
Lima belas tahun kemudian..
Kini anak pertama Mira telah tumbuh menjadi anak remaja,lelaki yang perawakan wajah yang hampir sempurna.hidung mancung dan memiliki lesung pipi di sebelah kiri,badan nya yang tinggi membuat siapapun perempuan yang melihat nya akan langsung jatuh cinta.
Prilaku yang sangat ramah terhadap orang baru dan sayang kepada orang tua.
Dan hari ini,dia akan melalukan MOS di sekolah SMP N1 Nusa,dia memilih untuk menyamar menjadi orang biasa tanpa harus di antar ke sekolah menggunakan mobil mewah.
Dia meminta kepada ibu nya untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan angkot.
"Bang Tian yakin gak mau di antar ke sekolah?" Mira memastikan permintaan Putra sulung nya.
"Iya ma,Tian mau lihat siapa yang benar-benar tulus berteman dengan Tian"jawab putra nya.
"Gak ada teman yang tulus! Kamu akan percaya setelah menjalani nya"ucap Leon,dia tidak mempercayai orang yang baru ia kenal walaupun orang itu benar-benar baik.
"Its ok"ucap Tian,dia malas berdebat dengan papa tampan nya ini.
"Oy kenalin, nama ku Bonar"seorang laki-laki menghampiri Tian yang sedang duduk termenung sembari melihat orang-orang yang sedang bercanda dengan teman-teman nya.
"Tian"
"Kenapa kau duduk sendiri? Gak ada teman kau?" Tanya Bonar,dengan logat medan nya.
"Belum ada"jawab Tian.
"Berarti sekarang kita berteman,kalau kau mau"celetuk Bonar.
"Iya aku mau"
Benar apa yang ada dipikiran nya, ketika dia memilih untuk tidak menunjukkan jika dia anak orang yang punya.hanya satu orang yang mengajak nya berteman.
"Gimana hari ini? Dapat banyak teman ?"Mira dengan antusian membuka dasi berwarna biru itu dari kerah baju putra nya.
"Hari ini Tian dapet satu teman,yang benar-benar kocak"jelas Tian.
"Pas kenalan sama Tian dia bilang nama nya Bonar,lah pas di panggil absen nama nya Rendy.udah gitu ngomong nya gak pernah serius"
"Seneng dong kamu!"
__ADS_1
"Iya dong"
Tian membuka sepatu nya lalu membawa kaos kaki yang bau nya melebihi trasi ke arah sang adik,lalu meletakkan nya di hidung adik nya.
"Ih mama,abang ni gangguin adek aja"Zea hampir kehilangan nafas saat kaos abang nya yang aroma kurang ajar.
Zea adalah anak kedua,sifat yang sedikit manja dan tidak mau kalah,kecuali sama abang nya satu ini.
***
Sementara di jakarta,Chelsee juga baru saja masuk sekolah.beda nya dia dimasukkan pondok pesantren atas kemauan nenek nya Selvi.
Dia merasa hidup nya tertekan di dalam pesantren sana.jika di rumah dia akan bangun pukul tujuh maka disini dia harus bangun pukul 05 untuk mengikuti kegiatan pesantren,jam bangun nya kini di korting dua jam dan dia sangat menderita.
Satu malaman dia akan menangis memikirkan nasip nya yang ada di dalam pesantren ini,dan pagi nya mata nya akan sembab seperti sekarang ini.
"Mata kamu kenapa Chel? Kamu nangis lagi?" Tanya ustazah yang memperhatikan nya wajah Chelsee yang sedang menunduk.
"Kamu dengerin ustazah ya,kalau kamu iklas berada disini maka allah akan mempermudah kamu untuk menjalani kehidupan di pesantren ini"
"Tapi kalau kamu terus-menerus mengeluh,hidup mu akan terasa berat"ustazah mencoba memberi siraman rahani kepada Chelsee yang hidup nya merasa tertekan
"Iya Ustazah"
Bruukk
Akhir nya dia telah keluar dari pesantren,dia berjalan jauh,tanpa tahu tujuan yang akan di tempuh,karena jika dia pulang maka dia akan dipaksa untuk kembali ke pesantren.
Dia mencoba ke rumah teman baik nya,berharap sang teman dapat menolong diri nya satu malam saja.
Dan kini dia telah sampaiĀ Di rumah susanti.
"Ada Chell?"tanya Susanti ketika melihat Chelsee tengah berdiri di depan pintu rumah nya.
Rumah yang kumuh dan pondasi yang hampir roboh,sahabat nya itu keluar dari balik pintu.
"Aku bisa numpang disini gak San? Satu malam aja kok"pinta Chelsee
"Siapa San?"
__ADS_1
Sementara di pesantren,semua orang sedang mencari keberadaan Chelsee karena ustazah tidak menemukan gadis itu di sana.
Semua isi pesantren heboh dengan hilang nya Chelsee
"Paling kabur zah,coba kita telpon irang tua nya,siapa tahu Chelsee sudah ada si rumah nya"
"Apa???"Aldi sangat marah ketika mendengar putri nya tidak ada si pesantren.
"Kami sudah mencari keberadaan nya disini pak,tapi kami tidak menemukan nya"sahut pengurus pesantren dari sebrang sana.
"Kenapa mas? Wajah kamu kok cemas gitu?" Taya Yana heran,dia baru saja selesai mandi setelah dia memberikan kewajiban nya lima menit yang lalu kepada sang suami.
"Chelsee hilang sayang! Aku harus cari dia"jawab Aldi terburu-buru.
"Mandi dulu! Gak boleh keluar rumah sebelum bersih"Aldi menghela nafas panjang,dia tidak akan bisa membantah ucapan ibu negara satu ini.
"Ya allah,kamu kemana sih nak? Jangan buat mama khawatir dong!"Yana tak kalah cemas dengan kabar yang dia dengar,dia pun segera menghubungi mama nya.
"Hallo mah,Chelsee kabur dari pesantren.yana kan udah bilang jangan memaksa,akhir nya gini kan.giamana kalau terjadi sesuatu di luar sana mah"Yana sangat khawatir sehingga dia terang-terangan menyalahkan ibu nya.
"Itu karna masih batu-baru Yan,nanti dia akan kembali sendiri kok.mana busa dia hidup diluar sana,sedangkan di pesantren aja dia gak sanggup apalagi hidup mandiri"sahut Selvie,dia juga sebenar nya khawatir tapi dia tutupi demi masa depan cucu nya yang cemerlang.
"Ih,mama percuma Yana kasih tahu.pokok nya setelah Yana ketemu dia gak akan lagi masuk ke pesantren"Yana memutuskan panggilan telepon.
Ini sudah pukul dua belas malam,bagaimana dia tidak khawatir dengan putri nya,sedangkan di luar sana banyak bahaya yang bisa saja menimpa nya.
"Mas aku ikut Ya?" Pinta Yana ketika suami nya sudah siap
"Yang jagain anak-anak siapa sayang? Ingat kita. Masih punya tiga anak yang perlu di perhatikan juga"sahut Aldi,dia tidak mau mereka hanya memolperhatikan anak pertamma sedangkan yang lain di biarkan.
Yana tidak bisa membantah,dia pun harus rela menunggu kabar putri nya hingga esok.
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur,mondar-mandir di depan ranjang,tidak membuat dia lelah,rasa khawatir nya lebih besar dibanding lelah nya saat ini.
Hingga mata hari terbit,Yana tidak kunjung tidur suami nya belum juga memberi kabar tentang putri nya.
"Mama nangis?"tanya Azam ketika melihat mata mama nya sembab dan terlihat acak-acakan.
"Enggak sayang,mama cuma kelilipan"
__ADS_1
"Papa mana ma? Udah berangkat kerja"Belita umur delapan tahun itu merasa heran,karena ini masih pukul tujuh dan dia tidak melihat keberadaan papa nya disana,dia pun berpikir sendiri jika mama nya menangis karena sang papa yang pergi.
"Papa jahat sama mama ya?"