
Bima melangkah masuk ke dalam, saat itu fadly langsung tersadar akan posisinya. Dia berdiri dari tempat duduknya yang sangat dekat sekali dengan vella. Tatapan bima sedikit beda padanya.
"Apa dia marah padaku karena menjenguk vella tanpa mengabarinya dulu?" Tanya fadly dalam benakknya.
"Eh ada fadly disini," Sapa bima dengan merubah ekspresinya menjadi ramah. Fadly sedikit lega bima terlihat biasa saja.
"Iya bim, gue jengukin vella kesini. Nggak papa kan? Sorry kalau gue nggak ngabarin atau minta izin lo dulu." Ucap fadly
"Iya nggak papa kok. Oh iya fad tadi gue papasan sama lisa."
"Hah masak sih mas? Tapi lisa nggak kesini loh. Mungkin dia abis ngantar mama atau papanya chek up." Sahut vella
"Hemm vell aku pamit ya, semoga cepet sembuh. Bro gue pamit dulu." Fadly tiba-tiba pamit, dia sadar sudah melakukan kesalahan hari ini. Dia secepatnya ingin mengejar lisa.
"Iya makasih ya." Ucap vella, sementara bima hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Bima duduk dikursi yang tadinya diduduki oleh fadly. Dia mengambil bucket bunga yang ada di sebelah vella itu. Dia membaca secarik pesan di bunga itu. Dia merasa aneh dengan semua yang dilakukan fadly hari ini. Fadly membawakan bunga vella seakan vella ini kekasihnya. Bima menghempaskan bucket itu ke lantai.
"Loh mas kenapa?" Tanya vella yang kaget dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
"Nggak papa sayang, ada semutnya banyak aku kaget jadi aku buang. Kalau kamu suka aku bisa beliin yang lebih cantik. Atau kamu mau aku bikinin toko bunga sekalian?"
__ADS_1
Vella tersenyum kearah suaminya, dia tahu suaminya ini pasti menaruh cemburu pada fadly. Tidak mungkin bucket bunga semewah itu dikerubungi banyak semut. Kalaupun ada pastinya vella sudah lebih dulu dikerubuti semutnya. Karena sejak tadi bucket itu berada satu kasur dengannya.
"Kamu kok malah senyum-senyum sih sayang, Aku serius loh. Kalau kamu mau aku bisa belikan toko bunga buat kamu." Ucap bima dengan serius.
"Suamiku ini mentang-mentang kaya hehe. Nggak perlu ah, urus butik itu aja aku udah kerepotan. Mas ini cemburu ya?"
"Ya bukannya cemburu sih sayang, tapi aneh aja gitu. Ngapain coba fadly jenguk kamu pake bawa bunga segala? Dia nggak bareng lisa juga kan? Jangan jangan..."
"Dengerin aku ya mas, tadi itu katanya lisa sibuk pas diajak sama mas fadly kesini. Makanya dia kesini sendirian dan kebetulan mas bima lagi keluar makan itu. Mungkin bunga itu yang buat lisa juga, jadi jangan berfikiran negatif ah." Ucap vella mencegah bima berfikiran negatif tentang fadly.
"Masalahnya yang buat aku curiga sama fadly itu ya pas papasan sama lisa tadi. Lisa itu nggak ngantar orang tuanya sayang. Dia datang dari arah kamar kamu. Dia agak lari itu sambil nangis kayanya, makanya dia itu malingin muka dan acuh saat papasan sama aku." Bima menjelaskan semuanya secara detail saat dia bertemu dengan lisa tadi.
Sementara vella jadi bingung apa yang sebenarnya terjadi. Fadly dan lisa itu sudah bertunangan kemarin, tapi masak iya fadly masih menyimpan perasaan untuknya? Masak iya fadly berbohong padanya, mengatakan lisa sibuk padahal dia memang sengaja datang sendiri. Vella terus bertanya-tanya dalam benakknya.
"Iya mas, aku paham maksud kamu. Aku akan nurut sama kamu. Tenang aja mas aku dari dulu nggak pernah punya perasaan apa-apa sama mas fadly. Dia itu cuma sekedar mantan bosku dan juga sahabat suami tercintaku ini." Ucap vella sambil mengelus pipi bima.
🌷🌷🌷
"Astaga apasih yang sudah kulakukan hari ini, pasti lisa tadi melihatku menjenguk vella. Padahal aku bilang lagi meeting. Aku sudah menyakiti hati calon istriku." Ucap fadly sambil terus melangkah keluar dari rumah sakit mengejar lisa. Fadly berlarian di halaman rumah sakit itu. Sampai akhirnya dia melihat lisa berdiri di bawah pohon depan rumah sakit itu. Lisa terlihat sangat sedih.
Lisa melihat kedatangan fadly mendekatinya. Secepatnya dia ingin menghindar. Dia sangat marah dan kecewa dengan fadly. Apa yang dilihatnya tadi sudah cukup menjelaskan kalau fadly itu belum melupakan vella.
__ADS_1
"Sayang tunggu, aku bisa jelasin." Fadly memegang tangan lisa mencegahnya pergi.
"Lepasin aku!" Teriak lisa
"Enggak, aku nggak akan lepasin kamu." Fadly malah menarik lisa ke dalam pelukannya. Lisa ingin berontak tapi fadly malah semakin erat memeluknya, hingga ia pun luluh. Lisa menangis tersedu-sedu hingga airmatanya membasahi kemeja yang fadly kenakan.
"Kamu jahat fad kamu jahat sama aku!" Ucap lisa sambil terus menangis.
"Aku minta maaf lis, aku salah udah begini. Harusnya aku bareng kamu kesini dan nggak perlu bohong sama kamu." Ucap fadly.
Akhirnya lisa bisa terlepas dari pelukan fadly. Dia perlahan mundur, fadly maju mendekatinya. Lisa mengulur tangan kedepan memberikan isyarat untuk fadly jangan mendekat.
"Stop! Kamu masih cinta kan sama vella? Dan aku cuma jadi bahan pelampiasan cinta yang bertepuk sebelah tangan itu." Ucap lisa penuh emosi.
"Enggak lis, aku cuma cinta sama kamu. Buktinya aku mau menikahi kamu. Sebentar lagi kan kita menikah. Nggak mungkin aku cinta sama wanita lain. Maaf memang hari ini aku salah." Ucap fadly, dia mencoba melangkah maju mendekati lisa.
"Stop disitu! Aku butuh waktu untuk berfikir. Aku gatau bisa lanjutin rencana pernikahan kita atau enggak. Aku butuh waktu sendiri dulu."
Lisa berlari menuju jalan depan rumah sakit, dia menghentikan taksi. Padahal sopirnya menunggu di parkiran. Tapi saat ini lisa ingin segera pergi dari fadly. Hati dan pikirannya sudah sangat kacau. Fadly mengejarnya hingga taksi sudah berjalan. Dia masih berusaha meminta maaf pada calon istrinya itu.
"Lisa.. Sayang maafin aku, Lisa.. Lisaa..." Fadly mencoba menghentikan taksi itu. Tapi taksi itu terus berjalan sesuai perintah lisa. Tidak peduli fadly mengejarnya hingga terjatuh. Lisa terus menangis, dia berfikir apakah benar semua yang dikatakan oleh siska, kalau dia ini hanya wanita cadangan bagi fadly.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak ada perasaan apa-apa sama vella, kenapa kamu harus bohong sama aku fad. Vella itu sahabatku dia sudah bersuami. Aku tidak akan menyalahkan vella tapi kalau kamu benar masih mencintainya, aku tidak bisa menikah denganmu."