Mafia Wedding Secrets

Mafia Wedding Secrets
Panen Buah


__ADS_3

Pagi ini Diego, Hanna dan Rey sedang berada di kamar tamu untuk melihat kondisi Clara.


"Clara", panggil Hanna sambil menepuk pelan tangan nya.


"Clara ayo bangun ini sudah pagi", ujar Hanna lagi.


"Siang ini kita akan pergi ke desa apa kamu tidak jadi ikut dengan ku?" Tanya Hanna.


Kemudian Clara bangun dan berteriak melihat Rey yang ada di samping nya.


"Apa yang kamu katakan kepada ku semalam?" Tanya Clara.


"Nanti saja aku katakan pada mu setelah kamu benar-benar sadar", ujar Rey.


"Ayo sarapan bersama dan setelah itu segera rapikan barang mu yang akan kamu bawa ke desa", ujar Hanna.


"Baiklah aku akan mandi dulu dan setelah nya aku akan pergi ke ruang makan", ujar Clara.


"Ok kami akan tunggu di ruang makan", ujar Hanna.


Kemudian Hanna, Diego dan Rey segera menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama sedangkan Clara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya disana.


"Kenapa Clara bisa pingsan semalam?" Tanya Hanna kepada Rey.


"Entahlah aku juga tidak tau", jawab Rey.


"Mungkin dia kaget dengan apa yang aku katakan", ujar Rey.


"Seperti nya kamu harus sedikit bersabar untuk itu", ujar Diego.


"Iya", ujar Rey.


Setelah makan bersama akhirnya Hanna dan Clara pergi ke desa yang mereka tuju. Saat ini mereka hanya berdua saja tanpa adanya Diego atau pun Rey yang ikut mengantarkan mereka.


Hanna tidak mau Diego dan Rey ikut pergi ke desa untuk mengantarkan mereka dan Hanna hanya ingin menikmati liburan nya kali ini berdua saja dengan Clara.


Mereka berdua telah menaiki mobil yang pernah Hanna tumpangi ke desa itu dan saat ini mereka sudah melakukan perjalanan yang lumayan panjang dan tentu nya dengan perasaan senang.


Saat mereka telah sampai di depan rumah Nenek Mina, Hanna dan Clara segera menuju ke depan pintu rumah dan mengetuk pintu itu dari luar.


Namun tak ada tanda-tanda kalau pintu itu akan dibukakan dari dalam. Lalu mereka melihat ke sekeliling rumah untuk mencari keberadaan Nenek Mina.


Setelah cukup lama mencari tetap saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Nenek Mina di rumah itu dan mereka memutuskan untuk menunggu kedatangan Nenek Mina di kursi yang ada di teras rumah Nenek Mina.


Karena Hanna dan Clara cukup kelelahan dengan perjalanan panjang yang telah mereka lalui akhirnya Hanna sudah mulai mengantuk dan pikiran Hanna sudah mulai melayang-layang.


Hanna sudah terlihat setengah sadar di atas kursi yang ia duduki itu sedangkan Clara tetap duduk sambil memerhatikan jalan yang ada di depan rumah Nenek Mina.


Setelah satu jam berlalu akhirnya Clara melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan di depan rumah Nenek Mina sambil membawa sebuah tas yang berisi jagung di dalam nya.


Orang yang pertama kali melintas dengan berjalan kaki di depan rumah Nenek Mina adalah wanita paruh baya itu jadi Clara memutuskan untuk bertanya kepada wanita paruh baya itu tentang keberadaan Nenek Mina.


"Bibi permisi", ujar Clara sambil menghampiri wanita paruh baya itu.


"Iya ada apa nona", jawab wanita paruh baya itu.


"Apa bibi mengetahui keberadaan Nenek yang tinggal di rumah ini?" Tanya Clara.


"Oh beliau seperti nya sedang berada di kota untuk mengecek kesehatan beliau", jawab wanita paruh baya itu.


"Apa! Di kota", ujar Clara.


"Lalu apa bibi tau kapan beliau akan kembali?" Tanya Clara lagi.


"Biasanya beliau kembali pada malam hari dan paling lama ketika pagi buta", ujar wanita paruh baya itu.


"Baiklah terima kasih Bibi", ujar Clara.


"Apa kamu adalah anggota keluarga dari Nenek Mina?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Bukan tapi beliau adalah kenalan dari teman ku yang sedang tidur di kursi itu dan mereka sudah berjanji untuk bertemu di rumah ini", jawab Clara.


"Lalu apa kalian akan terus menunggu disini?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Seperti nya begitu", jawab Clara.


"Lebih baik kalian tidur di penginapan saja malam ini dari pada tidur di depan rumah ini apalagi teman mu sudah sangat kelelahan seperti nya", ujar wanita paruh baya itu lagi.


"Iya apa ada penginapan di dekat sini?" Tanya Clara.


"Ada di ujung sana", jawab wanita paruh baya itu sambil menunjuk ke jalan yang ia lihat.


"Kalian berjalan lurus saja sekitar sepuluh menit kesana dan jangan pernah berbelok lalu kalian akan menemukan penginapan itu di sebelah kanan jalan ini", ujar wanita paruh baya itu lagi.


"Baiklah terima kasih Bibi", ujar Clara.


Lalu wanita paruh baya itu langsung pergi meninggalkan Clara dan melanjutkan kembali perjalanan nya untuk pulang ke rumah nya.


Karena Clara tidak tega untuk membangunkan Hanna akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Hanna tidur sebentar lagi.


Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya Clara membangunkan Hanna dari tidur nya dengan cara menggoyang-goyangkan pundak nya.


"Hanna", panggil Clara.


"Ayo bangun", ujar nya lagi.


"Ada apa?" Tanya Hanna.


"Apa Nenek Mina sudah pulang?" Tanya Hanna lagi.


"Belum ayo kita pergi ke penginapan yang ada di ujung sana", ujar Clara.


"Apa penginapan?" Tanya Hanna.


"Iya tadi aku sudah menanyakan keberadaan Nenek Mina ke warga yang ada disini tapi seperti nya beliau tidak akan kembali malam ini", ujar Clara.


"Mereka mengatakan paling cepat malam ini tapi kalau ternyata beliau tidak datang malam ini lalu kita akan tidur dimana", ujar Clara lagi.


"Aku tidak mau tidur di luar rumah seperti ini terlalu banyak nyamuk yang akan memakan darah ku", ujar Clara lagi.


"Kalua begitu baiklah kita akan pergi ke penginapan itu", ujar Hanna sambil berdiri.


Lalu mereka berdua segera berjalan menuju ke penginapan itu dan langsung memesan sebuah kamar disana.


Setelah masuk ke dalam kamar Hanna memutuskan untuk mandi terlebih dahulu kemudian ia langsung tertidur di atas tempat tidur.


Sedangkan Clara mandi setelah Hanna dan setelah itu ia memutuskan untuk memasak mie instan yang ada di dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Aku menonton TV saja sambil memakan mie instan", ujar Clara sambil melihat ke Hanna yang sedang pulas nya tertidur di atas tempat tidur.


"Seperti nya dia sangat kelelahan", ujar Clara lagi.


Lalu terdengarlah suara ponsel berdering dan itu adalah suara dari ponsel nya Hanna. Mendengar itu Clara langsung melihat siapa yang telah menelfon Hanna ketika waktu sudah mulai memasuki tengah malam begini.


"Diego", ujar nya.


Kemudian Clara segera mengambil ponsel Hanna yang ada di atas meja dan mengangkat penggilan dari Diego tersebut.


"Halo", ujar Clara.


"Clara dimana Hanna?" Tanya Diego.


"Dia sedang tidur", jawab Clara.


"Baiklah", ujar Diego.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada nya?" Tanya Clara.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kalian telah sampai dengan aman", ujar Diego.


"Kami sudah sampai disini dari tiga jam yang lalu dan sekarang kami sedang beristirahat", ujar Clara.


"Baiklah aku akan melanjutkan pekerjaan ku lagi", ujar Diego.


"Ok", ujar Clara.


Lalu panggilan telpon itu segera berakhir dan Clara meletakkan kembali ponsel Hanna di atas meja.


"Apa yang Hanna pikirkan sampai lupa mengabari suami nya", ujar Clara.


"Dan ia juga tidak mengangkat penggilan telfon dari Diego", ujar nya lagi.


Kemudian Clara segera melanjutkan memakan mie instan itu lagi sambil menonton TV yang ada di dalam kamar mereka.


***


Rumah Nenek Mina


Pagi hari jam sembilan pagi Hanna dan Clara telah berada di dalam rumah Nenek Mina.


Mereka saat ini sedang makan pagi bersama sambil bercerita satu sama lain nya.


"Aku sudah kenyang", ujar Hanna.


"Siang ini Nenek akan pergi memetik buah yang ada di kebun jadi apa kalian mau ikut dengan ku?" Tanya Nenek Mina.


"Tentu saja", jawab Hanna.


"Iya aku mau", ujar Clara.


"Baiklah kalau begitu Nenek akan menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat selai buah nanti sore", ujar Nenek.


"Baiklah kami hanya akan menunggu disini sampai Nenek mau pergi ke kebun itu", ujar Hanna.


Kemudian Nenek Mina segera pergi ke warung yang ada di desa itu untuk membeli keperluan membuat selai buah nanti sore.


"Waktu kita hanya malam ini saja untuk bisa menginap disini", ujar Hanna.


"Iya apa kamu akan berangkat besok ke Amerika?" Tanya Clara.


"Besok aku akan menyiapkan segala keperluan untuk pergi kesana", ujar Hanna.


"Jadi apa besok pagi kita pulang ke kota?" Tanya Clara.


"Seperti nya kita akan pulang ke kota pada malam hari", ujar Hanna.


"Baiklah", ujar Clara.


***


Kediaman Diego


Saat ini Diego sedang berada di dalam ruangan rahasia milik nya dan ia tampak sedang mengeluarkan emas batangan yang ada di dalam tas yang di bawa nya.


Satu persatu Diego mengeluarkan emas batangan itu dan menyusun nya dengan rapi di atas tumpukan emas batangan milik nya yang sudah ada disana.


Ruangan itu tampak sangat berkilau sekali dengan cahaya yang dihasilkan oleh emas batangan yang ada disana.


Setelah menyusun semua emas batangan itu Diego segera menutup kembali pintu ruangan rahasia itu dan ia duduk di ruang perpustakaan rahasia milik nya.


"Seperti nya berbisnis dengan Alexander sangat menguntungkan", ujar Diego.


Kemudian Diego segera mengambil ponsel milik nya dan menghubungi Alexander.


"Halo", ujar Diego.


"Halo Diego", ujar Alexander.


"Bagaimana kabar mu sekarang?" Tanya Alexander.


"Tentu saja aku baik-baik saja", jawab Diego.


"Bagaimana dengan mu?" Tanya Diego.


"Aku baik tapi sedang kesusahan untuk memulai bisnis baru", ujar Alexander.


"Bisnis baru", ujar Diego.


"Iya aku sedang mencoba untuk memulai bisnis kokaina", ujar Alexander.


"Kokaina?" Tanya Diego.


"Iya Kokaina", jawab Alexander.


"Apa kamu tertarik untuk berbisnis dengan ku kali ini?" Tanya Alexander.


"Sebelum nya kita telah berbisnis sabu-sabu dan kamu juga telah melihat keuntungan nya bukan", ujar Alexander.


"Berapa yang kamu tawarkan kali ini?" Tanya Diego.


"Karena bisnis kokaina ini masih baru untuk ku jadi aku akan memberikan harga terendah pada mu", ujar Alexander.


"Berapa yang tersedia saat ini?" Tanya Diego lagi.


"1000 ton", jawab Alexander.

__ADS_1


"Baiklah kita akan mulai kerja sama ini dan anggota ku akan mengurus semua nya dengan mu", ujar Diego lagi.


"Baiklah untuk merayakan kesepakatan ini aku akan mengundang mu untuk datang ke acara ku dan aku akan menyambut kedatangan mu dengan meriah", ujar Alexander.


"Baiklah aku akan datang dan kamu atur saja kapan waktu yang tepat untuk itu" ujar Diego.


"Baiklah", ujar Alexander.


Kemudian panggilan telfon itu berakhir dan Diego segera kembali ke dalam kamar nya.


***


Rumah Nenek Mina


Saat ini Nenek Mina, Hanna dan Clara telah bersiap-siap untuk pergi ke kebun.


Mereka tampak memakai pakaian yang terlihat santai dan cocok untuk cuaca saat ini.


Mereka telah keluar dari rumah Nenek Mina dan berjalan menuju ke kebun Nenek Mina yang tak jauh berada dari rumah nya.


Setelah sampai di kebun mereka langsung bahagia dengan apa yang ada di depan mereka saat ini.


"Wah Nenek", teriak Hanna.


"Banyak sekali buah nya", ujar Hanna.


"Iya banyak sekali", ujar Clara.


"Ayo kita mulai memetik nya dan kalian bisa memasukkan buah itu ke dalam keranjang ini", ujar Nenek Mina.


"Baiklah", ujar Hanna dan Clara bersamaan.


Kemudian mereka segera memulai memetik buah pear singo yang ada disana dan tentu nya mereka melakukan itu dengan sangat senang hati.


"Apa boleh aku memakan nya?" Tanya Hanna.


"Makan saja tidak apa-apa", jawab Nenek setelah mendengar pertanyaan Hanna.


Kemudian Hanna memetik buah pear singo itu dan menggesekkan buah itu di baju nya lalu setelah itu Hanna baru memakan buah itu.


"Apa enak?" Tanya Clara.


"Tentu saja", jawab Hanna.


"Kamu coba saja sendiri", ujar Hanna.


Kemudian Clara segera memetik buah itu dan mencoba nya.


"Iya buah ini enak", ujar Clara.


Mereka memetik buah itu dengan penuh semangat dan kemudian setelah keranjang yang mereka bawa sudah dipenuhi oleh buah mereka segera kembali ke rumah Nenek Mina.


Setelah sampai di rumah Nenek Mina akhirnya mereka di suruh oleh Nenek untuk mencuci semua buah itu di pancuran air yang ada di samping rumah.


Setelah semua buah itu dibersihkan kemudian buah itu dimasukkan ke dalam sebuah panci yang lumayan besar untuk di masak sampai meleleh.


Nenek menyuruh Hanna dan Clara untuk mengaduk buah itu secara bergantian.


Setelah cukup lama mengaduk buah yang ada di dalam panci itu akhirnya semua buah itu telah meleleh dan kemudian Nenek Mina memasukkan gula pasir yang cukup banyak ke dalam nya.


"Aduk lagi sampai gula itu tercampur dengan rata", ujar Nenek Mina.


"Baiklah", ujar Hanna dan Clara bersamaan.


Kemudian mereka melanjutkan kembali untuk mengaduk buah itu dengan sekuat tenaga mereka karena tekstur buah yang telah tercampur dengan gula pasir itu sudah mulai lengket dan cukup susah untuk di aduk dengan rata.


"Jangan sampai di bawah nya hangus", ujar Nenek.


"Baiklah", ujar Hanna dan Clara bersamaan.


Setelah mereka selesai membuat selai buah akhirnya mereka bisa beristirahat dengan santai nya di depan TV sambil memakan cemilan yang telah mereka bawa dari kota.


"Cemilan ini enak aku menyukai nya", ujar Nenek.


"Kalau begitu Nenek makanlah yang banyak kami telah membawa cemilan itu dengan jumlah yang banyak kesini", ujar Hanna.


"Baiklah", ujar Nenek.


"Kita akan membuat makan malam apa sekarang?" Tanya Clara.


"Nenek sudah memasak beberapa makanan sewaktu kalian membuat selai itu dan sekarang hanya tinggal memetik buah mentimun dan daun selada untuk lalapan", ujar Nenek.


"Baiklah kami akan memetik nya", ujar Clara.


"Mentimun dan daun selada ada di samping rumah dekat dengan kandang ayam", ujar Nenek Mina.


"Baiklah", ujar Hanna.


Kemudian Hanna dan Clara segera menuju ke halaman samping rumah dan segera memetik buah mentimun yang ada disana begitu pun dengan daun selada.


"Kita ambil yang seperlunya saja", ujar Clara.


"Iya aku tau", ujar Hanna.


Setelah mereka memetik buah mentimun dan daun selada itu akhirnya mereka segera berjalan menuju ke teras rumah Nenek Mina.


Saat mereka telah sampai di teras rumah tiba-tiba Clara kaget dengan apa yang ia lihat.


"Hanna", ujar Clara.


"Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Hanna.


"Lihat itu", ujar Clara sambil melihat ke orang yang sedang berjalan di depan rumah Nenek Mina.


"Siapa dia, apa kamu mengenal nya?" Tanya Hanna.


"Dia adalah pelayan Lee", bisik Clara.


"Apa!" Teriak Hanna.


Mendengar teriakan Hanna langsung saja membuat pelayan Lee berhenti sejenak di depan rumah Nenek Mina dan melihat ke arah mereka.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.


Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2