
"Krystal", teriak Clara.
Lalu Clara pun segera menghampiri Krystal dan berdiri di samping nya.
"Ada apa?" Tanya Clara.
Lalu Rey pun datang menghampiri mereka dan tak lama kemudian Leo, Diego dan Ayah nya pun datang menghampiri Krystal ke tempat air pancuran itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Leo kepada Krystal.
"Apa yang sedang terjadi kepada mu?" Tanya Ayah nya kepada Krystal.
"Itu ada sesuatu yang besar di balik dedaunan itu", ujar Krystal sambil menunjuk ke arah dedaunan yang dia maksud.
"Apa! Tidak ada apa pun disana", ujar Diego.
"Tadi aku melihat ada sesuatu yang bergerak disana", ujar Krystal tetap yakin dengan apa yang telah di lihat nya.
"Tadi aku mendengar bunyi sesuatu dan kakak Clara juga mendengar nya", ujar Krystal.
"Iya aku juga telah mendengar bunyi yang di maksudkan oleh Krystal itu", ujar Clara.
"Tapi aku tidak tau dimana sumber suara itu karena pada saat itu aku sedang berada di dalam air yang dangkal itu", ujar Clara lagi.
"Aku melihat nya kalau sumber suara itu berada di balik dedaunan itu", ujar Krystal lagi dengan pendirian nya.
"Tadi disana ada sesuatu yang sangat besar jadi aku kaget dan langsung berteriak dengan histeris", ujar Krystal lagi.
"Kalau begitu aku akan pergi untuk memeriksa nya", ujar Rey.
"Aku akan ikut dengan mu", ujar Leo.
Lalu mereka berdua pun langsung pergi menuju ke tempat dedaunan yang di maksud oleh Krystal itu.
"Apa ini sesuatu yang besar menurut mu itu?" Tanya Leo sambil mengangkat seekor kelinci dari balik semak-semak belukar itu.
"Apa! Kelinci", ujar Krystal.
"Disini tidak ada siapa pun atau apa pun itu kecuali kelinci ini yang sedang tersangkut di dalam semak-semak belukar ini", ujar Rey.
"Benarkah", ujar Krystal.
"Lalu bayangan apa yang telah aku lihat waktu itu?" Tanya Krystal.
"Tapi aku tadi melihat ada bayangan yang sangat besar disana", ujar Krystal lagi.
"Lihat lah bayangan kelinci ini", ujar Leo.
Lalu Leo pun segera meletakkan kelinci itu di atas tanah dan ia masih tetap memegang kelinci itu dengan ke dua tangan nya.
"Apakah bayangan nya sangat besar?" Tanya Leo.
"OMG ternyata yang aku lihat itu adalah kelinci yang lucu ini", ujar Krystal lagi.
"Benarkan apa yang telah aku katakan kepada mu", ujar Leo.
"Itu karena aku terus mengarahkan senter ku kesini dan aku tidak tau kalau ternyata Krystal sedang memperhatikan kemana senter ku di arahkan", ujar Rey.
"Iya karena aku takut berdiri disini sendirian maka nya aku selalu memperhatikan kemana arah senter kakak Rey ditujukan", ujar Krystal.
"Kalau begitu semua nya sudah selesai dan ayo kembali lagi ke tenda karena saat ini kita harus memasak hot pot untuk makan malam hari ini", ujar Ayah Diego.
"Baik Ayah", ujar Krystal.
Lalu mereka semua pun langsung pergi menuju ke tenda dan semua bahan-bahan masakan untuk hot pot telah selesai disiapkan oleh Clara dan Krystal sebelum mereka pergi ke air pancuran itu.
"Baiklah aku telah siap menghidupkan bara api untuk hot pot itu", ujar Diego.
"Aku juga sudah siap mencuci alat masak kita pada malam ini", ujar Rey.
"Kalau begitu ayo kita mulai memasak karena aku sudah sangat lapar saat ini", ujar Krystal.
"Ok aku akan meletakkan tempat hot pot ini di atas bara api itu", ujar Clara.
Lalu Clara dan Krystal telah cukup sibuk untuk memasak hot pot saat ini sedangkan para pria sedang duduk sambil bermain gitar di depan bara api itu.
"Sekarang giliran ku untuk bermain gitar", ujar Leo.
"Ini ambil lah", ujar Rey sambil memberikan gitar itu kepada Leo.
Lalu Leo pun mulai memainkan gitar itu sambil menyanyikan lagu yang biasa nya ia nyanyikan.
"Suara mu terdengar bagus", ujar Diego.
"Tentu saja karena aku juga hobi bermain gitar sambil menyanyikan sebuah lagu", ujar Leo.
"Pantas saja kamu tidak kaku saat melakukan nya", ujar Rey.
"Aku lihat kamu juga bisa bermain gitar", ujar Leo kepada Rey.
"Tentu saja apa lagi Diego", ujar Rey.
"Benarkah!" Ujar Leo.
"Iya Diego telah banyak mencuri perhatian para wanita dengan petikan gitar dan suara merdu nya itu", ujar Rey lagi.
"Wah keren sekali", ujar Leo.
"Itu sudah sangat lama ketika kami masih bersekolah", ujar Rey.
"Para wanita tergila-gila dengan Diego dan aneh nya tidak ada satu pun dari wanita itu yang di ajak nya untuk pergi berkencan", ujar Rey lagi.
"Kasihan sekali para wanita itu", ujar Leo.
"Pantas saja wanita yang datang ke rumah besar waktu itu juga tergila-gila dengan Diego karena hal ini rupa nya", ujar Leo sambil bercanda.
"Seperti nya begitu", ujar Rey.
__ADS_1
"Itu karena Ayah yang selalu menyuruh Diego untuk bermain gitar dan piano pada saat dia masih kecil", ujar Ayah Diego.
"Wah ternyata peran Ayah di dalam kehidupan Diego sangat besar sekali dan kalau tidak ada Ayah mungkin Diego tidak akan bermain gitar dan mungkin juga dia tidak akan digilai oleh para wanita pada saat itu", ujar Leo.
"Bisa jadi", ujar Ayah Diego sambil tertawa.
Lalu mereka semua pun tertawa bersama dan melanjutkan bermain gitar kembali sambil menunggu hot pot yang di masak oleh Clara dan Krystal matang.
***
Kediaman Ara
"Kenapa Diego tidak mengangkat telpon dari ku?" Tanya Ara.
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Ara lagi.
"Tapi tidak mungkin Diego sudah tidur pada saat ini", ujar Ara lagi.
Saat ini Ara sedang duduk di teras rumah nya sambil berusaha untuk terus menghubungi Diego.
Namun setelah cukup lama berusaha untuk menghubungi Diego tapi tetap saja Diego tidak menjawab panggilan telpon dari Ara itu dan itu tentu saja membuat Ara sangat kesal kepada Diego saat ini.
"Sedang apa Diego saat ini?" Tanya Ara lagi.
"Apa mungkin dia sedang sibuk sekarang?" Tanya Ara lagi sambil melihat ke halaman depan rumah nya itu.
"Tidak mungkin aku pergi lagi ke kediaman keluarga besar Diego itu bisa-bisa Ayah nya memarahi ku jika beliau tau kalau aku sedang mendesak Diego saat ini", ujar Ara lagi.
"Aku bisa gila kalau seperti ini terus", ujar Ara lagi.
Pada saat Ara sedang sibuk memikirkan Diego tiba-tiba saja Alex menelpon nya dan Ara pun mengangkat nya dengan ekspresi kesal nya kepada Diego saat ini.
"Halo", ujar Ara.
"Aku ada kabar bagus untuk mu", ujar Alex to the poin.
"Apa itu?" Tanya Ara.
"Aku melihat kalau wanita yang telah kamu jebak itu sedang mengurus seorang bayi saat ini", ujar Alex.
"Apa! Bayi", ujar Ara.
"Iya dia telah memiliki seorang bayi saat ini", ujar Alex lagi.
"Apa itu bayi milik nya?" Tanya Ara.
"Aku rasa begitu", ujar Alex.
"Coba kamu cari tau siapa orang tua dari bayi itu", ujar Ara.
"Ok", ujar Alex.
"Tapi sebelum itu kamu harus membayar ku dengan sangat mahal kali ini", ujar Alex lagi.
"Berapa yang kamu inginkan katakan saja kepada ku", ujar Ara.
"Apa!" Teriak Ara dengan ekspresi kaget nya.
"Apa kamu sudah gila?" Tanya Ara lagi.
"Aku rasa itu sebanding dengan apa yang aku lakukan saat ini untuk mu", ujar Alex.
"Aku tidak bisa memberi mu uang sebanyak itu", ujar Ara.
"Kalau begitu aku tidak bisa bekerja untuk mu saat ini", ujar Alex lagi.
"Apa yang sedang kamu rencanakan saat ini?" Tanya Ara.
"Jangan katakan kalau kamu akan pergi menemui Diego untuk meminta uang sebanyak itu", ujar Ara lagi.
"Menurut mu bagaimana?" Tanya Alex.
"Jangan lakukan itu atau kamu akan tau akibat nya", ujar Ara lagi.
"Apa kamu berniat untuk mencelakai ku", ujar Alex.
"Kamu tidak akan bisa untuk melakukan itu karena pada saat kamu berusaha untuk mencelakai ku maka tepat pada saat itu juga aku akan mengirimkan percakapan kita ini kepada perusahaan Diego", ujar Alex.
"Apa!" Teriak Ara.
"Percakapan ini akan aku simpan kepada orang kepercayaan ku dan jika terjadi apa-apa kepada ku karena ulah mu itu maka orang kepercayaan ku lah yang akan membongkar semua rahasia besar mu itu", ujar Alex lagi.
"Apa!", Ujar Ara lagi.
"Kalau begitu aku akan membayar nya dan jangan katakan sepatah kata pun kepada Diego mengenai hal ini", ujar Ara lagi.
"Ok! Kalau begitu jangan sampai terlambat untuk membayar ku karena kali ini aku akan bekerja ketika kamu telah membayar ku terlebih dahulu", ujar Alex.
"Ok kamu tunggu saja uang transferan dari ku", ujar Ara lagi.
"Baiklah", ujar Alex lagi.
Lalu panggilan telpon itu pun segera berakhir dan Ara pun langsung masuk ke dalam rumah nya dengan ekspresi wajah nya yang sudah sangat kesal saat ini.
***
Desa Terpencil
"Hanna", panggil Bibi Doksun.
"Iya Bibi ada apa?" Tanya Hanna.
"Besok kami akan pergi berkemah ke dekat hutan sana jadi apa kamu mau ikut dengan kami", ujar Bibi Doksun lagi.
"Aku mau saja ikut pergi berkemah tapi tidak saat ini Bibi karena pada saat ini aku tidak bisa ikut Bibi pergi kesana dan aku harus menjaga bayi ku disini", ujar Hanna.
"Aku bisa menjaga bayi mu itu selama kamu pergi berkemah karena aku tidak ikut pergi dengan mereka", ujar Ibu Jiu kepada Hanna.
__ADS_1
"Kenapa Bibi tidak ikut?" Tanya Hanna.
"Karena saat ini kaki Bibi sedang sakit dan harus banyak istirahat di rumah jadi karena itu lah Bibi tidak ikut pergi dengan mereka berkemah ke hutan sana", ujar Ibu Jiu lagi.
"Kalau kamu mau pergi berkemah tidak apa-apa Bibi bisa menjaga bayi mu itu di rumah Bibi", ujar Ibu Jiu lagi.
"Tapi Bibi aku tidak tega untuk meninggalkan bayi ku walau pun cuma dalam beberapa hari", ujar Hanna.
"Hanna kamu juga perlu pergi refreshing untuk saat ini agar hati dan pikiran mu itu selalu fresh apa lagi kamu sudah sangat lama berada di dalam rumah terus dan tidak pergi liburan kemana-mana jadi karena itu lah kami berinisiatif untuk mengajak mu pergi bersama kami", ujar Bibi Lili.
"Apa yang di katakan oleh Lili itu memang benar", ujar Bibi Jandi.
"Kamu jangan khawatir karena yang ikut pergi berkemah itu tidak hanya kami saja", ujar Bibi Yuri.
"Iya putri ku juga akan ikut dengan kami", ujar Bibi Lili.
"Jiu juga akan ikut pergi berkemah kata nya", ujar Ibu Jiu.
"Benarkah!" Ujar Bibi Lili.
"Kalau begitu putri ku bisa lebih dekat lagi dengan putra mu disana", ujar Bibi Lili lagi kepada Ibu Jiu.
"Iya aku harap ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua", ujar Bibi Doksun.
"Apa!" Ujar Ibu Jiu.
"Putra ku tidak lah seburuk itu dia adalah anak lelaki ku yang sangat baik dan sopan kepada wanita", ujar Ibu Jiu lagi.
"Iya aku tau itu maka nya aku berharap kali ini putra mu itu menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin agar putra mu itu bisa kita nikah kan secepat nya dengan putri Lili", ujar Bibi Doksun lagi.
"Aku setuju dengan hal itu", ujar Bibi Yuri.
"Aku hanya bisa mempercayakan nya kepada Jiu saat ini", ujar Ibu Jiu lagi.
"Bibi aku rasa Bibi tidak perlu khawatir mengenai hal itu", ujar Hanna.
"Maksud mu?" Tanya Bibi Jandi kepada Hanna.
"Aku rasa Jiu saat ini sudah sangat dewasa dan dia juga tau dengan apa yang akan di lakukan nya ke depan nya", ujar Hanna.
"Jadi aku rasa Jiu saat ini sudah tau dengan rencana hidup nya ke depan apa lagi mengenai wanita yang akan di nikahi nya kelak", ujar Hanna lagi.
"Inilah alasan ku agar Jiu menceritakan semua nya kepada Ibu nya tapi entah kenapa dia malah berubah pikiran untuk menceritakan hal ini kepada Ibu nya", ujar Hanna di dalam hati nya.
"Sudah lah aku hanya bisa memendam nya saja saat ini sampai Jiu telah mengatakan semua nya kepada Ibu nya", ujar Hanna lagi di dalam hati nya.
"Iya kami juga tau kalau Jiu sudah sangat dewasa saat ini tapi jika kami hanya diam saja dan tidak melakukan apa pun untuk nya maka Jiu tidak akan bertindak juga untuk mencari pasangan hidup nya", ujar Bibi Doksun.
"Apa lagi saat ini aku sudah sangat mendambakan kehadiran seorang cucu", ujar Bibi Lili.
"Saat aku melihat bayi mu itu entah kenapa hati ku juga merasa sangat menginginkan nya", ujar Bibi Lili lagi kepada Hanna.
"Iya sebenarnya hati ku juga merasakan hal yang sama dengan mu tapi apa boleh buat seperti nya Jiu selalu mengundur-ngundur waktu untuk bisa memenuhi keinginan ku ini", ujar Ibu Jiu kepada Bibi Lili.
"Kalau begitu kita lihat saja besok bagaimana respon Jiu terhadap putri mu itu", ujar Ibu Jiu.
"Jika Jiu menyukai nya maka dia akan berusaha untuk mendekati putri mu itu", ujar Ibu Jiu lagi.
"Iya benar apa yang telah di katakan oleh Bibi", ujar Hanna.
"Kalau begitu ayo kita makan ayam goreng ini lagi", ujar Bibi Jandi.
"Iya ayam ini dari tadi sudah kita biarkan saja di atas meja ini tanpa kita sentuh sedikit pun karena kita sudah cukup sibuk untuk membicarakan masalah Jiu dengan putri Lili", ujar Bibi Yuri.
"Iya aku sampai lupa kalau di atas meja ini ada ayam goreng yang sangat enak", ujar Bibi Jandi.
Lalu mereka semua pun langsung memakan kembali ayam goreng itu sambil menonton drama Korea yang sedang di tampilkan di TV yang ada di depan mereka saat ini.
***
Kediaman Sera
"Apa!" Ujar Sera.
"Jadi saat ini istri Diego itu telah di usir dari kediaman Diego", ujar Sera lagi dengan ekspresi kaget nya.
"Iya", ujar Branden.
"Kalau begitu pantas saja bawahan Kakek ku telah melihat nya sedang berada di desa terpencil pada saat itu", ujar Sera lagi.
"Selama ini aku telah ketinggalan informasi mengenai Diego dengan istri nya itu", ujar Sera lagi.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Branden.
"Lakukan saja apa yang telah Kakek perintahkan kepada mu itu", ujar Sera.
"Ok", ujar Branden.
"Aku harap kita mendapatkan bayi itu agar kita bisa mengancam Diego", ujar Sera lagi.
"Ternyata Kakek sangat pintar dalam mencari informasi", ujar Sera lagi.
"Iya aku juga tau dari Kakek mu waktu itu dan karena itu lah aku mulai pergi untuk menyelidiki nya", ujar Branden lagi.
"Ok kalau begitu aku pergi ke dalam kamar ku dulu", ujar Sera.
"Ok", ujar Branden.
Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju ke dalam kamar mereka masing-masing untuk pergi beristirahat disana karena saat ini adalah waktu nya istirahat bagi Sera.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.
Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.
Bersambung...
__ADS_1