Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Bayi Tampan


__ADS_3

Di ruangan rawat Jessy sekarang terlihat ramai. Setelah kedatangan Meili dan Raka, ternyata tidak lama Reza dan Ariel pun juga berkunjung.


Para lelaki duduk di sofa yang berada di sudut ruangan, sedangkan Meili ia duduk tepat di samping ranjang Jessy.


"Jessy, lahirannya normal apa caesar?" tanya Meili, sembari tangannya yang mengupas buah apel. Setelah itu ia potong dan di berikan pada Jessy.


"Normal," sahut Jessy. Ibu baru itu sejak selesai melahirkan semalam tidak berhenti untuk makan, ia merasakan begitu lapar setelah melahirkan.


"Apa sakit?"


"Di mana ada orang melahirkan tidak sakit Meili, tentu saja sakit. Hanya saja semuanya lenyap begitu lo dengar tangisan bayi."


"Benarkah!"


"Hm!" Jessy meyakinkan. "Makannya lo cepetan nyusul."


"Apanya?"


"Punya baby, gitu aja nggak ngerti!" cetus Jessy.


Mata Meili membulat mendengar itu. "Dasar stres, aku belum menikah masak punya anak dulu." Kesalnya. Kenapa sahabatnya itu setelah menjadi ibu, justru kewarasannya yang berkurang.


Jessy tertawa mendengar umpatan Meili, hingga membuat para lelaki yang sedang mengobrol menoleh ke arah mereka.


"Lo yakin nggak mau mencobanya?" Jessy seakan tidak peduli dengan kekesalan Meili.


Meili mencebik melihat kelakuan sahabatnya.

__ADS_1


"Yakin?" Jessy terus saja memancing. "Asal lo tau, waktu membuatnya rasanya sangat enak!" bisik Jessy. Ia semakin menahan tawanya saat melihat wajah Meili yang sekarang memerah.


"YYYAAAHH!!" teriak Meili. Entah kenapa mendengar kalimat yang di ucapkan Jessy membuatnya salah tingkah.


"Ada apa?" tanya Nathan dan Raka bersamaan.


"Cie... kompak bener yang lagi bucin!" cibir Ariel. Tapi Nathan dan Raka tidak memperdulikannya.


"Ehm, tidak apa-apa." sahut Meili cepat.


Dan terdengar suara tawa Jessy yang menyembur.


Klek.


Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang perawat mendorong box bayi masuk. "Ibu Jessy, putranya sudah selesai di mandikan. Jangan lupa untuk memberikan asi." Yang langsung mendapat anggukan dari Jessy. "Iya, Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Setelah berpamitan perawat itu langsung keluar dari ruangan Jessy.


Pandangan mata Meili seolah terhipnotis oleh bayi tampan yang sekarang masih memejamkan mata dengan pulas. "Jessy dia sangat tampan!" puji Meili tanpa mengalihkan pandangannya.


"Oh tentu!" ternyata Nathan yang menyahuti nya dengan bangga, membuat para sahabatnya berdecak.


"Boleh gendong?" Meili meminta izin pada Jessy.


"Lo bisa?" pasalnya Jessy sendiri pertama kali mencoba menggendong putranya ada ketakutan jikalau akan terjatuh.


"Nggak, nanti jatuh." Nathan begitu overprotective terhadap putranya. Meskipun putranya adalah saingan terberatnya sekarang untuk mendapatkan perhatian Jessy, tapi jiwa sebagai orang tua begitu melekat padanya.

__ADS_1


"Sayang!" Jessy tidak suka terhadap sikap suaminya. Ia lalu menoleh ke arah Meili. "Nggak apa-apa, Lo gendong aja asal hati-hati."


"Terima kasih," Meili langsung memeluk Jessy sekilas dan kembali ke box bayi untuk bersiap menggendong.


Tangannya sedikit gemetar begitu tangan kirinya ia selipkan di bawah leher sang bayi, dan kemudian tangan kanannya mulai ia selipkan di bawah bo Kong dari sisi berlawanan.


Untung saja bayi itu dalam keadaan di bedong, hingga memudahkan Meili untuk menggendongnya.


Perlahan Meili mulai mengangkat bayi tampan itu hingga keluar dari box bayi. Ia menggendongnya dalam dekapan.


Ada perasaan hangat menatap bayi itu, ia menatap lekat betapa bahagianya sahabatnya itu mendapatkan anugrah yang seindah ini.


Kulitnya yang masih sangat halus, mungkin mengalahkan perawatan skincare kalian 🤭✌. Bibirnya yang mungil, dan pipinya yang kemerahan.


Meili memberikan kecupan di dahi bayi tampan itu, dan dia sama sekali tidak terusik. Tanpa sadar ia mendekap nya semakin erat, seolah itu adalah putranya sendiri.


Jessy yang melihatnya tersenyum, ia bisa melihat jika sahabatnya itu juga ikut merasa bahagia sepertinya.


"Wah dedek gemez udah cocok gendong bayi!" celetuk Reza.


"Iya, apa nggak mau punya sendiri?" Ariel juga menimpali. Ekor matanya tertuju pada Raka yang hanya diam saja.


Sedangkan Raka sendiri juga tidak berkedip melihat kekasihnya yang menggendong anak sahabatnya.


Mendengar celetukan-celetukan itu, membuat pipi Meili memanas. Pandangannya seketika tertuju pada Raka yang sedang menatapnya. Ia tidak tau harus berkata apa, bibirnya hanya bisa terlipat dengan rapat.


"Pacarnya nggak bisa buatin ya?" Kata Ariel. "Sini sama abang aja, nanti di ajarin sampai bisa." Membuat gelak tawa di ruangan itu.

__ADS_1


Raka tentu saja seketika menatap sahabatnya dengan tajam.


...----------------...


__ADS_2