Love Of NIS Agent

Love Of NIS Agent
KEMATIAN PARA IBLIS


__ADS_3

" HEI MAU KEMANA.. " Ken tersenyum lalu mengejar Istrinya.


" KEMANAPUN. " Yaura berlari sangat kencang.


Iyah, mereka kini bak Anak Kecil yang sedang berkejar-kejaran.


KEHIDUPAN BARU PUN DI MULAI..


*


*


RUANG BAWAH TANAH MARKAS TERSEMBUNYI


Tidak ada yang bisa memasuki Ruang Bawah tersebut kecuali Tim GOD. Nona Lee, David, Alfin, Evelyn dan semuanya hanya bisa menunggu di sebuah Ruangan yang terpasang layar monitor besar, mereka bisa memantau keadaan melalui monitor.


" AKU INGIN MASUK DAN MENYAKSIKANNYA SECARA LANGSUNG ! CEPAT BUKA PINTUNYA ! " Evelyn memaksa masuk dan berteriak kepada Tim GOD melalui HT.


Nona Lee menyangka Evelyn ingin menemui Kedua Orangtuanya sebelum tiada, Ia pun melangkah mendekati Pak Agus.


" Izinkan Dia memeluk Kedua Orang Tuanya sebelum tiada Pak, Evelyn sangat lembut dan rapuh. bisa-bisa Dia depresi. " lirih Nona Lee, Ia tidak tega melihat Evelyn .


" Jangankan Evelyn,Aku pun tidak bisa masuk kesana, Yaura yang memerintahkannya. " Pak Agus memikirkan cara agar Evelyn bisa masuk.


" Dimana Ken? Apa Dia benar-benar tidak ingin mengucapkan salam terakhir kepada Orang Tuanya? " sambung Pak Agus seraya mengeluarkan ponsel dan menghubunginya. tidak ada jawaban sama sekali, Ia pun mengeluarkan HT.


" Buka pintunya.. Evelyn ingin masuk untuk mengucapkan Salam Penghormatan kepada Orang Tuanya. " titah Pak Agus kepada Tim GOD.


" Maaf Ketua, Ini Perintah Mutlak Nona Yaura. Kami tidak bisa melakukannya. " saut Tim GOD yang hanya mengabdi kepada Yaura, tidak menuruti perintah siapapun.


" Sudah Aku duga.. " lirih Pak Agus.


" Ken dan Yaura kenapa tidak datang? apa mereka tidak ingin menikmati pertunjukkannya? dan juga Ken, Dia seharusnya menenangkan Adiknya, keterlaluan. " lirih Nona Lee seraya menatap Evelyn yang menghubungi Tim GOD tiada henti.


Sebagai Kekasih, Vino mencoba menenangkan dan memberinya pengertian bahwa ini sudah perintah Mutlak.


" Vin, Aku tidak sedih atau apapun. tapi Aku ingin menyaksikan mereka terbunuh di depan mataku sendiri, agar Aku sadar dan hidup dengan tenang. " tutur Evelyn dengan sendu.


" Lihatlah, Pak Agus tidak boleh masuk. Jadi mengertilah.. mungkin Yaura tidak ingin Kau menyaksikan kematian Orang Tuamu sendiri,karena itu sangat menyakitkan. " lirih Vino seraya memberi pelukan hangat kepada Kekasihnya.


Setelah keadaan kondusif, layar mulai menyorot Para Iblis yang terborgol dan terikat di sebuah tiang kematian masing-masing. Mereka yang melihatnya pun mulai menguatkan mental untuk menyaksikan detik-detik penembakan.


" Selamat Tinggal, Paman, Bibi.. " lirih Zayn dalam hati. meskipun begitu, Ia masih punya simpati dan kesedihan, karena bagaimanapun dulu mereka sangat dekat.


Lolly, Alex , Kevin, dan Vino kompak menundukkan kepalanya sebagai Penghormatan Terakhir.ucapan Terima Kasih dan berbela sungkawa terus memenuhi hati kecil mereka.


Sementara David, Nona Lee, Lisya , Pak Andi,Alfin, Pak Agus, Bibi Arum, dan Albert hanya menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk Kemanusiaan.


" Aku menundukkan kepalaku karena Rasa Kasihan, bukan kesedihan. " ucap Nona Lee, Ia tidak bersimpati kepada Para Iblis yang telah mencelakai Adiknya.


" KETIKA IBLIS SUDAH PERGI, MAKA TERBITLAH KEBAHAGIAAN. NAMUN AKU RAGU, TUHAN MAU MENERIMA MANUSIA JAHANNAM SEPERTI KALIAN. " umpat Pak Agus, matanya berkaca karena bahagia akhirnya PEPERANGAN PANJANG TELAH USAI.


Para Iblis berteriak dan menangis histeris hingga membuat Evelyn menutup telinganya.


" AKU TIDAK INGIN MENANGIS ATAU SEDIH, TAPI... TAPI... TAPI.. KENAPA AKU MENANGIS HIKSSS " rintih Evelyn, tubuhnya melemas.


Di dalam, Tim GOD telah bersiap dengan senjatanya.


" Tim Delta Tewas terbunuh mengenaskan karena ulah Kalian. dan Nona Yaura mengalami koma 8 Bulan serta hampir kehilangan nyawa karena Iblis seperti Kalian juga. inilah saatnya PEMBALASAN." teriak Ketua Senjata GOD yang memiliki wajah garang.


Semuanya meronta dan memohon untuk dilepaskan, namun itu hanya sia-sia.


" Dimana Yaura? " lirih Reino seraya menyoroti seluruh Ruangan. Ia sangat heran kenapa Yaura tidak menyaksikan kematiannya.


" Ken.. dimana Anakku.. " mata Reino kini mengamati CCTV yang menyorotnya.


" Mungkin mereka menyaksikannya melalui CCTV.. " Reino tersenyum getir, Ia tidak menyangka Kedua Anaknya sama sekali tidak mengucapkan Salam Penghormatan.


" SELAMAT TINGGAL NAK.. MAAFKAN AYAH.. " Reino hanya diam dan pasrah, hatinya lebih sakit dibanding rasa takut akan senjata.


" BERSIAP !!!!! " teriak Tim GOD.


Helena, Hilya , dan Bianca kompak menjerit histeris.


" AYAH... IBU TOLONG HIKSSSSSSSSS " Bianca menangis ketakutan.


" YAURA.. YAURA KELUARLAH !!!! YAURA HENTIKAN KEGILAANMU YAURA HIKSSS !!! " teriak Hilya memanggil nama Yaura.


Tanpa basa-basi..



DORRRRRR DORRR DORRRR Peluru di tembakkan secara serempak dan


Tlkkkkk layar monitor mati seketika.


" TIDAKKKK !!!! " itulah teriakan dan rekaman terakhir Para Iblis yang terdengar. dan..


" AYAHHH.... IBUU !!!!!!!!! " Evelyn menjerit dan menangis syok, lalu


Brughhhhhhhhh Ia pingsan


" Evelyn.. " Vino dengan sigap membopong tubuh kekasihnya,Ini memang sudah di duga.


" Vin... bawa kedepan.. " Nona Lee melangkah keluar guna mengobati Evelyn.


Sementara Lolly membatu dan meneteskan air mata,


" Mereka benar-benar ditembak oleh Yaura sekalipun Kak Ken berpihak kepadanya. itu berarti Kak Anin.. Kak Anin akan selalu dalam bahaya.. tidak.. tidak.. Kak Anin tidak boleh bernasib seperti mereka.. " Lolly menggelengkan kepalanya lalu membayangkan bagaimana jadinya jika Sang Kakak kembali berulah.


" RASAKAN.. ITULAH AKIBAT MANUSIA SERAKAH.. " Alfin tersenyum penuh kemenangan.


" Ken tidak datang ,itu berarti Karma benar-benar nyata. Reino dan Hilya pasti merasa sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh Anaknya sendiri. Rasakan ! " ucap David dalam hati. Smirk mematikan Ia keluarkan.


" SELAMAT JALAN, HELENA.. " rintih Lisya seraya menundukkan kepalanya. bagaimanapun Ia sempat mengenal Helena.


Alfin memperhatikan Lisya yang meneteskan air mata,


" Apa Dia menundukkan kepala untuk Helena? Aku rasa itu tidak pantas. Helena lebih busuk dari Reino, Dialah akar yang membuat Yaura terbongkar. " lirih Alfin.


" SEMUANYA TELAH BERAKHIR. INI WAKTUNYA AKU MENIKMATI HIDUP DENGAN SECANGKIR TEH MANIS DAN BISKUIT KELAPA DI PAGI HARI.. " senyum Pak Agus lalu melangkah meninggalkan ruangan.

__ADS_1


*


*


GREEN PLACE FLOWERS


Setelah lelah berkejar-kejaran, mereka pun duduk santai di rumput padang hijau seraya meminum Pop Ice yang Ia dapat dari penduduk lokal.


" Kau mau kemana lagi,katakan? " Ken menatap Istrinya dengan tatapan penuh kebahagiaan.


Namun Yaura justru terdiam saat menyadari sinyal merah yang ada di gelang canggihnya menyala. Ia pun menatap Suaminya, dan..


" Kita akan pergi ke tempat yang selalu Aku kunjungi bersamamu.. " lirih Yaura .


Tatapan Yaura sangat berbeda hingga membuat Ken menurunkan Pop Ice yang Ia minum lalu meletakkannya ke tanah.


" Kenapa Kau tiba-tiba seperti ini? katakan.. dan .. tadi Aku sempat melihat gelangmu menyala, Apa yang Kau rencanakan? " tanya Ken seraya melirik ke gelang Istrinya.


" Merah adalah Darah. Jadi, ini berkaitan dengan Darah seseorang.. " tutur Yaura yang membuat Ken menyipitkan matanya.


" Kau akan mengetahuinya setelah ini.Ayo,Ken.. " Yaura mengulurkan tangan lalu membantu Suaminya berdiri.


" Darah? " Ken belum memahami perkataan Istrinya.


*


MARKAS TERSEMBUNYI


Ken memarkirkan mobilnya di sebuah Rumah sederhana yang terletak tidak jauh dari Wilayah Apartement Valdefis, tempat dimana Yaura tinggal dulu.


" KENAPA KITA KESINI? BUKANKAH PEMAKAMAN AYAH DEVANO SUDAH DIPINDAHKAN? " heran Ken.


Yaura tidak menjawab, Ia melangkah masuk lebih dulu berbicara dengan Tim GOD.


" Apa yang lain sudah pulang? "


" Sesuai perintah Nona." jawab Tim GOD.


Ken kini mengikuti langkah Sang Istri, Ia terkejut saat dirinya turun ke bawah tanah dengan kedalaman yang hampir menyetarai bangunan lantai 10.


" Bukankah dulu Kita hanya turun ke Lantai 1? " tanya Ken seraya memandang wajah Istrinya yang datar.


Yaura hanya menundukkan kepalanya dan.. tibalah mereka ke Lantai 10 Bawah Tanah.


Bukannya bau harum bunga, namun.


Ken langsung menutup hidungnya saat menghirup bau anyir darah, dan


Degggggggggg Matanya hampir meloncat keluar saat melihat ceceran darah berjumlah banyak di lantai berwarna putih tersebut.


" Darah.. " lirih Ken, matanya memerah saat melihat Peti Mati berjumlah Lima berjejer rapi di atas Mimbar sebelah sana,dan..


" KAU SUDAH MELENYAPKAN MEREKA?.. " tanya Ken terbatah seraya memegang tangan Istrinya.


Yaura diam dan menuntun Ken untuk berjalan mendekati peti. Sepatu mereka menginjak darah segar ,hidung mereka pun menghirup bau anyir nan amis hingga membuat suasana semakin menyeramkan.


" AYAH REINO DAN IBU HILYA SUDAH AKU TEMBAK, MEREKA TELAH TIADA... " lirih Yaura yang membuat Ken melepaskan tangannya. dan..



" KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU TERLEBIH DAHULU? " tanya Ken, hatinya sangat hancur, kesedihan dan kehilangan sangat Ia rasakan,namun Ia berusaha menutupinya agar Sang Istri tidak tahu.


Yaura menatap Ken dan memahami bahwa Suaminya bersedih.


" AKU TELAH MELENYAPKAN KEDUA ORANG TUAMU,KEN.. APA KAU TETAP BERPIHAK KEPADAKU? DISAAT KAU KEHILANGAN ORANG TUAMU SELAMANYA.. " lirih Yaura.


" JAWAB PERTANYAANKU.." Ken mengulang pertanyaannya,lalu menatap Sang Istri.


" KARENA AKU TIDAK INGIN KAU DAN EVELYN MELIHAT KEMATIAN ORANGTUA DI DEPAN MATA KALIAN SENDIRI.. " lirih Yaura, Ia menundukkan pandangannya dan bersiap diri untuk mendengar kenyataan bahwa Ken marah besar.


Ken melemah, bagaimanapun Ia benar-benar kehilangan Orang yang selama ini membesarkan dan mendidiknya secara penuh. Ken mencoba menahan air mata, namun otaknya terus terbayang wajah Sang Ayah dan Sang Ibu..


" KEN, ANAK AYAH. KAU KEBANGGAN AYAH,KEN. AYAH SANGAT MENYAYANGIMU.. " tawa Reino seraya memeluk Ken kecil.


" ANAK GANTENGNYA IBU,SAYANG..KAU SUDAH BESAR DAN TAMPAN. ASTAGA, IBU BANGGA MEMILIKIMU SAYANG.. " Hilya memeluk Ken saat pulang dari California dengan senyum tulus.


" KEN ! EVELYN ! kenapa selalu bertengkar di pagi hari ?! Apa Kalian ingin Ayah kasih hukuman? " ucap Reino saat Ia dan Sang Adik bertengkar.


Tanpa disadari, Ken meneteskan air mata. Rekaman waktu kecil, moment indah dan bahagia membuatnya sangat merasa kehilangan. Namun, Ken melirik ke arah Istrinya yang diam, dan..


Degggg Ia menyadari dirinya meneteskan air mata.


" JIKA AKU SEBESAR INI MENANGIS DAN TERPUKUL SAAT KEHILANGAN AYAH DAN IBU, ITU BERARTI.. YAURA LEBIH MERASAKAN RASA SAKIT DARI INI.. " lirih Ken dalam hati, Ia kembali sadar ,dan..


Huggggggg Ken memeluk Istrinya dengan erat.


" Apapun yang Kau lakukan, Aku akan selalu mendukungmu.. " lirih Ken, Ia sadar bahwa KARMA TUHAN PASTI BERLAKU. Tidak ada gunanya menangisi penjahat,karana sudah Hukum Tuhan, melenyapkan akan dilenyapkan.


" Maaf Ken.. " lirih Yaura.


" Maaf untuk apa Sayang? Ini yang Aku inginkan.. hanya saja harusnya Kau menembaknya dengan tanganmu sendiri, lalu menyaksikan kematian mereka secara langsung. " lirih Ken seraya mengelus kepala Istrinya.


" Jangan berfikir bahwa Aku akan marah, karena jawabannya adalah TIDAK. " sambungnya.


Yaura melepaskan pelukan,


" SEKARANG KITA SAMA-SAMA TIDAK MEMILIKI ORANG TUA.. ".


Ken mengusap Air Matanya,


" Tidak masalah, itu Hukum Tuhan. tersenyumlah, akhirnya Permainan Panjang ini telah Usai, SELAMAT SAYANG.. " Ken menggenggam tangan Istrinya.


Yaura tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, dan..


" Kita harus melakukan Penghormatan.. " ajak Yaura, Ia melangkah mengambil Buket Bunga Lili lalu memberikannya kepada Sang Suami.


Ken melangkah menaiki mimbar lalu menundukkan kepalanya,


" SELAMAT JALAN, AYAH.. IBU.. KEN BINGUNG INGIN MENGUCAPKAN MAAF ATAU TERIMA KASIH.. TETAPI KEN BERDOA SEMOGA KALIAN BERTEMU DENGAN AYAH DEVANO DI AKHIRAT. MINTA MAAFLAH KEPADANYA, DAN SAMPAIKAN MAAF AKU JUGA KEPADANYA. " Ken tersenyum getir, seraya meletakkan Bunga Lili di atas peti.


Bukannya melakukan penghormatan, Yaura malah diam seraya memperhatikan Suaminya.

__ADS_1


" SEKARANG, KAU ADALAH ALASAN AKU UNTUK HIDUP,KEN.. " janji Yaura.


*


*


RUMAH YAURA


Setibanya di Rumah, Mereka langsung turun dari mobil, lalu melepaskan sepatu yang terkena darah. Ken berlari karena Ia diberi tahu bahwa Evelyn pingsan. Disana Ia berpapasan dengan Sinta dan Donna yang sedang duduk di soffa tamu.


Sampai atas, Semua orang kumpul di Kamar khusus Evelyn.


" Evelyn.. bangunlah.. " Ken membangunkan Sang Adik lalu memeluknya dengan erat.


" Evelyn bangunlah.. Jangan seperti ini.. ".


" Jangan cemas Ken, Aku sudah mengobatinya. itu adalah efek obat, Adikmu mengalami syok berat lalu hilang kesadaran. " tutur Nona Lee.


Yaura masuk dan melihat Evelyn terkulai lemas di pelukan Suaminya.


" Maaf.. " lirih Yaura.


Tiba-tiba Evelyn membuka matanya perlahan. Hatinya mengisak, dan..


" KAKAKKK !!! HIKSSSS " Evelyn kembali menangis seraya memeluk erat Kakaknya. tangannya mencengkram lengan kameja Ken, dan membenamkan wajahnya di pelukan Sang Kakak.


Menghormati Istrinya,


" Tinggalkan Kami sebentar.. " pinta Ken kepada semua orang, termasuk Yaura.


Vino bersikeras untuk tetap berada di samping Evelyn, namun Ken melarangnya. Semua orangpun keluar,


Yaura menundukkan pandangannya lalu melangkah keluar bersama Nona Lee.


Ken memperhatikan Sang Istri yang mulai menjauh dari pandangannya, setelah pintu tertutup..


" KAU MASIH PUNYA KAKAK.. JANGAN MENANGIS, KAKAK AKAN SELALU MELINDUNGIMU.. " Ken memejamkan matanya seraya memeluk Sang Adik yang menangis tiada henti.


" AKU BENCI MEREKA, AKU BENCI KAK ! AKU BENCI ! TAPI.. TAPI.. TAPI AKU JUGA TIDAK RELA KEHILANGAN MEREKA SELAMANYA.. MEREKA IBU DAN AYAH KITA KAK.. KITA ANAK MEREKA HIKSSS.. " Evelyn histeris.


Ken melepaskan pelukan lalu menatap Adiknya,


" APA KAU FIKIR KAKAK RELA? TIDAK EVELYN, TIDAK ! KAKAK TIDAK RELA MELIHAT AYAH DAN IBU TIADA ! TAPI ITU SUDAH TAKDIR EVELYN, TUHAN YANG SUDAH MENENTUKAN ! MEREKA MEMBUNUH BANYAK NYAWA, PADA AKHIRNYA ITU MENJADI BOOMERANGNYA ! "


" KITA MARAH KEPADA SIAPA? KAU INGIN MARAH KEPADA SIAPA? YAURA? DIA KORBAN EVELYN ! ORANG TUANYA, KELUARGANYA, PERUSAHAANNYA, KEHIDUPANNYA, BAHKAN DIRINYA SENDIRI MENJADI KORBAN KEKEJAMAN ORANG TUA KITA ! " ucap Ken guna menyadarkan Adiknya untuk tidak merasa kehilangan terlalu dalam.


" AKU TAHU KAK.. TAPI.. TAPI AKU SANGAT MENYAYANGI IBU DAN AYAH HIKSSSS " rintih Evelyn.


" SADARLAH EVELYN ! KITA SEHARUSNYA BERSYUKUR MASIH DIBERI KEHIDUPAN OLEH YAURA.. DIA MASIH BERBELAS KASIHAN KEPADA KITA, PADAHAL KITA ADALAH ANAK PEMBUNUH AYAHNYA. LALU UNTUK APA KITA MENANGIS DISAAT KITA DIPOSISI YANG AMAN? KAU TAHU EVELYN? SELURUH KELUARGA YANG TERLIBAT PEMBUNUHAN, HARTA DAN SELURUH ASETNYA DI TARIK HABIS OLEH YAURA. KAU TAHU BUKAN ARTI BERSYUKUR? IYAH BERSYUKUR, KITA TIDAK MENJADI GELANDANGAN SEPERTI LAINNYA. JADI TOLONG, JANGAN MENUNJUKKAN KESEDIHANMU DIDEPAN ORANG LAIN.. " tutur Ken yang membuat Evelyn.


" TAPI KAK..HIKSSS.. " Evelyn kembali memeluk Kakaknya dan menangis.


" KAKAK AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUKMU EVELYN.. APAPUN ITU.. JADI TENANGLAH, MASIH ADA KAKAK.. " lirih Ken.


" Hikss " Evelyn hanya menangis, namun disela tangisannya Ia berfikir apa yang dikatakan Kakaknya itu benar.


*


*


Ruang Tamu


Semuanya bergabung dengan Donna, Mark dan Sinta. Meskipun tidak mengenal mereka bertiga, namun Zayn memperhatikan gerak-geriknya. Ia menatap Mark, lalu..


" JADILAH TEMBOK YANG TIDAK MENDENGAR, ORANG BUTA YANG TIDAK MELIHAT, DAN SI BISU JIKA BERADA DI LUAR RUMAH. APAPUN YANG KAU LIHAT DI RUMAH INI, JANGAN MEMBOCORKANNYA PADA DUNIA LUAR. " ucap Zayn.


Mark dan Zayn pun beradu pandang.


Mark melukiskan senyum tipis,


" AKU SUDAH LAMA MENGENAL KEN DAN KELUARGANYA.JADI, TENTU AKU AKAN MELAKUKANNYA, TUAN ZAYN.. "


" Syukurlah..dan jangan memanggilku Tuan, Kakek saja tidak papa.. " lawak Zayn lalu membalas senyuman Mark.


Seketika semuanya pun tertawa karena cletukan Zayn.


" Mungkin akan Aku lakukan lain kali. " balas Mark seraya tertawa.


" Mark.. Jangan tersinggung yah, Zayn memang seperti itu, ya walaupun Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi Dia memang sedikit menyebalkan. " tawa Nona Lee sekencang mungkin, tangannya tidak sadar menabok lengan David yang berada disebelahnya.


" Kenapa tidak sekalian saja menonjok kepalaku? " gerutu David saat Nona Lee menabok lengannya dengan keras namun tak sadar, namun di sisi lain David melukiskan senyum manis karena akhirnya semuanya telah berakhir.


" SAATNYA HIDUP NORMAL,DAN MEMULAI KEHIDUPAN.. " sambung David dalam hati.


Tidak seperti Donna yang basa-basi dengan Lisya,Lolly atau Nona Lee, Sinta justru sibuk menyoroti Lantai Atas guna memperhatikan Ken yang belum turun.


" ORANG TUANYA DI BUNUH, DAN KEN DIAM SAJA SEPERTI ITU, ASTAGA.. ANAK MACAM APA, JIKA AKU ADA DI POSISI DIA,MAKA AKAN AKU LAWAN. TAKUT DENGAN YAURA? TIDAK MASUK AKAL. DIA KAYA RAYA, KEHILANGAN YAURA PUN MASIH BANYAK WANITA DILUAR SANA YANG INGIN HIDUP BERSAMANYA, DIBANDINGKAN MEMILIH WANITA SEKEJAM YAURA. SUNGGUH BODOH KEN. " kritik Sinta dalam hati lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kamar Yaura di Lantai Atas.


" YAURA? DIA HANYA TERKENAL KARENA MENYANDANG STATUS ANAK TUAN DEVANO MALIK, TETAPI ETIKANYA SANGAT JELEK. MEMBUNUH ORANG TANPA AMPUN, MENJIJIKAN. KEN TIDAK PANTAS BERSANDING DENGAN WANITA ITU, TIDAK SEBANDING. " sambung Sinta, sungguh Ia sangat ingat bagaimana Ken diam tak melawan saat Pengadilan menjatuhi Hukuman Mati kepada Reino dan Hilya.


Sementara Pak Agus sedang duduk menyendiri di sudut Ruangan seraya menengguk Anggur Merah sebagai tanda Kemenangannya. tiba-tiba


Trininggg ponselnya berdering


" Katakan Nak.. " saut Pak Agus saat tahu Ken yang menelfonnya.


" Katakan kepada Sinta dan Donna, Aku sudah menerima lamaran Mereka. Donna akan Aku jadikan sebagai Sekretaris Nona Lee, karena Nona Lee juga membutuhkannya. dan.. urus Mereka Pak, jelaskan semua peraturan Kita, terutama jangan pernah mencelakai Istriku.. " tutur Ken yang membuat Pak Agus tersenyum.


" Tentu,Ken.. Kau juga harus menguatkan Evelyn, beri Dia pengertian secara penuh. Jangan sampai Adikmu Depresi.. " ujar Pak Agus.


" Aku sedang melakukannya.. " Ken mematikan sambungan telefon.


Sesuai perintah, Pak Agus pun meletakkan gelas di Meja lalu beranjak dari kursinya. Ia melangkah mendekati Donna dan Sinta.


" Kalian berdua ikut denganku. " Pak Agus menatap Donna dan Sinta bergantian.


" Baik Pak. " Donna tersenyum lalu beranjak, diikuti Sinta dibelakangnya.


Alfin yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Sinta dan Donna pun menurunkan pandangannya.


" Mereka adalah Orang Baru. Aku harus memberitahu Ken untuk berhati-hati dengan mereka, dari gerak-geriknya Donna dan Sinta tidak bisa dipercaya. " lirih Alfin dalam hati.

__ADS_1


*


*


__ADS_2