Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Pengumuman


__ADS_3

Cerita Bang Ariel sudah lounching guys, yuk ramaikan.



Seorang gadis berseragam SMA terlihat berjalan kaki menuju ke sekolahnya. Ia salah satu pelajar yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk masuk dalam sekolah bergengsi.


Delia Safitri, gadis berumur 18 tahun. Ia menginjak kelas 12, jurusan IPA.


Tak ada yang istimewa darinya, namun gadis itu terlihat menyejukkan mata bila memandangnya.


Dari cara ia bisa masuk dalam sekolah tersebut, bisa di pastikan jika ia berasal dari keluarga yang tidak mampu.


Bagaikan sebuah mimpi ketika dulu pertama kali tau jika dirinya masuk sekolah tersebut, tentu ia tidak akan menyia-nyiakannya.


Apalagi sekolah itu memang sudah tersohor di kotanya.


*


*


"Kenapa nggak nunggu aku?" Adi yang baru sampai di kelas dan mendapati Delia duduk di bangkunya.


Dia adalah teman Delia sejak kecil, namun berbeda dengan Delia. Adi termasuk anak orang kaya, tidak seperti dirinya.


"Kamunya kesiangan." Delia melirik sekilas ke arah Adi sebelum matanya fokus kembali pada buku yang ada pada tangannya.


"Cuma sedikit."


"Setiap hari, kamu telatnya juga sedikit."


Namun Adi hanya tertawa mendengar itu, dan Delia yang berdecak.


Adi memang menyuruh Delia untuk menunggunya ketika akan berangkat sekolah, agar mereka bisa berangkat bersama. Tetapi Adi selalu telat datang, dan membuat Delia lebih memilih untuk berjalan kaki.


Ia tidak mau sampai telat karena akan mempengaruhi salah satu nilai kedisiplinan nya, dan berdampak pada beasiswa yang ia dapatkan.


"Oke, oke... lain kali nggak akan telat." kata Adi.

__ADS_1


"Nggak percaya!" Delia tanpa melihat ke arah sahabatnya. "Orang setiap hari kamunya juga ngomong kayak gitu."


Lagi-lagi membuat Adi tertawa.


*


*


"Delia! Ayo kita beli bakso!" Adi yang selesai merapikan peralatan sekolahnya begitu jam pelajaran usai.


"Nggak."


"Kenapa?"


"Nggak ada alasan!"


Adi mendengus, selalu saja sahabatnya itu menolak ajakannya. Sebenarnya ia juga tidak lapar, hanya saja ia ingin melihat sahabatnya itu makan.


Karena ia tau jika Delia saat istirahat hanya memakan sepotong roti dan sebotol air mineral yang di bawa dari rumah.


"Aku yang traktir!" Adi terus saja membujuk.


Dan Delia juga tau, jika sahabatnya itu kasihan terhadapnya. Kasihan melihat nasibnnya yang tak sebaik teman-teman lainnya.


Delia bukannya tidak mampu membeli makanan, tetapi ia memilih untuk menabung demi masa depannya nanti. Meskipun ia bisa masuk kuliah dengan beasiswa, tapi ia juga memerlukan untuk biaya penunjang lainnya.


Apalagi tidak ada yang bisa membantunya.


"Udahlah, aku balik duluan." Kemudian ia meninggalkan Adi yang hanya bisa menghembuakan nafasnya kasar.


*


*


Sebelum sampai di tempat kerjanya, seperti biasa Delia mampir ke toilet yang ada di pom bensin untuk sekedar mengganti baju dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.


Butuh waktu 10 menit untuk Delia sampai di tempat kerjanya dengan berjalan kaki, hingga ia sampai di depan sebuah bangunan bengkel mobil.

__ADS_1


Delia menjadi satu-satunya montir wanita dan termuda yang bekerja di sana. Tapi keahliannya tidak bisa di ragukan, ia sudah seperti montir profesional.


"Udah pulang sekolah?" Ujang, salah satu montir di sana.


"Sudah, Kang." sahut Delia. Ia segera ke dalam untuk menaruh tasnya sebelum ia memulai pekerjaannya.


"Alhamdulillah, bengkel hari ini rame." Ujang memberitahu begitu melihat Delia kembali dan akan memulai pekerjaannya.


"Alhamdulillah." Delia juga mengamini. Ia memulai mengerjakan mobil yang berada di sebelah Ujang.


Bengkel siang menjelang sore itu memang terlihat ramai, terbukti dari jejeran mobil yang di tinggalkan oleh pemiliknya untuk di perbaiki.


Terkadang, mobil-mobil itu hanya butuh pengecekan rutin setiap bulannya.


Di bengkel, memang hanya Unjang yang terlihat akrab dengan Delia. Karena sebenarnya Delia gadis yang tidak banyak bicara, terkecuali jika seseorang itu benar-benar dekat dengannya.


"Kamu kenapa nggak bareng aja sama Adi, dari pada jalan kaki. Capek!" tanya Ujang sembari memperbaiki mobil.


"Nggak lah Kang, nggak enak sama Bapak." sahut Delia tetapi matanya tetap fokus pada mesin mobil yang ia otak atik.


Bapak yang di maksud Delia adalah sang pemilik bengkel, yang tak lain adalah ayah dari Adi sahabatnya. Ia sudah di berikan pekerjaan saja rasanya sudah lebih dari cukup, karena itu ia tidak mau menimbulkan berita-berita yang nantinya akan mengecewakan.


"Bapak orangnya baik." Ujang mengingatkan.


"Tau, tapi tetap saja Kang."


"Siapa tau kamu jodoh sama Adi."


Delia terkekeh mendengarnya.


"Lah... malah ketawa."


"Masih kecil Kang, jangan ngomongin jodoh."


"Jodoh tidak ada yang tau kapan datang nya," sahut Ujang.


Delia tersenyum samar. "Lalu kenapa Kang Ujang sendiri belum menikah?" Ia membalikkan pertanyaan untuk pemuda berusia 24 tahun itu.

__ADS_1


Ujang yang tadinya tertawa kini langsung terdiam. "Belum ada jodohnya." jawabnya lirih.


__ADS_2