Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Rasa Rian


__ADS_3

Awalnya Raka hanya menganggap seperti angin lalu apa yang di lakukan sahabatnya, tapi jika di pertimbangkan lagi mungkin dirinya juga akan membutuhkannya.


Seperti rencana sebelumnya, kedua sahabatnya itu benar-benar mengajarinya bagaimana menyatakan cinta terhadap seorang gadis.


Namun sudah dua jam berlalu, kedua sahabatnya itu seperti nya tidak serius mengajarinya. Karena sedari tadi apa yang di lakukan Ariel dan Reza justru menggelikan dimatanya.


Mulai menyuruhnya mengajak Meili ke tempat sepi, piknik, dinner romantis, hingga hal-hal yang lainnya.


Tentu itu sama sekali bukan keahlian Raka. Bahkan dulu ketika ia menyatakan perasaannya terhadap Tasya, ia hanya menyuruh gadis itu ke halaman belakang sekolah dan yang ke dua di taman kota.


"Sudah paham kan?" Ariel bertanya. Ia yakin jika ilmu yang di bagikan nya akan sangat mudah jika di praktekkan.


"Itu sepertinya terasa aneh." sahut Raka dengan sikapnya yang datar.


"Ya ampun!" Ariel dan Reza menggeram bersamaan.


Kenapa sahabatnya itu susah sekali jika di ajarkan hal-hal yang berbau romantis. Mereka mengusap wajahnya kasar.


Padahal mereka sudah memberikan teori yang seharusnya sangat mudah.


"Ehm begini saja," Reza mempunyai ide. Ia lalu menghadap ke arah Ariel. "Tatap matanya penuh perasaan," matanya menatap lekat ke arah Ariel. Tangannya menggapai tangan Ariel untuk ia genggam. "Meili, sejujurnya ada sesuatu yang terus mengusik hati gue." katanya.

__ADS_1


Ariel sendiri juga menatap lekat ke arah Reza, seolah ikut permainan yang sahabatnya buat.


"Entah apa awalnya gue nggak tau, tapi setelah gue sadari sepenuhnya hati ini sudah terisi nama lo." Reza menepuk dengan sebelah tangannya. Ia lalu menoleh ke arah Raka yang menatapnya dengan pandangan aneh. "Gampang kan?"


"Kalian semakin lama semakin mengkhawatirkan." Raka langsung beranjak dari sana menuju kamarnya, ia bergidik ngeri melihat kelakuan sahabatnya.


Sekarang bergantian Ariel dan Reza yang tercengang oleh respon Raka. "Kampret!" umpat mereka berdua.


Mereka tau apa yang di pikirkan Raka tentang mereka. "Pasti dia mikirnya anu tuh!"


*


*


Di kampus menjelang sore itu, terlihat tidak seramai biasanya. Hanya terlihat beberapa orang saja yang masih tetap berada di sana.


Di salah satu kursi yang berada di taman kampus menjadi tempat Meili dan Rian duduk bersantai.


"Sebenarnya Kakak mau ngomong apa sih?" Meili melihat aneh ke arah Rian, lelaki yang biasanya beradu mulut itu sekarang nampak hanya diam saja. Padahal tadi Rian yang memintanya untuk bertemu setelah jam kuliah selesai.


Rian menatap ke arah Meili, dan tatapan sekarang benar-benar berbeda dari biasanya. Ia lebih serius dan tersirat ada sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan.

__ADS_1


"Gue mau bicara sesuatu," kata Rian dengan menatapnya lekat.


Sedangkan Meili justru tertawa melihat Rian seperti itu. Karena biasanya Rian akan terus membuatnya kesal dengan tingkahnya, dan sekarang ia bersikap serius. Dan itu rasanya aneh.


"Ya biacara saja, biasanya juga Kak Rian nggak perlu minta ijin." Meili terus tertawa.


"Serius, ada yang mau gue bicarain." Rian menggenggam tangan gadis itu agar mau berhenti tertawa. Dan benar saja, tawa Meili seketika berhenti.


Baru kali ini Rian menggenggam tangannya erat.


Entah sejak kapan ada suatu rasa yang tidak biasa di rasakan Rian untuk Meili. Awalnya ia memang menganggap Meili adalah sosok adik perempuan yang bisa ia jahili, tapi semakin lama rasa itu berubah.


Dan Rian tau rasa apa itu, hingga ia akhirnya meyakinkan dirinya jika rasa itu sekarang semakin memenuhi isi hatinya.


"Sebenarnya gue --"


Rian tidak bisa meneruskan ucapannya saat seseorang tiba-tiba hadir di antara mereka.


"Ikut gue!"


...----------------...

__ADS_1


...OMG ternyata aa' Rian 😮...


__ADS_2