Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 116


__ADS_3

Nino akhirnya berhasil menghubungi Bima. Nino menceritakan semua yang terjadi dirumah. Dari Vella bertemu Kiara hingga pingsan lalu meninggalkan rumah setelah siuman.


Saat ini Bima menelfon Vella tapi nomornya tidak aktif. Vella memang sengaja mematikan hpnya agar Bima tidak menghubunginya dulu. Vella belum bisa berfikir jernih saat ini. Dia masih tidak bisa percaya kalau suaminya menikahinya hanya untuk menebus rasa bersalah neneknya di masalalu.


"Kamu kemana sih sayang, Apa yang Kiara katakan sama kamu sampek pingsan tadi." Bima gelisah dia terus berbicara sendiri layaknya orang gila. Akhirnya Bima menghubungi kliennya untuk membatalkan meeting besok. Dia berniat pulang ke jakarta malam ini juga.


Klien Bima marah besar mengatakan bima sungguh tidak profesional. Tapi Bima tidak peduli yang terpenting baginya sekarang adalah pulang dan bertemu istrinya.


Bima mengemas barangnya dan segera chek out dari hotel. Asistennya sudah mengurus tiket pesawat untuk kepulangannya.


Dalam perjalanan menuju bandara, Bima terus mencoba menghubungi Vella. Namun tetap masih belum aktif.


"*Apa jangan-jangan Vella udah tahu tentang masalah kebakaran pabriknya? Tapi nggak mungkin, tau dari siapa dia? "


"Kiara? Apa jangan-jangan dia sudah tahu dan mengatakannya pada Vella sampai akhirnya jadi begini*?"


"Tapi tahu darimana dia? Nggak ada orang lain yang tahu selai aku dan kakek Surya." Bima terus bertanya-tanya di dalam benaknya.


.


.


Jam 11 malam Bima sudah berada di Jakarta, dia dijemput oleh Nino. Bima langsung menuju kerumah ayah Vella.


Namun, ketika sampai disana lampu rumah sudah padam. Bima fikir mungkin mereka semua sudah tidur. Dia mengetuk pelan pintu rumahnya. Tapi malah tetangga sebelah yang keluar.


"Loh mas cari siapa? Nggak ada orang itu."


"Kok nggak ada orang pak, emangnya mbak Dira sama mas Ardan kemana?"


"Tadi habis magrib mereka semua pergi sama adiknya yang hamil itu. Oh istrinya mas ya itu,"


"Iya pak istri saya, kira-kira kemana ya mereka pak?"


"Wah kurang tahu mas coba di telfon aja."


"Oh iya pak terimakasih."


Bima mencoba menelfon Ardan dan juga Dira namun hp keduanya sama-sama tidak aktif. Bima kembali masuk kedalam mobil dengan lesu. Dia menyuruh Nino berkeliling disekitar sana mencari Vella.

__ADS_1


Karena sudah larut malam tak banyak orang yang ada di sekitar jalanan. Tak ada satupun orang yang mengenali foto yang ditunjukkan oleh bima maupun Nino.


"Pak ini udah tengah malam, kita pulang dulu aja. Mungkin mencari besok pagi akan lebih efektif." Ucap Nino


"Enggak, kamu pulang aja no biar saya cari sendiri. Kamu pulang naik taksi."


"Tapi pak,"


"Udah nggak papa saya sendiri. Saya takut istri saya kenapa-kenapa." Ucap Bima.


Nino pulang, sementara Bima masih terus menyusuri jalan mencari keberadaan istrinya.


Ardan sedang membeli nasi goreng di pinggir jalan tak jauh dari Bima berada.


"Ini ya bang uangnya," Ucap Ardan membayar nasi goreng yang sudah berada ditangannya. Kemudian dia langsung berniat kembali pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat Bima.


Bima pun melihat sosok Ardan, akhirnya Ardan tak bisa lagi kabur darinya.


"Mas Ardan akhirnya kita ketemu disini. Mas Ardan pasti tahu dimana keberadaan Vella kan?"


"Iya Bim, kita bicara disana aja." Ucap Ardan sambil menunjuk kearah bangku yang ada di trotoar.


"Vella ada kok aman, tapi dia lagi sedih dan marah sama kamu." Ucap Ardan


"Dimana mas? Aku mau ketemu sama dia."


"Kita sekarang numpang dirumah panti asuhan tempat tinggal aku dulu. Di deket sini kok. Tapi lebih baik biarin Vella tenang dulu." Ucap Ardan


"Mas aku harus ketemu Vella sekarang, aku harus tahu kenapa dia marah sama aku."


"Vella tahu semua tentang masalah kebakaran pabrik 22 tahun yang lalu. Emangnya bener nenek kamu yang udah bakar pabriknya?"


Deg.


Mata Bima langsung terbuka lebar, dia menelan salivanya. Jantungnya pun berdetak lebih kencang saat ini. Ternyata benar, Vella sudah mengetahui semuanya.


"Bim aku ngerti gimana perasaan kamu saat ini, tapi untuk saat ini memang Vella masih sangat marah sama kamu. Biarin dia tenang dulu. Aku yakin ini cuma salah paham. Aku balik dulu," Ucap Ardan sambil menepuk bahu Bima.


Bima terdiam mematung, tidak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Vella mau mendengar penjelasannya atau Vella malah ingin meminta cerai darinya.

__ADS_1


Saat ini bima benar-benar pusing, apalagi kakek Surya tidak bisa dihubungi karena sedang berada di area susah signal.


.


.


"Bang kok lama banget sih beli dimana nasgornya itu?" Tanya Dira


"Deket sih didepan sana, tapi aku ketemu Bima." Ucap Ardan berbisik


Dira langsung menarik suaminya ke dapur yang jauh dari kamar Vella.


"Kamu ketemu Bima bang? Trus apa yang terjadi?"


"Ya dia mohon-mohon ngasih tahu keberadaan Vella. Dia nekat loh mau temuin Vella sekarang."


"Tapi kamu nggak ngasih tahu kan? Dia itu nggak tulus sama Vella bang,"


"Sayang kita itu nggak tahu kebenarannya itu gimana. Itu kan hanya asumsi Vella sendiri. Siapa tahu Bima juga baru tahu setelah mereka menikah." Ucap Ardan


"Jadi Abang dukung Bima daripada adik sendiri. Bima itu udah bohongin kita semua bang. Buktinya dia pakek nyembunyiin kertas diary tante rosaline buat apa coba? Kalau dia nggak ada sangkut pautnya harusnya kasih tahu aja dong, nggak perlu nyembunyiin fakta seperti itu."


Ardan dan Dira menghentikan pembahasan mereka karena mendengar suara langkah kaki akan memasuki dapur.


"Loh mas Ardan kok udah pulang aku nggak dipanggil? Anakku udah laper loh." Ucap Vella


"Hehe maaf ya dek ini kita lagi ambil piring kok trus mau panggil kamu rencananya. Yaudah yuk makan yuk." Ucap Dira


Vella sebenarnya tidak nafsu makan, tapi anak dalam kandungannya menuntutnya harus tetap makan. Setelah selesai makan Vella masuk kedalam kamar untuk tidur. Namun matanya sama sekali tidak merasakan ngantuk. Pikirannya terisi penuh dengan masalahnya saat ini.


"*Apa benar mas Bima nggak tulus sama aku?"


"Dari awal kenal dia baik sekali denganku, dan dengan tiba-tiba setelah perceraiannya dengan mbak Kiara dia melamarku."


"Aku yang hanya orang biasa seperti ini dilamar oleh seorang CEO kaya raya."


"Dari awal juga kakek Surya baik banget sama aku dan juga keluargaku. Bahkan saat itu ayah koma, semua biaya rumah sakit ditanggung olehnya. Ayah juga ditempatkan dikamar terbaik rumah sakit itu. Padahal saat itu aku bukan siapa-siapanya. Kenapa dulu aku nggak mencurigainya sama sekali?"


"Aku pikir kakek Surya juga baik tulus denganku dan keluarga. Tapi ternyata semua yang dia berikan semata untuk menebus kesalahan istrinya."

__ADS_1


"Mamaku meninggal, dan itu nggak bisa diganti dengan harta*." Vella menjerit dalam hati.


__ADS_2