
Dua hari berlalu.
Setelah sarapan usai, terlihat Anita, Raka juga Meili sudah rapi.
Mereka akan berangkat ke rumah sakit untuk pengecekan pertama keadaan Meili.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Anita begitu ia melihat Raka yang baru saja keluar dari rumah dengan mendorong kursi roda Meili.
Ia tadi sudah menyiapkan apa saja yang di perlukan di sana.
"Kelihatannya sudah semua," sahut Raka.
Kemudian mereka akhirnya berangkat ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan, Meili rasanya sudah tidak sabar untuk segera sampai. Karena selain ia yang memeriksakan keadaannya, ia juga tidak sabar untuk melihat perkembangan papanya.
Sampai hari ini, keadaan Irfan masih belum juga menunjukkan perubahan.
Tak lama kemudian mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Raka menyerahkan istrinya kepada sang Mama untuk di jaga, sementara ia akan mengurus beberapa prosedur pemeriksaan.
"Hasil operasinya tidak ada yang bermasalah, semuanya terlihat baik." kata Dokter setelah memeriksa kaki Meili. "Jika hasilnya terus membaik, maka akan lebih cepat kita melakukan untuk terapi jalan." imbuhnya.
Kabar bahagia itu bagaikan angin sejuk untuk Meili, yang artinya akan semakin dekat ia bisa berjalan kembali meskipun membutuhkan waktu.
Anita dan Raka yang mendengarnya juga ikut merasakan bahagia.
Setelah selesai, mereka memutuskan berpisah. Raka dan Meili akan ke ruang ICU, sedangkan Anita akan menebus obat Meili.
Saat mereka tiba di depan ruang ICU, Meili dapat melihat di mana papa nya berada dari balik jendela kaca.
Papa yang juga cinta pertamanya itu terlihat masih betah memejamkan mata, berbagai alat medis juga menempel pada tubuhnya.
Awalnya tadi, ia berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha tegar ketika mengunjungi papa nya. Ia tidak mau bersedih, karena takut jika Irfan juga ikut bersedih.
Tapi sekuat apapun ia membentengi diri, kenyataannya ia tak mampu.
Tangannya bergetar ketika menyentuh jendela kaca itu, seakan ia sedang menyentuh Irfan. Matanya memanas, bibirnya terlipat rapat.
Namun di detik berikutnya, air matanya begitu saja mengalir deras. "Pa... !" lirih nya.
Dadanya sungguh sesak, ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan mendapat musibah seperti ini.
"Tidak apa, menangislah!" Raka merangkul bahu istrinya.
Hingga seketika tangis Meili pecah di saat itu juga, ia menenggelamkan wajahnya pada perut Raka yang saat itu berdiri di sampingnya.
"Kita jangan putus asa untuk selalu mendoakan Papa agar cepat sadar," ujar Raka. Dan hanya terdengar isakan Meili yang teredam.
*
*
Ketika sudah sampai di rumah, terlihat mata Meili masih terlihat sembab.
__ADS_1
"Sayang kamu istirahat dulu," begitu Anita selesai menaruh barang-barang Meili yang tadi di bawah ke rumah sakit.
"Iya Ma, Mama juga istirahat biar nggak capek ngerawat Meili." Meili tersenyum setelah mengatakan itu.
Anita yang mendengarnya juga ikut tersenyum, ia lalu mencubit gemas pipi Meili. "Mama nggak pernah capek kalau buat kamu," Anita mengatakannya dengan tulus. "Ya sudah, kalau begitu Mama pergi dulu." Kemudian ia beranjak dari sana.
Setelah kepergian Anita, tidak lama Raka masuk ke dalam kamar.
"Mau makan?" tawar Raka.
Meili menggeleng. "Nanti saja."
"Oh ya, aku belum pernah melihat Mang Didin?" Meili teringat dengan supirnya.
Deg.
Raka merasakan jantungnya berdetak dengan kencang, ia takut jika istrinya itu akan bersedih jika mendengar kenyataan yang sebenarnya.
Namun seperti apapun ia menyembunyikannya, suatu saat Meili juga harus tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak!" Meili menyentuh tangan suaminya karena tidak menjawab pertanyaannya, tapi malah melamun.
Raka menatap lekat wajah Meili, mungkin sekarang waktunya istrinya itu harus tau.
"Apa Mang Didin pulang ke kampung?" pikiran Meili yang mengira Mang Didin ingin di rawat oleh keluarganya.
Raka menggenggam tangan Meili, bahkan ia sedikit meremasnya. "Sebenarnya ada sesuatu yang belum kamu tau, mungkin sekarang waktunya kamu harus tau." tuturnya lembut.
Sedangkan Meili hanya diam sembari menanti apa yang akan di sampaikan oleh Raka, tapi tidak di pungkiri kalau dirinya mulai sedikit takut.
Hati Meili rasanya kian berdebar menanti kalimat berikutnya.
"Ada seseorang yang menjadi dalang dari kecelakaan itu, dan dia adalah Rosi."
Mata Meili membulat seketika, ia tau jika Rosi tidak menyukainya tapi ia tidak pernah menyangka jika ada seseorang berani berbuat nekat.
"Dan dari kecelakaan itu memakan dua korban."
"Dua," Meili membeo. Bibirnya bahkan sudah bergetar.
Raka menganggukkan kepalanya. "Rosi dan Mang Didin."
Air mata itu akhirnya harus kembali mengalir, kenyataan yang baru di dengarnya sungguh sama sekali tidak ada dalam bayangannya.
Ia kehilangan supir yang sudah ia anggap sebagai keluarga, Mang Didin yang sudah mengantarkannya kemana saja ia mau sebelum ia bisa mengemudi.
Seseorang yang sering terkena marah oleh Irfan, karena selalu mengikuti keinginan nya.
"Maaf, aku baru cerita karena tidak tega melihat keadaan kamu. Dan Mang Didin sudah di makamkan di kampung halamannya." Namun Meili masih terdiam, dengan air mata yang terus mengalir.
Tidak menunggu lama, Raka segera membawa Meili dalam dekapan nya. Mendekapnya erat, agar istrinya tau jika ada ia yang bisa di jadikan tempat sandaran.
"Kenapa dia bisa setega itu!" tanya Mei di sela isak tangisnya.
__ADS_1
*
*
Pagi hari nya, terlihat Meili duduk melamun di teras belakang. Matanya menerawang jauh, kejadian demi kejadian yang menyakitkan dalam hidupnya masih berputar di pikirannya.
"Hei... sedang melamun?" Anita membawa du cangkir teh dan sepiring biskuit.
Meili seketika tersadar, kemudian menoleh ke arah Ibu mertuanya. Ia tersenyum tipis.
"Jangan suka melamun, nanti seperti ayamnya Pak Eko. Tetangga sebelah," kata Anita.
"Memangnya kenapa dengan ayamnya Ma?"
"Ayamnya Pak Eko kebanyakan melamun, tiba-tiba bisa bertelur. Padahal ayam jantan," Anita tertawa dengan ucapannya sendiri.
Tawa Anita nyatanya menular kepada Meili, karena menantunya itu juga ikut tertawa.
Anita yang melihatnya ikut merasakan senang, karena sebenarnya ia tau apa yang menyebabkan menantunya itu melamun.
"Oh ya Kak Raka belum pulang Ma?" Meili masih belum melihat suaminya sejak tadi berpamitan pergi.
"Belum, apa tadi tidak bilang mau pergi kemana?"
"Tidak, hanya bilang pergi sebentar."
"Mungkin sebentar lagi akan kembali."
Tidak lama setelah itu, Meili seperti mendengar sesuatu.
Meow.
"Siti," gumam Meili. Ia mengenali suara kucing peliharaan Mariam, ia lalu mengedarkan pandangannya.
Meow.
Suara itu semakin dekat.
Hingga kemudian, Meili tersenyum ketika ia benar-benar melihat keberadaan Siti.
Siti bahkan berjalan ke arahnya, hingga di detik berikutnya Siti melompat ke arahnya.
Sepertinya kucing jantan itu juga merindukan Meili.
"Siti... !" Meili memeluknya gemas.
Setelah Siti duduk nyaman di pangkuan Meili, dari jauh terlihat Raka berjalan ke arahnya dengan membawa kandang kecil. "Suka?"
Dengan cepat Meili menganggukkan kepalanya. "Terima kasih," ia kini tau jika yang membawa Siti adalah suaminya.
Anita melihat pemandangan itu juga merasa bahagia, bukankan sebenarnya bahagia itu bisa di dapatkan dengan cara sederhana.
...----------------...
__ADS_1
...Seeprti biasa gengs, jangan lupa jempolnya 🥰...