Mafia Wedding Secrets

Mafia Wedding Secrets
Pertanda


__ADS_3

Aura kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ara memang karena Diego.


Namun, aura kebahagiaan yang di pancarkan oleh Diego adalah sebuah perasaan senang ketika terbebas dari sebuah masalah.


Jadi, Diego tidak mempunyai maksud lain kepada Ara.


Ia hanya melakukan ini karena usulan dari teman nya, sekaligus tangan kanan nya Rey.


Semua itu adalah ide dari Rey, mereka bertiga adalah teman semasa sekolah.


Jadi, Rey sudah mengagumi Ara semenjak mereka masih berstatus sebagai seorang pelajar.


Rey melihat Ara sebagai seorang wanita yang di inginkan nya, untuk menjadi pasangan hidup nya kelak.


Ya, Rey sudah dari dulu menyembunyikan perasaan nya pada Ara.


Itu semua di karenakan Ara terlihat sangat menginginkan Diego sebagai kekasih nya.


Jadi, Rey hanya diam ketika melihat adegan dimana Ara yang selalu berusaha untuk mendekati Diego.


Walaupun Rey tau Diego tidak mempunyai perasaan pada Ara, Rey tetap belum berniat untuk mendekati nya secara langsung.


Namun, sekarang mereka telah dewasa. Apalagi Diego telah menikah dengan Hanna.


Jadi, Rey berfikir untuk mencoba mendekatkan diri lagi kepada Ara.


"Apa kamu tidak apa-apa kalau makan tengah malam begini?" Tanya Rey kepada Ara.


"Karena Diego baru bisa mengajak ku sekarang, jadi menurut ku tidak masalah, karena aku rutin berolah raga setiap hari", jawab Ara.


"Bukan nya aku tidak mau mengajak mu sore ini, tapi aku harus menyelesaikan masalah yang terjadi akibat acara pagi ini", jelas Diego.


"Aku mengerti", ucap Ara.


"Aku hanya ingin menyelesaikan semua nya hari ini, jadi aku mengajak mu ke restoran malam ini juga, karena besok aku harus mencari istri ku Hanna", jelas Diego.


Mendengar penjelasan Diego yang seperti itu, langsung membuat hati Ara kesal, dan terlihat tidak suka dengan perkataan Diego.


"Setelah makan aku akan mengantarkan mu pulang", ucap Rey pada Ara.


Lalu, Rey mengedipkan mata nya kepada Diego.


"Iya, pergi lah dengan Rey, aku telah menghubungi sopir untuk menjemput ku di sini", ucap Diego.


Mendengar ucapan Diego, membuat Ara tidak bisa beralasan lagi.


Apalagi hari sudah tengah malam, tidak mungkin ia di biarkan oleh Diego dan Rey untuk pulang sendiri ke rumah nya.


"Baik lah", jawab Ara dengan nada yang tidak semangat.


Lalu, mereka segera pergi dari restoran itu, dan menuju ke rumah masing-masing.


Setelah Rey mengantar Ara, ia langsung pergi ke rumah Diego untuk menginap di sana seperti biasa nya.


***


Pagi hari nya jam empat, Hanna terlihat sedang mempersiapkan, dan memasukkan semua barang nya ke dalam koper.


Hari ini Hanna akan melakukan perjalanan yang lumayan panjang menuju ke kota.


Nenek bangun dari tidur nya, dan melihat Hanna tengah sibuk di dalam kamar.


Kemudian Nenek segera menuju ke dapur untuk memasak makanan, dan setelah nya menyuruh Hanna untuk makan sebelum berangkat ke kota.


"Hanna makan lah, sebentar lagi mobil nya akan datang untuk menjemput mu", ucap Nenek dari pintu kamar.


"Apa mobil ke kota hanya ada jam enam pagi nek?" Tanya Hanna.


"Tidak juga, itu karena aku telah berlangganan dengan mobil itu, setiap jam enam atau jam tujuh pagi biasa nya aku pergi ke kota untuk memeriksa kesehatan ku", Jelas Nenek.


"Baik lah, aku akan segera makan", ucap Hanna.


Namun, saat menyendok nasi ke atas piring, Hanna di buat risih dengan bau makanan yang di masak oleh Nenek.


"Nenek! Apa makanan ini tidak terlalu menyengat?" Tanya Hanna.


"Tidak, aku memasak seperti biasa nya", jawab Nenek.


Mendengar itu, Hanna terpaksa melahap makanan itu, dan hanya sedikit yang bisa masuk ke dalam mulut nya.


"Apa makanan ini tidak enak?" Tanya Nenek.

__ADS_1


"Bukan begitu, hanya saja aku tidak sedang lapar sekarang", jawab Hanna.


"Apa mau aku bungkus kan untuk di perjalanan nanti?" Tanya Nenek lagi.


"Tidak usah Nek, aku tidak terbiasa makan selama di perjalanan", bohong Hanna.


Setelah makan, nenek melepas kepergian Hanna di depan rumah nya, dengan wajah yang terlihat sedih.


"Nenek", panggil Hanna.


"Iya, hati-hati lah di jalan", ucap Nenek.


"Ini ambil lah", ucap Hanna sambil memberikan sebuah amplop.


"Apa ini?" Tanya Nenek.


"Untuk membeli barang kebutuhan Nenek", jawab Hanna.


"Tidak usah, aku tidak bisa menerima nya", ujar Nenek.


"Kalau Nenek tidak mau, aku tidak akan datang lagi ke sini", ancam Hanna.


Lalu, Nenek terpaksa menerima nya, dan memeluk Hanna.


Kemudian mobil segera berangkat, dan segera berjalan meninggalkan pekarangan rumah Nenek.


Selama di perjalanan, tiba-tiba saja Hanna mabuk dan risih dengan kondisi fisik nya.


Perut nya sudah tidak enak dari awal memasuki mobil yang di tumpangi nya saat ini.


"Kenapa aku jadi begini?" Tanya Hanna dalam hati.


"Biasa nya aku tidak pernah mabuk kalau sedang melakukan perjalanan jauh", batin Hanna lagi.


Namun, seberapa kuat Hanna bertahan untuk tidak mabuk dalam perjalanan, tetap saja Hanna muntah di sepanjang jalan yang di lewati nya.


"Aneh sekali, kenapa tubuh ku jadi tidak berdaya seperti ini", gerutu Hanna.


"Aku tidak sanggup jika melakukan perjalanan yang jauh seperti ini lagi", gerutu Hanna lagi.


"Aku tidak bisa mengontrol diri ku, kepala ku pusing, dan perut ku sakit sekali", ucap Hanna dalam hati.


Lalu, setelah Hanna sampai di sebuah terminal pemberhentian semua angkutan umum, ia langsung menelfon Clara untuk segera menjemput nya.


Sedangkan Clara, terlihat sedang sibuk membuatkan bubur untuk Hanna.


"Makan lah, ini sangat cocok untuk orang yang sedang sakit seperti mu", ujar Clara.


Lalu, Ara segera menghidupkan TV yang ada di depan nya.


"Tapi aku tidak nafsu makan, dan selera makan ku tiba-tiba menghilang", ucap Hanna.


"Apa kamu demam?" Tanya Clara.


Lalu, Clara menyentuh dahi Hanna dengan telapak tangan nya.


"Badan mu tidak panas, tapi kenapa kamu begini?" Tanya Clara bingung.


"Entah lah aku juga tidak tau", jawab Hanna.


"Oh iya, seperti nya sebentar lagi aku akan datang bulan", ucap Hanna.


"Benarkah?" Tanya Clara.


"Apakah kamu masih punya stok pembalut untuk bisa ku pakai?" Tanya Hanna.


"Seperti nya hanya ada untuk dua kali pakai lagi", jawab Clara.


"Dan seperti nya aku tidak bisa pergi untuk membeli nya saat ini", ucap Hanna.


"Apakah kamu datang bulan hari ini?" Tanya Clara.


"Belum, seharusnya aku sudah datang bulan, tapi sudah enam hari aku telat", ujar Hanna.


"Jangan-jangan kamu hamil", ucap Clara kaget.


"Tidak mungkin", ucap Hanna.


"Kadang aku juga seperti ini, terlambat datang bulan karena terkadang jadwal menstruasi ku tidak teratur", jelas Hanna.


"Tapi sekarang kamu sudah punya suami, jadi tidak ada yang tidak mungkin", ucap Clara.

__ADS_1


Lalu Hanna terdiam, dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada diri nya saat ini.


"Bukan kah kamu tidak pernah mabuk dalam perjalanan, itu bisa saja sebagai pertanda", jelas Clara.


"Benarkah?" Tanya Hanna.


"Aku akan pergi membelikan pembalut untuk mu, sekalian testpack untuk mengecek dan memastikan kalau kamu benar-benar hamil atau tidak", ucap Clara.


Lalu, Clara segera pergi menuju ke toserba yang ada di dekat rumah nya.


Sesampainya di toserba, Clara terlihat malu ketika membeli alat tes kehamilan untuk Hanna.


"Lebih baik aku berpura-pura sudah menikah saja", ucap Clara dalam hati.


Lalu, Clara segera mengambil alat tes kehamilan itu, dan segera membayar nya ke kasir.


Namun, saat mengambil alat tes kehamilan, Rey melihat Clara. Kemudian ia mengikuti Clara menuju ke kasir.


Tapi Clara tidak menyadari kalau ada Rey di belakang nya, dan Clara segera menuju keluar toserba untuk pulang ke rumah nya.


"Kenapa dia membeli alat tes kehamilan?" Tanya Rey dengan curiga kepada Clara.


Namun, Rey hanya melihat kepergian Clara tanpa ingin bertanya mengenai hal itu kepada nya.


Lalu, Rey segera menuju ke dalam mobil nya, dan meminum sekaleng soda yang telah di beli nya di toserba.


"Apa yang terjadi pada nya?" Tanya Rey pada diri nya sendiri.


"Siapa yang telah berani melakukan itu kepada nya?" Tanya nya lagi.


"Aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa melakukan itu dengan seorang pria yang belum menjadi suami nya", celoteh nya.


"Padahal dia tidak terlihat seperti wanita yang begitu di mata ku, apa aku telah salah menilai nya", ucap Rey bingung.


Lalu, masuk telfon dari Diego.


"Rey, dimana kamu sekarang?" Tanya Diego.


"Aku ada di sekitar rumah Clara", jawab nya.


"Kenapa kamu ke sana?" Tanya Diego lagi.


"Aku hanya kebetulan lewat saja di sini, karena baru pulang dari mengurus beberapa hal yang kamu perintah kan kepada ku", jelas nya.


"Cepat lah ke sini", ucap Diego.


"Ok! Ok! Tunggu sebentar aku akan segera melaju ke sana", ucap Rey.


"Tapi sebelum itu bawakan aku beberapa soju", ucap Diego.


"Baik lah", ucap Rey.


Lalu, percakapan itu segera berakhir, dan Rey masuk lagi ke dalam toserba untuk membeli beberapa soju yang di inginkan oleh Diego.


Setelah keluar dari toserba, Rey melihat ada seorang pria yang sedang memperhatikan foto Clara di layar ponsel nya.


Pria itu sedang berdiri di samping nya, dan Rey tak sengaja melihat foto Clara ketika pria itu terus memperhatikan foto Clara di layar ponsel nya.


"Siapa pria ini?" Tanya Rey dalam hati.


"Apa pria ini yang telah menghamili nya?" Tanya Rey lagi dalam hati.


"Apa mereka telah melakukan kesalahan, dan berusaha untuk menggugurkan kandungan nya?" Celoteh Rey lagi dalam hati nya.


"Sudah lah, itu bukan urusan ku", ucap nya.


Lalu, Rey segera pergi menuju ke rumah Diego.


***


Saat ini Clara telah kembali, dan sedang menunggu Hanna untuk keluar dari kamar mandi.


Clara sangat penasaran dengan hasil nya, tapi Hanna tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


Dengan ketidak sabaran nya itu, Clara langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan mendapati Hanna sedang berdiri di depan kaca wastafel.


Terlihat Hanna sedang menatap hasil tes kehamilan nya, dengan kedua tangan nya yang sedang memegang alat tes kehamilan itu.


Apakah Hanna sedang hamil?


Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.

__ADS_1


Jangan lupa di like, komen, dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.


Bersambung...


__ADS_2