
Raka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, matanya menatap lurus ke depan. Dimana pintu ruang operasi masih tertutup rapat.
Meili maupun Irfan keduanya masih berjuang hidup di dalam sana.
Tidak lama seorang perawat keluar dari ruang operasi, ia berjalan ke arah Raka. "Permisi, ini pakaian milik pasien." Ia memberikan satu kantong berukuran sedang. Setelah itu ia kembali lagi ke dalam ruang operasi.
Raka hanya bisa diam, sembari menatap apa yang berada dalam kantong keresek itu. Terlihat kebaya putih yang sekarang lebih dominan warna merah karena darah. Juga satu setel jas, yang juga hampir sama keadaannya.
Tangannya tentu saja bergetar, ia masih tidak menyangka dengan keadaan yang menimpanya. Hari bahagianya sudah di depan mata, namun dalam sekejap semuanya hancur begitu saja.
Anita sang ibu juga tak henti-hentinya memberikan moral agar putranya tetap sabar menghadapi semuanya, meskipun ia tau jika itu semua sangat sulit. Ia sendiri juga merasakan hal yang sama, walaupun Meili belum menjadi menantunya tapi ia sudah begitu menyayanginya.
Dena pun tak hentinya menangis di pelukan suaminya, baru saja ia ingin memulai kembali untuk memperbaiki hubungannya dangan sang putri. Tapi justru hal seperti ini yang terjadi.
Di sudut ruangan, terlihat Papa Raja, Papi Tama, Nathan, Ariel juga Reza sedang mengobrol dengan beberapa polisi. Dari raut wajah mereka nampak terlihat begitu serius, antara terkejut dan tidak percaya.
Nathan sendiri berkali-kali menerima telepon dari Jessy, istrinya yang berada di rumah itu juga merasakan kepanikan dan ketakutan yang amat sangat. Tadinya dia juga ingin ikut ke rumah sakit, tapi sekarang keadaannya berbeda. Ada beby Al yang juga membutuhkannya.
*
__ADS_1
*
Setelah melewati beberapa jam operasi kini Meili sudah bisa di pindahkan ke ruang rawatnya, tapi gadis itu masih tidak sadarkan diri.
Sedangkan Irfan yang keadaannya lebih serius, ia harus berada di ruang ICU.
Raka yang duduk di sampingnya merasakan hancur melihat keadaan Meili. Kekasihnya yang biasanya selalu tersenyum kini terbaring tak berdaya.
Kaki kirinya yang di perban akibat operasi, dan wajah cantiknya yang pucat di hiasi oleh beberapa goresan.
"Raka istirahatlah, biar Mama yang jaga." Anita mendekat.
Anita menghembuskan nafasnya pelan melihat putranya seperti itu.
Dena sendiri tadi ia bersikeras untuk tinggal, namun Anita menyuruhnya untuk pulang agar bisa bergantian jaga nantinya.
Dan mungkin itu adalah hal yang hanya bisa di lakukan untuk sekarang ini, meskipun Dena sendiri merasa berat meninggalkan putrinya.
Sedangkan semua orang, mereka berada di luar ruangan Meili. Mereka tidak mau masuk karena takut mengganggu istirahat Meili.
__ADS_1
*
*
"Apa kamu tidak mau bangun?" Raka dengan hati-hati menggenggam pelan tangan Meili. Sekarang sudah tengah malam, tapi Meili saja betah menutup matanya.
"Apa kamu tidak ingin melanjutkan acara pernikahan kita?" tanya Raka. "Katanya kamu ingin cepat-cepat menikah," imbuhnya.
Ia mengingat keinginan Meili di malam sebelum pernikahannya, jika saja saat itu ia mengabulkan. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Raka membuang nafasnya kasar, kenapa dadanya kini begitu sesak. "Kalau kamu bangun sekarang, aku janji kita akan langsung menikah."
Suaranya bergetar, ia rasanya tak mampu membendung kesedihannya. "Aku mohon cepatlah bangun," pintanya lagi. Di iringi air matanya yang mengalir begitu saja.
Anita yang berada tak jauh dari mereka juga ikut menangis, di mana hati ibu yang tak terluka melihat putranya seperti itu. Putranya yang tak pernah mengadu dan tak pernah menangis kini mengalami kesedihan yang teramat sangat.
...----------------...
...Tisu, mana tisu 🤧...
__ADS_1