
Orang tua mereka kini sudah pergi,sekarang tinggal mereka berdua di depan pintu villa.
"Masuk yuk,kita laksanakan perintah orang tua kita!"ajak Aldi sembari menarik tangan Yana.Sebenar nya dia hanya bercanda untuk mengerjai Yana.
"Ogah!, lo aja sendiri"Yana menepia tangan suami nya lalu masuk mendahului Aldi.
Yana merebahkan tubuh nya di kasur,dia berpikir keras tentang hubungan mereka kedepan nya.
"Kata nya gak mau,nyata nya nungguin juga"ucap Aldi sembari berjalan ke arah ranjang.Dia pun ikut merebahkan tubuh nya di sana.
Melihat Aldi ikut berbaring,Yana pun duduk di kepala ranjang,suami nya pun ikut duduk juga.
"Kita harus menyelesaikan masalah ini,Al."kata Yana tanpa menoleh.
"Iya Lo bener"sahut Aldi.
"Kalau bisa besok kita kepengadilan,dan mengurus semua nua disana"Yana memberi saran.
"Gak semudah itu Yan! Gue udah janji sama bokap gue kalau kita gak bakalan cerai"
Akhir nya Aldi memberitahu yang sebenar nya.
"Itu masalah lo,kita gak mungkin terus terusan berpura pura bahagia di depan mereka"Yana menatap sekilas ke arah Aldi lalu memalingkan pandangan nya lagi ke arah lain.
Wanita itu hanya tidak mau jatuh cinta kepada Aldi,karena dia tahu suami nya itu begitu dingin terhadap diri nya.
"Biar kita tahan dulu selama enam bulan,setelah itu baru kita berpisah" ujar Aldi.
Yana ingin protes,tapi Aldi segera memyela.
"Gue gak akan nyentuh lo!,kita berperilaku sebagai suami istri di depan orang tua dan Novi saja.selain itu kita tetap hanya rekan kerja"sambung Aldi.
"Apa untung nya sama gue? Enak di lo aja dong!" Yana tidak terima.
"Lo bisa menghargai pengorbanan orang gak sih? Kalau gue udah nolong lo pas lo mau kawin waktu itu,lo juga harus mau nolong gue dong"ucao Aldi,nada suaranya meninggi satu oktaf.
"Jadi lo mengharapkan imbalan,Ck"Yana tersenyum mengejek.
Aldi memejamkan mata nya erat,siapapun tolong beri tahu Yana jika saat ini Aldi sedang emosi.
Aldi membuka mata nya lalu mendorong tubuh Yana sekuat mungkin ke kepala ranjang,manik mata mereka menatap satu sama lain.jantung Yana tiba tiba berdetak kencang dia sangat takut dengan tatapan Aldi barusan.
Yana menggembuskan nafas kasar,lalu menepis tangan kekar Aldi,dia merasa sesak nafas sehingga dia ingin mencari udara di depan villa nya.yana pun langsung bangkit dari ranjang tapi Aldi kembali menahan nya dengan mencengram kuat pergelangan tangan Yana.
"Aakkh,sakit Taher!"
"Lo jangan asal tuduh gue yang macam macam ya"ucap Aldi dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Kan benar gue,barusan lo minta di balas kebaikan nya"sahut Yana.
"Itu maksud nya biar lo bisa menghargai kebaikan orang lain aja"ujar Aldi
"Sama saja lo mengharap balasan atas kebaikan lo" Yana tidak mau kalah.
"Aiishh,ada ya cewe keras kepala"umpat Aldi.
"Ada! Dan dia sekarang berada di depan mata lo" jawab Yana.
"Argg,kenapa lo gak jadi istri penurut aja? Biar kita gak perlu berdebat"tanya Aldi dengan mata tajam.
Yana menyeringai,dia tidak gentar di tindas seperri itu oleh aldi,karena dia bisa kapan saja mematahkan tulang suami nya kapan saja,dia tersenyum.lalu mendekatkan bibir nya ke bibir Aldi kini jarak nya tinggal satu centi saja.Aldi merasa gugup,tapi ada sorongan untuk menyambut bibir seksi itu.saat dia ingin mendekat kan bibir nya juga Yana langsung menghidar dan menjulurkan lidah nya.
"Blekk,dasar mesum"ejek Yana sembari berlaei ke luar kamar villa.
"Ck,sialan! Apa yang lo ingin lakuin tadi hey"teriak Aldi pipi nya merah menahan rasa malu di perlakukan seperti itu oleh Yana.
__ADS_1
Sedangkan istri nya itu sedang tertawa berbahak bahak melihat ekpresi Aldi yang seperti itu,padahal dia cuma ingin mengerjai Aldi saja.
***
Hari berikut nya,tidak ada yang berbeda. pasangan pengantin baru itu terus saja berantam dan mempermasalahakan tentang perceraian.
"Sudah lah Yana! Gue bosan ngebahas ini terus"bentak Aldi wajah nya terlihat sangar.
Prakkk
"Wajah lo gak usah di buat sangar gitu! Gue gak akan takut.kalau gue gak bahas itu pernikahan ini gak akan berakhir"Ujar Yana sembari menyoyor wajah Aldi.
"Pasti bakalan berakhir Yan,karna kita tidak saling cinta Lo tenang aja!" Ucap Aldi,yang penting perdebatan ini berakhir.
Mira dan leon sedang berbelanja ke pasar,untuk kebutuhan mingguan.sejak menikah mira yang meminta untuk diri nya saja yang berbelanja,pertama Leon melarang nya tapi setelah melihat tatapan mira yang datar dia akhir nya menuruti keinginan istri nya.bahkan dia yang menemani Mira ke pasar.
"Aduh,bau banget"gumam Leon sembari menutup hidung nya.yah setiap dia menemani mira ke pasar dia selalu seperti itu,tapi demi mendapatkan senyuman dari istri cantik nya dia pun terpaksa melakukan nya.
Saat ini mereka sedang berjalan ke arah tukang ayam.
"Gimana sih bang? Saya bilang potong tiga aja kenapa malah jadi potong enam?" Nada Suara Mira meninggi saat tukang ayam langangan nya di pasar ini salah memotong.bang Ijul malah menyengir kuda mendemgar omenalan dari nyonya Karl.
Leon merasa bingung mengapa istri nya bisa marah seperti itu,karena setahu nya Mira sangat ramah kepada siapapun.
"Yaudah bang ganti aja,buat yang bagaimana istri saya bilang!"ujar Leon,bang ijul mengangguk dan memotong ayam nya lagi yang baru
"Mbak jangan sensian gitu dong! Nanti cantik nya hilang lho" ujar penjual ayam sembati fokus ke ayam nya,dia takut dia akan salah potong.
Mendengar itu Mira semakin kesel bibir nya manyun seperti kuda.
"Jangan cemberut gitu mbak! Pasti lagi dapet yah.maka nya hari ini marah marah aja" bang ijul masih saja bercanda.
Mira mengingat terakhir kali dia datang bulan,yaitu bulan kemaren dan bulan sekarang tanggal nya sudah lewat.Dia tidak terlalu memikirkan itu karena badan nya terasa lemas.
"Jangan godain istri saya terus dong bang!" Akhir nya emosi Leon meledak juga.penjual itu hanya tersenyum kikuk memahan malu.
Leon yang memakai baju formal dan jas sangat mencolok disana,hanya dia sendiri yang beda disana.dengan membawa sayur mayur di tangan kanan dan kiri,dia sangat kesusahan sekarang.
"Ih mbak,suami nya ganteng banget mana gagah lagi" ucap seorang penjual buah yang masih terlihat muda.Leon hanya menatap lurus tanpa memperdulikan ocehan para penjual itu.karena dia memang orang yang terkesan tidak perduli dengan omongan orang.
Kini mereka sudah sampai di dalam mobil,wajah Mira masih saja cemberut perihal ayam yang tadi salah potong.
"Senyum dong sayang! Wajah nya masih aja cemberut" ucap Leon melihat ke arah istri nya.
"Habis nya tukang ayam gak dengerin apa kata aku"jawab Mira dengan suara yang sedikit manja.baru kali ini dia berucap seperti itu tapi leon tampak suka.
"Kan udah abang suruh di betuli sama kang ayam nya"ucap Leon sembari memeluk istri nya dari samping.
Bukan nya senang,Mira malah menangis seperti anak kecil.
"Lho kok nangis sih yank?"
Mira pun juga sama,dia tidak tahu mengapa diri nya bisa seperti ini.
Mereka pun melanjutkan perjalanan,di lampu merah leon melihat toko buah,lalu memutar sedikit mobil nya dan memarkirkan mobil nya di depan toko buah.
"Mau beli buah apa sayang?" Tanya Mira ketika tahu mobil mereka parkir di toko buah.
Leon berpikir sebentar,entah mengapa tiba tiba saja dia ingin sekali memakan rujak.seumur hidup nya dia tidak pernah memakan makanan itu.apalagi makanan pinggir jalan dia sama sekali belum pernah merasakan nya.tapi sekarang lidah nya ingin merasakan makanan itu.
"Mau beli buah yang biasa bisa bikin rujak sayang!" Ujar Leon sembari keluar dari mobil nya.
"Heuh? Rujak?" Mira tertawa kecil melihat kelakuan suami nya,tadi dia yang aneh sekarang suami nya.
Mira ikut keluar dari dalam mobil dan mengikuti suami nya ke toko buah.
__ADS_1
"Jangan jangan abang lagi ngidam? "Bisik Mira,dia hanya bercanda tanpa tahu memang dia sekarang lagi berada di fase itu.
"Masa abang yang ngidam? ya kamu lah! Nama nya juga manusia kadang kalau lagi pengen harus di turuti" ucap Leon sembari menaik turunkan alis nya.
"Heran aja! Emang makanan pedes gitu perut abang nanti tahan?" Mira khawatir dengan keadaan lambung suami nya.
"Tahan lah,kan cuma icip doang!" Sahut Leon
"Kalau cuma icio mending kita beli yang udah jadi,biasa nya ada di deoan gang rumah" ujar Mira.
"Abang gak mau kakau yang udah jadi"
"Yaudah deh,biar di buatin sama bi inur "gumam Mira.
"Gak mau"
"Trus mau di buatin sama mbak penjual buah?" Skak Mira.
Leon mulai berpikir sejenak,sebenar nya dia ingin rujak buatan istri nya tapi dia tidak mau istri nya ini kecapean.
"Ee kalau kamu yang buatin buat abang mau gak?"
"Ya mau lah,kerjaan sekecil itu aja mah gampang"
Leon tersenyum senang keinginan aneh nya siang hari ini bisa terpenuhi.
"Istriku pasti bakalan sangat seski saat mengulek sambal " batin Leon
Sampai di rumah Mira lanhsung menuju kamar mandi dan mangambil benda oipih persegi panjang dari laci yang sudah dia beli sejak lama,dia pun melakukan step by step untuk mengetahui apakah diri nya benar benar hamil atau perasaan nya saja.
Selang beberapa menit,dia melihat hasil tes nya di kamar mandi.
Sepasang netra berwarna coklat itu hampir saja meloncat dari tempat nya.batin nya bergetar hebat,dia berusaha menutupi jeritan yang akan keluar dari mulut nya,saat melihat hasil yang di tunjukkan benda berbentuk persegi panjang itu.
Mira terjatuh duduk di sudut kamar mandi,hasil tets itu dia gemgggam erat,dia tidak menyangka kalau diri nya akan menjadi seorang ibu sekarang.
Berkali kali dia menampar pipi nya berharap dia tidak bermimpi,dan ternyata dia merasakan sakit. Yah dia tidak bermimpi sekarang semua ini nyata,Dia sedang hamil.
Rasa tidak enak pada tubuh nya dan mood nya yang berubah ubah beberapa hari trakhir ini,ternyata berasal dari sebuah janin yang tumbuh di rahim nya.
Buah hati,yang selama ini mereka nantikan.buah hati yang selalu di tanyakan oleh mertua dan ibu nya, sekarang sudah ada di dalam perut Mira.
"Sayang!.."
Suara ketukan pintu mengejutkan Mira,itu adalah suara suami nya memanggil dari luar.karena sudah sedikit lama Mira terdiam di dalam kamar mandi.
"Sayang,kamu ada di dalam kan? Buka pintu nya dong!" Ucao Leon khawatir dari luar.
Mira melap air mata yang kekuar begitu saja dari kelopak mata nya,dia pun membuka pintu kamar mandi yang tadi dia kunci
Cklek.
"Iya sayang,maaf ya lama" ucap Mira suara nya parau.
"Kamu habis mandi? Kok gak basah" tanya Leon mendelik dia memperhatikan wajah istri nya intes.
Mira pun memberikan benda pipih itu ke tangan suami nya.
Garis dua berwarna merah terlihat jelas di benda itu,Leon yang sedikit paham kegunaan benda itu langsung mengangkat Mira ke ranjang dan memeluk istri nya disana.
"Ini beneran sayang? Kamu gak lagi bercanda kan? "Tanya Leon.
"Iya bener bang! Aku juga gak nyangka akhir nya kita di beri kepercayaan untuk merawat seorang anak" jawab Mira mereka pun menangis bersama.
Leon bersujud,bersimpuh di lantai kamar nya Bersyukur, atas apa yang dia dapatkan hari ini.
__ADS_1
***