
Rian membuka kotak berisi makanan yang masih sedikit mengepulkan asap, pertanda masakan itu baru saja di buat.
"Kelihatannya enak!" Rian mencoba mencicipi masakan yang mirip seperti capcay itu.
"Memang enak Kak, bukan sepertinya." Meili memutar bola matanya malas.
Rian mengunyah nya pelan, merasakan rasa masakan gadis itu yang ternyata memang benar rasanya enak.
Kedua sahabat Rian hanya menggelengkan kepalanya, mereka sudah sering melihat keduanya saling beradu mulut. Tapi mereka mengerti jika itu hanya bentuk kasih sayang yang terlihat berbeda dari biasanya.
Di meja lainnya, nyatanya Raka memperhatikan apa yang sedang Meili lakukan. Jelas saja raut wajahnya seketika berubah, rasa tidak suka sudah merasukinya.
Ariel dan Reza, mereka saling sikut mengetahui apa yang membuat sahabatnya berubah. Mereka hanya mengulum senyum melihat itu.
Keduanya sebenarnya bisa menebak jika Raka mempunyai perasaan lebih dari sekedar teman pada Meili, hanya saja sahabatnya itu terlalu datar dan kaku hingga tidak menyadarinya.
Di meja itu terdengar hanya suara Rosi dan sahabatnya yang mencari topik obrolan, sesekali Ariel dan Reza juga ikut menimpali. Tapi tidak dengan Raka yang hanay diam.
"Kenapa cuaca siang ini panas banget ya?" celetuk Ariel.
Rosi dan sahabatnya yang mendengarnya, seketika menengadah ke atas. Langit siang itu rupanya mendung berawan.
__ADS_1
"Iya, rasanya gerah banget!" Reza menimpali.
"Kalian aneh!" kata Rosi. "Sekarang lagi mendung." tunjuk nya ke arah langit.
Ariel dan Reza kemudian sama-sama menengadah, dan memang benar apa yang di katakan gadis itu. "Tapi kenapa gerah ya?" Ariel kemudian membuka beberapa kancing kemeja atasnya.
Reza rasanya ingin meledakkan tawanya, karena cuaca panas yang di maksud mereka adalah cuaca hati Raka. Tapi Raka justru sama sekali tidak mereka dengan apa yang di ucapannya.
*
*
Namun sangat pemilik apartemen rupanya suasana hatinya masih sama seperti tadi siang.
"Udalah bro, kalau lo suka cepet tembak. Nanti keburu di ambil orang, apalagi ada yang selalu memberi perhatian sama tuh cewek." Ariel menasehati.
"Iya, anak orang jangan di gantung melulu. Nanti kalau dia udah nyaman sama orang lain lo yang nyesel." Reza mempunyai pemikiran yang sama.
Raka hanya melihat Reza dan Ariel bergantian.
Tapi di sudut hatinya, ia juga sebenarnya meyakini jika hatinya sebagian besar sudah di miliki Meili. Hanya saja ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Pengalamannya menyatakan cinta, rupanya membuat ia tidak percaya diri. Ia takut jika kali ini ia mengalami hal yang sama seperti terakhir kalinya.
"Jangan bilang, lo nggak bisa nembak cewek?" tebak Ariel dan seketika membuat pandangan Reza tertuju pada Raka. "Beneran?"
Raka sedikit tidak terima dengan tuduhan sahabatnya itu, hingga membuatnya berdecak kesal.
Kedua sahabatnya itu seketika tertawa lepas.
"Tenang bro, apa gunanya punya sahabat seperti kita jika tidak bisa memberikan ilmu beginian." Sombong Ariel setelah tawanya reda.
"Nah, betul itu." sahut Reza.
Mereka berdua, sejak memasuki dunia perkuliahan nyatanya memang sedikit berubah. Dulu ketika SMA memang sering menggoda teman perempuannya, dan sekarang bukan hanya menggoda tapi menjadikannya kekasih bahkan lebih dari satu.
Pesona mereka berdua nyatanya tidak sulit untuk mendapatkan gadis incaran mereka, apalagi jika gadis itu yang datang sendiri pada mereka.
...----------------...
...Nah loh, Raka mau di ajarin apa nih sama mereka berdua?...
...Jadi gak yakin sama Ariel ma Reza 😅. Ke jalan kebenaran apa malah menyesatkan ya 😂...
__ADS_1