
Meili mengalihkan perhatiannya begitu pintu kamar tidurnya terbuka. Terlihat sosok Irfan di ambang pintu, kemudian berjalan menghampiri nya.
Senyum Irfan tak pernah luntur, rasa bahagia tentu saja menghinggapi nya. Sebentar lagi putri satu-satunya akan di pinang oleh lelaki pilihan putrinya sendiri, dan ia meyakini jika Raka adalah lelaki yang baik.
Tapi ada rasa haru juga, karena ia harus rela melepasnya untuk pergi jika sang menantu kelak membawa Meili untuk pergi.
Irfan menggenggam tangan Meili, matanya tak pernah lepas dari wajah ayu Meili. Putrinya pagi ini benar-benar terlihat begitu cantik dengan riasan tidak terlalu tebal dan juga kebaya putih yang melekat pas di tubuhnya.
"Papa rasanya baru kemarin menggendong kamu waktu baru lahir," kata Irfan. Ingatan lampau itu sekarang menghiasi pikirannya. "Kamu begitu kecil dan rapuh."
Mendengar penuturan papanya sontak saja, membuat mata Meili seketika mengembun.
"Papa yang pertama kali menggendong mu, kata papa juga yang pertama kali bisa kamu ucapkan di saat kamu baru bisa berceloteh." Irfan tersenyum, namun matanya yang memerah tidak bisa membohongi jika ia merasa patah hati karena putrinya akan pergi.
"Dan penyesalan terbesar papa adalah, membuang waktu papa hanya untuk bekerja dari pada bersama kamu sayang."
Meili menggeleng, air matanya sudah tidak lagi bisa ia tahan. "Papa sudah menjadi papa yang terbaik untuk Meili." Ia bahkan sesenggukan.
"Hei!" Irfan menginterupsi. "Calon pengantin tidak boleh menangis," Irfan mengambil tisu lalu dengan perlahan menghapus air mata Meili. "Nanti Raka akan terkejut melihat penampilan mu karena riasannya luntur." ia mencoba mengembalikan senyum putrinya.
Tanpa menunggu lama Meili langsung memeluk Irfan, ayah dan anak itu menikmati momen yang mungkin saja tidak akan pernah terulang.
Hingga beberapa saat kemudian, keduanya memutuskan untuk mengakhiri suasana hari itu dan memutuskan untuk berangkat. Karena satu jam lagi acara akan segera di mulai.
Ketika Meili hampir saja memasuki mobil yang sudah di hias sedemikian rupa, ia menghentikan langkahnya. Matanya memandang ke segala arah, ada seseorang yang seharusnya juga menemaninya.
__ADS_1
"Sayang," Irfan menyentuh bahu Meili. "Mungkin Mama sudah berada di hotel." Ia seakan tau apa yang di cari putrinya.
Meili hanya tersenyum mendengar itu.
Setelah itu mereka memutuskan untuk berangkat, tapi yang tidak mereka sadari ada sebuah mobil yang sedari tadi berhenti tidak jauh dari rumah Meili.
*
*
Hotel yang akan di gunakan menjadi saksi pernikahan Meili dan Raka sudah di hias begitu indah. Dan semuanya itu tak lain campur tangan dari Anita.
Langit-langit hotel sudah di hias dengan ribuan bunga yang menggantung, dan semuanya di dominasi bewarna putih.
Di salah satu kamar hotel, terlihat Raka yang ternyata sudah sampai lebih dulu. Dan ia berada di kamar yang nantinya ia akan gunakan beristirahat bersama Meili.
Klek.
"Wah... kita beneran mau di langkahi!" Reza dan Ariel yang rupanya datang. Mereka juga tidak kalah tampan hari ini.
Raka hanya menatap malas kedua sahabatnya itu.
"Loh Meili belum datang ya?" Jessy yang rupanya baru tiba bersama suaminya. "Aku kira sudah sampai!"
Nathan kemudian mendekat ke arah Raka dan memberinya selamat. "Selamat Ka, semoga semuanya lancar." doa nya, yang di amini oleh Raka.
__ADS_1
"Anak kalian dimana?" Ariel tidak melihat baby Al.
"Sama Mami," sahut Jessy.
"Enak bener." kata Reza.
"Emang enak, makanya lo nikah juga." cetus Jessy. Ia lalu menoleh ke arah suaminya. "Sayang nanti kita sekalian aja bulan madu lagi di sini."
Entah sadar atau tidak Jessy mengatakan itu, namun dirinya tidak memperdulikan semua orang yang menatapnya horor.
Hingga beberapa saat kemudian, Raka baru menyadari jika waktu pernikahannya akan segera di mulai. Ia sedari tadi terlalu fokus dengan para sahabatnya hingga tidak menyadarinya, namun kenapa Meili masih juga belum datang.
Ia mengotak atik ponselnya, mencoba menghubungi ponsel Meili. Namun sama sekali tidak tersambung.
Raka tiba-tiba saja menyentuh dada nya, ia merasakan sesuatu yang tidak enak. Hingga kemudian rasa gelisah mulai menguasai dirinya.
"Dedek gemes belum datang juga?" Reza dan yang lainnya mulai menyadari. Karena seharusnya Meili memang sudah tiba.
"Iya," Jessy yang juga mulai merasa tidak tenang. Ia melakukan hal yang sama seperti Raka, mencoba menghubungi ponsel Meili namun tidak terhubung.
Klek.
Pintu hotel itu terbuka, menampilkan sosok Anita dengan mata yang memerah. Bahkan Raja merangkul tubuhnya agar tidak terjatuh. "Sayang, Meili dia... "
...----------------...
__ADS_1
...Kabur..... ...