
Happy Reading...
"Maksud kamu apa tadi ngomong kayak gitu?" Tanya Winda.
Joseph tidak menjawab pertanyaan yang diberikan Winda, ia masih fokus menyetir. Sekarang mereka sedang ada di perjalanan menuju kantor Joseph, setelah sebelumnya mengantarkan Varrel pulang.
Winda tak habis pikir dengan Joseph, bisa-bisanya laki-laki itu berkata seperti itu di hadapan Wisnu. Bagaimana jika Wisnu mempercayai apa yang sudah diucapkan oleh Joseph. Kenapa Winda harus dilibatkan dalam masalah Joseph dan juga putranya.
"Joseph, kamu dengerin saya ngomong nggak sih? Kenapa kamu ngomong kayak gitu tadi? Saya nggak tau apa-apa tentang masalah kamu ataupun anak kamu, tapi jangan libatkan saya dalam masalah itu. Saya kira tadi kamu benar-benar serius mau mengajak saya ke tempat sekolah kamu, eh tau-taunya malah ke rumah sakit dan malah ngomong kalau saya itu mommy dari anak-anak kamu."
Joseph menghentikan mobilnya ke pinggir jalan, dan membuka sabuk pengamannya. "Udah selesai ngocehnya?" Tanya Joseph sambil menghadap ke arah Winda.
Winda juga ikut menghadap ke arah Joseph. "Belum, sebelum kamu jelasin semuanya ke saya tentang maksud ucapan kamu tadi. Saya nggak habis pikir kamu bis--"
Ucapan Winda tiba-tiba terpotong saat ia merasakan ada sesuatu benda kenyal yang menempel di bibirnya. Winda membulatkan matanya tak percaya, Joseph sudah mengambil first kissnya. Winda menatap Joseph dengan tatapan tak percaya, sedangkan laki-laki itu malah memejamkan matanya.
Winda mencoba untuk mendorong Joseph, tetapi usahanya sia-sia. Laki-laki itu malah memegang tekuknya dengan erat. Sekarang tidak hanya menempel, bi*ir Joseph juga mel*mat dan men*hisap bi*ir Winda. Winda terus memberontak, tapi Joseph malah semakin memperdalam ciu*annya.
Joseph terus mel*mat bibir Winda dengan nafsu. Bahkan sekarang Joseph mengigit bi*ir bawah Winda agar ia membuka mulutnya. Otomatis Winda membuka mulutnya saat Joseph mengigitnya. Joseph tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung menerobos lidahnya ke dalam bi*ir Winda.
Joseph terus memainkan lidahnya di dalam sana, sedangkan Winda hanya bisa terdiam kaku. Joseph menyadari bahwa perempuan ini belum pernah berci*man, terlihat dari caranya merespon ciu*an Joseph.
Joseph menghentikan aksinya, lalu ia menjauhkan wajahnya dari Winda. Nafas keduanya kini memburu karena kehabisan oksigen. Apalagi Joseph mencium Winda di dalam mobil.
Winda masih diam, ia masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Tangan Joseph terulur untuk menghapus jejak lipstik yang berantakan akibat ciu*an tadi. Winda hanya bisa memejamkan matanya saat tangan Joseph menyentuh bibirnya. Ia merasakan sensasi aneh saat berdekatan seperti ini dengan Joseph. Winda membuka matanya saat tangan Joseph sudah tidak menyentuh bibirnya.
"Lain kali jangan cerewet kayak tadi, karena saya nggak suka. Dari pada mulut kamu ngoceh nggak jelas, mendingan saya cium." Kata Joseph sambil kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
Winda menatap Joseph tak percaya. "Dasar kamu duda mesum, main cium seenaknya. Dan kamu nggak ada niatan buat minta maaf gitu ke saya?"
"Kenapa saya harus minta maaf? Seingat saya, saya nggak berbuat salah deh." Sahut Joseph.
"Nggak berbuat salah? Kamu udah cium saya sembarangan dan itu kamu bilang nggak buat salah?" Ucap Winda dengan emosi sambil memukul lengan Joseph.
"Aw... aw. Winda saya lagi nyetir, jadi kamu jangan macam-macam. Bahaya!" Ujar Joseph.
"Saya nggak peduli, kamu harus minta maaf dulu sama saya." Kata Winda.
"Saya cuma cium kamu loh. Bukan tidurin kamu, jadi kamu nggak usah lebay." Ucap Joseph dengan santai.
__ADS_1
"Lebay kamu bilang? Kamu itu ya duda mesum yang nggak punya rasa bersalah sama sekali." Ujar Winda sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Joseph menghembuskan nafasnya kasar. " Oke, saya minta maaf."
Ucapan Joseph sama sekali tidak dihiraukan oleh Winda.
.
.
.
Di sebuah club,
"Sekarang apa yang gue harus lakuin, Rey?" Tanya Joseph sambil meneguk wi*enya hingga habis.
"Gue nggak tau. Gue heran deh sama dia, dicium orang kayak lo bukannya bersyukur malah marah." Kata Rey.
"Itu juga yang gue bingungin. Baru gue cium aja reaksinya kayak gitu, apalagi kalau gue hamilin dia seperti saran dari lo waktu itu." Ucap Joseph.
"Ada untungnya juga lo nggak ngikutin saran gue yang waktu itu. Sekarang kayaknya lo harus minta maaf deh sama dia, sebelum dia benci sama lo. Bukannya tambah dekat, kalian malah semakin jauh." Saran Rey.
"Gue udah minta maaf waktu di mobil tadi, tapi dia bahkan nggak merespon sama sekali." Ucap Joseph.
"Gue harus ngelakuin apa?" Tanya Joseph.
"Biasanya nih ya, kalau perempuan lagi marah atau kesal paling suka di kasih kejutan atau hal-hal yang romantis gitu." Jawab Rey.
"Oke, gue bakal kasih dia kejutan ataupun hadiah yang romantis. Kalau gitu gue pulang dulu, kasian Varrel sama Arka nungguin gue." Pamit Joseph.
"Ok hati-hati, bro."
"Lo nggak mau pulang?" Tanya Joseph.
"Nggak, gue masih mau main dulu." Jawab Rey lalu meneguk wi*enya.
Joseph mengangguk mengerti mendengar jawaban Rey. Pasti sahabatnya itu ingin menghabiskan waktu bersama perempuan.
.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di rumah...
"Loh Arka kok belum tidur?" Tanya Joseph saat melihat putranya masih menonton tv.
"Arka nungguin daddy." Jawab Arka sambil mematikan saluran tv nya.
Arka menarik tangan Joseph dan menuntunnya agar duduk di pinggir kasur.
"Daddy kok jahat sih sama Arka." Ujar Arka yang membuat Joseph bingung.
"Kok kamu bilang daddy jahat? Memang daddy ngapain kamu?" Heran Joseph.
"Tadi daddy sama bang Varrel pergi sama mommy kan?"
"Kamu tau dari mana?" Tanya Joseph.
"Daddy nggak perlu tau, yang penting daddy jawab dulu iya atau nggak." Ujar Arka.
"Iya."
"Tuh kan, daddy kok nggak ajak-ajak Arka sih?" Kesal Arka.
"Kamu kan tadi sekolah, nak." Ucap Joseph.
"Tapi kan Arka kangen sama mommy, masa cuma daddy sama bang Varrel aja yang ketemu sama mommy." Kata Arka.
"Pokoknya besok Arka mau ketemu sama mommy, titik." Tambah Arka.
"Nggak bisa, kamu harus sekolah." Sahut Joseph.
Mata Arka mulai berkaca-kaca, tanda ia akan menangis.
"Huft, oke. Besok kamu ketemu sama mommy, tapi setelah sepulang sekolah." Ujar Joseph sambil mengelus puncak kepala Arka.
Arka langsung memeluk Joseph dengan erat. "Terima kasih dad."
__ADS_1
"Mungkin kalau besok aku ajak Arka ketemu sama Winda, marahnya Winda akan hilang. Kan nggak mungkin Winda marah sama aku di depan Arka." Batin Joseph.
Bersambung...