Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Belum Siap


__ADS_3

Keesokan harinya, Meili ternyata masih membantu di rumah makan Mariam. Ternyata di rumah makan milik nenek temannya itu ia dapat suasana baru, bertemu orang-orang baru dengan karakter yang berbeda beda.


Meskipun ada rasa lelah, tapi itu tidak membuatnya untuk berhenti.


Hingga siang hari tiba, seperti biasanya rumah makan milik Mariam akan di penuhi pelanggannya dari berbagai kalangan. Mulai dari pekerja, anak sekolah hingga mahasiswa.


Meili dengan cekatan melayani pelanggan, mulai menanyakan pesanan hingga mengantarkan pesanan.


"Mau pesan apa?" tanya Meili pada salah satu pelanggan Mariam yang kemarin sempat membuatnya kesal, siapa lagi kalau bukan Rian.


"Seperti kemarin saja," ujar Rian dengan senyum tampannya.


Namun kebiasaan Meili yang menyukai cowok tampan sepertinya tengah menghilang, terbukti ia yang hanya biasa saja menanggapi Rian.


"Ok!" sahut Meili. Setelah itu ia pergi dari sana.


Di dapur, Meili menemui Mariam. "Nek, pelanggan Nenek yang itu katanya pesan seperti biasanya."


Mariam segera menoleh ke arah pandang Meili, yang ternyata Rian. "Oh, ya sudah biar nenek yang siapkan."


Setelah itu Meili kembali melayani pelanggan yang lain.


"Kok Nenek yang antar!" Begitu Rian melihat ternyata yang membawakan pesanannya adalah Mariam.


"Kemarin-kemarin juga nenek yang antar, memangnya Miyabi?" sahut Mariam.


Rian seketika tersedak ludahnya sendiri, ketika Nenek menyebut nama wanita legenda itu. "Nenek tau?" tanyanya tidak percaya.


"Bukan cuma tau, Nenek dan Kakek dulu sering bersilahturahmi." cetusnya, ia kemudian meninggalkan Rian yang hanya terbengong di tempatnya.


"Ya ampun! Nenek-nenek sekarang memang beda." Rian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Setelah jam makan siang usai, kini giliran Meili yang menikmati jam istirahatnya.


Tidak seperti kemarin, sekarang Meili menikmati makan siangnya sendiri meskipun Rian masih berada di sana.


Baru juga setengah porsi yang berpindah ke perut Meili, namun di depannya kini sudah ada Rian yang duduk tanpa di persilahkan.


Meili menjeda acara makannya. "Kakak butuh sesuatu?"


"Nggak!" jawab Rian.


"Oh!" Meili lalu melanjutkan makannya kembali.


"Lo masih sekolah?" Rian memulai percakapan terlebih dahulu.


"Hm!" sahut Meili sembari menganggukkan kepalanya.


"Kelas berapa?" tanya Rian kembali.


"Kelas sebelas mau ke dua belas."

__ADS_1


"Emang yakin kalau naik kelas?" tanya Rian dengan mengulum bibirnya.


Tentu saja itu membuat Meili tersedak makanan yang sedang ia kunyah, padahal itu adalah suapan terakhir. Ia segera meminum es teh yang tadi ia bawa.


Setelah selesai, Meili menatap tajam ke arah Rian.


Tapi Rian justru tertawa melihat itu.


"Meskipun aku nggak pernah jadi juara kelas, tapi aku tidak pernah tinggal kelas ya!" sungut Meili.


Dan Rian semakin tertawa, baru kali ini ia melihat ada orang yang tetap percaya diri meskipun tidak ada yang di banggakan nya.


Gadis cantik dengan tingkahnya yang lucu.


Berjalannya hari, ternyata Rian dan Meili semakin akrab.


Awal bertemu Rian, Meili kira ia adalah cowok yang menyebalkan. Tapi ternyata Rian adalah sosok yang menyenangkan, meskipun sering kali Rian membuatnya kesal.


"Capek!" Meili merebahkan diri begitu ia sampai di kamarnya. Tentu saja ranjangnya yang empuk menjadi sasarannya.


Ia merasakan tulang-tulangnya seperti remuk. Beberapa hari membantu di rumah makan Mariam, ternyata semakin hari semakin menyenangkan.


Hingga beberapa saat, ia memutuskan saja berendam dengan air hangat. Sepertinya itu akan menyenangkan.


Di dalam kamar mandi, Meili memejamkan matanya. Menikmati aroma terapi yang menguar di indra penciuman nya, membuatnya lebih tenang.


Bathtub yang di penuhi oleh busa itu perlahan membawa Meili mengarungi alam mimpi.


*


*


"Nona, waktunya makan malam!" teriak bibi dari luar kamar.


"Iya Bi." sahut Meili.


Ia segera membersihkan diri, dan melilitkan handuk di tubuhnya.


Ketika ia membuka lemari untuk mengambil pakaian, Lagi-lagi ia di buat tertegun. Melihat kemeja putih yang tergantung di lemarinya.


"Hhaa!" ia hanya bisa membuang nafasnya kasar. Kemeja Raka yang ia pakai masih tersimpan rapi di lemarinya, ia masih belum mengembalikannya. Pastinya ia masih belum siap jika bertemu Raka kembali.


Setelah selesai berganti pakaian, Meili menghubungi Jessy. Tiba-tiba saja suasana hatinya sedang buruk. Mungkin jika bertemu sahabatnya itu, ia akan melupakannya sejenak.


Di sela-sela belajarnya, sesekali Raka melirik ponselnya. Sudah beberapa hari benda pipih itu tidak lagi berisik seperti biasanya. Padahal dulu ia seperti di teror.


Jika dulu Raka sedikit merasa kesal karena ponselnya yang sering berbunyi, sekarang ia seperti merasa ada sesuatu yang hilang.


Ia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya kasar. "Gue kenapa?" Bahkan ia sendiri tidak tau apa yang dia rasakan.


Di sisi lain, sang peneror sendiri sedang menikmati malam nya bersama Jessy. Siapa lagi kalau bukan Meili.

__ADS_1


Meili dan sahabatnya itu berada di angkringan yang sering di kunjungi Jessy. Di depannya pun sudah tersaji berbagai macam aneka sate dan dua nasi kucing.


Tapi sayangnya, makanan itu seperti hanya pajangan bagi mereka. Mereka sibuk menatap layar ponselnya masing-masing dan juga dengan pikiran yang entah melayang kemana.


Jika Meili, ia memang memutuskan untuk menghindar saja dari Raka. Ia tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Meskipun ia tidak tau hubungan apa yang di miliki oleh Raka dan Tasya, ia lebih memilih mundur.


Karena bagi Meili, jika dirinya di bandingkan dengan Tasya tentu dirinya tidak ada apa-apa nya. Tasya yang begitu pintar, kepribadian yang sopan apalagi memiliki paras cantik.


Sedangkan dirinya, boro boro pintar. Bisa naik kelas saja sudah syukur. Dan mengenai kepribadian, tentu ia sangat berbanding terbalik dengan Tasya.


Jika Meili menyerah sebelum berperang, lain halnya dengan Jessy. Karena kejadian terakhir bersama suaminya, ia memutuskan untuk tidak menginap lagi di rumah Mami Nilam dan membiarkan suaminya belajar dengan sepenuh hati.


Sia sia saja ia sudah melakukan hal yang memalukan, namun tidak membuahkan hasil. Yang ada ia justru dongkol di buatnya.


Ia berpikir mana ada kucing yang nolak di kasih ikan, tapi ternyata kucingnya sepertinya sedang berpuasa.


Jessy dan Meili sama-sama menghembuskan nafasnya kasar, hingga kemudian mereka saling tatap menyadari perbuatan mereka. Di detik berikutnya mereka tertawa bersama.


"Lagi galau?" tanya Jessy. Padahal dirinya sendiri juga merasakan itu.


"Nggak, emang galau sama siapa?" sahut Meili dengan cuek.


"Tentu saja dengan Raka."


"Aku sama Kak Raka nggak ada hubungan."


"Masak?"


"Iya. Lagi pula sepertinya Kak Raka suka sama Tasya deh."


"Tasya?"


"Iya. Karena waktu itu aku nggak sengaja ngeliat mereka berdua bersama."


"Meili, bersama bukan berarti punya hubungan."


"Tapi kelihatannya seperti itu."


Jessy menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata sahabatnya itu sudah menyerah, padahal dulu selalu mengucapkan jika ia pejuang cinta.


"Sejak dulu beginilah cinta penderitaannya tiada akhir," gumam Meili dengan lesu.


Jessy berdecak kesal melihat kelakuan sahabatnya itu.


Di lain tempat, Tasya sendiri menikmati pemandangan langit dari balkon kamarnya. Matanya menerawang jauh ke langit yang di penuhi kerlipan bintang.


Cintanya sudah tidak terbalas oleh lelaki pujaannya, namun cinta itu masih tertanam begitu dalam di hatinya.


"Andai saja masih ada kesempatan kembali," harapnya. Berharap hati Nathan masih bisa untuknya.


Sungguh, ia sudah menjaga hatinya untuk Nathan. Hingga ia menolak cinta Raka yang sudah lama menunggunya

__ADS_1


...----------------...


...Seperti biasa gengs, jangan lupa dukungannya 🥰...


__ADS_2