Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Ariel Mencari Jodoh


__ADS_3

Para undangan perlahan meninggalkan kediaman Raja, setelah acara tujuh bulanan Meili berakhir beberapa saat lalu. Di sana hanya terlihat beberapa orang saja yang masih tertinggal.


"Sayang, Mama pulang dulu ya!" Dena berpamitan.


Tadi ia datang terlambat ke acara Meili karena ia baru kembali dari luar kota.


"Maaf Mama tadi terlambat," Dena menyesalinya. Padahal ia sudah memperkirakan waktu perjalanannya, namun ia harus terjebak macet di jalan.


"Iya Ma, tidak apa-apa." Meili mencoba berlapang dada, tidak apa melihat Dena terlambat yang terpenting ibu kandungnya itu masih bisa hadir.


"Semoga bayinya sehat sampai lahiran, begitupun dengan Mama nya." Dena memberikan doa, yang segera di amini oleh putrinya.


Setelah berpamitan dengan besan juga menantunya, Dena bersama suaminya pergi dari sana.


Anita menghampiri menantunya yang sedang duduk bersama sahabatnya. "Sayang kamu istirahat dulu kalau capek." Membuat perhatian semua orang beralih kepada Anita.


Meili tersenyum. "Iya Ma, nanti kalau capek Meili istirahat. Kalau sekarang masih belum."


"Ya sudah, nanti kalau butuh apa-apa bilang Mama ya."


"Iya Ma."


Kemudian Anita beranjak dari sana.


"Mertua lo serasa ibu kandung." Jessy berbisik. Dan itu juga sama sepertinya, mempunyai ibu mertua yang begitu baik.


"Iya, dan aku beruntung di pertemukan keluarga seperti Mama juga Papa." Meili mengamini. Kemudian ia teringat sesuatu. "Oh ya, sebenarnya tadi sebelum Kak Raka nyosor itu aku mau bilang kalau tadi sepertinya aku lihat Tasya. Tapi Kak Raka nggak percaya." Meili berbisik.


Jasssy terdiam sebentar, namun kemudian ia tersenyum. "Mungkin dia mau ngucapin selamat sama lo."


Karena semenjak kejadian terakhir beberapa tahun yang lalu ia masih belum bertemu lagi dengan Tasya.


"Masak sih!" Meili rasanya tak percaya. Ia sendiri terakhir bertemu dengan Tasya juga tidak dengan keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Mungkin saja."


"Kamu udah maafin dia?"


Jessy menganggukkan kepala. "Nggak ada gunanya juga kan kalau gue nggak maafin dia, lagi pula semuanya udah berlalu." Hanya saja takdir masih belum mempertrmukan mereka.


Beberapa saat mengobrol Meili merasakan jika ia mulai merasakan lapar, apalagi melihat Jessy yang sesekali di suapin oleh suaminya. Ia hampir saja beranjak ketika suaminya bertanya.


"Mau kemana?" tanya Raka.


"Aku lapar," jawab Meili. Ia berniat untuk mengambil makanan.


"Duduklah, biar aku yang ambilkan." Raka lalu berjalan menuju meja di mana beberapa makanan dan minuman tersaji di sana.


"Gila, temen kita emang bener-bener berubah setelah nikah." celetuk Reza pada Ariel. Sedari tadi ia memperhatikan bagaimana Raka dan Nathan memperlakukan istri mereka penuh perhatian. Padahal mereka dulu anti tebar pesona terhadap gadis-gadis.


"Iya, gue juga heran." Ariel sependapat.


"Kak Ariel sama Kak Reza aja yang belum pernah ngerasain benar-benar jatuh cinta sama cewek, makannya jangan jadi playboy melulu." Meili mencibir.


Nathan sendiri tersenyum dan memberi kecupan di kening istrinya.


Reza dan Ariel rasanya ingin mual melihat adegan itu.


"Kak Ariel dan Kak Reza cari aja salah satu cewek yang ada di sini, siapa tau cocok." Meili mengedarkan pandangannya, tapi ternyata yang masih tersisa hanya teman Anita dan Raja.


Mata Ariel mendelik mendengar ucapan Meili. "Yang bener aja, di sini cuma tinggal temen mertualo." sungut Ariel.


Reza memilih diam, ia tau jika ia ikut menanggapi ucapan Meili maka tidak akan ada habisnya.


Meili tertawa membayangkan Ariel berkencan dengan tante-tante.


"Nah kan, pikiran lo pasti yang enggak enggak nih." Mata Ariel memincing.

__ADS_1


Meili segera menggelengkan kepalanya, namun dengan tawa yang tidak berhenti. "Enggak ih, Kak Ariel suudzon melulu."


"Kenapa?" Raka yang kembali membawa sepiring nasi dan segelas minum, ia lalu duduk di samping Meili. "Aku suapi ya?"


Meili mengangguk. "Kak Ariel mau cari jodoh," adunya. Sembari menerima suapan dari suaminya.


Raka seketika melirik ke arah sahabatnya, yang langsung mendapatkan gelelengan kepala dari Ariel.


Meili mengedarkan pandangannya kembali dan menemukan seorang pramusaji di kejauhan. "Kak Ariel bagaimana kalau gadis itu."


Ariel mengikuti arah pandang Meili, di mana pramusaji itu tengah mengambil beberapa piring kotor. Seorang gadis muda dengan perawakan sedikit berisi, kulit putih dan berwajah manis.


"Tapi kelihatannya dia kemudaan deh, Kak Ariel kan udah tua." Meili tertawa, dan di ikuti semua orang.


"Enak aja tua, gue masih muda. Lagi pula gue udah biasa kencan sekelas dengan model." Ariel membela diri.


"Kak Ariel jangan cari yang good looking aja, tapi cari juga yang baik hatinya." Meili menasehati.


Namun Ariel hanya memutar bola matanya malas.


*


*


Dua bulan kemudian.


Mama Anita dan Papa Raja berjalan tergesah di lorong rumah sakit, tujuan mereka sekarang adalah ruang bersalin. Setelah sampai, ternyata tidak lama Dena juga suaminya juga baru sampai.


Mama Anita baru saja akan bertanya pada salah satu perawat yang berada di ruang administrasi, namun ia urungkan setelah mendengar teriakan dari ruang bersalin.


"Aaaaaaaaaahhhhhhh..."


...----------------...

__ADS_1


...Semoga sehat ibu dan bayinya ya 🤲...


__ADS_2