
Hotel Di Dekat Perbatasan Kota
Saat ini Alex sedang menunggu kedatangan Ara di hotel yang telah di pesan nya itu karena pada hari ini ia telah berjanji dengan Ara untuk bertemu di hotel tersebut.
Hari ini Ara berniat untuk memberikan narkotika yang akan di beli nya di rumah mewah itu kepada Alex dan proses serah terima narkotika itu akan mereka lakukan di salah satu kamar hotel yang telah di pesan oleh Alex itu.
Namun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul enam sore dan belum juga ada tanda-tanda kedatangan Ara di hotel itu.
Padahal sebelum nya Ara telah mengatakan kepada Alex kalau diri nya akan datang ke hotel itu paling lambat jam empat sore karena Ara akan langsung pulang ke kediaman nya pada sore itu juga.
Karena sudah telat dua jam dari waktu yang telah di sepakati maka Alex pun langsung berusaha untuk menghubungi Ara dan sayang nya nomor telpon Ara tidak aktif.
Hal itu tentu saja membuat Alex merasa curiga dengan apa yang sedang terjadi saat ini karena Ara tidak pernah bersikap seperti ini kepada nya apa lagi sampai bersikap tidak disiplin seperti ini.
"Kemana dia pergi?" Tanya Alex.
"Apa jangan-jangan dia sedang mabuk di dalam rumah mewah itu", ujar Alex lagi.
"Atau dia sedang menggunakan benda terlarang itu disana", ujar Alex lagi.
"Aku tidak bisa menunggu seperti ini terus apa lagi ponsel nya tidak bisa di hubungi", ujar Alex lagi.
Lalu Alex pun segera mengambil jaket nya yang berada di atas sofa kamar hotel nya itu dan setelah itu ia pun langsung berjalan menuju ke parkiran mobil.
Setelah berada di parkiran mobil Alex pun langsung masuk ke dalam sebuah mobil yang telah ia sewa itu dan mobil itu lah yang rencana nya akan ia gunakan untuk membawa benda terlarang yang akan di serahkan oleh Ara kepada nya itu.
Setelah berada di dalam mobil nya Alex pun langsung melajukan mobil nya itu menuju ke rumah mewah yang ada di dekat perbatasan kota itu untuk melihat situasi dan kondisi yang sedang terjadi di rumah mewah itu saat ini.
Alex ingin memata-matai rumah mewah itu agar ia mengetahui dimana keberadaan Ara saat ini.
***
Kediaman Keluarga Hanna
Saat ini semua orang telah selesai makan malam bersama dan setelah itu mereka semua pun duduk di teras yang ada di depan kediaman itu.
"Apa ada yang mau kue?" Tanya Ibu Hanna kepada semua orang yang ada di teras depan rumah itu.
Lalu Krystal pun langsung menganggukkan kepala nya kepada Ibu Hanna dan kemudian Krystal pun ikut pergi ke dapur bersama dengan Ibu Hanna untuk mengambil kue yang akan di berikan oleh Ibu Hanna kepada nya itu.
Awal nya Ibu Hanna melarang Krystal untuk ikut dengan diri nya pergi ke dapur dan beliau berniat menyuruh Bibi Im untuk membawakan kue itu ke teras depan rumah.
Namun Krystal meminta kepada Ibu Hanna untuk pergi menemani nya ke dapur dan Krystal ingin mengambil kue itu sendiri walau pun Ibu Hanna kelihatan bingung dengan sikap Krystal itu tapi beliau tetap menemani Krystal untuk pergi ke dapur.
Setelah sampai di dapur dan sedang memotong kue itu tiba-tiba saja Krystal bertanya kepada Ibu Hanna mengenai obat yang ada di dalam saku piyama tidur nya itu.
__ADS_1
Melihat obat yang ada di tangan Krystal itu langsung saja membuat Ibu Hanna kaget dan kemudian beliau pun langsung menyuruh Krystal untuk menyimpan obat itu kembali ke dalam saku piyama nya itu agar tidak ada orang lain yang melihat nya selain mereka berdua.
Namun pada saat mereka berusaha untuk menyembunyikan obat itu tiba-tiba saja Nenek Hanna datang dari arah belakang Ibu Hanna dengan wajah yang terlihat sangat bahagia nya itu.
"Berikan obat itu kepada ku", ujar Nenek Hanna kepada Krystal.
"Apa!" Ujar Ibu Hanna dengan kaget dan begitu pun dengan Krystal.
"Dari mana kamu dapat obat itu?" Tanya Nenek Hanna kepada Krystal.
Lalu Krystal pun menjelaskan kalau ia menemukan obat itu di atas meja yang ada di dekat tangga.
Sewaktu Krystal sedang menunggu Leo di depan pintu kamar nya tiba-tiba saja pandangan mata nya itu tertuju ke sebuah meja yang ada di dekat kamar nya itu.
Meja itu letak nya di seberang kiri tangga dan tepat nya berada di samping pintu kamar Krystal dan Leo.
Krystal melihat di atas meja itu ada sebuah kotak obat dan kebetulan pada saat itu pinggang nya sakit dan Krystal pun berniat ingin mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk meringankan sakit pinggang nya itu.
Setelah membuka kotak obat itu tak sengaja Krystal melihat ada sebuah obat yang belum pernah ia lihat sebelum nya dan karena itu lah ia berinisiatif untuk mengambil obat itu dan kemudian Krystal berniat untuk menanyakan mengenai kegunaan obat itu kepada Ibu Hanna.
Karena itu lah obat itu bisa berada di tangan Krystal dan setelah mendengarkan penjelasan dari Krystal itu Ibu Hanna dan Nenek Hanna pun juga bertanya kepada Krystal apa ia sudah menggunakan obat itu sebelum bertemu dengan mereka dan Krystal pun hanya menggeleng-gelengkan kepala nya menanggapi pertanyaan dari Nenek Hanna itu.
"Bagus lah jika kamu belum menggunakan nya", ujar Nenek Hanna kepada Krystal.
"Memang nya kenapa Nek?" Tanya Krystal.
"Aku juga tidak tau tapi lebih baik kamu jangan menggunakan nya dari pada terjadi apa-apa kepada bayi mu nanti", ujar Nenek Hanna.
"Iya itu benar", ujar Ibu Hanna.
"Lalu obat itu untuk apa?" Tanya Krystal lagi.
"Obat ini untuk menambah gairah bagi sepasang suami istri", ujar Nenek Hanna lagi.
"Apa! Untung saja aku tidak mengkonsumsi nya", ujar Krystal.
"Obat ini Nenek beli untuk Diego dan Hanna agar mereka selalu di penuhi dengan hasrat yang menggebu-gebu sehingga banyak peluang untuk bisa memberikan keturunan ke depan nya", ujar Nenek Hanna lagi.
"Ibu apa itu tidak terlalu berlebihan?" Tanya Ibu Hanna kepada Nenek Hanna.
"Tenang saja mereka akan baik-baik saja apa lagi saat ini mereka terlihat sangat menginginkan keturunan jadi ini lah satu-satu nya cara bagi kita untuk bisa membantu mereka", ujar Nenek Hanna lagi.
Mendengar perkataan Nenek Hanna yang seperti itu tentu saja membuat Ibu Hanna dan Krystal hanya bisa diam di buat nya karena mereka berdua tidak berani menyanggah perkataan Nenek Hanna itu.
***
__ADS_1
Gedung Sekolah Tidak Terawat
Saat ini Ara sedang berada di dalam suatu ruangan yang kosong dan terlihat sangat berantakan sekali karena ruangan itu sudah lama tidak di gunakan dan juga tidak pernah di bersihkan.
Ara masih di dalam posisi terikat dan saat ini Ara sedang di ikat di sebuah kursi yang ada di tengah-tengah ruangan itu.
Selain Ara di dalam ruangan itu juga ada seorang laki-laki yang merupakan seorang penjaga yang telah membawa nya pergi dari rumah mewah yang ada di dekat perbatasan kota itu.
Saat ini Ara tampak sedang ketakutan melihat pria itu dan Ara hanya bisa diam saja tanpa berniat untuk bertanya kepada pria itu karena Ara takut salah berbicara di dalam kondisi yang tidak berdaya seperti ini.
Suasana hening itu hanya berlangsung sebentar saja sampai pria itu telah selesai menghisap sebatang rokok yang ada di tangan nya itu.
"Dimana Branden?" Tanya pria itu kepada Ara.
Ara yang mendengar nama Branden itu pun baru sadar kalau pria ini ternyata mempunyai urusan dengan Branden dan seketika itu juga Ara juga teringat dengan perkataan Branden kepada nya kalau ia tidak boleh menggunakan nama Branden dimana pun ia berada.
Karena telah mengalami kejadian yang seperti ini Ara pun baru sadar kalau ia telah menganggap remeh perkataan Branden kepada nya itu dan Ara pun juga merasa menyesal karena ia tidak mendengarkan perkataan Branden itu apa lagi sebelum nya Ara merasa kalau Branden cukup peduli kepada nya.
"Aku tidak tau", ujar Ara kepada pria itu.
Lalu pria itu pun langsung melempar sebuah kursi kosong yang sebelum nya ia duduki itu.
"Jangan main-main dengan ku kalau kamu masih ingin ke luar dengan selamat dari tempat ini", ujar pria itu kepada Ara.
Lalu pria itu pun mulai mendekati Ara dan mengelus-ngelus rambut Ara dengan menggunakan tangan kanan nya.
"Katakan atau hidup mu akan berakhir hari ini", ujar pria itu lagi sambil menarik rambut Ara.
Ara yang sudah ketakutan dari tadi itu pun langsung menangis di buat nya dan air mata nya pun sudah mulai membasahi pipi nya itu.
"Aku akan memberikan mu kesempatan satu kali lagi untuk menjawab pertanyaan dari ku ini kalau tidak kamu akan mati di tangan ku hari ini juga", ujar pria itu lagi sambil mengeluarkan pisau kecil dari dalam saku celana nya.
Ara yang melihat itu pun langsung membelalakkan mata nya dan Ara juga tidak berani menatap mata pria itu karena ia sangat kaget dengan apa yang sedang terjadi kepada nya saat ini.
"Cepat jawab pertanyaan ku dimana Branden saat ini?" Tanya pria itu lagi.
"Dia ada di dalam apartemen nya", ujar Ara sambil bergetar melihat pisau yang ada di tangan pria itu.
"Kamu tunggu disini sampai aku menemukan nya disana dan kalau dia tidak berada disana maka hidup mu akan berakhir hari ini", ujar pria itu lagi.
Lalu pria itu pun segera pergi meniggalkan Ara sendirian di dalam ruangan kosong itu sedangkan Ara hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil melihat ke arah pintu ruangan kosong itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu kisah selanjutnya di episode berikut nya.
__ADS_1
Jangan lupa di like, komen dan masukin ke dalam keranjang ya, agar author lebih semangat lagi untuk menulis, terima kasih.
Bersambung...