
"Aku tidak bahagia menikah dengan sifa. Apalagi sekarang dia sakit-sakitan. Hari-hariku sekarang dihabisin di rumah sakit ngurusin dia." Ucap davin
"Trus kamu mau apa? Aku nggak mau kalau cuma jadi wanita keduamu." Ucap kiara.
Davin mengenggam kedua tangan kiara. Dia menatap penuh harap kepada kiara.
"Aku akan ceraikan dia secepatnya. Kita menikah, kamu akan jadi wanitaku satu-satunya."
Tapi belum sempat kiara menjawab, davin melepaskan genggaman tangannya. Dia melihat bundanya berjalan mengarah ke kantin. Sepertinya sedang mencarinya.
"Ada bunda, aku harus pergi sekarang. Kasih alamat kamu nanti aku akan datang." Ucap davin terburu-buru. Setelah mendapatkan alamatnya, davin bergegas menghampiri bundanya. Dia tidak mau sampai bundanya melihat ada kiara disana.
"Hah ada bundanya aja masih takut kaya gitu, mau nikahin gue? Tapi davin bisa gue jadiin sumber keuangan saat ini." Kiara tersenyum senang.
🌷🌷🌷🌷
Bima kembali ke kamar vella setelah mendapatan obatnya. Dia berpapasan dengan davin dan bundanya. Tapi davin sedang fokus berbicara dengan bundanya. Bima berhenti sejenak menoleh lagi memastikan apa benar itu davin? Ya ternyata memang itu davin. Bima mendengar omelan bunda kepada davin mengenai perlakuan davin terhadap istrinya.
"Istri? Jadi bener davin udah menikah, tapi bukan dengan kiara. Sudahlah itu bukan urusanku." Ucap bima. Dia bergegas keruangan istrinya lagi.
Vella sedang makan disuapi oleh dira. Tadinya saat ditinggal bima vella sedang tidur, jadi dia baru saja melihat suaminya datang.
"Eh sayang kamu udah bangun, ini aku baru tebus obat kamu." Ucap bima menghampiri vella
"Iya mas, aku udah bangun dari tadi."
"Bima anak aku rewel, hari ini bang ardan juga lembur. Ayah juga dirumah sendirian, aku pulang dulu gapapa kan?" Dira pamit pulang kepada bima.
"Oh iya mbak nggak papa, sini biar aku lanjutin suapin vellanya." Jawab bima
"Vella mbak pulang dulu ya, Kamu cepet sehat. Besok mbak kesini lagi sama ayah." Ucap dira
"Iya mbak, makasih ya."
Bima melanjutkan menyuapi vella, namun baru sesuap vella merasakan perutnya sakit lagi. Akhirnya bima menyuruhnya untuk meminum obat yang dia ambil tadi.
__ADS_1
"Ini minum sayang," Bima membantu vella meminum obatnya. Bima sangat tidak tega melihat istrinya terbaring lemas sekarang ini. Ketakutannya bukan hanya kehilangan anaknya tapi juga kehilangan istrinya. Bima mengelus kepala dan juga perut vella dengan kasih sayang.
Vella menatap kearah bima, namun matanya terfokus pada noda bibir merah di kemejanya. Vella langsung bertanya-tanya kenapa bisa ada noda lipstik disana, milik siapa itu?
"Mas,"
"Ya sayang,"
"Kamu tadi darimana aja mas?"
"Aku tadi kan pulang kerumah ambil baju sama perlengkapan kamu, trus kesini lagi." Jawab bima
"Emm itu lipstik siapa mas di baju kamu?"
"Hah lipstik?! Mana?" Bima langsung panik mencari letak nodanya. Setelah melihatnya, bima baru ingat. Itu pasti lipstik kiara yang menempel saat dia terjatuh di pelukannya tadi. Bima langsung menjawab sejujurnya saja agar vella tidak berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Ini mungkin lipstiknya kiara,"
"Apa mas? Mbak kiara? Mas ketemuan sama dia?"
Setelah mendengar penjelasan bima, vella langsung lega. Tadinya dia sempat ingin berfikir suaminya itu punya wanita lain. Tapi disisi lain ada rasa khawatir pada diri vella, karena kiara mulai mendekati bima lagi. Vella tahu kejadian itu pasti sudah direncanakan oleh kiara, tapi untung saja suaminya tak mudah di dekati.
🌷🌷🌷
Di rumah sakit yang sama davin sedang gelisah di ruangan istrinya. Dia ingin segera pergi menemui kiara, tapi bunda dan juga ibu mertuanya masih berada disana. Sifa menyadari kalau suaminya itu merasa gelisah, sepertinya sedang terjadi sesuatu.
"Mas kamu kenapa?" Tanya sifa
"Emm nggak papa kok," Jawab davin
"Iya kamu kenapa sih vin kok kaya gelisah gitu mondar-mandir aja." Ucap bunda davin.
"Nggak papa bun, cuma bosen aja disini terus." Jawaban davin membuat sifa tersentak hatinya. Dia benar-benar tidak menyangka suaminya berkata seperti itu.
"Maaf ya mas gara-gara aku sakit terus kamu jadi harus nunggu disini." Ucap sifa
__ADS_1
Bunda davin langsung melotot kearah anaknya. Dia merasa sangat tidak enak dengan besan dan juga menantunya.
"Sifa sayang kamu nggak perlu minta maaf, Siapa sih yang mau sakit kaya gini? Ini kan emang udah tugas davin sebagai suami kamu." Ucap bunda davin, tapi davin malah langsung pergi meninggalkan ruangan. Dia sudah tak sabar lagi ingin bertemu kiara. Dia sudah tidak peduli tentang istrinya, bundanya dan mertuanya.
"Vin.. Vin.. Mau kemana kamu?" Panggil panggil bundanya.
"Maaf ya hus, aku kejar anakku dulu." Ucap bunda pada husna besannya.
Bunda mengejar davin sampai ke lobby rumah sakit. Bunda sangat marah dengan sikap davin itu. Padahal sebelumnya dia selalu menurut dengan apapun yang dikatakan bundanya.
"Vin berhenti!"
"Apa sih bun? Aku capek gini terus."
"Maksud kamu tuh apa? Sifa itu istrimu, nggak sepantasanya kamu bilang seperti itu tadi. Pasti sangat menyakiti hatinya. Apalagi kamu tiba-tiba pergi gini aja."
"Stop bun, aku capek menjalani ini semua. Dari awal aku terpaksa menikahi dia. Aku udah coba cinta sama dia tapi nggak bisa bun. Apalagi dia sakit-sakitan terus. Dia nggak bisa menuhin kebutuhan suaminya sendiri." Davin mengungkapkan seluruh perasaannya.
"Vin sifa itu wanita sempurna, kamu harusnya bersyukur punya istri kaya dia. Dah ayok balik ke sana minta maaf sama dia."
"Sorry bun aku nggak bisa." Davin langsung pergi meninggalkan rumah sakit, dia tidak peduli dengan teriakan bunda yang memanggilnya.
🌷🌷🌷
Keadaaan vella dan kandungannya yang lemah saat ini sudah diketahui oleh sarah. Sarah teramat sangat bahagia, dia berdoa semoga keduanya tidak selamat.
"Kalau vella mati juga, bima bisa aku jodohkan dengan anak dari salah satu kolegaku. Aku nggak perlu mengotori tanganku untuk mencelakainya lagi. Dia sudah celaka sendiri ahaha." Ucap sarah merasa senang.
"Mah kamu ini ngomong apa sih kok kaya gitu?" Sahut ferdi
"Apa sih! Diem deh pah. Lagian kalau anak kita menikah dengan orang penting dan kaya, kamu juga ikut bangga. Keluarga kita akan semakin terpandang." Sarah sudah membayangkannya.
Ferdi sudah tidak mengerti lagi jalan pikiran istrinya itu. Padahal menurutnya mempunyai menantu seperti vella itu saja sudah bersyukur. Yang penting anaknya bahagia bersamanya.
Kemudian ferdi berinisiatif mengajak sarah menjenguk vella di rumah sakit. Bagaimanapun dia itu menantu mereka dan juga agar tidak dipandang buruk oleh anaknya sendiri. Tapi sarah menolaknya mentah-mentah. Dia tidak sudi menjenguk vella. Dia berkata mau kesana kalau janinnya tidak selamat atau bahkan keduanya. Sangat kejam perkataan sarah, tapi ferdi tak berani menjawab apa-apa pada istrinya yang keterlaluan itu.
__ADS_1