
Beberapa hari telah berlalu.
Hari wisuda semakin dekat, dan dari kabar burung yang beredar semua murid di pastikan lulus seratus persen. Tentu saja itu membuat semua murid merasakan rasa yang luar biasa meskipun itu hanya kemungkinan.
Seperti malam ini, Raka terlihat menghubungi seseorang.
"Jadi Papa dan Mama pulang besok?" Raka yang ternyata sedang berbicara dengan orang tuanya di seberang sana.
"Iya, kami akan sampai pukul tiga sore."
"Baiklah kalau begitu, besok akan Raka jemput."
"Ya sudah sampai ketemu besok sayang." Mama Raka menyela, hingga kemudian sambungan berakhir.
Meskipun mereka tidak tinggal bersama, namun orang tua Raka masih mau menyempatkan waktunya untuk sang putra. Apalagi di hari penting bagi putranya itu.
Ia kemudian mengambil kunci mobilnya, ia akan pergi ke suatu tempat. Tentu saja menyiapkan sesuatu untuk kehadiran orang tuanya besok.
Jalanan malam yang cukup lenggang membuat Raka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuannya.
Rumah besar yang cukup mewah.
"Den Raka!" Satpam penjaga rumah yang kaget melihat kedatangan majikannya, namun ia tadi sempat mendengar dari bibi jika tuan besar bersama akan istrinya pulang besok. Ia lalu membukakan gerbang rumah lebih lebar agar mobil Raka bisa masuk.
__ADS_1
Raka sendiri memang sebenarnya mempunyai rumah, tapi ia tidak mau menempati karena di rumah sebesar itu hanya akan dirinya sendiri juga di temani beberapa pekerja.
Hingga akhirnya dia memilih tinggal di apartemen.
Di dalam rumahnya, ia melihat beberapa pekerja ternyata baru saja selesai membersihkan kamar kedua orang tuanya. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya.
Kamar dengan nuansa yang sama di apartemennya. Sudah lama ia meninggalkan kamarnya, sejak dirinya memasuki bangku SMA. Karena di saat itulah orang tua dan kakaknya pindah ke luar negri.
Esok harinya.
"Den Raka mau berangkat sekarang?" tanya salah satu bibi. Melihat majikannya itu sudah rapi.
"Iya Bi. Raka pergi dulu," pamitnya.
Ketika melewati meja makan, sejenak ia melihat di sana sudah tersaji beberapa makanan. Dan itu semua adalah makanan kesukaan orang tuanya juga dirinya.
Hingga kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya.
Entah kenapa bayangan gadis itu semakin sering melintasi pikirannya.
*
*
__ADS_1
Saat di bandara, dari jauh Raka bisa melihat kedua orang tuanya yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Ma, Pa!" Raka langsung memberikan pelukan hangat kepada orang tuanya secara bergantian.
Lelaki muda itu tentu saja merasakan rindu yang teramat sangat, meskipun ia sering melakukan VC tapi tetap saja rasa rindu itu menggunung di hatinya.
"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya sang ayah sembari berjalan menuju mobil Raka. Lelaki paru bayah yang masih terlihat gagah, bahkan saat ia merangkul bahu Raka sekarang mereka terlihat seperti adik dan kakak bagi yang tidak tahu siapa mereka.
"Baik Pa. Abang nggak ikut?" Raka tidak melihat keberadaan kakak laki-laki nya bersama orang tuanya.
"Abang mu sedang menghadapi semester akhir nya, jadi tidak bisa ikut." jawab ayah nya.
"Hm!" sahut Raka.
"Kamu menjemput kami sendirian?" Mama nya yang melihat Raka sendirian.
Raka sejenak terdiam mendengar pertanyaan mama nya yang menurutnya janggal, bukankah putra mereka hanya ia yang berada di sini. "Hm!" Ia menganggukkan kepalanya. "Memangnya harus bersama bibi?"
Mama nya mengulum senyum. "Siapa tau kamu bawa calon menantu buat Mama!" Yang kemudian terdengar suara renyah darinya di susul oleh sang suami.
Menantu?
Raka hanya memutar bola matanya malas melihat kelakuan kedua orang tuanya.
__ADS_1
...----------------...
...Sedikit dulu ya gengs. Hari ini padahal aku libur kerja, pengennya setok beberapa bab gitu. Mumpung pak suami juga libur. Lah kok malah gak sempet ngetik 😅. ...