Mafia Wedding Secrets

Mafia Wedding Secrets
Masa Lalu


__ADS_3

Rumah Clara


Saat ini, Clara sedang membantu Hanna berdandan, sebentar lagi Hanna akan pergi ke acara pameran.


Setelah selesai berdandan, Hanna berkaca dan melihat tubuh nya dari atas sampai ke bawah.


"OMG! Apa ini aku?" Tanya nya.


"Bukan, itu hantu yang menyerupai diri mu", jawab Clara.


"Ya... Kamu ini", teriak Hanna.


"Berterima kasih lah pada ku", ucap Clara.


"Clara, terima kasih sudah mau membantu ku", ucap Hanna.


"Sekarang kamu terlihat seperti mahasiswa yang sedang populer di kampus", jelas Clara.


"Aku menyesal, kenapa selama kuliah dulu aku tidak berpenampilan seperti ini", ucap Hanna sambil kegirangan.


Saat ini, Hanna tengah menggunakan dress berwarna putih susu, gaun itu sangat pas di badan nya.


Terlihat tubuh Hanna yang ramping sedang memakai dress dengan cantik, dan panjang gaun itu selutut, disertai dengan rambut yang di ikat ke belakang.


Make up yang di pakai Hanna terlihat flaw less, dengan riasan mata yang soft, dan lipstik berwarna peach.


Hanna juga tampak mengenakan sepasang anting yang bergaya sedikit panjang menuju telinga bagian atas nya, dengan desain yang feminim.


Tidak lupa ia juga mengenakan gelang tangan yang cocok untuk tangan mungil nya, dan memakai kutek berwarna peach dan di padu padankan dengan warna putih.


Saat ini, kuku Hanna terlihat sangat cantik, dan ia juga memakai tas kecil berbentuk persegi panjang dengan tali yang panjang, dan berwarna orange.


Penampilan nya di lengkapi dengan heels berwarna orange, dengan tinggi sekitar tujuh senti meter.


Lalu, Clara mengantar Hanna ke depan rumah, untuk segera pergi ke acara pameran.


"Jangan lupa, percaya diri", ucap Clara.


"Baiklah, bye bye", ucap Hanna sambil melambaikan tangan nya.


"Hati-hati...", Teriak Clara ketika melihat taksi yang di tumpangi Hanna telah mulai berjalan.


Lalu, Clara masuk ke dalam rumah untuk membuat kimbab, dan lain sebagai nya. Ia berniat sedikit menghibur Hanna setelah pulang dari pameran nanti.


Ia tau Hanna akan merasa sedih ketika melihat Diego hari ini, maka nya ia sudah berinisiatif dan merencanakan semua ini dari hari kemaren.


***


Kampus


Siang ini, Ara tengah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara pameran yang akan berlangsung setengah jam lagi.


Ia tampak sibuk memerintahkan semua orang yang bekerja untuk acara pameran itu.


Ara adalah salah satu orang yang ikut terlibat demi keberlangsungan acara itu, dan saat ini ia tengah melihat ke sekitar untuk menemukan keberadaan seseorang.


"Apa Diego akan datang hari ini?" Tanya Ara.


"Acara nya akan di mulai lima menit lagi", ucap nya.


Lalu, terlihat orang-orang pada berdatangan dan masuk ke ruangan acara itu, tepat nya di ruangan khusus yang ada di Fakultas Seni.


Lalu, Ara segera menelfon Diego. Namun saat ia menelfon, Diego langsung memanggil nya.


"Ara", panggil nya.


"Wah Diego, aku baru saja akan menelfon mu", ucap Ara sambil menoleh ke arah Diego.


"Mana istri mu?" Tanya Ara.


"Sebentar lagi dia akan datang", jawab Diego.


"Apa kalian tidak pergi bersama?" Tanya Ara lagi.


"Tidak, kebetulan aku berangkat dari kantor", jawab Diego.


"Ooh begitu", imbuh Ara.


"Acara akan di mulai, semua orang sudah pada duduk, dan seperti nya istri mu akan datang terlambat", ucap Ara.


Namun, terdengar suara langkah kaki dari pintu masuk menuju ke arah mereka.


Mendengar itu semua nya langsung menoleh ke sana, dan semua orang melihat Hanna masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang gemulai.


Melihat Hanna datang, Diego langsung terpesona dengan Istri nya itu. Setiap kali Hanna selalu membuat nya terpesona, dan mata Diego berkaca-kaca ketika mengingat masalah yang sedang menimpa mereka berdua.


Sedangkan Ara tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Ia melihat Diego terpesona dengan Hanna.

__ADS_1


"Sok tebar pesona, apa dia tidak melihat ada sosok wanita cantik yang berdiri di sebelah nya", gerutu Ara.


Setelah Hanna sampai dan menghampiri mereka, ia langsung meminta maaf karena sudah datang terlambat kepada Ara, lalu Hanna dan Diego segera duduk untuk menyaksikan acara pameran itu.


Sedangkan Ara menuju ke atas panggung untuk membuka acara, dan setelah itu ia menjelaskan siapa saja yang telah membuat semua karya yang di pajang di seluruh ruangan.


Sekarang para tamu undangan tengah sibuk berjalan ke sana ke mari untuk melihat lukisan-lukisan yang di buat oleh para pelukis handal.


Hanna tampak takjub dengan lukisan yang ada di sana. Ia mengingat saat diri nya kuliah dulu, saat kuliah setiap hari ia akan melukis di dalam apartemen nya.


Diego datang menghampiri istri nya.


"Hanna, maafkan aku", ucap Diego.


"Keadaan semakin rumit, aku janji akan menyelesaikan ini semua dengan cepat", jelas nya.


Namun, Hanna hanya diam dan tidak menggubris perkataan Diego sampai Ara datang menghampiri mereka.


"Diego, bagaimana menurut mu, apakah karya ku terlihat bagus?" Tanya Ara.


"Iya bagus", jawab Diego.


"Baguslah, perjuangan ku tidak sia-sia untuk menyelesaikan ini semua, bahkan beberapa bagian ku lukis dengan detail", jelas Ara.


"Kamu pasti tidak mengerti apa maksud ku", ucap Ara sambil melirik ke Hanna.


"Lukisan ini menggambarkan sebuah tempat, menurut ku di balik lukisan ini ada makna yang tersembunyi", ucap Hanna.


"Walau pun hanya terlihat seperti sebuah tempat yang biasa-biasa saja, tapi sebenarnya memiliki arti yang mendalam", jelas Hanna.


"Kalau di tempat yang seperti itu, ada sifat ketidak pedulian yang di perlihatkan oleh orang-orang yang tengah lewat di sana, dan itu di tandai dengan ada nya gambar beberapa koin yang jatuh", jelas Hanna lagi.


Mendengar penjelasan Hanna, Ara kaget dan terlihat seperti tidak suka dengan Hanna.


Sedangkan Diego tidak menyangka, kalau Hanna akan menggubris perkataan Ara.


Mendengar suara nya saja, sudah cukup membuat rindu Diego untuk mendengarkan suara Hanna, sedikit terobati.


Apalagi Hanna terlihat memancarkan pesona nya dengan kepintaran yang ia miliki.


"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanya Ara pada Hanna.


"Bukan kah sudah terlihat dengan jelas, bahwa orang-orang di sana hanya mementingkan diri nya di bandingkan dengan uang", jelas Hanna.


"Maksud mu", Tanya Ara lagi.


"Maka nya, saat ini mereka berusaha untuk tidak melihat uang yang ada di depan mereka, demi ketenangan batin", jelas Hanna lagi.


"Bagaimana kamu bisa tau sedetail itu?" Tanya Ara.


"Aku tidak pernah memperlihatkan lukisan ini pada siapa pun sebelum nya", ucap Ara kaget.


"Karena seni adalah bidang ku, hanya saja aku tidak seperti diri mu", ujar Hanna.


"Apa! Padahal aku ingin terlihat lebih pintar dari nya di mata Diego", batin Ara.


"Mengecewakan telah mengundang nya kesini" gerutu Ara.


"Ara, aku pergi dulu", ucap Diego.


"Ada hal yang harus aku selesaikan", ujar Diego sambil menarik tangan Hanna.


Namun, melihat itu Ara diam-diam mengikuti mereka dari belakang, dan bersembunyi di balik salah satu patung yang ada di depan galeri.


"Lepaskan aku!" Ucap Hanna.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu", balas Diego.


"Aku tidak mau berbicara dengan mu", ujar Hanna.


"Dasar pembohong, lebih baik urus saja wanita itu dan anak mu", teriak Hanna


"Aku bersumpah itu bukan janin milik ku, tolong percaya pada ku", jelas Diego.


"Sudahlah, aku mau pergi, dan jangan ikuti aku", pinta Hanna.


Diego hanya melihat Hanna pergi meninggalkan nya di depan galeri, tanpa berusaha untuk menahan nya sedikit pun.


Namun, setelah Hanna sedikit menjauh dari diri nya, Diego langsung mengikuti nya dari belakang secara sembunyi-sembunyi.


Melihat kejadian itu, Ara langsung terdiam dan membisu. Ia tidak menyangka Diego akan seperti itu.


Di mata nya Diego adalah sosok lelaki yang sangat sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun.


***


Apartemen Hanna

__ADS_1


Terlihat Hanna sedang berjalan menuju ke apartemen yang sempat ia tinggali selama perkuliahan dulu.


Sesampainya di lantai yang di tuju, Hanna masuk dan berbaring di atas sofa, sambil teringat dengan kejadian memalukan yang menimpa diri nya di depan pintu apartemen.


Apartemen ini adalah milik orang lain, namun ayah Hanna telah menyewa apartemen itu selama perkuliahan Hanna.


Hari ini, Hanna hanya mampir, dan menyewa apartemen ini sehari, untuk melepaskan kerinduan semasa kuliah dulu.


Hanna tau apartemen ini tidak akan di sewakan ke orang lain, karena apartemen ini adalah milik salah satu dosen yang akrab dengan ayah nya, jadi pemilik nya hanya menyewakan untuk Hanna saja.


"Sayang sekali apartemen ini tidak ada yang menempati", ucap Hanna.


"Bahkan saat aku ingin menyewa satu hari pun, pemilik nya tidak mau menerima uang ku", ucap Hanna sambil melihat ke jendela apartemen.


Melihat Hanna masuk ke salah satu unit apartemen, Diego di buat kaget lagi oleh Hanna.


"Apa ini yang di namakan jodoh", ucap Diego sambil berdiri di depan pintu apartemen Hanna.


Lalu, Diego pun menekan bel yang ada di dekat pintu.


"Siapa yang memanggil ku?" Tanya Hanna.


"Apa pemilik apartemen ini?" Tanya Hanna lagi pada diri nya sambil berjalan menuju pintu.


"Tidak ada siapa pun", ucap nya ketika melihat layar monitor.


Lalu, Hanna segera membuka pintu untuk mengecek di sekitar lorong apartemen.


"Hanna", ucap Diego dari arah belakang diri nya.


Langsung saja Hanna menoleh, dan kaget melihat Diego ada di belakang nya.


Lalu, Hanna terjatuh dan di sambut oleh Diego. Namun, bibir Diego tak sengaja mengenai bibir Hanna.


Kejadian itu terulang kembali, dan kedua nya tampak saling menatap mata yang ada di depan nya masing-masing.


Pada saat posisi seperti itu, Hanna baru tersadar kalau orang yang merebut kesucian bibir nya itu adalah Diego.


"Kamu...", Ucap Hanna sambil melepaskan diri dari Diego.


"Ternyata dulu yang melakukan itu pada ku adalah kamu, aku tidak menyangka kesucian bibir ku di ambil oleh mu", ucap Hanna shock.


Flash back


Ketika bel pintu apartemen Diego selalu berbunyi, ia merasa terganggu dan segera membuka pintu.


Ternyata ada kiriman makanan dari kurir, dan makanan itu bukan di tujukan kepada nya, namun kepada tetangga sebelah apartemen nya.


"Aku tidak memesan makanan", ucap Diego pada kurir.


"Ini sesuai dengan nomor apartemen Anda, jadi terima saja" ucap kurir.


Lalu, kurir itu segera pergi meninggalkan Diego yang sedang terlihat bingung.


"Di lantai ini hanya ada enam apartemen, sedangkan aku kenal dengan ke empat penghuni yang ada disini", ujar Diego.


"Mereka tidak pernah salah setiap kali mengirim apa pun", gerutu Diego.


"Apa makanan ini milik penghuni yang ada di samping kanan ya", ucap Diego lagi.


Karena saat ini posisi apartemen milik Diego, ada di sudut ruangan sebelah kiri.


Diego segera melangkah menuju ke apartemen yang ada di sebelah kanan milik nya, lalu melihat ada tempelan kertas di pintu apartemen.


"Taruh saja makanan nya di depan pintu, dan jangan lupa bunyikan bel setelah sampai", tulis Hanna.


"Tidak salah lagi, dia pemilik makanan ini", ucap Diego.


Karena Diego juga tau, kalau apartemen ini baru ada yang menempati, setelah beberapa tahun tidak di huni.


Langsung saja Diego segera membunyikan bel sambil berteriak, dan terjadi lah kejadian waktu itu.


Setelah mengingat kejadian itu, Hanna merasa Diego telah berubah, sehingga ia tidak bisa mengenali Diego.


Begitu pun dengan Diego, dulu ia mengira itu bukan lah Hanna, karena mereka terlihat berbeda.


Sekarang mereka sudah sangat dewasa, dan penampilan mereka juga telah berubah, jadi wajar saja mereka tidak mengingat nya dengan jelas.


Dulu, Hanna hanya berpenampilan seadanya, walau pun ia sudah cantik dari lahir, tapi Hanna tidak terlalu menonjolkan kecantikan diri nya.


Sedangkan Diego, dulu sangat tampan, dan sekarang lebih tampan lagi, karena Diego sudah terlihat lebih dewasa, dan seperti orang yang berbeda, jika di bandingkan dengan diri nya yang dulu.


Bagaimana kah perasaan Hanna sekarang? dan Apakah mereka dapat berkumpul bersama lagi?


Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.


Jangan lupa di like, komen, dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2