Mafia Wedding Secrets

Mafia Wedding Secrets
Serangan Musuh


__ADS_3

"Apa ini", ujar Bibi Lili.


"Astaga", ujar Bibi Yuri.


"Ibu aku takut", ujar putri dari Bibi Lili itu kepada Bibi Lili.


"Sudah tenang lah mobil itu cukup jauh dari tempat kita berdiri saat ini", ujar Bibi Lili kepada putri nya itu.


Kemudian para warga pun segera berdatangan untuk melihat sumber ledakan itu dan saat ini telah terdapat banyak orang yang ikut menyaksikan terbakar nya mobil Diego itu.


"Kenapa mobil itu bisa terbakar?" Tanya suami dari Bibi Jandi kepada suami dari Bibi Doksun.


"Entah lah aku juga tidak tau", ujar suami dari Bibi Doksun itu.


"Aku rasa ada yang sengaja meledakkan mobil itu", ujar suami dari Bibi Yuri.


"Benarkah!" Ujar suami dari Bibi Doksun itu lagi.


"Lihat lah di bagian belakang mobil itu", ujar suami dari Bibi Yuri lagi.


Kemudian semua orang yang mendengar perkataan dari suami Bibi Yuri itu pun langsung melihat ke arah yang di maksud oleh suami Bibi Yuri itu.


"Astaga ternyata ada banyak minyak yang menetes dari belakang mobil itu dan juga ada bekas sarang korek api gas yang terlempar akibat dari ledakan mobil itu", ujar suami dari Bibi Doksun.


"Iya aku juga melihat nya", ujar suami dari Bibi Jandi.


Lalu Hanna pun langsung menghampiri Diego dan ia pun langsung memegang jari kelingking tangan kanan Diego sambil memasang raut wajah sedih nya.


Melihat itu Diego hanya bisa tersenyum dan setelah itu Diego langsung merangkul Hanna dengan tangan kanan nya itu.


Jadi saat ini Diego dan Hanna seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan atau atraksi yang bisa membuat mereka terhanyut ketika mereka melihat mobil Diego yang terbakar itu.


*Satu Jam Kemudian*


Saat ini Diego, Hanna, Jiu, putri dari Bibi Lili, Ibu Jiu, Bibi Lili, Bibi Jandi, Bibi Doksun dan Bibi Yuri sedang duduk mengelilingi meja makan yang ada di ruang makan rumah keluarga Ibu Jiu itu.


"Bibi lusa aku akan kembali lagi ke kota dan besok aku akan mengemasi semua pakaian ku", ujar Hanna kepada Ibu Jiu.


"Apa! Kamu tidak akan tinggal di desa ini lagi", ujar Ibu Jiu.


Mendengar perkataan Ibu Jiu yang seperti itu semua orang yang ada di ruang makan itu pun langsung melihat ke arah Hanna dan Ibu Jiu secara bergantian.


"Hanna", ujar putri dari Bibi Lili dengan nada lirih nya.


"Aku sangat berterima kasih kepada semua orang yang ada disini karena semua nya telah peduli kepada istri ku", ujar Diego secara tiba-tiba.


Lalu semua orang yang ada disana pun langsung melihat ke arah Diego.


"Aku harap kalian semua tidak keberatan dengan keputusan Hanna", ujar Diego lagi.


"Lalu bagaimana dengan biaya sewa yang telah kamu bayarkan sampai akhir tahun ini", ujar Ibu Jiu kepada Hanna.


"Aku belum bisa untuk mengembalikan nya pada lusa ini dan aku akan mengembalikan nya pada akhir bulan ini kepada mu", ujar Ibu Jiu lagi.


"Mengenai itu Bibi tidak usah mengembalikan nya kepada ku karena aku tidak mengharapkan uang itu lagi", ujar Hanna.


"Benarkah!" Ujar Ibu Jiu dengan ekspresi kaget nya saat ini.


Lalu Hanna pun langsung menganggukkan kepala nya setelah ia mendengar perkataan Ibu Jiu itu.


"Aku tidak bisa menerima uang sebanyak itu dari mu", ujar Ibu Jiu lagi.


"Bibi ambil saja uang itu", ujar Diego secara tiba-tiba.


"Jika Bibi mengambil nya maka aku akan merasa senang", ujar Diego lagi.


"Iya ambil saja uang itu agar Hanna dan suami nya jadi lega meninggalkan desa terpencil ini", ujar Bibi Doksun kepada Ibu Jiu.


"Iya aku setuju dengan Doksun", ujar Bibi Jandi.


"Kalau begitu kalian harus sesering mungkin untuk bisa datang ke desa ini apa bila kalian mempunyai cukup waktu untuk pergi berlibur ke desa terpencil ini", ujar Ibu Jiu kepada Hanna dan Diego.


"Baik lah", ujar Diego.


"Kalau begitu makan lah yang banyak agar hati ku merasa lega dengan semua ini", ujar Ibu Jiu lagi kepada Hanna dan Diego.


"Ok", ujar Hanna dengan nada ceria nya.


"Lalu bagaimana dengan mobil kalian?" Tanya Bibi Doksun kepada Diego dan Hanna.


"Besok karyawan ku akan datang untuk mengurus semua nya jadi Bibi tidak perlu khawatir soal itu", ujar Diego.


"Bagus lah kalau kamu baik-baik saja setelah melihat mobil mu yang terbakar itu dan sebelum nya aku khawatir kalau kalian tidak akan bisa tidur pada malam ini karena hal itu", ujar Bibi Doksun lagi.


"Wah mobil nya terbakar tapi perasaan nya baik-baik saja sungguh luar biasa", ujar Bibi Yuri sambil menganggukkan kepala nya.


Lalu Diego pun melihat ke arah Bibi Yuri dan Bibi Yuri pun langsung tersenyum kepada Diego sambil melambaikan tangan kanan nya.


"Hai apa kamu mengenal ku?" Tanya Bibi Yuri kepada Diego.


"Tentu saja", ujar Diego sambil tersenyum.


"Aku kira kamu telah lupa dengan ku", ujar Bibi Yuri lagi.


Lalu Diego pun hanya bisa tersenyum membalas perkataan Bibi Yuri itu tanpa berbicara lagi kepada nya.


Kemudian mereka semua pun langsung memakan makanan yang ada di depan mereka saat ini.


Makanan yang ada di atas meja itu cukup beragam dan sungguh membuat nafsu makan menjadi tambah meningkat.


***


Dua Tahun Kemudian


Amerika


"Dady", teriak Louis dengan terbata-bata.


Kemudian datang lah seorang pria menghampiri baby Louis dan pria itu pun langsung menggendong Louis sambil mengelus-ngelus kepala nya.


"Ada apa sayang ku?" Tanya James kepada Louis.


"Aku mau bermain dengan Dady", ujar baby Louis dengan terbata-bata.


"Apa! Bermain dengan Dady", ujar James lagi.


"Iya", ujar baby Louis.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kamu mau main apa?" Tanya James lagi.


"Main bola", ujar baby Louis.


"Ok! Let's go", ujar James.


Lalu mereka berdua pun langsung pergi menuju ke taman yang ada di belakang kediaman James untuk bermain bola bersama disana.


Saat ini baby Louis tampak sangat bahagia dengan permainan yang mereka mainkan itu.


Sepanjang permainan itu baby Louis dan James selalu tertawa bersama dan mereka juga tampak sangat dekat satu sama lain nya.


James adalah sosok Ayah yang sangat baik dan penyayang oleh karena itu lah baby Louis yang tumbuh dengan nya itu pun juga ikut merasakan ketulusan hati James terhadap nya.


Baby Louis sangat bahagia jika James telah pulang ke rumah dan pada setiap hari nya baby Louis selalu menunggu kehadiran James di depan teras kediaman mereka.


Biasa nya James selalu pulang pukul lima atau pukul enam sore dan pada waktu itu lah baby Louis telah selesai mandi dan makan jadi baby Louis hanya fokus untuk menunggu kepulangan Ayah nya agar ia bisa bermain dengan Ayah nya itu.


Selama dua tahun ini James tidak pernah marah kepada baby Louis karena baby Louis masih sangat kecil di mata nya.


Sedangkan kepada orang lain James sering kali marah apa bila orang yang sedang berurusan dengan nya itu sangat tidak kompeten di mata nya.


"Louis", panggil James.


"Iya Dady", ujar baby Louis.


"Ayo kita duduk di ayunan itu", ujar James sambil menunjuk ayunan yang ia maksud.


"Ok!" Ujar baby Louis.


Setelah mereka berdua duduk di dalam ayunan itu tiba-tiba saja James melihat baby Louis dengan tatapan mata yang sangat dalam.


"Putra ku saat ini sudah tumbuh dengan baik", ujar James.


"Louis", ujar James lagi.


"Iya Dady", ujar baby Louis.


"Mulai dari sekarang Dady akan mengajarkan mu bagaimana cara nya agar bisa menjadi lelaki yang kuat dan tangguh di masa depan", ujar James.


"Apa itu Dady", ujar baby Louis.


"Lelaki yang mandiri dan kuat", ujar James lagi.


Kemudian baby Louis pun hanya menatap James dengan tatapan polos nya tanpa menggubris perkataan James itu.


"Oh kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semua itu", ujar James lagi.


"Mulai dari sekarang permainan kita adalah saham dan segala hal yang bisa menciptakan uang", ujar James lagi.


"Dady akan mendidik kamu untuk tumbuh menjadi seperti yang Dady harapkan agar kelak kamu bisa mengelola seluruh harta Dady dengan sebaik mungkin", ujar James lagi.


"Apa kamu bisa melakukan nya untuk Dady?" Tanya James lagi kepada baby Louis.


"Ok!" Ujar baby Louis dengan senyuman manis nya itu.


Baby Louis telah tumbuh sebagai anak yang baik, pintar dan juga patuh kepada James.


Selain itu wajah baby Louis pun sangat tampan dengan kulit putih yang bersih dan senyuman nya yang sangat memukau.


Setelah James dan baby Louis cukup lama berada di dalam ayunan itu mereka pun langsung pergi menuju ke dalam kediaman James untuk menonton TV bersama.


Sebelum mereka menonton TV James menyuruh baby Louis untuk belajar membaca dengan seorang tutor yang telah ia pilih untuk baby Louis sedangkan James pergi membersihkan diri nya dulu ke dalam kamar nya.


***


Markas Octopus


"Bos", panggil seorang anggota Octopus kepada Diego.


"Ada apa?" Tanya Diego.


"Pak Oskar sedang menjalin kerja sama dengan pemilik rumah mewah yang ada di dekat perbatasan kota itu", ujar anggota nya lagi.


"Sejak kapan dia bergabung dengan mereka?" Tanya Diego lagi.


"Sejak Pak Oskar mulai menyandra adik perempuan Zhen Shui", ujar anggota nya lagi.


"Apa! Lalu kenapa kamu tidak memberi tau ku mengenai hal itu", ujar Diego.


"Waktu itu Pak Oskar masih ragu untuk bergabung dengan mereka dan pada saat itu pun Pak Oskar masih berpihak kepada kita", ujar anggota nya lagi.


"Seharusnya kamu memberi tau ku mengenai hal itu", ujar Diego.


"Jika kamu membuat kesalahan lagi maka kamu akan aku beri hukuman", ujar Diego lagi.


"Maafkan saya bos dan saya tidak akan mengulangi nya lagi", ujar anggota nya itu.


Lalu Rey pun datang menghampiri Diego yang sedang berada di aula markas nya itu.


"Bos kita sudah membuat perjanjian dengan Alexander mengenai kokaina yang akan kita selundupkan ke wilayah selatan itu", ujar Rey kepada Diego.


"Letakkan semua berkas-berkas nya di atas meja kerja ku nanti aku akan melihat nya", ujar Diego.


"Ok!" Ujar Rey.


"Lalu mengenai orang yang telah menyelundupkan beberapa barang yang ada di gudang kita itu saat ini dia telah berada di ruangan yang ada di belakang markas", ujar Rey lagi.


"Ok! Aku akan segera pergi kesana untuk melihat nya", ujar Diego.


Lalu Diego pun segera pergi menuju ke ruangan yang ada di belakang markas nya itu dan Rey pun langsung menyuruh seorang anggota Octopus untuk meletakkan berkas-berkas yang ada di tangan nya itu ke atas meja kerja Diego.


Sementara diri nya pergi mengikuti langkah kaki Diego dari belakang untuk menuju ke ruangan yang ada di belakang markas Octopus itu.


Saat ini Diego, Rey dan beberapa orang anggota Octopus yang lain nya pun sedang berada di depan seorang pemuda yang sedang di ikat di atas sebuah kursi kayu yang ada di dalam ruangan itu.


"Siapa kamu?" Tanya pemuda itu kepada Diego.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada mu", ujar Diego.


Lalu Diego pun mengangkat tangan kanan nya ke atas dengan telapak tangan yang seperti meminta sesuatu kepada anggota nya itu.


Kemudian salah satu anggota Octopus itu pun segera memberikan sebuah tongkat kayu yang berukuran cukup panjang dengan ketebalan yang lumayan tebal.


Setelah menerima tongkat kayu itu Diego pun langsung melangkah dengan beberapa langkah ke depan pria itu.


"Katakan siapa yang telah menyuruh mu?" Tanya Diego.

__ADS_1


"Tidak ada yang menyuruh ku", ujar pemuda itu.


"Jawab yang sejujur-jujur nya atau kamu akan menanggung akibat nya karena telah berbohong kepada ku", ujar Diego dengan tatapan marah nya.


Melihat Diego yang seperti itu pemuda itu pun langsung takut dan menggigil di buat nya.


"Ayo katakan", ujar Diego sambil memainkan tongkat yang ada di tangan nya itu.


"Pemilik rumah mewah yang ada di dekat perbatasan kota", ujar pemuda itu dengan terbata-bata.


Setelah pemuda itu menjawab pertanyaan dari Diego lima detik setelah nya Diego pun langsung mengayunkan tongkat kayu itu ke tubuh pemuda itu.


Diego memukul nya tanpa ampun dan pukulan itu hanya dalam sekali pukulan walau pun seperti itu tetap saja pukulan Diego itu telah berhasil membuat pemuda itu terkapar dan tak sadarkan diri di buat nya.


"Rey", ujar Diego setelah memukul pemuda itu.


"Iya", ujar Rey yang sedang berdiri di belakang nya.


"Bawa pemuda ini ke dalam rumah sakit markas", ujar Diego.


"Apa! Kenapa kamu malah membawa nya kesana", ujar Rey.


"Tidak seperti biasa nya", ujar Rey lagi.


"Seperti nya pemuda itu terdesak dan ia terpaksa melakukan itu karena dia butuh uang untuk biaya kuliah nya", ujar Diego.


"Seperti yang telah kamu ketahui kalau pemuda itu saat ini sedang berkuliah di salah satu universitas yang cukup ternama di kota", ujar Diego lagi.


"Maksud mu kali ini kamu akan mengampuni nya begitu", ujar Rey.


"Aku akan menyuruh nya untuk menebus kesalahan nya kepada ku", ujar Diego.


"Bagaimana cara nya?" Tanya Rey.


"Suruh dia menjadi mata-mata kita", ujar Diego.


"Apa kamu tidak salah?" Tanya Rey lagi.


"Tentu saja tidak", ujar Diego.


"Ok!" Ujar Rey.


Lalu Rey pun segera menyuruh berapa orang anggota Octopus yang ada disana untuk membawa pemuda itu ke dalam rumah sakit markas agar dokter yang ada di markas itu bisa segera mengobati nya.


***


Kediaman Diego


Saat ini Hanna sedang melukis pemandangan yang ada di kebun anggur kediaman Diego itu.


Hanna terhanyut dengan kesibukan nya itu dan tak lama kemudian Hanna pun teringat dengan bayi kecil nya yang telah lama hilang itu.


"David", ujar Hanna dengan raut wajah sedih nya.


"Dimana kamu sekarang?" Tanya Hanna.


"Jika kamu masih hidup mungkin saat ini kamu sudah bisa untuk di ajak bermain bersama", ujar Hanna lagi.


Lalu air mata Hanna pun langsung mengalir walau pun ia telah berusaha untuk menahan nya agar air mata itu tidak keluar.


"David mami sangat merindukan mu", ujar Hanna lagi dengan air mata nya yang sudah membasahi pipi nya itu.


Lalu lukisan yang sedang Hanna lukis itu pun tidak jadi Hanna selesaikan karena pada saat ini Hanna hanya bisa termenung sambil memikirkan nasib bayi nya yang telah lama hilang itu.


***


Kediaman Keluarga Besar Diego


"Ayah", teriak Krystal yang baru ke luar dari dalam mobil nya itu.


Saat ini Krystal dan Leo baru saja datang ke rumah besar keluarga nya itu untuk pergi menemui Ayah nya.


Sementara Ayah Diego sedang duduk di depan teras kediaman nya itu sambil membaca sebuah koran dan di temani dengan secangkir kopi hangat.


"Bagaimana kabar kalian hari ini?" Tanya Ayah Diego kepada Krystal dan Leo.


"Tentu saja aku baik-baik saja", ujar Krystal.


"Iya kami baik-baik saja dan bagaimana dengan Ayah", ujar Leo.


"Seperti yang telah kalian lihat", ujar Ayah mertua nya itu.


"Bagus lah kalau Ayah juga baik-baik saja", ujar Leo.


"Ayah ayo kita masuk ke dalam", ajak Krystal.


"Ok!" Ujar Ayah nya.


"Kenapa wajah mu pucat sekali?" Tanya Ayah nya kepada Krystal ketika mereka sedang berjalan memasuki ruang tamu.


"Benarkah!" Ujar Krystal.


"Iya kamu tidak bisa menutupi nya dari Ayah", ujar Ayah nya.


"Ayah memang selalu mengerti dengan diri ku", ujar Krystal.


"Apa kamu mau aku antar ke rumah sakit pada saat ini juga?" Tanya Leo kepada istri nya itu.


"Iya lebih baik kalian pergi ke rumah sakit pada saat ini juga", ujar Ayah Diego.


"Ayah sangat khawatir melihat nya", ujar Ayah Diego lagi.


"Nanti saja setelah kita makan malam", ujar Krystal.


Lalu pada saat mereka sedang menaiki tangga untuk menuju ke ruang keluarga tiba-tiba saja Krystal pingsan.


Melihat itu Leo pun dengan sigap nya langsung menahan tubuh Krystal dan setelah itu Leo pun langsung membaringkan Krystal di atas sofa yang ada di ruang tamu kediaman keluarga besar Diego itu.


Sementara Ayah Diego juga sangat panik melihat Krystal yang tiba-tiba saja pingsan seperti itu dan beliau juga ikut membantu Leo membawa Krystal menuju ke atas sofa yang ada di ruang tamu kediaman nya itu.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.


Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2