
Desa Terpencil
"Ibu hari ini Hanna akan berangkat ke desa terpencil ini dan aku rasa dia akan sampai di desa ini pada saat malam hari", ujar Jiu kepada Ibu nya.
"Benarkah!" Ujar Ibu nya dengan ekspresi senang nya.
"Iya", ujar Jiu.
"Kalau begitu hari ini Ibu harus segera memanggil Lili, Yuri, Doksun dan Jandi untuk datang kesini", ujar Ibu Jiu lagi.
Lalu Ibu Jiu pun segera bangkit dari tempat duduk nya itu dan beliau pun segera bersiap-siap untuk pergi memanggil para Bibi untuk segera datang ke rumah nya.
Sementara Jiu hanya diam saja menyaksikan tingkah Ibu nya itu sambil tetap menonton TV yang ada di depan nya saat ini.
"Jiu jangan lupa habiskan sarapan ya karena Ibu mungkin akan lama berada di luar rumah pada pagi ini jadi Ibu tidak mau kalau kamu membuang-buang makanan", ujar Ibu nya sambil berjalan menuju ke pintu masuk rumah nya itu.
"Baik lah aku akan menghabiskan nya", ujar Jiu.
Lalu Ibu Jiu pun segera ke luar dari dalam rumah nya itu dan beliau pun segera pergi menuju ke rumah Bibi Lili terlebih dahulu untuk memberi tau Bibi Lili mengenai kedatangan Hanna pada malam hari ini.
***
Amerika
Saat ini bayi Hanna sedang berjemur di taman yang ada di samping kediaman laki-laki yang telah membawa bayi mungil Hanna itu.
Bayi yang telah di beri nama Louis oleh laki-laki itu pun sedang memakai kacamata pelindung agar mata nya tidak terkena pancaran sinar matahari yang langsung mengenai mata nya itu.
Setelah cukup lama berjemur di taman rumah akhirnya bayi Louis itu pun segera di bawa oleh seorang pelayan yang telah menemani nya berjemur itu untuk masuk ke dalam kediaman laki-laki itu.
Setelah bayi Louis di mandikan oleh pelayan itu akhirnya bayi Louis itu pun diberi sebotol susu oleh pelayan itu agar bayi Louis dapat tertidur setelah nya karena sekarang sudah waktu nya untuk tidur bagi bayi Louis.
Sementara itu laki-laki yang telah membawa bayi Hanna itu sedang duduk di kursi yang ada di depan kediaman nya itu sambil membaca sebuah koran yang ada di tangan nya.
Tak lama kemudian datang lah seorang pelayan menghampiri nya sambil membawakan ponsel nya yang sedang berdering itu.
"Dari siapa?" Tanya lelaki itu.
"Dari nona Sera tuan", jawab pelayan itu.
"Ok", ujar lelaki itu.
Kemudian lelaki itu pun segera mengambil ponsel nya dari tangan pelayan itu dan ia pun segera mengangkat panggilan dari Sera itu.
"James", ujar Sera.
"Kalau kamu menelpon ku hanya untuk meminta bayi mu kembali maka kamu jangan pernah lagi menelpon ku untuk ke depan nya karena aku tidak akan memberikan bayi itu kepada mu apa pun alasan nya", ujar James kepada Sera.
"Aku hanya ingin bertanya mengenai keadaan bayi itu sekarang", ujar Sera.
"Oh tentu saja aku merawat nya dengan baik karena dia adalah darah daging ku", ujar James.
"Apa kamu benar-benar tidak akan membiarkan ku untuk melihat nya", ujar Sera.
"Kalau kamu mau datang lah kesini maka aku akan membiarkan nya", ujar James.
"Benarkah!" Ujar Sera.
"Tapi aku tidak akan membiarkan mu untuk membawa nya pergi dari kediaman ku ini", ujar James lagi.
"Karena aku tidak mau bayi ku terlibat dengan urusan mu yang berbahaya itu", ujar James lagi.
"Apa!", Ujar Sera.
"Jadi kamu membawa bayi itu pergi dari ku hanya untuk menjauhkan nya dari hal seperti ini", ujar Sera lagi.
"Astaga aku tidak sebodoh yang kamu kira", ujar Sera lagi.
"Dia adalah anak ku jadi jika kamu ingin balas dendam kepada laki-laki itu karena laki-laki itu lebih memilih wanita lain dibandingkan diri mu itu maka jangan pernah berharap aku akan membiarkan mu untuk merawat anak ku", ujar James.
"Tapi aku adalah Ibu nya jadi aku berhak untuk merawat nya", ujar Sera.
"Awal nya aku memang membiarkan mu untuk merawat nya namun setelah aku mendengar kabar bahwa laki-laki yang telah meninggalkan mu itu ternyata adalah seorang mafia yang sangat kejam maka aku tidak bisa untuk membiarkan anak ku berada di tangan mu agar anak ku tidak ikut terlibat dalam masalah mu itu", ujar James lagi.
"Aku berjanji akan menjaga bayi itu dengan seluruh jiwa dan raga ku jadi aku mohon kembalikan bayi itu kepada ku", ujar Sera.
"Aku tidak akan pernah mengembalikan nya kepada mu", ujar James.
"Walau pun aku tidak mengenal pria itu tapi aku tidak akan pernah membiarkan pria itu untuk bertemu dengan anak ku", ujar James lagi.
"Pria itu tidak akan mungkin bertemu dengan anak ku jadi aku mohon kembalikan bayi itu kepada ku", ujar Sera.
"Selama kamu masih berurusan dengan pria itu maka aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk membawa bayi ku ke luar dari dalam rumah ku ini", ujar James lagi.
"Karena aku telah mendengar kabar bahwa pria itu pernah menjalin kerja sama dengan Alexander dan apa kamu tau itu", ujar James lagi.
"Tentu saja aku mengetahui nya", ujar Sera.
"Apa kamu sudah gila?" Tanya James.
"Alexander adalah pria yang paling kejam di Amerika ini dan jika dia telah berhasil untuk mengajak Alexander bekerja sama dengan nya berarti pria itu bukan lah pria sembarangan apa kamu tau itu", ujar James lagi.
"Baik lah jika kamu tidak mau mengembalikan bayi itu kepada ku saat ini maka aku tidak akan memaksa mu untuk saat ini", ujar Sera.
"Jika semua urusan ku telah selesai dan balas dendam ku telah usai maka kamu harus mengembalikan bayi itu kepada ku", ujar Sera lagi.
"Aku tetap tidak akan pernah untuk mengembalikan bayi itu kepada mu karena saat ini bayi itu telah aku jadikan sebagai pewaris seluruh harta kekayaan ku ini", ujar James lagi.
"Apa!" Ujar Sera.
"Pewaris seluruh harta kekayaan mu", ujar Sera lagi.
"Iya karena dia adalah satu-satu nya darah daging ku yang ada di dunia ini", ujar James lagi.
"Bagaimana bisa dia menjadikan bayi Diego sebagai ahli waris nya", ujar Sera di dalam hati nya.
"Ini semua gara-gara aku", ujar Sera lagi di dalam hati nya.
"Akibat ulah ku ini Rachel jadi tidak bisa mendapatkan harta kekayaan Ayah nya", ujar Sera lagi di dalam hati nya.
"Hidup ini benar-benar tidak adil", ujar Sera lagi di dalam hati nya.
"Baik lah jika tidak ada lagi yang ingin kamu bahas dengan ku maka aku akan mengakhiri panggilan ini karena aku adalah orang yang sangat sibuk", ujar James.
"Apa!" Ujar Sera.
__ADS_1
Lalu panggilan itu pun segera berakhir karena James telah lebih dulu mengakhiri panggilan itu sebelum Sera menyelesaikan semua perkataan nya.
***
Perjalanan Menuju Ke Desa Terpencil
Saat ini Diego dan Hanna sedang berada di dalam mobil Diego dan perjalanan mereka menuju ke desa terpencil sudah sekitar setengah perjalanan.
Diego sedang fokus menyetir mobil nya sementara Hanna hanya diam saja sambil melihat jalan yang ada di depan nya saat ini.
Perjalanan mereka terlihat sunyi tanpa ada pembicaraan apa pun di dalam mobil itu karena Hanna tidak mau mengganggu Diego dalam mengendarai mobil nya itu.
Tak lama kemudian masuk lah panggilan telpon dari Jiu dan Hanna pun langsung mengangkat nya.
"Halo", ujar Hanna.
"Hanna apa kamu sudah berangkat?" Tanya Jiu.
"Iya aku sudah berangkat", ujar Hanna.
"Saat ini aku sudah melewati sekitar setengah perjalanan menuju ke desa terpencil", ujar Hanna lagi.
"Ok! Kalau begitu jangan lupa untuk mengabari ku setelah kamu sampai di gerbang desa terpencil", ujar Jiu.
"Baik lah", ujar Hanna.
Lalu panggilan itu pun segera berakhir dan Hanna pun memasukkan ponsel nya kembali ke dalam tas nya.
"Siapa itu?" Tanya Diego.
"Anak dari Bibi yang ada di dekat rumah yang aku sewa di desa terpencil itu", ujar Hanna.
"Apa dia seorang perempuan?" Tanya Diego lagi.
Lalu Hanna pun langsung menggelengkan kepala nya kepada Diego.
"Oh ternyata dia adalah seorang pria", ujar Diego.
Lalu Diego pun melihat ke arah kaca spion mobil nya dan setelah itu ia pun fokus kembali melihat jalan yang ada di depan nya saat ini.
***
Kantor Ayah Diego
"Tok tok tok", bunyi ketukan pintu ruangan kerja Ayah Diego.
"Masuk", ujar Ayah Diego.
Lalu Rey pun segera masuk ke dalam ruangan kerja Ayah Diego itu dan ia pun langsung berdiri di depan Ayah Diego sambil membawa sebuah dokumen yang telah di minta oleh Ayah Diego.
"Bagaimana dengan kalung yang akan kita luncurkan itu?" Tanya Ayah Diego kepada Rey.
"Semua nya telah berjalan sesuai dengan rencana Paman", ujar Rey.
"Bagus lah kalau seperti itu", ujar Ayah Diego lagi.
"Lalu bagaimana meeting kita dengan pemilik perusahaan perhiasan yang akan bekerja sama dengan kita", ujar Ayah Diego lagi.
"Meeting akan di laksanakan pada hari Senin depan Paman", ujar Rey.
"Lalu apa dia cukup lama berada di Negara ini?" Tanya Ayah Diego lagi.
"Seperti nya tidak Paman", ujar Rey.
"Dia berkata akan segera pulang ke Amerika setelah rapat itu selesai", ujar Rey lagi.
"Berarti dia telah mempercayakan semua nya kepada perusahaan kita", ujar Ayah Diego.
"Seperti nya begitu Paman", ujar Rey.
"Kalau begitu suruh Diego untuk mempelajari segala hal tentang materi yang akan kita meeting kan pada hari Senin depan karena aku mau Diego ikut terlibat di dalam kerja sama ini", ujar Ayah Diego lagi.
"Tapi saat ini dan pada beberapa hari ke depan nya Diego berada di desa terpencil Paman", ujar Rey.
"Desa terpencil", ujar Ayah Diego.
"Apa Diego tidak memberi tau Paman mengenai hal ini", ujar Rey.
"Dia tidak memberi tau ku mengenai hal ini", ujar Ayah Diego lagi.
"Diego dan Hanna sedang pergi menyelesaikan urusan yang belum sempat Hanna selesaikan disana Paman", ujar Rey.
"Berapa lama dia akan berada di desa terpencil itu?" Tanya Ayah Diego.
"Aku juga tidak tau Paman", ujar Rey.
"Aku rasa Diego tidak akan lama berada di desa terpencil itu Paman karena pada hari Jumat depan Diego akan melakukan meeting dengan kolega yang ada di Jepang", ujar Rey lagi.
"Meeting yang akan di laksanakan itu untuk membahas kerja sama mengenai sepatu kerja pria dan wanita yang akan kita luncurkan setelah kerja sama kita selesai dengan orang Amerika itu Paman", ujar Rey lagi.
"Kalau begitu berarti Diego sangat sibuk saat ini", ujar Ayah Diego.
"Iya Paman", ujar Rey.
"Tapi aku rasa Diego masih bisa untuk dapat menghadiri meeting pada hari Senin depan dengan pemilik perusahaan perhiasan itu", ujar Rey lagi.
"Kalau begitu suruh dia hadir pada meeting hari Senin depan dan tidak usah menyuruh nya untuk melakukan apa pun selain menyaksikan meeting itu", ujar Ayah Diego.
"Baik lah Paman", ujar Rey.
Lalu Rey pun segera pergi meninggalkan ruangan kerja Ayah Diego dan setelah itu Rey pun memberi tau Diego mengenai semua itu.
***
Desa Terpencil
Malam ini Diego dan Hanna telah sampai di desa terpencil dan saat ini mobil Diego telah berhenti di depan rumah Ibu Jiu.
Melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Ibu Jiu tepat nya di seberang rumah Ibu Jiu itu semua orang yang ada di rumah Ibu Jiu itu pun segera ke luar dari dalam rumah itu untuk melihat siapa yang telah datang itu.
Pintu mobil terbuka dan keluar lah Diego dari dalam mobil itu dan melihat itu Bibi Yuri pun jadi teringat dengan pemuda yang pernah ia temui sewaktu mereka pergi berkemah dulu.
"Astaga! Bukan kah dia adalah pria yang waktu itu", ujar Bibi Yuri.
"Maksud mu", ujar Bibi Jandi kepada Bibi Yuri.
__ADS_1
"Dia adalah pria yang aku temui sewaktu kita berada di perkemahan itu", ujar Bibi Yuri lagi.
"Benarkah!" Ujar Bibi Lili kepada Bibi Yuri.
"Astaga dia sangat tampan sekali", ujar Bibi Doksun.
"Wah ini sungguh luar biasa", ujar Bibi Yuri.
Lalu Diego pun segera membuka pintu mobil yang ada di samping Hanna dan setelah itu Hanna pun langsung ke luar dari dalam mobil itu.
Melihat Hanna yang ke luar dari dalam mobil itu langsung saja membuat semua orang yang ada di depan rumah Ibu Jiu itu kaget di buat nya.
"Hanna", ujar Bibi Lili dengan nada lirih nya.
"Iya itu Hanna", ujar Bibi Doksun.
"Apa pria itu adalah suami Hanna", ujar Bibi Jandi.
"Apa!" Ujar Bibi Yuri dan Bibi Lili secara bersamaan.
"Kalau pun benar mereka berdua tampak sangat cocok dan serasi di mata ku", ujar Bibi Doksun.
"Astaga aku tidak menyangka semua ini", ujar Bibi Yuri.
"Tapi waktu itu Hanna berkata dia tidak mengenal pria itu", ujar Bibi Yuri lagi.
"Lalu siapa pria itu sebenarnya", ujar Bibi Yuri lagi.
"Apa Hanna telah berbohong kepada ku", ujar Bibi Yuri lagi.
"Sudah lah kepala ku pusing jika memikirkan nya", ujar Bibi Yuri lagi.
Lalu Hanna dan Diego pun segera menghampiri para Bibi itu dan saat ini mata Diego langsung tertuju kepada Jiu yang sedang berada di depan nya.
Sementara Jiu langsung mengalihkan pandangan mata nya itu dari Diego dan ia pun langsung tersenyum kepada Hanna.
"Apa perjalanan mu berjalan dengan lancar?" Tanya Jiu kepada Hanna.
"Iya", ujar Hanna sambil menganggukkan kepala nya.
"Hanna penampilan mu saat ini tampak seperti seorang putri", ujar Bibi Jandi.
"Iya aku juga merasakan perbedaan nya ketika Hanna tinggal disini", ujar Bibi Doksun sambil melihat Hanna dari atas sampai ke bawah.
Saat ini Hanna mengenakan sebuah dress selutut berwarna baby blue dan ia juga memakai sepatu heels yang berwarna putih dengan di lengkapi dengan tas kecil berwarna putih.
Penampilan Hanna kali ini sangat feminim dan elegan dan Hanna juga baru pertama kali nya berpenampilan seperti itu di depan semua orang yang ada di desa terpencil itu.
Karena biasa nya Hanna tidak tampil dengan maksimal seperti itu dan ia hanya selalu menggunakan sendal rumah jika ingin bepergian di desa terpencil itu.
"Wah Hanna kamu sangat cantik sekali", ujar Bibi Lili.
Hanna hanya bisa tersenyum dengan pujian yang telah di berikan oleh Bibi Lili itu kepada nya dan Diego juga tampak tersenyum dengan semua itu.
"Putri ku lihat lah Hanna", ujar Bibi Lili kepada putri nya yang sedang berdiri di samping nya itu.
"Mulai dari sekarang belajar lah dari cara berpakaian nya Hanna agar kamu juga terlihat cantik seperti diri nya", ujar Bibi Lili lagi kepada putri nya itu.
Namun putri Bibi Lili hanya diam saja mendengar perkataan Ibu nya itu dan mata nya pun tetap fokus memperhatikan Hanna dan Diego yang ada di depan nya saat ini.
"Bibi perkenalkan ini adalah suami ku", ujar Hanna.
Lalu Diego pun segera memperkenalkan diri nya dan tersenyum kepada semua orang yang ada disana.
"Kamu tampan sekali", ujar Bibi Lili.
Namun Diego hanya tersenyum menanggapi perkataan Bibi Lili itu.
"Sudah ku duga", ujar Bibi Doksun.
"OMG", ujar Bibi Yuri.
"Kalau begitu ayo masuk ke dalam rumah", ujar Ibu Jiu.
Lalu semua orang pun langsung masuk ke dalam rumah Ibu Jiu dan duduk di tempat yang telah di sediakan oleh para Bibi itu.
"Kamu", ujar Diego secara tiba-tiba kepada Jiu.
"Aku", ujar Jiu kepada Diego sambil menunjuk diri nya sendiri.
"Iya kamu", ujar Diego lagi.
Melihat itu semua orang pun langsung melihat ke arah Diego dan Jiu.
Sedangkan Jiu hanya kaget dengan tingkah Diego kepada nya itu karena menurut nya Diego telah berhasil membuat nya panik pada saat ini.
"Terima kasih telah menjaga istri ku selama dia berada di desa ini", ujar Diego.
"Apa! Terima kasih", ujar Jiu dengan wajah bingung nya.
"Tidak masalah karena aku telah menganggap nya sebagai saudara ku sendiri", ujar Jiu lagi.
Pada saat itu juga tiba-tiba saja terdengar suara ledakan sebuah mobil yang berada di luar rumah Ibu Jiu.
Lalu semua orang pun panik dan para Bibi Pun langsung berteriak histeris dengan apa yang telah mereka dengarkan itu.
Sedangkan Diego segera pergi menuju ke luar rumah untuk melihat apa yang telah terjadi saat ini.
Melihat Diego yang berjalan menuju ke luar rumah itu Jiu dan semua orang yang ada di dalam rumah itu pun segera pergi mengikuti langkah Diego dari belakang begitu pun dengan Hanna.
Setelah sampai di teras rumah Diego pun melihat mobil nya telah terbakar dan untung nya mobil itu ia parkir di seberang rumah Ibu Jiu yang jarak nya lumayan jauh dari rumah Ibu Jiu itu.
"Siapa yang telah berani melakukan ini kepada ku", ujar Diego.
Lalu Diego pun segera mengepalkan tangan nya sambil melihat mobil nya yang sedang terbakar itu.
Kemudian semua orang pun juga telah melihat mobil yang telah terbakar itu dan tentu saja semua nya kaget dengan apa yang ada di depan mereka saat ini.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.
Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.
Bersambung...
__ADS_1