
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Meili sudah menginjak bulan ketujuh, membuat perutnya terlihat membuncit. Namun begitu ia tetap beraktifitas seperti biasanya.
Di rumah ia menjadi ibu rumah tangga dan di kantor ia bekerja seperti biasanya.
"Apa sudah makan siang?" Seperti sebelum sebelumnya, Raka mengingatkan Meili lewat sambungan video call.
"Ini," Meili memperlihatkan isi piringnya yang tinggal setengah.
"Apa hari ini babby nya rewel?"
"Tidak, dia sangat pengertian." Meili mengusap perutnya. Anaknya tidak pernah rewel hingga sekarang saat ia bekerja.
"Jangan terlalu capek jika bekerja, kandungannya sudah semakin membesar."
Meili tersenyum. "Iya."
Sebelumnya Raka sudah menyarankan agar ia cuti saja, tapi ia merasa masih mampu jika harus bekerja. "Iya Kak, nanti kalau tepat menginjak sembilan bulan."
Raka mendengus di seberang sana, ia benar-benar khawatir melihat istrinya bekerja dengan perut buncit. "Ya sudah kalau begitu, nanti pulangnya aku jemput."
"Iya Kak."
__ADS_1
*
*
Hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore, benar saja Raka sudah dalam perjalan ke kantor Meili.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di perusahaan. Ketika ia memasuki bangunan yang menjulang tinggi itu, semua staf seketika memberikan sambutan hangat pada suami bos mereka.
Namun Raka tetaplah Raka, ia hanya membalas dengan senyum tipis kemudian terus melangkah ke arah lift yang akan membawanya ke lantai atas di mana ruangan Meili berada.
Meskipun suami dari pemilik perusahaan begitu datar, tapi tidak mengurangi para staf wanita yang tetap terpesona jika Raka datang ke perusahaan.
Lelaki dengan paras tampan, juga jabatan Dokter muda yang sukses melekat padanya.
"Apa Meili ada di dalam?" tanya Raka pada Rani.
"Iya Pak, Ibu Meili berada di dalam." sahut Rani.
"Terima kasih." Raka kemudian masuk ke dalam ruangan istrinya meninggalkan Rani yang masih tidak melepaskan pandangan terhadapnya.
"Ya ampun! Apa stok seperti suami Bu Meili masih ada ya? Pengen dong satu, kalau nggak ada. Ciptain dong satu lagi." Rasanya Rani akan beruntung jika mendapatkan laki-laki seperti Raka.
"Kakak!" Meili begitu melihat kehadiran suaminya. "Tunggu sebentar lagi ya!" katanya. Ia masih ada beberapa dokumen yang harus ia baca dan tanda tangani.
__ADS_1
"Hm...!" Raka yang lalu duduk di sofa depan meja istrinya.
Ketika Meili sedang serius membaca dokumen, tanpa sadar Raka terus memandang kearahnya.
Raka masih tidak menyangka jika istrinya menjadi pemimpin di perusahaan, mengingat jika istrinya dulu yang tingkahnya tidak bisa diam.
Kadang manja, kadang marajuk, bahkan ceroboh. Tapi kini itu semua tidak terlihat ketika istrinya itu duduk di singgah sana kepemimpinannya.
Yang ada sekarang adalah Meili yang terlihat begitu anggun, berwibawah, juga mempesonah.
Ah... dia tidak bisa membayangkan bagaimana mata para klien lelaki jika sedang meeting dengan istrinya, tapi bagaimana lagi itu semua memang harus di jalani.
"Ayo kita pulang." Suara Meili membuyarkan lamunan Raka.
"Kakak melamun ya?" Meili mempergoki suaminya.
Raka tersenyum, ia mendekat dan membawa tas Meili. "Aku hanya mengagumi betapa cantiknya istriku."
"Idih... udah pandai ngegombal sekarang." Meili tergelak. "Tapi aku suka." imbuhnya dan memeluk Raka sekilas sebelum mereka pulang.
Lagi-lagi semua staf di buat baper oleh bos mereka, dimana Raka yang terus menggenggam tangan Meili ketika berjalan. Apalagi melihat Raka sesekali tertawa ketika mengbrol dengan Meili.
...----------------...
__ADS_1
...Aku mah juga mau di gandeng ðŸ¤...