mungkin saja Rian mau membantunya, mengingat hubungannya sangat baik.
"Rian?" Jessy masih tidak mengerti.
"Oh, aku belum cerita ya!" Meili terkikik baru menyadari jika dirinya sama sekali belum cerita pada Jessy. "Itu salah satu pelanggan di rumah makan Nenek, orangnya sangat baik." ceritanya antusias.
Jassy hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
Decitan dari kursi Raka terdengar cukup keras karena ia yang tiba-tiba berdiri, hingga menyita perhatian semua orang.
"Gue pergi dulu." Ia lalu pergi begitu saja.
"Kenapa tuh anak?" Reza tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
"Lagi PMS mungkin," sahut Ariel yang membuat lainnya tertawa. Terkecuali Meili yang melihat kepergian Raka semakin menjauh.
*
*
Malam harinya, Meili dengan gusar menatap layar ponselnya. Ia sedari tadi ingin mengirimkan pesan pada Rian, tentang niatnya untuk meminta tolong mengambilkan rapot.
Namun ia ragu, apalagi mengingat papanya yang seorang pemilik yayasan. Apa kata guru yang lain jika ia membawa seorang cowok untuk menemaninya mengambil rapot.
Andai saja, papanya tidak sibuk tentu ia akan meminta papanya saja yang ambil.
"Kalau begini, cuma bibi yang bisa." Jalan terakhir yang bisa ia ambil.
...----------------...
...Wah... setelah ini Raka sama Meili nggak bisa ketemu dong kalau udah lulus ðŸ¤...
__ADS_1