
Sadar, Ken melepas kecupan.
" Dekat denganmu bisa-bisa semua kerjaanku terlambat. Baiklah, SELAMAT TINGGAL.. " Ken tersenyum sembari menaikkan sebelah alisnya dan melangkah keluar.
Yaura tersenyum dan diam di tempat.
" Selalu seperti ini.. hobi sekali mengh*sap leher.. " tangannya membereskan kancing baju yang diacak-acak Suaminya.
Lalu Ia melangkah keluar pintu seraya menatap punggung Suaminya yang mulai menuruni anak tangga,
" Kisahnya sudah lama,tapi jantungku masih belum stabil." lirih Yaura dalam hati.
Kepergian Ken untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama membuat suasana rumah kembali mencekam,karena seluruh penjuru rumahnya dijaga oleh Sniper. Zayn yang tidak ikut bersama Ken hanya bisa berpesan,
" Jangan beri ampun ! " smirk Zayn.
" Aku tidak akan memberinya ampun jika sudah menemukan AKARNYA. " senyum Ken seraya memasang seat belt.
Tak banyak membuang waktu, Ken mulai memundurkan mobilnya keluar gerbang. bukannya membawa Team, Ia hanya pergi seorang diri.
Yaura yang mengamatinya dari Balkon merasa heran dan khawatir kenapa Sang Suami pergi seorang diri. hal ini membuat Yaura bergegas mengambil ponselnya, lalu menelfon Sang Suami yang baru saja keluar gerbang.
" kenapa? aku bahkan baru keluar 1 meter dari rumah " senyum Ken seraya menghentikan mobilnya, matanya kini melirik ke arah Balkon Kamar dimana Yaura berdiri.
" kenapa pergi sendiri? bawa Albert ! " omel Yaura.
" apa Albert jauh lebih baik dariku? " tanya Ken yang mengerti bahwa Istrinya khawatir.
" Aku tidak meragukan kemampuanmu,tapi Ken.. "
" Lantas apa yang Kau ragukan? tenanglah. lebih baik Kau tidur.. Aku mencintaimu. " ucap Ken lalu mematikan telfon begitu saja.
Yaura hanya bisa menghela nafas dan menyadarkan diri bahwa Ken tetaplah Ken yang bisa menjaga dirinya sendiri tanpa perlu bantuan siapapun. ponsel Ia letakkan kembali ke tempat semula, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang sembari memikirkan sesuatu.
tak berselang lama,seseorang nampak mengetuk pintu.
" Selamat Malam Nona.. " sapa Sinta seraya membawa berkas di tangannya.
" Malam.. apa itu berkas Ken yang tertinggal? " tanya Yaura yang mengira bahwa berkas yang dibawa Sinta adalah berkas milik Sang Suami yang tertinggal.
Sinta menjelaskan bahwa itu adalah berkas yang semalam lupa ditandatangani oleh Yaura sehingga menghambat perjanjian kerjasama dengan Client Inggris yang baru saja Ken temui. tanpa pikir panjang, Yaura langsung menandatanganinya.
bukannya memperhatikan berkas,mata Sinta malah menyoroti dalam kamar, bola matanya melirik kesana kemari seraya mencari seseorang yang tak kunjung Ia temui.
" Apa Tuan Ken sudah pergi? " batinnya.
"Kau mencari siapa?".
Pertanyaan Yaura sontak mengagetkannya,
" Tidak Nona. Aku hanya takjub dengan interior Kamar Nona dan Tuan Ken,sangat indah. "
" Tidak dengan isinya. " jawaban Yaura membuat jantung Sinta berdetak. Ia seakan mengerti apa yang dimaksud Yaura, isi kamarnya tentu tidak indah karena di dalamnya hanya berisi berbagai racun dan senjata mematikan. nyalinya menciut,membuat Sinta terburu-buru berpamitan dan pergi dari hadapan Yaura.
" bagaimana mungkin Tuan Ken bisa tahan dengan Wanita aneh sepertinya ! " umpat Sinta sembari menuruni anak tangga.
Hampir satu jam perjalanan,kini Ken menghentikan mobilnya di bahu jalan dimana ada seorang Wanita bergaun hitam sexy langsung masuk ke dalamnya.
" Selamat Malam Tuan.. " sapa Wanita itu seraya menatap Pria yang menjemputnya. namun betapa terkejutnya Ia saat Pria itu menoleh,dan..
" Tuan Ken? " mulut wanita itu menganga,jantungnya berdetak kencang.
Matanya tak jelalatan,tatapan Ken langsung ke wajah Wanita itu.
" Terima kasih atas informasi yang Kau berikan kepada Zayn. mulai sekarang Kau berada dalam lindunganku, tinggalkan rumahmu dan tempati rumah yang baru, akan ada penjaga yang melindungimu disana. karena bagaimanapun,sesorang pasti akan mencarimu karena telah memberikan informasi itu kepadaku".
karena gugup dan kaget, Wanita itu masih belum bisa mencerna penjelasan Ken.
" Aku masih tercengang setelah melihat Kau yang menemuiku,Tuan Ken. jujur, Aku mengira Kau yang membeliku malam ini. jadi.. Aku belum mengerti apa maksudmu Tuan? meninggalkan Rumahku? tidak semudah itu Tuan, disana ada Ibuku, lagipula Rumah itu masih belum sepenuhnya milikku. Aku masih mencicilnya.. " senyum Wanita itu.
Ken membuang pandangannya,
"Kau tidak akan mengerti betapa bahayanya saat Kau terlibat dengan Kami. Informasi yang Kau berikan kepada Zayn tentang rencana seseorang yang ingin menjatuhkan Istriku itu seperti BOOMERANG UNTUKMU. hidupmu pasti di incar mereka, oleh karena itu Aku bertanggung jawab untuk itu. Hiduplah dengan tenang di rumah barumu, dan jangan memikirkan soal cicilan rumah. sekarang isi semaumu.. " jelas Ken seraya mengeluarkan sebuah cek dengan mata uang Dollar US.
Melihat perlakuan Ken yang sama seperti Zayn membuat mata Wanita yang bernama YARA itu melemah. nampak cairan bening menyelimuti bola matanya,
" Aku memberikan informasi itu dengan tulus sebagai kemanusiaan karena nyawa Istrimu Nona Yaura terancam, sama sekali tidak mengharapkan imbalan.dan terima kasih banyak Tuan, Kau sudah menghawatirkan keselamatanku. tapi mohon maaf, Aku tidak bisa menerima tawaranmu,Tuan. Aku permisi.. " Yara menundukkan kepalanya,lalu keluar mobil begitu saja. cek sama sekali tidak Ia sentuh hingga membuat Ken harus berfikir kembali bagaimana cara menyadarkannya.
tangannya mengeluarkan ponsel dan menelfon Zayn yang kebetulan sedang berada di rumahnya bersama Evelyn.
" Kau sudah sampai tujuan? " saut Zayn seraya menjauh dari Evelyn.
" Yara sama sekali tidak mendengarkan perkataanku, Dia juga menolak dengan keras tawaran rumah tinggal yang baru. jadi.."
" Baiklah, soal Yara biar Aku yang urus,selesaikan dulu urusanmu Ken." Zayn langsung memotong pembicaraan Ken karena Ia tidak ingin sahabatnya dibuat repot oleh Yara.
" Kau pengertian sekali. " senyum Ken lalu kembali melajukan mobilnya dengan kencang.
2 jam berlalu
RUMAH YAURA
malam semakin larut, namun Ken tak kunjung menelfonnya. mata Yaura melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 00.05,
" tidak ada pesan atau telfon sama sekali. " lirihnya. tidak bisa tenang, Ia bergegas keluar kamar untuk menemui Albert dan menanyakan kemana Ken sebenarnya pergi.
berpapasan dengan Evelyn,
" Ah senangnya, Kakak sangat pengertian. Aku mau warna cream dan pink pokoknya. " suara Evelyn begitu dan girang, raut wajah bahagia terpancar di wajahnya hingga membuat Yaura menghentikan langkahnya.
__ADS_1
setelah telefon dimatikan, Yaura menghampiri Evelyn yang hendak masuk kamar.
" Evelyn, apa yang menelfon tadi adalah Kakakmu? " tanya Yaura yang membuat Evelyn menatapnya curiga seraya memanyunkan bibirnya.
" Iyah itu Kakak. apa Kakak tidak menelfonmu? pasti Kalian sedang marahan sehingga tidak berkabar."
Bernafas lega,
" Iyah Ken tidak menelfonku. mmmm tidak,kami baik-baik saja Evelyn. baiklah,terima kasih. " senyum Yaura.
" Jangan berbohong " senyum Evelyn,
" Sejak dua jam yang lalu Dia sudah sampai Hotel, dan baru saja tadi Dia menelfonku lagi untuk bertanya seleraku karena Kakak ingin membelikan Tas untukku dan untukmu. " sambungnya.
" Tas? bukannya Kau tadi bilang Kakakmu sampai hotel bukan mall. " heran Yaura.
" Brand biasanya menawarkan item Exclusive kepada Customer Prioritas mereka sebelum ditawarkan ke orang lain dan mereka mengabarinya lewat telefon lalu menelfon Kakak. begitu Kakak Iparku yang paling cuantikk " tutur Evelyn.
" Begitu rupanya..baiklah,Kau tidurlah. Selamat malam.." senyum Yaura sembari berbalik badan dan kembali ke Kamarnya. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Albert karena jawabannya sudah ada pada Evelyn.
Di Kamar
Yaura membaringkan tubuhnya di Ranjang sembari memeluk guling, tatapan matanya berfokus pada ponsel yang sedang Ia mainkan.
" Dia tidak memberiku kabar." gerutu Yaura.
Rasa keselnya semakin menjadi saat melihat Status Whatsapp Sang Suami yang ONLINE namun tak mengirim pesan kepadanya,
" Menyebalkan ! " Yaura mematikan ponsel lalu memeluk erat guling seraya menatap bantal kesayangan Suaminya.
" Padahal hanya 3 jam, kenapa Aku sekesal ini hanya karena tidak memberiku kabar. syukurlah Dia baik-baik saja.. " lirih Yaura seraya terbayang Ken yang selalu memeluknya saat tidur.
Ia menyingkirkan guling lalu menggantinya dengan bantal kesayangan Sang Suami,
" Aku tidak mau tidur malam ini. " lirih Yaura sembari melirik ke arah ponsel.
Gerbang Utama
Sniper Siap Siaga saat melihat seorang Wanita berdiri didepan gerbang, hal ini tentu sangat mencurigakan dan berpotensi ancaman
" Ketua ! ada seorang Wanita yang baru tiba. ini sangat mencurigakan ! untuk apa Dia kesini tengah malam. " lapor Sniper yang hendak membuka gerbang.
Wanita itupun nampak terkejut saat alamat yang diberikan malah tertuju pada Rumah Yaura,
" Apa ini panggilan Tuan Ken lagi? tapi.. " lirihnya sembari mengamati gerombolan Tim Bersenjata lengkap mulai menghampirinya.
" Nona ingin bertemu siapa tengah malam seperti ini? dan Siapa Nona? " tanya Sniper seraya membuka gerbang.
" Ada seorang Pria yang menelfonku dan memintaku datang kesini. Aku sendiri tidak tahu Siapa yang menelfonku. " Wanita itu gemetar saat melihat tangan gerombolan mulai menyelinap kedalam Jas.
dan benar saja..
Senjata mulai dikeluarkan, begitupun dengan laser merah yang dimunculkan.
" SIAPA KAU?! " teriak Sniper seraya menodongkan senjata ke leher Wanita itu.
" YARA ! NAMA DIA ADALAH YARA. turunkan senjata Kalian. " Zayn muncul seraya memasukkan tangannya kedalam saku celana.
Para Sniper menurunkan senjatanya,
" Maafkan Kami Tuan Zayn "
Yara mengeluarkan keringat dingin,jantungnya berdetak dengan kencang.
" Tuan Zayn? " mata mereka beradu pandang.
" Masuklah.. " ucap Zayn.
Bersikap profesional, Yara pun mengikuti perintah Zayn masuk kedalam.
" Bukankah ini Rumah Nona Yaura? kenapa Tuan menyuruhku kesini? " pertanyaan Yara sama sekali tidak dijawab oleh Zayn hal ini tentu membuatnya kesal. wajar saja Ia kesal, karena baru saja Ken menemuinya sembari memberinya cek, lalu sekarang Zayn yang kembali memanggilnya.
" Jawab dulu pertanyaanku Tuan Zayn ! apa Kau memanggilku hanya untuk memberiku uang seperti apa yang Tuan Ken lakukan tadi? jika iyah, Aku pamit dan tolong ! jangan menelfonku dengan nomor orang lain lagi. " ketus Yara, hendak berbalik badan namun Zayn menarik tangannya.
" Temani aku malam ini, Kau dengar?! "
ujar Zayn lalu menarik Yara kedalam kamar yang biasa Ia tempati saat dirumah Yaura.
Dibuat kesal secara bersamaan oleh Ken dan Zayn membuat mood Yara menjadi tidak baik, Ia memutar bola matanya dan berdecak.
" Aku mau pulang. " ucapnya
Tak menjawab, Zayn tiba-tiba menggendongnya dan
brughhhhhh Ia melempar tubuh Yara ke ranjang.
"lepaskan ! jangan sampai rasa hormatku kepadamu hilang " rengek Yara saat Zayn menindih tubuhnya,cengkraman tangannya begitu kuat.
" Aku tidak perduli ! " lirih Zayn.
Wajah yang berhadapan sangat dekat,membuat nafas mereka memburu.
" Terima tawaran Ken, itu demi kebaikanmu.. " sambung Zayn,cengkraman tangannya melemah.
" Aku tidak bisa meninggalkan rumah itu, dan tolong jangan memaksaku ! " ketus Yara.
perlahan tangan Zayn berpindah ke leher Yara dan semakin mendekatkan wajahnya, hal ini membuat jantung Yara berdetak kencang.
" mereka pasti akan menyelidikimu,dan sudah dipastikan itu berhasil. hidupmu akan diincar,begitupun dengan Ibumu. jadi tolong..terimalah tawaran itu " tutur Zayn dengan lemah lembut.
__ADS_1
mendengarnya,membuat Yara menatap Zayn
dengan intense.
" Kau tidak tahu bagaimana bahayanya berhadapan dengan Para Bedebah Bersenjata. jangan keras kepala.. " sambung Zayn seraya membelai lembut pipi Yara.
Yara hanya diam,lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
" Setelah semuanya aman, Kau bisa kembali ke rumahmu. ini hanya sementara.. " Zayn mencoba membujuk Yara dengan kelembutan, Ia tahu bahwa Yara termasuk Wanita akan semakin membangkang jika menggunakan kekerasan.
Yara kembali menatap Zayn,
" Baiklah,Aku menerima tawaran Ken. dan berhenti memanggilku lagi ! "
" Aku mau pulang ! " Yara menyingkirkan tubuh Zayn lalu beranjak.
Mendengarnya membuat Zayn tersenyum puas.
" Tidurlah disini dulu,sudah larut malam. Aku tidur diluar.." ucap Zayn seraya membereskan bajunya yang sedikit acak-acakan.
" Tidak ! " ketus Yara sembari menatap Zayn kesal.
" Dasar Keras Kepala ! sudah tidurlah.. " ujar Zayn sembari membuka pintu dan mengunci Yara dari luar.
Yara berteriak sembari menggendor pintu,namun itu dihiraukan oleh Zayn dan orang sekitar hingga membuatnya menyerah,lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
" lama-lama Dia sangat menyebalkan ! awas Kau Zayn ! " umpat Yara.
Kamar Yaura
Malam semakin larut, namun Yaura tak kunjung tidur. Ia benar-benar tidak bisa tidur sama sekali,
" Badanku sangat tidak enak, perut Aku juga semakin mual " lirih Yaura sembari memegangi perutnya. ditambah kondisi badannya yang seperti orang kelelahan,padahal Ia tidak melakukan apapun.
Untuk melupakan sakitnya, Yaura memilih beranjak dari Ranjang lalu keluar kamar. Ia melangkah ke ruang bawah tanah, hal ini tentu saja membuat Tim Terkejut,
" Nona?.. " sapa Tim Penembak Jitu yang sedang berjaga di Ruang Bawah Tanah seraya mengamati monitor cctv.
" Dimana Albert? " tanya Yaura.
" Ada di luar Nona. tunggu, Aku akan memanggilnya Nona. " ujar Tim seraya menekan aerpiece dan memanggil Albert.
Ckkkk !!!
Albert berdecak saat tahu Yaura mencarinya.
" Dia pasti bertanya aneh-aneh " ucap Albert seraya berlari, jantungnya mulai tidak stabil karena Yaura pasti melemparkan banyak pertanyaan kepadanya.
" Salam Nona " sapa Albert sembari menundukkan kepalanya.
" Kemarilah.. " ujar Yaura sembari mengotak-atik layar monitor. Ia terlihat sedang mencari titik keberadaan seseorang,
" Kenapa Ken tidak bisa di lacak? bukankah Dia pergi sendiri? " sambungnya.
" Itu permintaan Big Boss sendiri Nona, Dia melarang Kami memasang penyadap atau pengintai " jawab Albert.
" Jika Dia kenapa-kenapa bagaimana kalian mengetahuinya ? " pertanyaan Yaura sontak membuat Albert diam.
Tangan Yaura tidak berhenti mengotak-atik layar monitor,tatapan matanya begitu serius.
" Hotel Ritz Carlton " lirih Yaura saat sinyal ponsel Ken berhasil Ia lacak. namun ini tidak membuat Yaura puas,
" Harusnya Kau memasang alat penyadap,Albert. "
" Kami tidak berani,Nona. jika tanpa persetujuan darinya. " tutur Albert.
" Ponsel bisa saja mati, akibatnya sinyal tidak bisa dilacak. apalagi Dia sendirian.. " lirih Yaura yang terdengar di telinga Albert.
" Big Boss akan baik-baik saja,tenanglah Nona.."
Setelah melacak Suaminya,Yaura kembali ke Kamar.
" Bodoh sekali. harusnya Aku memasang penyadap sebelum Ken pergi. "
Ia kembali memainkan ponsel,namun tetap,tidak ada kabar sama sekali.
HOTEL
Ken menerima telfon dari Albert yang menjelaskan bahwa Yaura baru saja menemuinya lalu mengkritiknya kenapa tidak memasang penyadap, hal ini membuat Ken tersenyum.
" Iyah Aku tahu.. " ujar Ken yang ternyata memantau Sang Istri dari cctv tersembunyi yang Ia pasang.
" Baiklah, cepat pulang Big Boss ! " ucap Albert lalu mematikan telfonnya.
" Dia belum juga tidur.. " senyum Ken sembari memantau Sang Istri yang masih belum tidur.
Tittttt telfon kembali berdering
" Kau sudah menemuinya? " tanya Zayn.
" 20 menit lagi Aku akan menemuinya. Dia sedang asik bermain dengan Wanita Pemandu disini, kesempatan emas untuk menjebaknya. " smirk Ken.
" Cihhh ! " sinis Zayn.
" Oh Iyah, Aku sudah berhasil membujuk Yara. Dia menerima tawaranmu. " sambungnya.
" Benarkah? baguslah. " senyum Ken.
" Tentu sangat bagus, Dia memang sangat keras kepala. baiklah, Aku mau tidur." Zayn mematikan telfonnya.
__ADS_1