
Di saat matahari mulai merangkak naik, satu persatu pelayat mulai meninggalkan makam setelah berpamitan dengan Meili.
Sedangkan Meili sendiri hanya bisa diam, matanya masih tak pernah lepas dari pusaran yang tanahnya masih terlihat basah.
Di antara dari semua sahabatnya yang ikut mengantarkan papa nya ke peristirahatan terakhir, terlihat Rian yang juga berada di sana.
Rian menyempatkan diri untuk menghadiri makam orang tua dari gadis yang pernah mengisi relung hatinya, dulu ia bisa memberikan sandaran bahunya ketika gadis itu bersedih. Tapi kini keadaan sudah berbeda, dia sudah memiliki suami yang bisa di jadikan sandaran.
Sehingga ia hanya bisa mengucapkan seperti orang lain ucapkan, mencoba sabar dan ikhlas menerima semuanya.
*
*
Setelah pemakaman, Meili memutuskan pulang ke rumah papa nya. Ia berdiam diri di dalam kamar yang dulu di tempati Irfan, pandangannya menyusuri ruangan itu.
Meskipun semua orang menyuruh nya untuk ikhlas, tapi kenyataannya dia masih belum mampu.
Hatinya benar-benar hancur dalam sekejap, padahal ia sudah berharap Papa nya itu akan sembuh dan menemaninya kembali. Namun harapan tetaplah harapan.
Di ruang tengah semua orang sedang berkumpul, mereka rasanya tidak tega untuk meninggalkan Meili. Sehingga memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Irfan.
"Sayang, bawalah ini untuk istrimu." Anita menyerahkan nampan uang berisi teh hangat juga sepiring makanan. "Bujuk lah agar mau makan, setidaknya meminum teh hangat. Dari kemarin sama sekali tidak minum juga makan."
Raka memang membiarkan istrinya itu sendiri di dalam kamar mertuanya, ia berpikir jika istrinya itu butuh waktu sendiri. Mengenang masa-masa indah yang di lalui bersama Papa nya yang tidak akan mungkin bisa kembali.
"Iya Ma." Raka membawa nampan itu lalu berjalan menuju kamar. Perlahan ia membuka pintu, terlihat cahaya temaram lebih mendominasi.
Ia masuk ke dalam kamar, dan menaruh nampan itu di atas nakas.
__ADS_1
Rupanya sang istri telah terlelap, Meili tertidur dengan sebingkai foto yang ia peluk.
Raka dengan hati-hati mengambil bingkai foto itu, yang ternyata foto Irfan bersama Meili saat remaja.
Keduanya tampak tersenyum bahagia.
Raka menaruh bingkai foto di atas nakas, kemudian ia naik ke atas ranjang. Menghapus sisa air mata yang masih nampak di wajah ayu istrinya.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, meski tidak seperti Papa." Raka memberikan kecupan di kening Meili sebelum ia memeluk dan ikut terlelap.
*
*
Satu hari berlalu.
Meskipun tidak seperti kemarin, Meili rupanya masih terlihat murung. Senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya, kini tak terlihat.
"Tidak masuk?" Raka duduk di sampingnya, ia menggenggam tangan Meili yang terasa dingin.
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Meili. "Sebentar lagi."
Sejenak Meili teringat, jika seharusnya malam ini suaminya itu berangkat keluar kota. "Bukankah Kakak seharusnya pergi malam ini?"
Raka menatap wajah Meili yang masih di hiasi oleh mata sembabnya. "Entahlah, rasanya berat meninggalkanmu jika seperti ini."
"Jangan seperti ini, aku sudah tidak apa-apa." Meili mencoba untuk meyakinkan. Ia tau jika itu ada salah satu impian suaminya, menjadi Dokter yang ia impikan sejak dulu.
"Tapi aku khawatir."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, lagi pula masih ada Mama sama Papa yang menemani. Jessy juga sering main ke sini juga."
Raka terdiam, hatinya benar-benar bimbang. Memilih cita-citanya atau meninggalkan istrinya yang ia tau sedang tidak baik-baik saja.
*
*
Pagi-pagi buta, Raka akhirnya bersiap untuk pergi setelah Meili berhasil membujuknya.
Di teras rumah, terlihat Anita juga Raja berdiri di sana.
"Jaga diri baik-baik," pesan Raka. Ia memeluk istrinya dengan erat bahkan tidak peduli dengan keberadaan kedua orang tuanya di sana.
"Kakak juga, jaga diri baik-baik." Meili yang juga tidak kalah eratnya membalas pelukan suaminya.
"Aku pasti akan selalu merindukanmu."
"Aku juga pasti akan selalu merindukan kakak." Mata Meili memanas begitu saja.
Raka melepaskan pelukannya hingga ada jarak di antara mereka. "Aku selalu mencintaimu." katanya setelah itu memberikan kecupan di bibir Meili.
"Astaga! Anakku!" Anita terkejut melihat kelakuan putranya. Raja hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian mengajak istrinya masuk ke dalam rumah sebelum membuat kehebohan.
"Aku pergi, dan tunggulah aku kembali." Raka dengan berat hati berjalan menuju mobilnya.
"Pasti!" sahut Meili yakin.
Hingga lambaian tangan Meili mengiringi mobil Raka yang perlahan mulai melaju hingga meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
...----------------...
...Sabar ya, LDR dulu 😊...