
Sesaat sebelum ada berita.
Raka memutuskan menyudahi olah raganya, ketika tubuhnya sudah merasakan cukup panas.
Ia menenggak segelas air putih sebelum membersihkan diri.
Tidak membutuhkan waktu lama Raka sudah terlihat segar, aroma sabun begitu segar melekat di tubuhnya.
Baru saja ia akan memulai memasak untuk sarapannya, terdengar ponselnya yang berbunyi. Sekilas ia melirik ke layar ponselnya yang menyala dan terlihat nama Ariel di sana, tanpa ingin membukannya Raka kemudian melanjutkan memasaknya.
Mungkin itu hanya pesan biasa, pikirnya.
Namun baru ia akan melanjutkan memasaknya kembali, Lagi-lagi satu pesan kembali masuk dan kali ini adalah Reza di susul Nathan yang kemudian mengirimkan pesan.
"Mereka ini sebenarnya ada apa?" herannya. Karena pagi-pagi semua sahabatnya sudah mengiriminya pesan.
Terakhir setelah VC dengan Meili ia memang belum mengecek ponselnya kembali.
Dahi Raka berkerut setelah membaca pesan dari sahabatnya, sebuah pesan yang yang di bagikan ulang.
Iya, sepertinya hanya Raka yang tidak mendapatkan pesan berita tentang Meili.
Amarah dalam dirinya begitu saja menyala, melihat pesan yang sudah pasti akan menyakiti hati kekasihnya.
__ADS_1
Tanpa membalas peasan para sahabatnya ia lalu beranjak dari dapur, rasa lapar yang tadi ia rasakan lenyap begitu saja.
Yang ia butuhkan sekarang adalah laptop nya, ia akan mencari siapa dalang di balik semua ini.
"Siapa orang yang bermain-main dengan berita semacam ini?" Raka masih tidak habis pikir masih saja ada orang yang menyebarkan berita yang tanpa tau kejelasannya.
Jarinya begitu terampil menari-nari di atas keyboard.
Tak lama di layar laptop nya sudah di penuhi oleh tulisan dan angka-angka kecil, matanya bahkan tidak berkedip untuk mencari apa yang ia inginkan.
Tujuan pertama adalah mencari sumber yang membuat berita, kemudian menghapus semua pesan yang tersebar.
Memang tidak ada yang tahu jika Raka juga bisa melakukan hal semacam itu.
Dan ia tau pasti jika sekarang kekasihnya itu sudah mengetahui berita bohong itu.
Membutuhkan waktu cukup lama bagi Raka untuk bisa menghapus pesan berita yang rupanya sudah menyebar cukup banyak.
Hingga kemudian, ia menemukan nomor sumber dari berita itu. "Pasti memang sengaja melakukannya." Melihat nomor itu yang tidak terdaftar, dan sudah di pastikan akan lebih sulit untuk mencari tahu pemiliknya.
Namun ia berhasil melacak nomor itu yang aktif terakhir kali di area kampusnya.
*
__ADS_1
*
Semilir angin pantai rupanya membuat tidur Meili semakin nyenyak.
Iya, kini Raka dan Meili sudah berada di pantai. Setelah menumpahkan semua kesedihannya, Raka mengajaknya untuk menjauh dari hiruk-pikuk di kota.
Sudah setengah jam mereka berada di pantai, namun pasangan itu masih berada di dalam mobil.
Raka memang sengaja tidak membangunkan Meili, merasa tidak tega jika harus mengganggu mimpi yang mungkin lebih indah dari pada kenyataan.
Raka menggapai tangan Meili untuk ia genggam, menyalurkan semua rasa yang ia miliki. "Maaf," lirih nya.
Ia merasa tidak bisa menjaga Meili, hingga gadis itu kembali menangis.
Mata Meili berkedut, menandakan jika ia sedikit terusik dalam tidurnya. Perlahan ia membuka mata, dan pertama kali yang ia lihat adalah wajah kekasihnya. "Kakak!" Matanya seketika melebar, ia mengarahkan pandangannya ke sekitar pantai dan matahari mulai tenggelam.
Ia kemudian teringat kejadian sebelum mereka berada di pantai. "Kakak bolos kuliah gara-gara Meili!" ia merasa tidak enak. Karena dirinya Raka harus membolos, padahal ia tau jika kekasihnya itu hampir tidak pernah membolos kuliah.
Raka tersenyum. "Jangan di pikirkan, sesekali bolos gak apa-apa."
"Maaf!" ujar Meili.
"Hei," Raka membawa Meili kedalam pelukannya. "Sudah, jangan di pikirkan."
__ADS_1
...----------------...