Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Rian


__ADS_3

Meskipun piring makanan milik Rian sudah bersih tak tersisa, namun cowok itu masih saja setia duduk di tempatnya.


Entah sudah berapa lama cowok itu duduk di sana, namun yang pasti hingga di rumah makan Mariam itu hanya tersisa ia seorang.


"Hei!" teriaknya.


Meili yang kebetulan selesai mengelap meja, seketika menoleh. Sebelum ia menyahuti, terlebih dahulu ia mengedarkan pandangannya. Siapa tahu ada orang lain yang ia panggil.


Tapi ternyata di sana hanya ada ia dan cowok itu, sedangkan pegawai lain dan nenek sedang berada di dapur. "Aku!" tunjuk nya pada diri sendiri.


"Iya," sahut Rian. "Kemarilah."


Meili kemudian berjalan ke arah Rian. "Apa mau pesan sesuatu lagi?" Melihat piring Rian yang sudah kosong dan es jeruk yang tinggal setengah.


Rian menggelengkan kepalanya. "Nggak!"


Mata Meili langsung melotot. "Terus kenapa manggil kalau tidak pesan!" gerutunya dalam hati.


Meili menghembuskan nafasnya perlahan. "Ya sudah kalau begitu," ia beranjak dari sana. Ia ingin cepat beristirahat, nyatanya baru saja sebentar membantu di rumah makan sudah membuatnya lelah.


"Hei kecil!" panggil Rian pada Meili, karena gadis itu pergi begitu saja.


Jelas saja Meili seketika menghentikan langkahnya, dan menoleh pada Rian dengan tidak suka. "What!" Ia tidak Terima.


"Sorry!" ucap Rian dengan tersenyum kaku.


"Nama aku Meili ya! Bukan kecil," kata Meili bersungut-sungut.


"Gue Rian!"


"Gak nanya."


"Tapi terlanjur gue sebutin."


"Lah, salah sendiri."


"Tapi kita jadinya udah kenalan kalau begitu."


"Bagai mana bisa?"


"Kan lo juga udah sebutin nama lo."


"Benarkah!" Meili yang tidak merasa.

__ADS_1


"Iya."


"Ya sudah kalau begitu," Meili kembali meneruskan langkahnya.


"Hei, tunggu dulu." cegah Rian.


"Ada apa sih!" Meili mulai sedikit kesal, apalagi merasakan perutnya yang sudah terasa lapar.


"Gue mau pesan!" kata Rian. "Es jeruk satu."


Alis Meili saling bertautan. "Itu masih ada." tunjuk nya pada gelas Rian.


Rian langsung saja meminumnya hingga tak tersisa. "Habis." Ia menunjukkan gelasnya kosong yang membuat Meili tercengang. "Jadi bawakan aku satu lagi."


Bibir Meili mencebik melihat kelakuan Rian, padahal sedari tadi ia melayani pelanggan rumah makan Mariam tidak ada kelakuannya yang seperti Rian.


Di dapur, Mariam melihat wajah Meili yang masam. "Kenapa!"


"Pelanggan Nenek yang itu ngeselin." Ia menoleh ke arah Rian. Lalu ia menoleh ke arah bibi yang bertugas menyediakan pesanan. "Bi es jeruk satu ya,"


Mariam lantas juga ikut menoleh ke arah pandang Meili. Dan ternyata ia baru menyadari jika Rian belum pulang. "Oh dia, memang dia kenapa!" Yang setahu Mariam Rian adalah anak muda yang baik.


"Dia menyebalkan!" Meili terus saja menggerutu sembari mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, sayur, sambal dan beberapa lauk.


"Ini, es jeruknya!" bibi yang tadi di mintai tolong oleh Meili selesai membuatnya.


Rian merasa heran dengan apa yang di bawah Meili, pasalnya ia tadi hanya memesan es jeruk saja. "Tadi gue cuma pesan es jeruk!"


"Udah tau!" sahut Meili. Ia lalu duduk di depan Rian yang terhalang meja. "Ini!" Meili menaruh es jeruk di depan Rian.


Tanpa berkata lagi, Meili segera memakan makanan yang rupanya tadi ia ambil untuk dirinya sendiri. Ia tadi malas sekali jika harus dua kali bolak balik, jadi sekalian saja membawa makanannya. Mumpung keadaan rumah makan sedang sepi.


Rian yang tadi terkejut dengan ulah Meili, kini ia hanya tersenyum melihat kelakuan Meili. Gadis itu bahkan tanpa rasa canggung memakan makanannya dengan lahap, padahal jika gadis lain tentu akan menjaga cara makannya agar terlihat anggun di depan cowok.


Meili merasa cowok di depannya sedang memperhatikannya, dan ketika ia mengangkat pandangannya. Ternyata benar, cowok itu sedang tersenyum sembari melihatnya. "Jangan senyum-senyum! Tuh gigi ntar kering." cetus Meili dengan mulut yang penuh makanan, kemudian melanjutkan makannya lagi.


Bukannya marah, Rian justru sekarang sedang tertawa akibat tidak bisa menahannya.


"Lah, mala ketawa!" Meili yang heran.


"Lo lucu."


"Emangnya aku badut," Meili mendelik. Dan itu membuat Rian tidak bisa berhenti tertawa.

__ADS_1


"Siapa yang bilang kamu badut!" Rian yang sudah bisa meredam tawanya. "Lagi pula mana ada badut yang cantik."


Sejenak Meili berhenti mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya, dan ia menganggukkan kepalanya. Kemudian melanjutkan makannya kembali.


"Kok cuma ngangguk ngangguk" Rian yang heran, karena gadis yang di bilang cantik biasanya akan tersipu. Tapi Meili tidak begitu.


"Terus harus bagaimana?" kata Meili tanpa melihat ke arah Rian. Matanya menatap sambal yang ada di piringnya, ia lupa jika ia masih di larang makan sambal untuk sementara. Dan itu tentu saja mengingatkannya dengan seseorang.


"Biasanya cewek akan senang jika di puji cantik," jelas Rian.


Meili yang sudah menghabiskan makanannya, kemudian menatap ke arah Rian. "Tapi nyatanya aku dari kecil memang cantik, jadi untuk apa senangnya baru sekarang." Meili menjelaskan. Ia baru menyadari jika tadi tidak membawa minum.


Lagi-lagi Rian di buat tertawa oleh sikap Meili yang menurutnya unik. Ia kemudian menyodorkan es jeruknya yang masih belum ia minum. "Ini minum!" Ia yang tahu apa yang di cari Meili.


"Kakak nggak jadi minum?" Meili meneguk es jeruk yang menyegarkan di siang hari itu hingga tinggal setengah.


"Siapa bilang gue nggak minum! Ya lo buatin lagi lah." Rian menjawab enteng.


Meili menghembuskan nafasnya kasar, sungguh cowok di depannya ini benar-benar menyebalkan. Ia jadi menyesal telah meminum es jeruk miliknya.


Dari dapur, Mariam sedari tadi memperhatikan interaksi kedua anak muda itu. Dan bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum. "Tadi katanya menyebalkan, tapi sekarang mereka malah akrab!"


Mungkin setelah ini akan ada suasana baru yang hadir di hidup Meili.


Di lain tempat, Raka yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin setelah melaksanakan Ujian di hari pertama hanya terdiam. Entah kenapa suasana hatinya sedang berbeda.


Apalagi di sekolah yang biasanya ramai, kini hanya di isi oleh murid kelas tiga.


Ariel dan Reza yang terus berceloteh bahkan sama sekali tidak terdengar olehnya, pikirannya sedang melayang jauh.


Matanya sedari tadi tak lepas dari ponsel yang sedang ia otak atik, namun hanya ia buka di aplikasi chat dan ia tutup kembali. Itu ia lakukan sudah beberapa kali, tanpa berniat untuk mengirimkan pesan pada seseorang.


Terakhir, ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Ketika ia belum mengetahui apa penyebab dirinya seperti ini.


"Kenapa sih lo?" Ariel yang memperhatikan sikap aneh Raka sejak tadi. Bahkan Reza dan Nathan sekarang juga menatap ke arah Raka.


"Gue nggak apa-apa!" jawab Raka.


...----------------...


...Ada yang lagi galau nih 🤭...


...Gengs aku mau curhat dikit ya. Level di novel Meili ini terjun bebas, dari lv 7 jadi lv 3. Dan itu tentu aja rasanya nyesek banget 😭....

__ADS_1


...Jadi mohon dukungannya ya untuk beri like setelah membaca, kalau di tambahi komentar juga alhamdulillah. Syukur" juga di kasih hadiah, pastinya juga seneng banget....


...Dan sebentar lagi juga memasuki bulan puasa, aku mau minta maaf ya jika ada salah sama kalian. Semoga lancar menjalankan ibadah puasanya, bagi yang menjalankan. Terima kasih 🙏, lope lope buat kalian 🥰...


__ADS_2