
Ketika sampai di rumah, ternyata sudah terdekor sangat indah. Bahkan jika di lihat seperti seseorang yang akan mengadakan pesta pernikahan, padahal sebenarnya hanya acara tujuh bulanan.
Mama Anita dan Papa Raja, berencana ingin mengadakan di salah satu hotel saja yang berada di Jakarta. Namun Meili dan Raka sepakat menolaknya, mereka sepakat untuk mengadakan acara tujuh bulanan di rumah saja.
Mama Anita sebenarnya punya alasan kenapa ingin mengadakan di hotel, ia dan suaminya berpikir itu sebagai ganti pesta pernikahan dulu yang gagal.
Sedangkan Meili dan Raka ingin mengadakan di rumah karena ingin merasakan suasana kekeluargaan.
Anita dan Raja akhirnya mengalah, hingga kemudian Anita yang mengambil alih untuk mengurus acara tersebut.
"Kak, Mama nggak salah nih?" Meili yang terkejut.
"Sepertinya Mama benar-benar ingin mengadakan pesta," jawab Raka.
Tadi pagi Meili memang sudah melihat para pendekor datang ke rumah, hanya saja ia tidak menyangka jika hasilnya seperti ini.
"Kalian sudah pulang!" Anita menghampiri anak dan menantunya yang baru saja turun dari mobil. "Bagaimana, baguskan!" Anita yang terlihat begitu antusias.
"Bagus Ma," sahut Meili. Meskipun terlihat terlalu mewah namun ia tetap menyetujui, apalagi melihat raut wajah ibu mertuanya yang begitu bahagia. "Mama yang terbaik."
Mendengar jawaban menantunya membuat Anita puas, merasa apa yang di inginkannya ternyata menantunya juga suka. "Ya sudah kamu istirahat, tapi sebelumnya mandi dulu terus makan."
"Iya Ma," Meili kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Anita beralih pada putranya. "Gimana! Bagus nggak?" Seakan ia belum yakin.
"Seperti acara resepsi!" Raka menjawab jujur.
"Ish... kamu ini!" Anita memukul lengan putranya.
*
__ADS_1
*
Di pagi harinya, semua orang sudah di sibukkan dengan urusannya masing-masing.
Di dalam kamar, Meili bangun lebih pagi dari pada biasanya. Karena ia harus di rias untuk acara tujuh bulanannya.
Keluar dari kamar mandi, Raka melihat istrinya duduk di pinggir ranjang tengah melamun.
"Hei... ada apa?" Raka menghampiri dan duduk di sampingnya.
Seketika Meili tersadar, ia menoleh pada suaminya yang sedang menataonya. Ia tersenyum tipis, tapi tidak dengan tatapan sendunya. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, hanya tiba-tiba kangen sama Papa."
Meili mengusap perutnya yang membucit. "Andai saja Papa masih ada, pasti Papa juga akan senang dengan acara ini. Untuk cucunya."
Bibir Meili bergetar ketika mengatakan itu, bayangan Irfan berkelebat di ingatannya. Matanya memanas, rasa rindu akan sosok Irfan begitu kuat dalam hatinya untuk saat ini.
Apalagi di acara ini semua sanak saudara, kerabat dekat maupun jauh berkumpul, para sahabat nya pun juga ikut datang. Tapi Irfan orang yang begitu dekat dengannya tidak bisa mendampinginya.
"Aku kangen Papa Kak," kata Meili. Air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu ia cegah.
Ucapan Raka semakin membuat Meili tergugu, dan Raka hanya membiarkannya saja. Raka hanya bisa memeluknya erat, mungkin dengan menangis istrinya bisa sedikit melepaskan apa yang mengganjal di hatinya.
Hingga pukul delapan pagi, Meili sudah terlihat cantik dengan riasan di wajahnya. Dan juga pakaian khas yang ia pakai untuk acara tujuh bulanan nanti.
Semua orang sudah terlihat rapi, seperti Raka yang juga mengenakan pakaian khusus yang warnanya senada dengan pakaian Meili.
Anita dan Raja juga mengenakan pakaian khusus untuk acara tersebut. Para tamu dan sanak saudara juga sudah mulai berdatangan.
"Sayang!" Anita masuk ke dalam kamar Meili dengan sepiring makanan di tangannya. Wanita paruh baya itu juga terlihat cantik. Ia menoleh kepada Raka. "Kamu keluar dulu, temani Papa dan Abang kamu nyambut tamu gih."
Dika yang memang baru datang tadi pagi, karena harus menyelesaikan pekerjaannya dahulu.
__ADS_1
"Aku tinggal dulu ya." Raka berpamitan pada Meili, dan di angguki oleh istrinya.
Anita kemudian duduk di depan menantunya. "Kamu sangat cantik sayang." Ia memuji menantunya yang memang terlihat berbeda dari biasanya.
"Mama jangan muji gitu, nanti aku bisa terbang." Meili terkekeh.
"Kamu memang cantik, kemarin-kemarin juga cantik. Tapi sekarang kamu terlihat WOW." Anita dan Meili kemudian tertawa.
"Kalu begitu, sekarang kamu sarapan dulu. Tadi Mama lihat kamu belum keluar kamar sama sekali." Anita bersiap untuk menyuapi.
"Mama aku bisa makan sendiri." Meili merasa tidak enak.
"Mama tau kamu bisa makan sendiri, orang Mama lihat kamu biasanya makan sendiri." ujar Anita. "Tapi Mama mau suapin kamu, aaaa...!" Anita menyodorkan suaapn pertamanya.
Hingga Meili akhirnya membuka mulutnya untuk menerima suapan ibu mertuanya.
"Kamu harus makan yang banyak, karena kandungan kamu semakin besar pasti nutrisi yang di butuhkan juga semakin banyak." Sembari menyuapi Anita juga memberikan nasehat.
Meili diam mendengarkan, dan sesekali menganggukkan kepalanya. Matanya tak pernah lepas dari wajah ibu mertuanya. Wanita yang sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri.
"Kalu nanti kamu sudah menjadi Ibu, kamu harus benar-benar belajar bersabar. Mengurus anak itu tidaklah semudah yang ada di you tube, setiap anak berbeda-beda karakternya. Dan menjadi orang tua harus menjadi yang pertama apa yang di inginkan anaknya." Anita mengingat ketika ia pertama kali menjadi Ibu, setelah melahirkan Dika.
"Kamu tau, dulu Mama sering nangis waktu awal-awal menjadi orang tua. Mama dulu berpikir menjadi Ibu itu mudah, hingga Mama memutuskan untuk hidup mandiri bersama Papa. Bahkan Mama berpikir tidak membutuhkan pengasuh."
"Tapi ternyata, semuanya di luar bayangan Mama. Mama dulu sering menangis ketika Bang Dika nangis terus tidak berhenti, padahal Mama sudah mencoba segala cara untuk menenangkannya. Hingga akhirnya Mama memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Mama." Anita terkekeh, ia lalu menghela nafas. "Jadi Mama berharap, nanti kamu juga harus bersabar. Sesungguhnya di momen itulah yang selalu terkenang jika anak sudah dewasa."
Meili tidak tau harus berbicara apa, namun yang pasti ia merasa bersyukur di pertemukan dengan keluarga suaminya ini. "Ma!" Membuat Anita menatapnya. "Meili bersyukur di pertemukan Tuhan dengan Mama, sosok orang tua yang begitu menyangi anak-anaknya. Apalagi dengan Meili, meskipun Meili hanya menantu tapi Mama begitu sayang terhadap Meili. Maaf jika Meili belum bisa membahagiakan Mama." Katanya, ia kembali meneteskan air matanya kembali.
Anita segera mengambil tisu untuk menghapus air mata Meili, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada kata menantu, kamu ptri Mama. Selamanya pun juga akan tetap menjadi putri Mama, Mama sudah bahagia dengan adanya kalian. Anak-anak Mama yang selalu menyayangi Mama dan Papa."
Meili yang kemudian memeluk Anita, meluapkan rasa Terima kasih juga harus. "Terima kasih Ma."
__ADS_1
...----------------...
...Malem-malem melow gengs ðŸ˜...