Menikah Dengan Duda

Menikah Dengan Duda
Episode 112


__ADS_3

Sarah datang kerumah Vella dan Bima dengan membawa banyak makanan. Dia ingin sarapan bersama disana. Vella yang mengira mama mertuanya itu sudah berubah, menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Sayang mama boleh kan sarapan disini? Mama bawain makanan sehat untuk kamu dan calon cucu mama." Kali ini Sarah memainkan perannya dengan cukup baik. Menjadi ibu mertua yang baik yang sayang dengan menantunya.


"Boleh dong mah, Mari langsung ke ruang makan aja." Ajak Vella sambil menggandeng tangan Sarah.


"Silahkan duduk dulu mah, Aku panggilin mas Bima. Dia masih siap-siap kayanya." Ucap Vella, dia meninggalkan ibu mertuanya sendirian di meja makan.


Anis mengintip bersama bi ijah, mereka berdua masih belum yakin dengan kebaikan Sarah pada Vella itu. Mereka takut Sarah akan memberikan racun dalam makanan yang sudah terhidang di meja makan. Namun sudah lama mengamati Sarah hanya diam tak melakukan apa-apa.


"Bi meskipun bu Sarah nggak nglakuin apa-apa tapi kok aku masih aneh aja ya lihatnya. Dari benci tiba-tiba manis kaya gini," Ucap Anis


"Iya nis, Makanya kita tetep stand up disini dulu."


"Haa stand up bi? Stand by kali ah bibi nggak usah sok gaul deh."


.


.


Di kamar Vella tidak mendapati suaminya disana. Ternyata Bima masih berada di dalam kamar mandi. Tapi baju yang tadi Vella siapkan sudah tidak ada di kasur. Kemudian Vella mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan suaminya ada disana.


"Mas, Kamu ada di dalam kan?"


"Eeek.. Iya sayang aku masih sakit perut."


Kemudian Vella berinisiatif membantu menyiapkan tas kerja suaminya. Vella memasukkan laptop dan juga map-map yang sudah di siapkan oleh Bima sendiri untuk dibawa ke kantor.


"Dah selesai, hmm suamiku ini selalu kalau habis kerja laci berkasnya berantakan kemana-mana."


Saat Vella merapikan berkas milik suaminya dan hendak memasukkannya kedalam laci, Dia melihat ada map yang berisi lembaran mirip buku diary mamanya. Dia penasaran, apa jangan-jangan itu benar sobekan diary mamanya. Tapi kenapa bisa ada di laci berkas suaminya. Bahkan tersimpan rapi di map seperti itu.


Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi, tidak melihat keberadaan istrinya disana. Kemudian Bima melangkah ke ruang kerjanya yang memang menyatu dengan kamar. Dia mendapati istrinya sedang berdiri mematung di depan laci berkas miliknya. Bima ingat itu tempatnya menyimpan sobekan diary itu.


"Astaga jangan-jangan Vella melihat map berisi sobekan diary mamanya. Bisa gawat, aku harus segera mencegahnya."


"Sayang... Kamu ngapain disitu?"

__ADS_1


"Ah mas Bima udah selesai, gimana perutnya masih sakit?"


"Enggak sayang udah sembuh. Kamu udah siapin tas aku buat ke kantor ya," Ucap Bima berbasa-basi


"Iya mas ini aku juga lagi ngrapihin berkas kamu berantakan. Oh iya itu dalam map kok mirip kertas diary mama ya, itu apa mas?"


"Astaga harus jawab apa aku?"


"Mas kok malah bengong sih? Jangan-jangan mas Bima..."


"Eh eh sayang kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu. Itu berkas pembukaan kantor jaman dulu makanya warnanya mirip buku diary mama rosaline. Kakek surya sengaja nyuruh aku nyimpen berkas itu dirumah."


"Kalau nggak percaya kamu boleh lihat sayang," Ucap Bima dengan gemetar, dalam hatinya berharap semoga Vella tidak mau melihatnya.


"Emm nggak usah mas aku percaya, Lagian buat apa ya kamu nyembunyiin sobekan diary mamaku." Ucap Vella yang kemudian menumpuk berkas diatasnya dan menutup laci itu.


Bima terlihat sangat lega istrinya mempercayainya. Kemudian Vella segera mengajak suaminya keluar dari kamar karena mama Sarah sudah menunggu.


.


.


"Tapi sekarang udah nggak papa kan?"


"Iya udah nggak papa. Aman mah,"


Mereka pun sarapan bersama, Vella menyukai masakan yang dibawakan oleh ibu mertuanya itu. Bima merasa bahagia akhirnya keluarganya bisa tentram seperti sekarang ini.


"Sekarang hubungan mama dan Vella sudah sangat akrab dengan begini rumah tanggaku jadi tentram. Pokoknya aku harus menyimpan rapat-rapat tentang nenek sukma yang sudah menyebabkan mama rosaline meninggal." Ucap Bima dalam benaknya.


Sarah mulai menjalankan rencananya, dia ingin mengajak Vella ke arisan teman-temannya hari ini. Namun sayangnya, Hari ini tidak bisa. Vella sudah ada janji dengan ayahnya untuk mengantar chek up ke rumah sakit. Vella juga sudah membuat janji dengan dokter Ayahnya.


"Jadi beneran nggak bisa nih sayang, yah padahal mama itu pengen ngenalin kamu ke temen-temen mamah. Trus ngasih lihat kalau kamu sedang mengandung cucu mamah." Ucap Sarah pura-pura sedih.


"Emm maaf ya mah, soalnya udah terlanjur janji sama dokternya. Mbak dira juga lagi sibuk banyak pesanan ditambah harus jaga naya juga."


"Hemm yaudah deh, tapi lain kali kalau mama ajak kamu harus bisa ya sayang, Mama pamit dulu."

__ADS_1


Vella dan Bima mengantar Sarah sampai kedepan. Setelah itu Bima juga pamit untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa Bima mencium kening istrinya dan mencium perutnya sambil berpamitan dengan calon anaknya.


"Aku berangkat ya, Nanti sore aku jemput kamu dirumah ayah."


"Iya mas, hati-hati dijalan ya mas," Ucap Vella sambil mencium punggung tangan suaminya.


.


.


Saat Bima pergi ada dua orang datang, mereka berdua orang suruhan Sarah yang diminta untuk mencelakai Vella. Karena Sarah tidak bisa mengajak Vella keluar bersamanya, dia menyuruh dua orang itu mengikuti kemanapun Vella pergi. Ketika ada kesempatan mereka disuruh untuk menjalankan aksinya.


Lama mereka menunggu akhirnya Vella keluar juga. Mereka langsung bersiap mengikuti Vella yang diantar oleh Nino. Mereka terus mengikuti Vella mulai dari rumah ayahnya sampai ke rumah sakit. Tapi sampai di rumah sakit mereka tidak ikut masuk, mereka menunggu diluar.


"Saya mau ke dalam mungkin akan lama, Kamu boleh nunggu dimanapun nanti saya telfon kalau udah mau pulang." Ucap Vella pada Nino


"Iya nona vella."


Vella bergandengan tangan dengan ayahnya dan masuk ke dalam rumah sakit. Nino memarkirkan mobilnya. Kemudian dia pergi ke warung dekat rumah sakit untuk ngopi.


Dua orang suruhan Sarah langsung mendekat ke mobil Vella. Mereka mengempeskan semua ban mobilnya.


"Kenapa cuma kempesin bannya aja, Mending kita bikin remnya blong,"


"Hah kelamaan, disini rame. Gua punya rencana lain. Dah yuk pergi dari sini dulu sebelum orang-orang ada yang ngelihat kita."


.


.


Vella dan ayahnya sudah duduk di ruang tunggu, mereka menunggu giliran untuk dipanggil masuk kedalam ruang dokter. Tiba-tiba suasana ruang tunggu menjadi riuh karena ada salah satu pasien yang meninggal mendadak. Seorang bapak-bapak seumuran dengan Arman. Vella memegang lengan ayahnya sambil meringis melihat anak bapak yang meninggal itu menangis histeris. Perawat disana segera mengevakuasinya dan menyuruh semua yang disana untuk kembali duduk tenang.


"Kamu kenapa nak?"


"Aku takut kalau sampai ditinggalin ayah tiba-tiba seperti itu."


"Kematian itu pasti datang kapanpun nak, Kalau ayah tiba-tiba meninggal seperti itu mungkin memang sudah takdir ayah. Nanti kalau sewaktu-waktu ayah pergi kamu nggak boleh sedih ya, Kan sekarang sudah ada Bima yang jagain kamu."

__ADS_1


"Ayah kok ngomongnya gitu, Udah ah jangan bahas itu." Ucap Vella yang merasa takut dengan omongan ayahnya. Dia tidak akan siap ditinggalkan oleh ayah yang merawatnya dari kecil itu.


__ADS_2