
Leon masih berdiri sembari memapah Mira ,tidak ada dari mereka yang menjawab pertanyaan mama nya,Leon merasa diri nya tidak berguna karena tidak bisa menjaga mira
"Kamu belum jawab Lo kaki kamu kenapa"ucap endang lagi
"Kaki Mira seperti nya keseleo mah,tadi gak sengaja terserempet motor"jawab Mira,sumpah demi apa Leon merasa malu karna tidak becus menjaga mira
"Astaga,kok kamu jalan gak lihat lihat dulu sih..?memang nya kamu di serempet dimana"?tanya endang dengan nada khawatir.
"Di jalan Sudirman mah,pas mau nyebrang gak tau nya ada motor yang lewat"jawab Mira yang masih saja berdiri di ambang pintu.
"Ya sudah ayo bawa masuk nak Leon"ujar Endang kepada Leon,dia mengangguk dan memapah Mira agar duduk di sofa.
"Silahkan duduk dulu nak Leon biar ibu buatkan teh"ucap endang kepada calon mertua nya itu
"Buat Mira juga Lho mah,anak mama lho ini"ucap Mira manyun dan Leon senyum senyum melihat itu,endang pun meninggalkan mereka di ruang tamu itu.
"Sebentar lagi mama mu itu hanya mama aku"ucap Leon mengejek Mira.
"Dih,jangan harap langkahi dulu jidat ku"ucap Mira sembari menunjuk jidat nya,Leon pun terkekeh.
"Itu mah gampang orang kamu nya kecil begini,buat ngebanting pun gampang"ucap Leon yang terus saja mengejek Mira,padahal Leon merasa badan Mira terasa berat pas dia mengangkat nya tadi ke dalam mobil
"Gak ada ya,tadi aja pas gendong aku,kamu nya keberatan gitu muka nya,kayak wajah orang mau pups kok"balas Mira yang memang tadi memperhatikan wajah Leon dari dekat.
"Cieee berarti kamu memerhatikan aku dong tadi"ucap Leon sembari menunjuk ke arah wajah Mira yang kini tengah merona.
"Gak ah,siapa juga yang mau liatin wajah kamu"sanggah Mira tanpa dia tahu kalau panggilan nya sudah berubah.
"Cie panggil aku kamu"ledek Leon,Mira hanya diam memaku.
"Silahkan di minum nak Leon,tapi minuman nya hanya seada nya "ucap endang yang memberikan satu gelas teh hangat.
"Iya Bu, terimakasih ya,ini juga saya merasa gak enak malah ngerepotin ibu"jawab Leon yang mata nya melirik ke arah Mira dan kebetulan Mira juga melirik ke arah nya.
Deg
Jantung Mira berasa berdebar ketika menatap lirikan Leon.
"Apaan sih gue"batin nya sembari menatap ke bawah namun Leon malah senyum melihat Mira merasa malu seperti itu.
__ADS_1
"Terimakasih ya nak Leon sudah nganterin Mira ke mari kalau gak ada nak Leon pasti Mira masih kesakitan itu"ucap endang.
"Sama sama Bu,itu sudah menjadi kewajiban saya kok"jawab Leon namun hati nya merasa tidak enak karena penyebab Mira kecelakaan adalah diri nya
"Dih,yang buat aku seperti ini kan dia,malah jadi sok pahlawan di depan mama"gerutu Mira dalam batin.
"Maka nya kamu tu jadi orang jangan teledor dong mir,kalau mau nyebrang lihat kanan dan kiri dulu"ucap endang menasehati anak nya.
"Pasti tu orang seneng aku di ceramahin seperti ini"batin Mira,lagi lagi dia hanya bisa membatin.
"Iya mah lain kali Mira akan lebih hati hati,"jawab Mira sembari memandang Leon dengan pandangan malas.
Sedangkan di waktu yang hampir bersamaan di Jakarta arka tengah sibuk melamar pekerjaan ke sana kemari.
"Duh susah banget sih nyari kerjaan,padahal izajah gue S2 tapi kok kayak nya sudah banget keterima di perusahaan"gerutu arka hingga pada akhir nya dia memasuki perusahan terkenal nomor dua di Jakarta.
"Pak saya mau melamar pekerjaan "ucap arka kepada satpam penjaga gerbang.
"Silahkan mas,kebetulan perusahaan ini sedang mencari karyawan"ucap satpam itu.
Arka memasuki perusahaan itu lalu bertanya kepada resepsionis.
"Oh iya mas betul,"jawab si resepsionis dengan gaya seksi nya.
Entah kebetulan atau tidak arka berjumpa dengan Burhan di perusahaan itu.
"Papa"gumam arka, kemudian dia pun mengikuti Burhan dan meninggalkan resepsionis itu.
"Pah"panggil arka,si empu pun menoleh lalu berhenti.
"Ada apa"tanya Burhan datar,dia heran dengan anak nya yang satu ini baru kemaren diri nya di maki maki sekarang malah di sapa lagi dengan sebutan papa.
"Papa ngapain disini"tanya arka mendelik,dia berharap perusahaan ini adalah milik Burhan agar dia bisa mewarisi nya nanti.
"Saya sedang di panggil oleh bos di perusahaan ini,ada apa memang nya"tanya Burhan,dia sengaja berkata bohong.
"Ah tidak, aku kira papa yang punya perusahaan ini"ucap arka lesu dia kehilangan mimpinya.
"Baik kalau begitu,saya buru buru"ucap Burhan dia segera pergi dari hadapan arka.
__ADS_1
Arka pun kembali menghampiri resepsionis itu.
"Mas kenal sama pak Burhan"tanya resepsionis seolah sok akrab.
"Iya,dia papa saya"ucap rafka datar,sungguh dia tidak tertarik pada resepsionis ini,
Resepsionis yang mendengar itu pun kaget.
"Kenapa bapak melamar pekerjaan lagi di sini kalau pak Burhan adalah papa anda sendiri"ucap resepsionis itu,arka memandang papan nama yang ada di saku baju wanita itu tertulis "Anna"di papan nama nya.
"Memang nya papa saya menjabat sebagai apa di sini ?"tanya arka dia begitu penasaran dengan jabatan ayah kandung nya.
"Beliau yang memiliki perusahaan ini pak"jawab Anna. Walaupun dia sedikit curiga dengan arka tetapi Anna tetap menjawab pertanyaan arka karena dia ingin memandang wajah arka berlama lama.
"Oh ya???,dimana ruangan nya"tanya arka senyum sumringah.
"Di lantai tiga pak sebelah ruangan HRD"jawab Anna yang masih dengan gaya seksi nya.
"Terimakasih"ucap arka kemudian dia berlari menuju ruangan ayah nya.
Arka melihat ada tiga ruangan di lantai tiga ini.
Yang satu bertuliskan ruangan HRD di sebelah nya ruangan staf dan satu lagi yang tidak ada tulisan nama ruangan nya disitu lah arka mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Burhan yang merasa tidak memanggil orang tidak langsung merespon Karena diri nya memang sedang ada pekerjaan.
"Siapa pah"tanya nuri kebetulan hari ini dia ikut ke kantor suami nya.
"Gak tahu mah,palingan orang salah ketuk pintu"jawab Burhan yang masih sibuk dengan laptop nya.
"Bukain gih pah siapa tau perlu"ucap Nuri
"Mama kayak gak tahu aja,kalau ada perlu kan pasti di telpon kemari"jawab Burhan yang tidak perduli dengan orang yang mengetuk pintu nya.
Namun pintu nya terbuka kerana Burhan memang tidak pernah mengunci ruangan nya kecuali sudah pulang ke rumah.
"Kamu.."
__ADS_1