
Meili begitu gembira saat tahu jika ia sekarang bergabung di grup WhatsApp sekolah, secara tidak langsung ia akan mengetahui no siswa yang rata-rata memiliki good looking.
Entah siapa yang memasukkan no nya ke dalam grup itu, tapi kelihatannya tidak hanya dirinya saja, karena Tasya juga sekarang ikut bergabung.
Setelah puas main di rumah Tasya, Meili akhirnya memutuskan pulang dengan di antar oleh supir keluarga Tasya.
"Terima kasih Pak." Begitu Meili akan turun dari mobil.
Ketika kakinya baru memasuki halaman rumahnya, sudah terlihat mobil papanya yang terparkir di sana. "Papa udah pulang Pak?"
Ia bertanya pada security yang kembali menutup pintu gerbang.
"Iya non, baru saja Tuan pulang." jawab security.
"Ya sudah kalau begitu." Meili segera berjalan menuju rumah.
Di dalam rumah, tampak begitu sepi. Kelihatannya papanya sedang berada di kamar. Ia akhirnya menuju ke dalam kamarnya.
Hingga malam tiba, Meili samar-samar mendengar pintunya di ketuk dari luar. Tadi ia sempat tertidur setelah mandi, hingga tidak menyadari jika matahari sudah terbenam.
__ADS_1
Klek.
Terlihat bibi yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Waktunya makan malam Non, sudah di tunggu Bapak di meja makan." beritahu nya, setelah itu ia pergi dari sana.
Ketika Meili menuruni tangga, terlihat sang Papa yang sudah berada di meja makan.
"Pa." Meili begitu senang malam ini ia tidak lagi makan sendirian di meja makan.
Irfan, Papa Meili mengalihkan pandangannya dari ponsel ke putri cantiknya yang kini sudah duduk di sebelahnya. "Hm," sahutnya. Ia lalu meletakkan ponselnya dan memulai acara makan malam.
"Bagaimana dengan sekolah kamu?" tanya Irfan di sela-sela acara makan mereka.
"Di sekolah kamu jangan membuat ulah!" Irfan mengingatkan.
"Tentu Pa," sahut Meili.
"Dan satu lagi, nilai kamu jangan seperti waktu kamu di SMP." Irfan selalu saja mengingatkan tentang nilai sekolah Meili. Karena nilai putrinya itu terbilang pas-pasan, padahal ia adalah putri dari pemilik yayasan.
Mendengar ucapan terakhir Papanya, membuat Meili sedikit tidak nyaman. Sebenarnya ia sendiri juga menyadari jika dirinya tidak pintar, oleh sebab itu ia tidak pernah membeberkan status dirinya di sekolah sebagai putri pemilik yayasan. Karena ia tidak mau membuat malu papanya.
__ADS_1
Meili masih tetap menampilkan senyumnya, namun rasanya tak selepas tadi. "Iya Pa."
"Papa tidak mau melihat nilai kamu yang pas-pasan, kamu harus bisa memberi peningkatan. Apa kata guru-guru lainnya jika tau nilai kamu masih saja begitu." kata Irfan yang tidak memperhatikan raut wajah putrinya yang mulai berubah sendu, meski gadis itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Meili menganggukkan kepalanya, sebagai penyanggupan pertanyaan papanya. "Iya."
Tanpa terasa sendok makan yang berada di tangannya, ia genggam dengan erat. Bibir yang tadi selalu tersenyum kini terlipat dengan rapat.
Rasa senang yang tadi menghinggapi hatinya kini perlahan di gantikan oleh rasa bersalah. Bersalah karena belum bisa membuat papanya bangga terhadapnya.
Selesai makan malam, Meili memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Di tangannya kini terdapat bingkai foto keluarga kecilnya dulu yang masih utuh.
"Ma, apa Mama tidak merindukan aku?" ucapnya dengan menatap foto sang Mama yang tengah tersenyum. "Apa Mama sudah bahagia sekarang? Hingga tidak membutuhkan aku lagi!"
Bibirnya mulai bergetar, mengingat Mamanya yang sudah beberapa tahun tidak pernah lagi menemuinya seperti dulu. Ia tidak bisa memilih untuk tinggal bersama siapa kala perceraian orang tuanya terjadi, namun yang ia ingat Mamanya berjanji akan sering mengunjunginya. Hingga ia tidak usah takut kehilangan sosok Ibu, meski kedua orang tuanya sudah berpisah.
Tapi keadaanya sekarang tidak seindah dengan janji yang di ucapkan Mamanya dulu.
...----------------...
__ADS_1
...Nggak pernah bosen gengs untuk minta dukungannya, love you all 🥰...