Love Of NIS Agent

Love Of NIS Agent
Bermalam di Apartement Sang Istri


__ADS_3

Sementara Ken dengan sekuat tenaga mengotak-atik BOM, Ia berharap bisa menghentikan ledakan .


" Aku yakin ini bisa berhenti " gumam Ken dalam hati, bercampur keringat dan darah yang mengalir dari lengan, namun tidak menghentikan dirinya untuk menyerah .


Waktu semakin menghitung mundur tersisa 3 menit 15 detik , hal ini membuat keadaan benar-benar genting, jika BOM meledak maka Dia akan mati dengan konyol ditangan seseorang yang bahkan tidak ketahui olehnya .


" Aku tidak akan menyerah .." lirih Ken seraya terus menahan sakit dan lemas akibat kehilangan banyak darah . Tangannya terus mengacak-acak rakitan kabel BOM yang menempel di tubuhnya , peluh pun semakin berjatuhan membasahi dahi dan sekujur tubuhnya .


Dari kejauhan, nampak Yaura memandangi Ken dari balik tembok yang letaknya tidak jauh dari Sel Jeruji , ternyata Dia tidak berlari atau menyelamatkan diri sesuai yang direncanakan. Pandangan matanya terarah pada lengan yang terus mengeluarkan darah, beralih pada Wajah Ken yang sudah terlihat pucat dan nampak kehabisan tenaga.


" Aku sendiri yang ingin melenyapkannya, tetapi kenapa berubah seperti ini .. dadaku terasa sesak melihatnya " lirih Yaura seraya mengelus dadanya.


Dari Luar , Pak Agus sudah berada di dalam mobil , Ia mencoba mencari jalan keluar untuk mendapatkan keadaan yang saling menguntungkan .


" Jika Aku membiarkan Ken mati, maka ini salah . Dia belum terbukti secara kuat telah melakukan semua " gumam Pak Agus seraya berfikir keras .


" Tetapi jika Aku membiarkannya hidup, maka Yaura dan Kami yang akan terancam " .


Pak Agus mengeluarkan Ponsel guna menelfon Helena .


tututttt bunyi nada sambung .


" Halo Kepala .. " jawab Helena dari balik telefon .


" Datangi Hotel Louis , hilangkan semua jejak. bersihkan nama NIS dari skandal Penangkapan secara illegal , Yaura mencoba melenyapkan Ken sekarang " tutur Pak Agus tergesa-tega .


Mendengar ini membuat Helena syok .


" A-a-apa ? melenyapkannya ? " Helena terbatah .


" Iyah , BOM siap diledakkan sekarang . Aku sedang mencari cara untuk menghentikan semuanya, Kau urus semuanya dengan Bobby " ujar Pak Agus dan segera mematikan sambungan telefon .


Helena masih tertegun dan mematung


" Melenyapkan Suaminya sendiri. Hati dan Perasaan Yaura benar-benar tertutup .. " lirihnya seakan tak percaya bahwa Sahabatnya tega berbuat sejauh ini. Helena memutuskan untuk segera pergi dan menghubungi Pak Bobby untuk memberitahu tugas yang sudah diperintahkan . Ia mengambil kunci mobil dari Meja dan melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa .


Seorang sniper menekan tombol ON


" Pak .. 4 mobil mencurigakan sedang menuju ke sini " tuturnya .


Mendengar Hal ini, membuat Pak Agus semakin tertekan keadaan .


" Baiklah , halangi mereka untuk sementara " ujar Pak Agus dan mengalihkan pandangan pada Jam Tangan yang melingkar di pergelangan tangannya .


" 2 menit 10 detik " gumamnya dalam hati .


Mencoba mengambil langkah besar , Pak Agus memutuskan untuk menekan tombol ON earpiece yang terhubung dengan Yaura .


" Kau mendengarku ? " ucapnya .


Yaura langsung menekan tombol ON earpiece yang terletak di telinganya .


" Iyah .. " lirihnya .


" Hentikan semuanya sekarang. Jangan membunuh Ken, jika Dia berhubungan baik dengan Luar Negeri secara terbuka dan memegang kendali atas semuanya , Kita manfaatkan Ken untuk mengetahui siapa Abraham. namun Jika Dia ternyata terlibat dengan Abraham , Aku mengizinkanmu untuk membunuhnya " tutur Pak Agus .


Yaura terdiam .


" Ken mencari tahu tentang Kita karena Dia memergoki dirimu pada waktu itu ( Rumah Lama ) pada akhirnya Dia curiga . Ini menjadi bukti Kuat bahwa Kau yang bersalah jika melenyapkannya " Pak Agus mencoba bernegosiasi dengan Anak yang sudah Ia didik sejak kecil.


Tak menjawab , Yaura malah memperhatikan Ken yang sudah benar-benar lemah . sementara Waktu hampir habis .


dan ...


Dengan susah payah , Ken akhirnya bisa melepaskan Rakitan BOM yang membalut tubuhnya . Nampak kehabisan tenaga, namun Ia tak menyerah . Kali ini Ken mencoba mendobrak Jeruji Besi agar bisa keluar .


brughhh brughhh brughhh Kakinya terus menendangi Jeruji Besi , meskipun akan mustahil untuk terbuka.


tiba-tiba ..


Timer pada BOM berhenti , waktunya sudah tidak berjalan mundur dan lampu indikator juga mati .


Ternyata Yaura yang menekannya .


Mata Ken membulat sempurna saat Timer berhenti dan Indikator BOM mati .


" Dia menghentikannya ? " gumam Ken dalam hati .


" Indikatornya juga dimatikan , berarti ini tidak akan meledak " sambungnya dan sekarang mencoba mencari cara untuk keluar .


Setelah menghentikan kegilaannya, Yaura melangkah keluar dan bergegas masuk ke dalam mobil .


" Kau sudah menghentikannya Nak ? " tanya Pak Agus .


" Iyah, Aku mengikuti perintahmu Pak " lirih Yaura seraya membuka masker yang menutupi wajahnya .


Mendengar ini membuat Pak Agus bernafas lega, dan segera menyuruh Sopir untuk melajukan mobil karena ada Kelompok yang ingin menyerangnya .


Kelompok Lain


Tak berselang lama, Kelompok yang sudah ditugaskan untuk membebaskan Ken sudah tiba. mereka semua turun dari mobil melangkah dengan sigap dan waspada , Senjata berat sudah siap ditembakkan untuk melawan musuh.


" Masuk !!! " teriak Pria blasteran tersebut . Tim pun masuk ke dalam markas tersembunyi .


Mereka menyebar dan menelusuri semua Ruangan yang ada di dalamnya .


Sudah berusaha untuk mencari


" Tuan ,tidak ada siapapun disini " teriak salah satu Tim .


Pria blasteran pun merasa terheran , matanya terus menyoroti semua sudut Ruangan .


" Benar .. tidak ada siapapun disini . Lalu Ken kemana ? Aku yakin pengintaian Kita tidak salah " lirihnya.


Tiba-tiba salah satu dari mereka melaporkan bahwa BOM ditemukan pada Sel Jeruji dan melihat bahwa Plafon yang berada di atasnya rusak . Pria blasteran yang melihatnya pun berdecak kagum ,

__ADS_1


" Hebat , Dia bahkan bisa melepaskan BOM lalu kabur dari atap disaat terluka . Wow kau Hebat, Ken .." lirihnya , pandangan matanya terarah pada darah yang berlumuran di lantai Sel .


Pada akhirnya Dia menarik Tim kembali untuk ke Markasnya karena Ken tidak ditemukan .


" Sepertinya masih di sekitar sini, Dia terluka tidak mungkin menghilang secepat itu " gumamnya dalam hati .


DI JALAN


Setelah berhasil melepaskan diri, Ken berjalan kaki menelusuri jalanan, tangan kirinya terus memegangi lengan kanan yang tertembak . Ingin mencoba menghubungi Orang Rumah namun teringat bahwa..


" Sial ! Ponselku juga tidak ada " umpatnya seraya menyoroti jalanan guna mencari tumpangan, namun nampaknya jalanan sudah sepi karena Dini Hari .


Tak mendapat tumpangan, namun Keajaiban lain datang, matanya tiba-tiba terarah pada Klinik kecil yang lampunya masih menyala .


" Sepertinya Aku harus mengobati lenganku terlebih dahulu " lirih Ken , kakinya pun mulai melangkah ke arah sana .


KLINIK KECIL


Ken mencoba mengetuk pintu Klinik.


tokk tokkk tokkk suara ketukan pintu , tak berselang lama , seorang Pria paruhbaya membukakan pintu.


Melihat lengan yang berceceran darah, membuat Pria itu merasa Syok .


" Pak , Saya .. " ucap Ken , namun segera dipersilahkan masuk oleh Pria itu .


" Nak cepatlah masuk, wajahmu sudah pucat Kau kehilangan banyak darah .." panik Pria itu yang ternyata seorang Dokter ( yaiyalah Dokter masa selebritis wkwkwk ) .


Ken segera membaringkan tubuhnya guna melakukan Prosedur Medis. Dokter pun segera melakukan Operasi kecil.


1 Jam berlalu, kini lengan Ken sudah dibalut perban.


" Nak , Kau kehilangan banyak darah, namun untuk saat ini stock Bank Darah disini habis, nanti besok segera pergi ke Rumah Sakit , seharusnya sekarang Kau harus pergi kesana " jelas Dokter itu .


" Maaf Pak telah merepotkan, juga terima kasih karena telah mengobati luka Saya. " tutur Ken .


" Dimana Rumahmu Nak? biar Bapak antarkan , ini sudah Dini Hari dan Kau terluka , juga .... Kenapa Kau bisa tertembak ? padahal tidak ada Gengster disekitar sini " heran Dokter itu .


" Saya sempat berkelahi kecil tadi Pak , ini tidak terlalu serius " Ken mencoba menutupi kebenaran .


Setelah sedikit berbincang, Ken pun membayar biaya pengobatan , lalu Ia mencoba meminjam Ponsel Dokter itu guna menghubungi Pengawalnya . Tak sungkan, Dokter pun segera memberikan apa yang dibutuhkan oleh Ken .


Ia menghubungi nomor telefon Rumah, dan langsung di jawab oleh sang Pengawal .


" Sekali lagi terima kasih Pak Dokter, Saya berhutang budi kepada Bapak . nama Bapak siapa ? " tanya Ken seraya menyodorkan Ponsel yang baru saja Ia pakai .


" Bebas , Kau bisa memanggilku Doctor John atau Doctor Stranger ( Serial Drama Korea ) " celetuk Dokter itu , hal ini sontak membuat Ken tersenyum .


" Bapak lebih mirip dengan Doctor Stranger karena ada di saat genting dimanapun dan kapanpun " timpal Ken seraya melebarkan senyum .


" Namaku Bram Wijaya, Kau bisa memanggilku Pak Bram, Nak "


" Baiklah, terima kasih Doctor Bram " Ken mencoba mengobrol seraya menunggu Pengawal untuk menjemputnya.


20 menit kemudian mobil Pengawal datang . Ken segera pamit kepada Dokter itu seraya terus mengucapkan banyak terima kasih .


Ken segera mendudukkan tubuhnya di kursi belakang . Pengawal nampak heran kenapa Tuan nya bisa terluka tetapi tidak ada informasi sama sekali, tak menjawab pertanyaan Pengawal , Ia justru mengalihkan pembicaraan lain


" Apa keadaan di Rumah aman ? Yaura , Evelyn dan semuanya aman ? " tanya Ken kepada pengawal karena khawatir musuh tadi menyerang keluarganya .


" Keadaan Rumah aman Tuan . Nona Evelyn pergi dengan Tuan Vino dan pulang besok, begitupun dengan Nona Bianca, Dia sedang menemui temannya dan juga kembali Besok. tetapi Istri Tuan, yaitu Nona Yaura tidak ada di Rumah , Robin berkata Nona menginap di Apartement malam ini karena Tuan tidak menjemputnya " tutur Pengawal .


Mendengar ini ,membuat Ken membulatkan kedua matanya .


" A-a-apa? Yaura di Apartement ? " gumamnya dalam hati, fikirannya kemana-mana .


" Kenapa Kalian tidak menjemputnya ! Harusnya jemput Yaura jika Aku tidak ada disana . Semakin kesini kalian semakin ceroboh ! Cepat lajukan mobil ke Apartement Valdefis ! " Ken berdecak kesal dan hatinya mulai tidak tenang .


" Maafkan Kami Tuan, ini Perintah Nona Yaura " tutur Pengawal itu .


" Mulai sekarang, Kau tidak perlu menuruti perintah siapapun kecuali Aku . sekalipun itu Evelyn atau Yaura ! " ancamnya . Di kepala Ken hanya terekam kejadian Penembakan yang membahayakan Istrinya . Ini membuatnya semakin ketar-ketir, hatinya tidak tenang dan diliputi ke khawatiran .


" Semoga Dia baik-baik saja.. " lirih Ken dalam hati .


APARTEMENT VALDEFIS


Ken segera turun dari mobil dan lapor ke Pihak Keamanan . tak berselang lama, Ia pun di izinkan masuk .


Ken melangkahkan kakinya dengan cepat, Ia segera menaiki lift dan menuju Kamar Yaura.


Kamar 11


Tak sabar untuk menemui Istrinya , Ia segera mengetuk pintu dengan keras .


tokkk tokk tokk


" Yaura buka pintunya .. Ini Aku " teriaknya dengan lantang seraya terus menggedor-gedor pintu .


Tak mendapat jawaban, membuat Ken semakin khawatir, jantungnya berdetak kencang.


" Yaura ! Buka pintunya ! " teriak Ken , Ia semakin berfikiran negatif .


" YAURA !!!! "


" Apa jangan-jangan mereka membunuhnya ? tidakkk .. tidak ... " Wajah Ken memucat, Ia mengulurkan tangan dan..


" Kemarin senjata kalian, Cepat ! "


Dengan sigap pengawal memberikan senjatanya .


" Mundurlah, Aku akan melakukan tembakan .. " lirih Ken agar pengawal mundur .


dan


Dorrrrrrrr dorrr dorrr Ia menembakkan peluru ke Handle pintu dan membuatnya rusak, dan segera masuk .

__ADS_1


" Yaura .. " teriak Ken, matanya terarah pada Ranjang . nampak seseorang terbaring di sana dan tertutup oleh selimut .


" Dia tidak mendengar apapun, sekalipun itu suara tembakkan .. " lirih Ken, langkah Kakinya mulai terbatah .


" Apa jangan-jangan .... " sudut matanya memerah.


" Apa mereka telah melenyapkannya? " batin Ken , hatinya tiba-tiba merasa hancur .


" Yaura ... " lirihnya kembali, sekarang Ia berada tepat di sebelah Ranjang .


" Yaura maafkan Aku .. " lirih Ken matanya mulai berkaca .


dan tangannya mulai menyibakkan selimut yang membalut tubuh Istrinya . matanya membulat sempurna saat melihat sebuah Handset menyantel di telinga Istrinya.


dann...


Dengan sigap Ken menyingkirkan Handset tersebut dari telinga Istrinya .


" YAURA ! " teriaknya, hal ini membuat Sang Istri menjengit di buatnya.


" Ken ? .." kaget Yaura seraya menarik selimutnya kembali .


" Kau ini keterlaluan ! Aku mengkhawatirkanmu , tetapi Kau.. " Ken menahan amarah, tetapi hatinya sudah lega karena Istrinya tidak terjadi apa-apa .


" Kenapa Kau menggunakan Handset dengan Volume Penuh ? Apa Kau gila ?! " sambungnya kembali wajahnya tampak kesal .


" Kau ini kenapa sebenarnya ? dari tadi pagi Kau terus mengomel sekarang marah tidak jelas " timpal Yaura yang mengamati tubuh Ken .


" Karena Kau ! Kau yang terus membuatku marah " balas Ken seraya mendudukkan tubuhnya di tepi Ranjang .


" Ken ..kenapa Kau bisa terluka ? " lirih Yaura.


" Tidak papa, hanya luka kecil . Ayo Kita pulang "


Ingin mengiyakan , tetapi pandangan Yaura terarah pada handle pintu yang Rusak .


" KEN ! KAU MERUSAK PINTUNYA ?! " teriaknya terkejut .


" Itu kesalahanmu sendiri , suruh siapa menghiraukanku " jawab Ken dengan polosnya dan wajah tanpa dosa.


" Aku tidak menghiraukanmu ! itu karena Aku sedang memakai Handset "


" Iyah terserah Kau saja, Ayo Kita pulang " Ken hendak beranjak , namun ..


" Tidurlah disini.. " lirih Yaura .


Mendengar hal ini membuat Ken mendelik ke arahnya .


" Kau merusak pintu , Aku tidak bisa meninggalkannya " sambungnya kembali .


" Pengawal akan menjaganya .." jawab Ken dengan lembut .


" Aku tidak mau. "


" Baiklah , mungkin ada Harta Karun yang harus kamu jaga disini . Jadi Aku menuruti permintaanmu " Ken mendudukkan dirinya kembali dengan ekspresi wajah yang terpaksa .


" Suruh mereka ( Pengawal ) untuk keluar , rasanya tidak nyaman " ujar Yaura .


" Tentu Aku akan menyuruh mereka untuk keluar , mana mungkin Aku menyuruhnya tidur disini juga " tukas Ken seraya menepuk Kasur yang sangat empuk .


Yaura hanya menatap sinis ke arahnya .


Sesuai perintah Istrinya, Ken pun menyuruh pengawal untuk pulang dan meninggalkan salah satu mobil di Apartement.


Setelah semuanya pulang, kini hanya ada mereka berdua. Ken menggeser sebuah meja untuk menahan pintu agar tidak terbuka .


" Tidurlah ini sudah lewat tengah malam .." ujar Ken seraya melepaskan jam tangan , dan Jas yang bersimbah darah .


Yaura segera menyibakkan selimut dan beranjak .


" Kau tidak menyuruh pengawal untuk membawa Baju Ganti untukmu ? " ucap Yaura seraya melangkah ke lemari .


" Aku tidak memikirkan itu " ujar Ken , yang fikirannya hanya terarah pada keselamatan Istri dan keluarganya .


Yaura mengacak-acak isi lemari, Ia menemukan setelan Baju tidur yang serasa Pas di tubuh Suaminya .


" Pakai ini .. " ujarnya seraya meletakkan baju tersebut di Ranjang.


" Itu milikmu ? "


" Bukan . "


" Itu milik lelaki lain begitu? Kau bersama mereka ? " sorot mata Ken berubah dan menatap tajam mata Yaura .


" Tentu . "


" Apa Kau bilang ?! " Ken menaikkan nada bicara seakan tak suka mendengarnya, sadar atas reaksinya


" Calm Down Ken... Calm Down.. Stay Cool Okey ! kenapa Aku terus bereaksi seperti ini jika mendengar atau melihat Dia dekat dengan lelaki lain " gumamnya dalam Hati, seraya menghela nafas dan mengelus dadanya agar tetap tenang . Ia menyadari dirinya tidak suka jika Yaura dekat dengan Pria lain .


" Ini milik Ayah, Ken. sudah kemarilah .. " Yaura menarik tubuh Suaminya untuk mendekat .


Mereka pun kini berhadapan , mata Ken tiba-tiba terarah pada Baju tidur yang Yaura kenakan, nampak dibagian belahan dadanya agak terbuka, namun Ia segera mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah .


" Kenapa Kau terluka begitu parah? sampai Kau tertembak " lirih Yaura dan hendak membantu Sang Suami membuka kancing kamejanya.


Mendengar ini, Ken menghentikan tangan Istrinya .


" Darimana Kau tahu Aku tertembak ? " Ken menyeritkan dahinya .


Yaura terdiam dan memandang mata Suaminya.


" Jelas Aku tahu karena .... "


.............

__ADS_1


BUTUH SARAN DAN KRITIK


JANGAN LUPA LIKENYA GAESSSSSS


__ADS_2