
Mobil mewah berwarna silver berhenti didepan rumah Vella. Orang yang mengendarainya adalah Fadly. Dia sengaja kesana untuk bertemu dengan Vella.
"Eh mas Fadly udah sampek sini, duduk dulu mas aku ambil tas dulu." Ucap Vella menyambut kedatangan Fadly dirumahnya.
Semenjak keretakan hubungannya dengan Bima, Fadly banyak membantunya. Fadly memberikan pekerjaan lagi untuk Vella sebagai admin di kantornya. Vella sudah menutup butiknya karena menurutnya itu milik Bima. Dia tidak mau menikmati segala fasilitas yang diberikan oleh Bima.
Fadly sudah mengetahui kalau Bima sedang amnesia. Namun dia tidak memberitahukan itu kepada Vella. Sangat egois memang, dia sengaja tidak memberitahunya tentang itu agar wanita itu tidak mengurungkan niatnya untuk mengurus perceraian.
Mereka sampai di depan pengadilan agama, tempat dimana Vella akan mendaftarkan perceraiannya.
"Vell kamu beneran udah yakin?" Tanya Fadly
"Iya mas, untuk apa lagi aku pertahankan hubungan ini. Mas bima saja sekarang sudah berpindah hati kepada mbak Kiara. Aku tahu perceraian ini pasti akan tertunda sampai aku melahirkan. Tapi setidaknya aku sudah mendaftarkannya."
"Maaf aku memanfaatkan semua ini untuk dekat denganmu lagi. Kalau saja kamu tahu Bima kembali kepada Kiara karena sedang amnesia apakah kamu akan tetap melakukannya vell? Aku memang egois berharap memililikimu disaat seperti ini." Ucap Fadly dalam hati seraya menatap Vella.
Namun saat baru akan turun dari mobil, Vella merasakan tendangan keras dari dalam perutnya. Anak dalam kandungannya seakan menolak apa yang akan dilakukan oleh dirinya saat ini. Lama-kelamaan tendangan itu membuat perutnya merasakan sakit yang hebat. Hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Kenapa Vell?"
"Perutku sedikit kram mas, tapi nggak papa kok. Ayo turun."
"Kamu yakin nggak papa,"
"Iya ayo kita tu... aww"
"Udahlah kita ke rumah sakit dulu buat periksain kandungan kamu. Kita bisa kesini lagi nanti." Ucap Fadly, tanpa menunggu persetujuan Vella dia sudah melajukan mobilnya meninggalkan pelataran pengadilan agama.
Selama perjalanan, Vella terus meringis kesakitan. Dia mengelus perutnya sambil mengajak anaknya berbicara.
"Sayang kamu udah aktif banget ya di dalam sana, perut mama sampai sakit."
Saat mereka sudah jauh dari pengadilan agama, anak dalam kandungan Vella diam. Perutnya juga sudah tidak merasakan sakit lagi.
"*Sakitnya menghilang, dan bayiku sudah tidak bergerak brutal seperti tadi. Dia sudah diam. Apa dia tidak suka dengan keputusanku?"
"Kamu masih didalam kandungan, tapi sepertinya kamu tidak rela mama pisah dengan papa nak*," Batin Vella
Fadly membukakan pintu dan berniat memapah Vella.
"Tidak usah mas aku bisa jalan sendiri kok, lagian perut aku udah nggak sakit. Sepertinya nggak perlu periksa deh," Ucap Vella
"Kita udah sampek sini Vell, lebih baik diperiksain deh. Yuk masuk."
__ADS_1
Mereka langsung menuju ke poli kandungan. Fadly mencarikan tempat duduk untuk Vella. Setelah itu dia mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian. Saat Fadly sedang mengurus pendaftaran, Vella melihat Bima bersama kedua orang tuanya juga Kiara berjalan di koridor rumah sakit itu. Vella tahu kalau Bima ke rumah sakit ini pasti untuk chek up ke dokter. Dia sudah tidak mau tahu lagi tentang Bima. Tapi anaknya menendang lagi cukup keras.
"Kamu ingin bertemu papamu nak?" Ucap Vella lirih sambil mengelus perutnya. Anak dalam kandungannya langsung menendang lagi secara terus menerus. Akhirnya Vella beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan kearah Bima dan keluarganya lewat tadi.
.
.
Di ruang dokter saraf Bima berada sekarang. Dia mengatakan seluruh keluhannya. Bima sering merasakan pusing yang hebat saat bangun tidur. Dia juga berkata kalau selalu dimimpikan oleh seorang anak kecil yang memanggilnya papa.
Sebelum konsultasi dengan dokter, Bima sudah melakukan ronsen kepalanya. Dokter mengamati hasil ronsennya.
"Bagaimana dok?" Tanya Sarah
"Hasilnya baik, sudah tidak ada kerusakan di otaknya."
"Tapi kepala saya kenapa selalu pusing saat bangun tidur dok" Tanya Bima
"Mungkin itu karena otak anda bekerja keras mengumpulkan kembali memori yang hilang sementara ini. Saya sarankan jangan terlalu memaksa untuk cepat mengingat semuanya." Ucap Dokter
"Tuh sayang dengerin kata dokter. Enggak usah mengingat yang berat-berat dulu, yang penting kamu kan masih ingat aku dan orang tua kamu." Ucap Kiara sambil memegang bahu Bima.
"Oh iya tadi anak Ibu berkata kalau sering dimimpikan sosok anak kecil yang memanggilnya papa, Apakah dia sudah punya anak yang sedang terpisah dengannya? Kalau memang iya pertemukan saja mereka. Mungkin itu bisa membuat ingatannya kembali 100%." Ucap Dokter
Ferdi ingin menjawabnya namun didahului oleh Sarah.
"Iya saya calon istrinya dok." Sahut Kiara
"Oh yasudah kalau begitu saya beri resep obat saja."
Diluar ruangan dokter saraf, Vella mengupinh semuanya. Dia akhirnya mengetahui kalau ternyata suaminya sedang amnesia.
"Jadi karena ini mas Bima kembali dengan mudah dengan mbak Kiara. Dan mama sedang memainkan sandiwara apa ini? Bisa-bisanya mama berkata mas Bima belum menikah. Padahal aku sedang mengandung cucunya."
"Aku memang benci karena mas Bima menyembunyikan kebenaran tentang insiden kebakaran pabrik. Tapi aku tidak bisa diam kalau keadaannya seperti ini. Bagaimanapun aku mencintai dia, dia ayah dari anak yang kukandung. Aku tidak rela mbak Kiara memanfaatkan keadaanmu yang seperti ini untuk bisa kembali menjadi istrimu. Apalagi dulu dia sudah menghianatimu mas." Gumam Vella yang masih berdiri dibalik pintu ruang dokter Saraf.
Bima digandeng oleh Kiara keluar dari ruangan dokter. Dia sangat terkejut melihat Vella ada disana. Namun Kiara tetap bersikap santai mengingat Bima tidak tahu siapa Vella. Mereka berjalan melewati Vella.
"Mas Bima kamu nggak ingat aku?" Suara lantang Vella menghentikan langkah Bima. Bima langsung kembali mendekat kearah Vella.
"Kamu wanita yang waktu itu salah masuk ke kamar rawatku kan?"
"Aku nggak salah masuk kamar mas, Aku memang ingin membesukmu waktu itu." Ucap Vella dengan mata yang berkaca-kaca. Vella maju selangakah lebih dekat kepada Bima. Dia menarik tangan Bima untuk memegang perut besarnya itu.
__ADS_1
"Mas aku ini istrimu dan ini anak kita. Kamu bisa rasain gerakannya kan?"
"Istriku? anakku? Tapi aku belum menikah. Aku enggak mengenalmu." Bima melangkah mundur.
"Mas aku punya buktinya kalau aku ini istri kamu," Ucap Vella ingin menunjukkan buktinya, namun sayang sekali tasnya yang berisi buku nikah dan data lainnya tertinggal di mobil Fadly.
"Sebentar kamu tunggu sini aku ambil buktinya." Ucap Vella dengan tergesa-gesa.
"Stop! Nggak usah ngaku-ngaku jadi istri anak saya. Kiara bawa pergi Bima dari sini. Jauhin dia dari perempuan pembohong seperti dia ini!" Ucap Sarah dengan ketus kepada Vella.
Bima yang merasa bingung menurut saja ditarik oleh Kiara pergi dari sana.
"Mama kenapa nyuruh mas Bima pergi, Aku memang istri sah mas Bima." Ucap Vella dengan nada tinggi,
"Sudah berani ya kamu bentak saya, saya males ngeladenin kamu. Intinya cepat urus perceraian dengan anak saya atau saya yang akan urus semuanya. Jangan harap kamu bisa kembali dengan anak saya!" Sarah melenggang pergi meninggalkan Vella juga.
"Vella papa harap kamu sabar menghadapi semua ini, papa cuma mau bilang kalau Bima itu tidak ada sangkutannya dengan masalah kakeknya di masa lalu. Dia memang tulus mencintai kamu dari awal papa yakin itu. Papa pergi dulu," Ucap Ferdi sebelum berjalan menyusul istrinya.
Wanita yang tengah hamil itu berjalan lemas menyusuri koridor rumah sakit. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja dari awal dia tidak egois dan mau mendengarkan penjelasan suaminya. Semua ini tidak akan terjadi.
Vella menghapus air matanya, saat itu Fadly sudah berada di depannya.
"Vella kamu disini, aku cariin kamu dari tadi yuk balik ke poli kandungan, kayanya udah giliran kamu sekarang." Ucap Fadly, Tapi Vella sama sekal tidak menanggapi, dia terus menangis.
"Hei kamu kenapa?" Fadly memeluknya.
"Aku udah salah paham sama suamiku sendiri selama ini dan ternyata dia itu amnesia sekarang, dia sama sekali nggak ingat aku." Ucap Kiara sambil terus menangis.
"Emm kamu juga udah tahu Bima mengalami amnesia,"
Vella langsung mundur melepaskan pelukan Fadly.
"Selama ini mas Fadly udah tahu mas Bima amnesia?"
Fadly keceplosan. Dari tatapan Vella dia sangat marah kepadanya.
"Dengerin penjelasan aku dulu Vell," Ucap Fadly
"Apa mas apa jelasin? Sejak kapan mas tau soal ini?"
"Ya aku tahu sejak Bima pulang dari rumah sakit. Aku jenguk dia dirumah, saat aku ingin bahas tentang kamu mamanya datang dan berkata kalau Bima sedang amnesia. Dia tidak boleh diberitahukan hal yang berat-berat."
"Trus kenapa mas Fadly nggak bilang sama aku? Mas Fadly malah memperkeruh hubunganku dengan Bima. Mas Bima bilang kalau mereka memang saling cinta." Ucap Vella dengan nada yang tinggi, Fadly terdiam tak bisa menjawab.
__ADS_1
"Jawab mas! jangan diem aja!"
Fadly tetap diam terpaku dalam kebingungan.