
Kediaman Diego
"Tuan muda ada seorang wanita di depan gerbang masuk", ujar seorang penjaga kepada Diego yang saat ini sedang berada di ruang keluarga kediaman nya itu.
"Siapa wanita itu?" Tanya Diego.
"Wanita yang waktu itu mengatakan kalau diri nya adalah calon istri dari tuan muda", ujar penjaga itu lagi.
"Apa!" Ujar Krystal.
"Wanita itu saat ini sedang mabuk tuan muda", ujar penjaga itu lagi kepada Diego.
"Kakak bukan kah kamu sudah datang ke kediaman nya untuk pergi memperingatkan nya", ujar Krystal lagi kepada Diego.
"Iya biarkan saja dia dan jika dia memaksa untuk masuk ke dalam kediaman ku ini maka biarkan saja dia dan mari kita lihat apa yang akan terjadi setelah itu", ujar Diego kepada penjaga itu.
"Baik lah tuan muda", ujar penjaga itu lagi.
Lalu pada saat penjaga itu mau pergi meninggalkan ruang keluarga itu tiba-tiba saja penjaga yang lain nya datang menemui Diego ke ruang keluarga itu.
"Ada apa lagi kali ini?" Tanya Diego kepada seorang penjaga yang baru datang itu.
"Wanita itu sudah pergi tuan muda jadi tuan muda tidak perlu lagi untuk pergi ke luar menemui nya", ujar penjaga itu kepada Diego.
"Dia sudah pergi", ujar Diego.
"Iya tuan muda", ujar penjaga itu lagi.
"Bagus lah kalau begitu berarti dia sudah sadar dari mabuk nya saat ini", ujar Diego lagi.
"Lalu bagaimana dengan David?" Tanya Hanna kepada Diego.
"Kita tunggu saja kabar dari anggota ku", ujar Diego kepada Hanna.
"Anggota", ujar Krystal.
"Apa kakak membayar seseorang untuk mencari tau dimana keberadaan keponakan ku", ujar Krystal lagi.
Mendengar perkataan Krystal yang seperti itu Diego hanya diam saja dan tidak mempedulikan perkataan adik nya itu.
"Kakak lebih baik kita suruh saja semua polisi yang ada di kota ini untuk pergi mencari keponakan ku itu", ujar Krystal lagi.
"Iya aku setuju dengan perkataan Krystal lebih baik polisi saja yang mengurus semua ini dan biarkan saja polisi yang memberi hukuman kepada penculik itu agar penculik itu di tahan di dalam penjara", ujar Leo.
"Diego aku rasa hukuman yang di berikan oleh polisi itu adalah hukuman yang paling setimpal yang ada di Negara ini", ujar Leo lagi.
"Diego ayo kita pergi ke kantor polisi saat ini juga", ujar Hanna.
"Apa kamu tidak mau kalau aku melakukan nya dengan cara ku", ujar Diego kepada Hanna sambil menatap dalam mata Hanna.
"Aku rasa apa yang di katakan oleh Krystal dan Leo itu benar", ujar Hanna.
"Kita tidak boleh menyepelekan polisi dan aku rasa polisi akan bisa menemukan bayi kita", ujar Hanna lagi.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke kantor polisi saat ini juga tapi ingat aku akan tetap mencari bayi kita dengan cara ku sendiri", ujar Diego kepada Hanna.
"Baik lah", ujar Hanna.
"Kalau begitu ayo kita segera pergi ke kantor polisi", ujar Krystal.
"Kali ini aku akan menyetir mobil dan kalian hanya perlu masuk ke dalam mobil ku", ujar Leo kepada mereka semua.
"Ok", ujar Diego.
Lalu mereka semua pun segera pergi menuju ke kantor polisi yang ada di pusat kota dengan menggunakan mobil mewah milik Leo dan saat ini Krystal duduk di samping Leo sementara Diego dan Hanna duduk di kursi belakang mereka.
***
Kediaman Sera
Siang ini Sera sedang duduk di ruang tamu kediaman nya itu sedangkan Branden sedang tidur di dalam kamar yang biasa nya ia tempati di kediaman Sera itu.
Tak lama kemudian datang lah seorang lelaki yang berpenampilan cukup rapi sambil membawa sebuah tas kerja yang ada di tangan sebelah kiri nya.
"Dimana Kakek mu?" Tanya lelaki yang berumur sekitar 40 tahunan itu kepada Sera.
Sera yang tiba-tiba mendengar perkataan laki-laki itu pun langsung menoleh ke arah laki-laki itu dengan ekspresi kaget nya.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Sera yang langsung berdiri dari tempat duduk nya itu.
"Dimana Kakek mu?" Tanya laki-laki itu lagi kepada Sera tanpa menanggapi pertanyaan Sera itu kepada nya.
"Kakek tidak ada di rumah", ujar Sera dengan tatapan marah nya.
"Cepat cari anak itu dan segera bawa ke dalam mobil ku", ujar lelaki itu kepada anak buah nya yang sedang berdiri di dekat pintu masuk kediaman Sera itu.
"Baik bos", ujar beberapa orang anak buah nya itu.
Lalu anak buah laki-laki itu pun segera masuk ke dalam kediaman Sera untuk mencari keberadaan anak yang di maksud oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Sera kepada laki-laki itu.
"Cepat pergi dari kediaman ku saat ini juga", ujar Sera.
"Aku hanya ingin mengambil milik ku", ujar laki-laki itu kepada Sera dengan tatapan tajam nya.
"Apa! Milik mu", ujar Sera dengan ekspresi kaget nya.
"Tidak bisa kamu tidak boleh membawa nya pergi dari ku", ujar Sera dengan tatapan marah nya.
"Aku adalah Ayah nya jadi aku berhak untuk mengambil nya dari mu", ujar laki-laki itu kepada Sera.
"Apa! Ayah", ujar Sera dengan nada lirih nya.
"Ayah seperti apa yang baru melihat anak nya sekarang dan aku tidak pernah menganggap mu sebagai Ayah dari anak ku", ujar Sera lagi.
"Aku tidak peduli dengan perkataan mu itu dan sekarang anak itu adalah milik ku karena dia adalah darah daging ku dan dia adalah penerus ku ke depan nya", ujar lelaki itu kepada Sera tanpa melihat ke arah Sera sedikit pun.
"Aku tidak bisa membiarkan nya membawa Rachel", ujar Sera di dalam hati nya.
Tak lama kemudian datang lah anak buah laki-laki itu sambil membawa bayi Hanna ke depan Sera.
"Apa!" Ujar Sera di dalam hati nya saat melihat bayi Hanna yang sedang berada di tangan anak buah laki-laki itu.
"Aku akan membawa bayi ini dan jangan pernah memohon kepada ku untuk mengembalikan bayi ini", ujar laki-laki itu kepada Sera.
Sera hanya bisa diam membisu ketika mendengar perkataan laki-laki itu kepada nya dan setelah itu laki-laki itu berserta semua anak buah nya pun segera pergi meninggalkan kediaman Sera itu dengan membawa bayi mungil Hanna.
Setelah laki-laki itu pergi Sera pun langsung berlari ke dalam kamar nya untuk melihat putri kecil nya.
Namun setelah ia sampai ke dalam kamar nya Sera tidak menemukan keberadaan putri nya disana dan tentu saja itu membuat Sera panik dan khawatir dengan keberadaan putri nya saat ini.
"Pelayan", teriak Sera.
Lalu seorang pelayan pun segera datang ke dalam kamar Sera.
"Iya nyonya ada apa?" Tanya pelayan itu.
"Dimana Rachel?" Tanya Sera.
"Nona kecil sedang di bawa ke rumah sakit nyonya untuk di cek kondisi kesehatan nya dan itu atas perintah dari Kakek nyonya", ujar pelayan itu lagi.
Setelah mendengar perkataan pelayan itu akhirnya Sera pun langsung menghela nafas nya dengan lega dan Sera pun langsung menyuruh pelayan itu untuk segera pergi dari dalam kamar nya itu.
"Untung saja dia tidak melihat Rachel", ujar Sera.
Lalu Sera pun segera membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur nya yang luas itu sambil membentangkan ke dua tangan nya.
***
"Dimana aku", ujar Ara ketika baru bangun dari tidur nya itu.
Lalu Ara pun mulai melihat ke sekitar ruangan yang ada di dalam apartemen Branden itu.
"Rumah siapa ini?" Tanya Ara lagi.
Lalu Ara pun berusaha untuk mengingat kembali kejadian sewaktu ia sedang mabuk itu.
Namun usaha nya tidak membuahkan hasil dan malah membuat Ara jadi tambah bingung dengan kondisi nya saat ini.
Lalu Ara pun berjalan menuju ke ruang tamu apartemen Branden dan setelah itu Ara pun baru sadar kalau saat ini ia sedang berada di dalam apartemen seseorang.
"Astaga seperti nya aku sedang di kunci di dalam apartemen ini", ujar Ara.
"Siapa yang telah mengunci ku di dalam apartemen ini", ujar Ara lagi.
Lalu Ara pun segera membaringkan tubuh nya di atas sofa ruang tamu apartemen Branden itu sambil menghela nafas nya dengan kesal.
***
Kediaman Diego
Saat ini Diego sedang berada di dalam ruangan kerja nya sedangkan Hanna sedang berada di dalam kamar mereka.
Hanna sedang duduk di balkon kamar nya sambil melihat pemandangan malam yang ada di sekitar kediaman nya itu.
"David Mami sangat merindukan mu", ujar Hanna.
Lalu Hanna pun mulai meneteskan air mata nya dan tak lama setelah itu Hanna pun langsung menuju ke tempat tidur nya untuk segera beristirahat.
Hanna tidak menutup pintu yang ada di balkon kamar nya itu dan Hanna tetap membiarkan angin untuk tetap masuk ke dalam kamar nya itu.
Hanna memang sengaja melakukan itu semua karena saat ini Hanna hanya ingin tubuh nya merasakan dingin nya hembusan angin pada malam hari.
Setelah cukup lama berusaha untuk tertidur namun Hanna tetap tidak bisa tidur dengan sendiri nya walau pun Hanna sudah mencoba untuk membaca beberapa komik yang ada di dalam ponsel nya itu.
"Lebih baik aku mendengarkan lagu saja agar hati ku sedikit terhibur", ujar Hanna.
Lalu Hanna pun mulai mendengarkan lagu dengan menggunakan headset yang di pasang di ke dua telinga nya itu.
__ADS_1
Sewaktu mendengarkan lagu air mata Hanna terus saja mengalir tanpa henti dan Hanna berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisan nya saat ini agar tidak ada orang yang tau kalau diri nya sedang menangis saat ini.
***
Desa Terpencil
"Helikopter", ujar Alex.
"Iya pria itu membawa bayi Hanna dengan menggunakan helikopter", ujar Ibu Jiu kepada Alex.
"Bagaimana hasil dari penyelidikan polisi?" Tanya Alex.
"Polisi mengatakan bahwa helikopter itu bukan lah milik orang pribumi tetapi milik warga asing", ujar Bibi Yuri.
"Apa! Milik warga asing", ujar Alex.
"Jadi apa sudah di temukan pemilik dari helikopter itu?" Tanya Alex lagi.
"Tentu saja sudah dan orang yang mempunyai helikopter itu berkata kalau helikopter itu tidak pernah ia sewakan atau ia pinjamkan kepada orang lain", ujar Bibi Jandi.
"Lalu kenapa dia tidak di tangkap?" Tanya Alex lagi.
"Bukan kah sudah jelas kalau helikopter itu adalah milik nya jadi seharusnya dia sudah di tangkap oleh polisi saat ini", ujar Alex lagi.
"Polisi tidak mempunyai bukti yang kuat kalau helikopter itu adalah milik warga asing itu karena tidak ada rekaman yang bisa menunjukkan semua itu", ujar Bibi Yuri.
"Iya semua ciri-ciri dari helikopter itu hanya di sebutkan oleh para warga yang telah menyaksikan kejadian itu", ujar Bibi Doksun.
"Apa tidak ada lagi informasi lain yang bisa membantu untuk menemukan keberadaan bayi itu", ujar Alex lagi.
"Tidak ada", ujar Bibi Lili.
"Itu lah masalah nya saat ini", ujar Bibi Jandi.
"Di rumah ini tidak ada cctv dan tidak ada satu pun yang bisa di jadikan bukti yang kuat untuk kasus penculikan bayi Hanna itu", ujar Bibi Doksun.
"Apa Bibi tidak melihat wajah orang yang mengambil bayi itu", ujar Alex kepada Ibu Jiu.
"Tentu saja aku tidak melihat nya", ujar Ibu Jiu.
"Kalau aku melihat nya sudah pasti aku akan berteriak pada saat itu juga di depan nya sambil berusaha untuk merebut bayi Hanna yang sedang berada di tangan nya itu", ujar Ibu Jiu lagi.
"Sayang nya waktu kejadian itu aku sedang berada di dapur untuk membuatkan susu untuk bayi Hanna dan aku lupa untuk mengunci pintu rumah setelah kamu pergi ke luar untuk mengecek motor mu itu", ujar Ibu Jiu lagi kepada Alex.
Sebenarnya Alex sudah tau kalau bayi Hanna di bawa dengan menggunakan sebuah helikopter karena pada saat itu ia juga ikut menyaksikan kejadian itu.
Namun saat ini Alex hanya berpura-pura tidak tau dengan semua kejadian itu agar diri nya bisa bertanya sepuas nya mengenai bayi Hanna kepada para Bibi yang sedang berada di rumah ibu Jiu itu.
"Aku yakin pemilik helikopter itu tau siapa yang ada di balik semua ini", ujar Alex di dalam hati nya.
"Aku harus pergi menemui pemilik helikopter itu atau Ara saja yang mengurus semua itu", ujar Alex lagi di dalam hati nya.
Lalu Alex pun segera pamit kepada semua orang yang ada di dalam rumah Ibu Jiu itu dan setelah itu Alex pun segera mengabarkan semua itu kepada Ara.
***
Kediaman Diego
Saat ini ponsel Diego berdering di atas meja kerja nya dan melihat itu Diego pun segera mengangkat panggilan telpon dari anggota nya itu.
"Halo", ujar Diego.
"Bos", ujar anggota nya.
"Bagaimana hasil nya", ujar Diego.
"Bayi bos itu telah di bawa dengan menggunakan helikopter milik warga asing bos", ujar anggota nya itu.
"Apa! Warga asing", ujar Diego.
"Iya bos dan saat ini orang itu adalah satu-satu nya kunci yang tau dimana keberadaan bayi bos itu", ujar anggota nya lagi.
"Kalau begitu dimana dia sekarang?" Tanya Diego.
"Saat ini dia sedang berada di pulau Jeju bos untuk merayakan keberhasilan nya", ujar anggota nya lagi.
"Ok! Kalau begitu siapkan helikopter untuk berangkat ke pulau Jeju besok pagi", ujar Diego.
"Ok! Siap bos", ujar anggota nya lagi.
Lalu panggilan telpon itu pun segera berakhir dan Diego pun langsung berhenti mengerjakan semua pekerjaan nya saat ini.
Setelah lima menit merenung di meja kerja nya itu akhirnya Diego pun memutuskan untuk segera pergi beristirahat ke dalam kamar nya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.
Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.
__ADS_1
Bersambung...