Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 85


__ADS_3

"Aduh kepalaku..." Vella terbangun dari pingsannya.


"Sayang akhirnya kamu sadar," Ucap bima sambil mengelus kepala istrinya itu.


Tiba-tiba vella menangis tersedu-tersedu teringat ayahnya.


"Loh sayang kenapa kamu nangis? Dokter tadi bilang kamu nggak boleh stres terus kasian anak kita yang didalam perut kamu." Ucap bima sambil mengelus kepala istrinya itu.


"Mas tadi yang aku lihat itu beneran? Itu semua hanya mimpi kan?" Tanya vella dengan tangis yang tersedu-sedu.


"Apa maksud kamu sayang?" Bima malah ganti bertanya karena dia bingung dengan apa yang dimaksud oleh vella.


"Apa benar ayah sudah meninggal? Itu nggak benar kan mas, aku mau lihat ayah sekarang mas." Ucap vella dengan sangat panik.


"Hey hey sayang, tenang. Siapa yang bilang ayah sudah meninggal? Alhamdulilah ayah masih ada. Ayah dipindah ke ruang perawatan. Kondisi ayah sudah stabil sekarang." Ucap bima dengan senyum senang.


Mendengar itu vella langsung bangun dan turun dari kasur mengajak bima untuk segera mengantarkannya ke ruangan ayahnya. Vella berlari saking semangatnya ingin bertemu ayahnya.


"Hey sayang jangan lari-larian, ingat kamu ini mengandung. Jalan pelan-pelan aja, udah deket kok, Itu kamarnya." Ucap bima


Mereka pun sampai disana, vella langsung memeluk ayahnya yang masih berbaring lemas. Disana ada kakek surya, lisa dan fadly. Mereka semua yang berada disana merasa senang melihat pak arman yang mulai pulih.


"Ayah, aku kangen banget sama ayah." Ucap vella sambil menitikkan air mata.


"Nak ayah nggakpapa, ayah udah sehat. Kamu jangan nangis dong." Ucap pak arman dengan lemas.


Kemudian vella melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya itu. Saat ini hatinya sudah tidak merasa gundah lagi melihat ayahnya sudah kembali sadar.


"Oh iya mbak dira udah dikabari belum mas?" Tanya vella pada bima


"Tenang vell mbak dira udah aku telfon tadi." Sahut lisa.


Tak lama kemudian dira datang bersama ardan dan juga naya. Sama seperti vella tadi, dira juga langsung merangkul pak arman. Dia sangat bahagia pak arman akhirnya sadar.


"Kakek boboknya kenapa lama banget, naya kangen." Ucap naya dengan gemas membuat semuanya tersenyum.


"Yang penting kan sekarang kakek udah bangun sayang," Ucap ardan

__ADS_1


Vella teringat dia ingin memberitahu ayahnya tentang kehamilannya itu. Dengan ekspresi bahagia dia memberitahu ayahnya. Mendengar itu pak arman menangis terharu. Dia sangat bersyukur masih dapat menyaksikan anaknya hamil. Sementara lisa dan fadly terkejut mendengar berita kehamilan vella. Mereka memang belum mengetahuinya dari awal. Lisa mengucapkan selamat kepada vella. Tapi malah berujung mendapatkan sentilan keras dari bima.


"Hey bro, buruan susul dong. Lis jangan mau di gandeng-gandeng doang kelamaan." Ucap bima


"Hayo kapan tuh, aku juga gatau mas haha.." Ucap lisa dengan tertawa. Kemudian dia bertatapan dengan fadly yang menyembunyikan ekspresi malu-malunya.


Saat asyik mengobrol perawat masuk menyuruh semuanya untuk keluar dari ruangan, Karena pak arman harus istirahat tanpa ada gangguan. Semuanya berpamitan pada pak arman. Di luar ruangan mereka semua berpisah pulang kerumah masing-masing. Awalnya vella ngotot ingin tidur dirumah sakit saja, tapi bima terus membujuknya untuk pulang. Bima berjanji besok pagi akan mengantarkannya lagi kesana.


🌷🌷🌷


Ciiiitttt.... Dengan tiba-tiba fadly memberhentikan mobilnya. Padahal rumah lisa masih jauh darisana.


"Kenapa berhenti?" Tanya lisa


"Liat itu kan kiara, dia ngapain malam-malam berdiri di pinggir jalan gitu," Ucap fadly sambil menunjuk kearah kiara.


"Entahlah, Malam-malam gini pakai baju kaya gitu, jangan-jangan dia?" Lisa mulai menerka-nerka


Kiara berpakaian sangat seksi, dia memang sering berpakaian minim tapi kali ini berbeda. Baju yang dia kenakan sangat terbuka dan menampakkan lekukan tubuhnya. Lisa dan fadly terus mengamatinya dari dalam mobil.


"Duhh lama banget sih tuh om om, si desi main nurunin gue disini aja. Tungguin kek sampek orangnya dateng. Mana dingin banget lagi. Gue sebenernya risih banget pakek baju kaya gini." Ucap kiara.


"Ni orang lama banget sih, jadi apa enggak sih!" Omel kiara.


Tak berselang lama mobil sedan putih menghampirinya. Kaca mobil terbuka, terlihat laki-laki berusia setengah abad tersenyum kepada kiara.


"Temannya desi?" Sapanya, kiara mengangguk. Kemudian om itu mengisyaratkan untuk kiara masuk kedalam mobil. Dengan ragu-ragu kiara masuk kedalam mobil itu. Saat baru duduk om itu sudah berani mengelus paha kiara yang terekspos jelas, karena pakaiannya yang sangat minim.


"Jangan takut sayang, om nggak gigit kok hehe." Ucapnya, kiara hanya mengangguk tersenyum.


"Oh iya panggil saya om ramon, kamu cantik sekali. Lebih cantik dari fotonya. Kita langsung ke hotel aja ya. Ngeliat kamu om udah nggak sabar." Ucap om ramon.


Kiara hanya mengangguk tersenyum, dia sangat terpaksa melakukan ini semua.


"Kalau bukan karena duit gasudi gue disentuh aki-aki kaya gini." Batin kiara.


Sementara lisa dan fadly semakin penasaran siapa yang bersama kiara sekarang. Mereka memutuskan untuk mengikuti kemana mobil itu pergi. Sampai berhentilah mereka di sebuah hotel. Saat mengetahui siapa yang bersama kiara, mereka sangat syok. Apalagi lisa mengenal om ramon. Dia adalah papa kandungnya. Lisa sangat syok, dia terdiam tak bisa berkata-kata. Air matanya menetes begitu melihat papanya merangkul mesra kiara masuk kedalam hotel.

__ADS_1


"Kamu kenapa lis?" Tanya fadly dengan panik.


"Itu papaku fad," Jawab lisa sambil menangis. Fadly pun langsung syok mendengar jawaban lisa.


"Masak sih, tapi kok mobilnya beda,? Tenang itu mungkin bukan om ramon. Coba kamu telfon mama kamu dulu, mastiin papa kamu dimana," Ucap fadly menenagkan.


Lisa menelfon mamanya, dia langsung bertanya apakah papanya ada dirumah. Tapi ternyata papanya pamit pergi ke bandung untuk urusan bisnis dan akan pulang besok.


"Kamu kenapa tumben nanya-nanya tentang papa?"


"Nggak kok ma, cuma kangen aja. Oh iya aku bentar lagi sampek rumah." Jawab lisa dengan menahan tangis.


"Iya sayang, kamu diantar fadly kan? Hati-hati dijalan. Mama tunggu dirumah."


"Iya mah," Tutt... Lisa menutup telfonnya. Dia langsung turun dari mobil bergegas menuju ke lobby hotel untuk memastikan itu papanya atau bukan.


"Hey mau kemana? Tunggu..." Teriak fadly sambil menyusul lisa yang sudah berlari meninggalkannya.


Namun sampai di lobby ternyata mereka sudah naik lift menuju ke kamar mereka. Lisa nekat ingin menyusulnya tapi dihadang oleh fadly.


"Tunggu, emangnya kamu tahu berapa nomor kamarnya? Udah dipastiin itu benar papamu? Kita tanya recepsionisnya dulu." Ucap fadly menenangkan.


"Permisi mbak, mau tanya orang yang barusan masuk sama perempuan berbaju minim tadi atas nama siapa ya?" Tanya fadly


"Mohon maaf pak saya tidak bisa memberitahukan identitas pelanggan kami."


"Pliss lah mbak saya mohon, saya nggak mau macam-macam kok. Saya lagi nyari papa saya disini. Ini menyangkut keharmonisan rumah tangga orang tua saya." Fadly sangat memohon.


"Mohon maaf sekali tidak bisa pak,"


Fadly mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada pegawai itu.


"Beritahu saya sekarang."


"Pak saya tidak bisa begini,"


"Beritahu saya pliisss mbak..."

__ADS_1


Akhirnya pegawai itu memberitahunya, orang yang masuk dengan perempuan berpakaian mini tadi memesan kamar atas nama ramon sanjaya. Mendengar itu lisa langsung emosi. Dia meminta pegawai memberitahu nomor kamarnya. Setelah mengetahuinya lisa langsung berlari masuk lift disusul oleh fadly.


__ADS_2